Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 36.



"Haura!" Ucap Jeff dan Arvin bersamaan.


"Diam!" Haura langsung membekap kedua mulut laki-laki tersebut yang menurutnya sangat berisik.


Jeff dan Arvin mengangguk patuh dengan perintah Haura. Mereka dibuat speechless dengan kehadiran Haura di sana. Dalam benak Jeff bertanya-tanya kenapa Haura ada dua? Apa sebenarnya Haura itu kembar? Atau Haura yang bersamanya saat ini adalah Haura palsu? Tidak! Jeff sangat tahu kalau Haura hanya ada satu. Lalu siapa yang menikah dengan Keanu di dalam ruang acara? Jeff harus menginterogasi Haura sekarang juga.


"Astaga! Apa yang kalian lakukan barusan? Kalian ingin mengacaukan pernikahan Keanu, huh?" Todong Haura bersungut-sungut. Ia tak habis pikir dengan tindakan kedua pria yang ada di hadapannya tersebut.


Arvin menggeleng pelan menolak tuduhan Haura. Sedangkan Jeff mengangguk pasti seolah mengakui niat jahatnya. Membuat Haura semakin kesal karenanya. "Jika sampai kalian mengacaukan acara di dalam, aku pastikan kalian akan menyesal seumur hidup," ancam Haura dengan kedua mata melotot tajam.


"Mana mungkin aku menggagalkan pernikahan rival ku. Biarkan saja dia menikah dengan wanita yang entah itu siapa. Asalkan tidak menikahimu, Baby." Jeff menggenggam tangan Haura dengan lembut lalu mengecupnya begitu dalam.


Haura memutar bola matanya malas. Ia benar-benar muak dengan perlakuan Jeff yang begitu memuakkan. Namun mampu membuat hatinya menghangat.


"Baby, kenapa kamu ada di sini? Siapa yang menikah dengan Keanu di dalam?" tanya Jeff ketika sadar atas apa yang sudah terjadi. Sedangkan Arvin memilih pergi dari sana dengan alasan pekerjaan. Padahal ia hanya menghindari Haura karena takut mendapatkan amarah darinya.


"Nanti aku jelaskan. Yang penting sekarang, bantu aku menjaga acara ini agar berjalan lancar sampai acara ini selesai," pinta Haura setelah berbisik.


"Oke Baby. Apa sih yang enggak buat kamu." Jeff mengedipkan sebelah matanya dengan nakal. Ia sampai melupakan tujuannya untuk bertanya mengenai anak yang dikandung Haura.


Haura percaya dengan ucapan Jeff. Ia memilih pergi dari sana. Namun belum sempat Haura pergi tiba-tiba tangannya ditarik oleh Jeff secara tidak sengaja tubuhnya langsung menabrak dada bidang milik Jefferson. Haura dapat merasakan detak jantung Jeff yang  sangat kencang. Tangan Haura meraba dada bidang tersebut seolah meresapi irama jantung Jeff yang terdengar indah di telinganya.


Jeff memeluk Haura dengan erat, mengecup puncak kepalanya sangat dalam. Haura sampai memejamkan mata saat bibir Jeff menempel diubun-ubunnya. Haura merasa tenang saat berada di dalam dekapan Jeff. Ia melupakan sikap bencinya terhadap laki-laki tersebut yang pernah menorehkan luka di hatinya. Haura ingin memberontak, tapi ia tidak bisa. Tubuhnya mendadak lemas, dan lidahnya terasa keluh.


Jeff memegang kedua pundak Haura lalu menatap manik matanya. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka berdua. Mereka sama-sama bergeming. Namun, tak disangka Jeff malah berlutut di hadapan Haura.


Bruk!


"Hallo Baby. Apa kabar di sana. Maafkan kesalahan daddy yang sempat tidak percaya bahwa kamu adalah darah daging daddy. Bod*hnya daddy yang percaya bahwa kamu anak dari laki-laki lain. Lain kali daddy tidak akan lengah dengan tipu muslihat mommy kamu ini." Ucap Jeff sambil terkekeh kecil. Ia mengusap pelan perut Haura yang masih rata.


Haura tercengang, ia merasa tertampar dengan tindakan serta penuturan Jeff barusan. Ingin mengelak lagi-lagi lidah Haura mendadak keluh. Ia tidak tahu harus merespon ucapan Jeff bagaimana. Haura bertanya-tanya darimana Jeff tahu bahwa anak yang dia kandung adalah anaknya bukan anak Keanu?


Jeff menatap Haura yang terlihat bengong. Pasti Haura sangat terkejut dengan tindakannya. "Baby ...." Jeff meraih kedua tangan Haura, menggenggamnya dengan lembut, dan penuh cinta. "Jangan mengelak atau bahkan membantah apa yang aku katakan. Aku sudah tahu kalau bayi ini adalah darah dagingku." Jeff mengusap kembali perut bagian bawah, Haura.


Haura tetap bergeming. Ia hanya menatap manik mata Jeff yang terlihat mengembun. Perlahan Haura melepaskan genggaman tangannya, lalu berkata dengan sangat serius. "Jeff. Aku tidak akan membantah ataupun mengiyakan ucapan kamu barusan. Tapi tolong, jangan bahas masalah ini sekarang. Ada hal yang lebih penting daripada ini, aku harus membereskan acara ini agar rencana ku tidak ketahuan."


"Biar aku bantu." Jeff tidak ingin Haura bekerja keras disaat dirinya berbadan dua.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Yang penting kamu diam. Jangan berulah, katakan juga sama asisten kamu itu."


"Baiklah, Hati-hati Baby." Jeff mengusap puncak kepala Haura penuh kasih sayang. "Cup!" Satu kecupan mendarat sempurna dibibir manis Haura.


Haura membulatkan kedua mata sempurna. Berani sekali Jeff mencium bibirnya tanpa izin. "Kur--"


Cup!


Satu kecupan mendarat lagi di bibir Haura yang berhasil membungkam mulutnya seketika itu juga hingga Haura gagal protes terhadap Jefferson. "Satu kata satu kecupan. Bagaimana, masih mau protes, hum?" ucap Jeff sambil menaik-turunkan aslinya.


"Dasar g*la! Sejak kapan seorang Jefferson menjadi posesif seperti ini. Astaga, aku bisa gila menghadapi sikap kurang ajarnya." Hardik Haura dalam hati.


Terpaksa Haura pergi dari sana meninggalkan Jeff yang tersenyum menang tanpa diberikan pelajaran olehnya. Jeff menatap punggung Haura yang semakin lama semakin menghilang. Ia sangat gemas melihat ekspresi wajah Haura yang tampak kesal setelah ia mencium bibirnya tanpa izin.


"Tunggu aku, Haura! Aku akan melakukan apapun agar bisa hidup bersamamu dan juga calon anak kita. Untuk saat ini aku akan membiarkan kamu bebas, tapi tidak dengan nanti. Sebab aku akan membuktikan kepada kedua orang tua kita kalau anak yang kamu kandung adalah anakku, dan aku juga akan membuktikan betapa besar rasa cintaku terhadap mu, Haura. Yang terpenting sekarang kamu dan Keanu tidak jadi menikah." Gumam Jeff dalam hati. 


"Mas! Sebenarnya ada apa? kenapa kita harus ke kamar lebih dulu?" tanya Olivia saat mereka sudah ada di dalam kamar hotel.


"Tadi Haura mengirim pesan kalau Jeff dan Arvin akan menggagalkan pernikahan kita."


"Benarkah? Lalu sekarang bagaimana?"


"Entahlah, Haura tidak memberi informasi lagi mengenai rencana kita."


"Semoga semuanya baik-baik saja." Olivia terus berdoa agar tidak ada satu orang pun yang tahu tentang Penukaran pengantin itu.


Keanu mendekati Olivia lalu membuka kain penutup di wajahnya. Jantungnya berdegup dengan kencang saat melihat berapa cantiknya sang istri. "Honey, you're so beautifull." Keanu membelai pipi mulus sang istri dengan lembut dan penuh cinta.


Olivia tersipu malu saat mendengar pujian dari laki-laki yang telah sah menjadi suaminya tersebut. Padahal bukan hanya kali ini ia mendapatkan pujian dari Keanu, bahkan berkali-kali ketika mereka bertemu. Namun, saat ini terasa berbeda dengan status mereka yang baru. Status yang telah merubah hidup serta masa depan mereka. Semuanya berkat kerja keras Haura. Wanita cantik kan baik hati yang rela berkorban demi kebahagiaan mereka. Entah mereka harus membalasnya dengan apa.


Keanu menempelkan bibirnya ke bibir Olivia yang terasa sangat manis dan lembut. Ciuman yang awalnya hanya menempel kini berubah menjadi ******t dan sedap*n. Ciuman yang semakin lama penuh dengan tuntutan. Olivia sampai kewalahan mengimbangi ciuman sang suami yang begitu brutal. Suara desah*n keluar dari mulut Olivia dengan begitu indahnya.


Akhirnya Haura bisa bernafas lega karena acara pernikahan Keanu dan Olivia berjalan dengan lancar. Tidak ada yang curiga dengan pernikahan tersebut. Haura tertawa dalam hati saat mengingat pengucapan ikrar suci pernikahan. Tidak ada yang meminta untuk mengulang janji suci itu karena tak terdengar akibat suara microphone yang berdenging.


Padahal di atas sana bukanlah nama Haura yang disebut, melainkan nama Olivia. Sesuai dengan rencananya, Haura sudah mengatur semuanya dengan begitu hati-hati. Ya, bukan cuma Haura yang bekerja keras. Namun ada Keanu beserta anak buahnya yang membantu proses rencana tersebut.


Haura merendam diri di dalam bathtub untuk merelaksasi pikirannya. Tiba-tiba bayangan Jeff berkelebat dalam benaknya saat mencium serta mengusap perutnya. Kedua sudut bibir Haura terangkat membentuk sebuah senyuman indah. Hatinya berbunga-bunga saat mengingat hal itu.


"Astaga! Apa yang aku pikirkan. Tidak! Aku tidak boleh memikirkannya lagi. Dia itu sudah melukai perasaanku. Jadi, aku harus melupakannya." Kata Haura penuh dengan tekad yang kuat. Namun, ucapannya tak sejalan dengan apa yang ada dalam hatinya. Semuanya bertolak belakang. Bibir Haura mengatakan ingin melupakan Jeff, tapi hatinya berkata tidak. Bahkan masih menginginkan Jefferson menjadi miliknya.


Beda halnya dengan Haura yang berendam dalam bathtub, di kamar VVIP tengah terjadi goncangan yang begitu dahsyat. Siapa lagi kalau bukan ulah sang pengantin baru. Meskipun mereka telah memiliki anak, tapi tidak sedikitpun ga*rah mereka berkurang.


Aahh! Keanu!


Yes, Baby! Aahh!


Keanu menganga kala Olivia memacu pinggulnya di atas tubuhnya. Hingga dua gundukan kenyal yang menggantung di dada Olivia bergerak naik-turun mengikuti gerakan Olivia. Keanu tidak tahan melihat buah tersebut yang akhirnya langsung melah*p buah kenyal itu secara bergantian.


Eungh! Keanu!


Olivia menggigit bibir bawahnya merasa terbang ke atas awan saat lidah Keanu menj***ti puncak gunung kembarnya. Mereka terus bermain saling memuaskan satu sama lain. Mereka tidak memikirkan keadaan di luar sana yang telah usai berpesta.


Zanna, Rei, Sonya, dan Mahendra langsung memasuki kamar masing-masing yang telah disediakan oleh pihak hotel. Mereka tidak mau mengganggu pasangan pengantin baru yang mereka yakini tengah bercocok tanam di dalam kamarnya. Mereka sama sekali tidak curiga kalau ternyata pengantin wanitanya bukan Haura.


"Mas, kenapa kamu terlihat sedih? Apa kamu tidak bahagia melihat putri kita telah menikah?" tanya Zanna yang melihat sang suami duduk di sisi ranjang dengan wajah sedihnya.


"Aku bahagia melihat putri kita menikah." Rei menjawab dengan suara berat yang seolah terbebani akan sesuatu.


"Lalu kenapa kamu terlihat sedih?" Zanna menatap Rei penuh selidik. Ia duduk di samping sang suami menunggu klarifikasi darinya.


"Huf!" Rei menghembuskan nafas berat. Ia terlihat sangat kesuh di hari pernikahan sang putri. "Aku teringat dengan Flora. Aku seperti menggenggam tangannya saat di altar tadi. Aku merasakan getaran aneh saat menggenggam tangan Haura. Rasanya sangat berbeda dari hari-hari biasanya aku menggenggam tangannya. Hatiku mengatakan bahwa dia adalah Flora kita, Sayang." Ungkap Rei berkaca-kaca.


Wajah Zanna yang awalnya ceria kini berubah menjadi sayu. Hatinya kembali sakit saat mengenang putri pertamanya telah tiada. "Mas, aku sangat merindukan Flora. Aku tidak percaya dengan keterangan dokter dan juga polisi yang mengatakan bahwa Flora telah meninggal. Aku berharap dia masih hidup." Zanna meneteskan air mata saat mengingat kejadian 22 tahun yang lalu.


Ya sebenarnya Haura memiliki seorang kakak perempuan yang umurnya 3 tahun lebih tua darinya, dia bernama Flora Kania Pradipa. Namun, saat usianya menginjak satu tahun, Flora diculik oleh seseorang yang sampai saat ini belum terdeteksi keberadaannya. Seorang Pradipa saja tidak bisa memblokir akses orang tersebut yang pastinya bukan orang sembarangan.


Hingga 2 hari lamanya ada siaran berita di televisi yang menyatakan ada seorang anak kecil yang usianya sekitar 1 tahun ditemukan meninggal dalam keadaan hangus terbakar. Seorang polisi mengabarkan berita tersebut kepada Pradipa dan memintanya datang ke tempat kejadian. Sebab ada beberapa barang yang diyakini milik Flora, putrinya yang hilang.


Zanna menangis histeris ditempat kejadian saat melihat tubuh anak kecil yang diklaim sebagai Flora karena menggunakan baju serta aksesoris yang sama sebelum dia diculik. Para dokter juga mengatakan tidak bisa melakukan otopsi terhadap mayat tersebut karena luka bakar tersebut sangat parah. Akhirnya para polisi dan dokter meminta maaf karena tidak bisa melakukan otopsi.


Polisi hanya berjanji akan mengusut kasus itu hingga mereka menemukan pelakunya. Namun, hingga sampai saat ini para polisi tidak memberikan informasi apapun. Zanna dan Rei tidak percaya bahwa mayat anak kecil tersebut adalah Flora, anaknya. Akan tetapi dari postur tubuh, pakai, aksesoris, serta mainan yang ada di tubuh anak kecil itu memang milik Flora. Jadi, Zanna dan Rei mau tidak mau harus percaya bahwa dia adalah anaknya.


Zanna dan Rei sangat terpuruk atas kematian anaknya. Zanna sampai drop selama satu tahun. Rei berusaha menghibur sang istri agar kembali bangkit dari keterpurukan, dan mengikhlaskan kepergian Flora. Lambat laun keadaan Zanna mulai membaik. Tak berselang lama Zanna dinyatakan hamil oleh dokter yang membuat Zanna kembali bersemangat atas kehamilannya.


Hidup Zanna kembali berwarna. Ia meminta kepada Rei agar menyimpan barang-barang serta foto mereka bersama Flora di kamar Flora waktu dia masih hidup, dan jangan sampai satu orang pun berani memasuki kamar tersebut. Karena Zanna masih yakin kalau Flora masih hidup. Hanya saja takdir belum mempertemukan mereka.


Zanna dan Rei bersumpah tidak akan pernah memaafkan orang yang telah menculik Flora. Hingga membuat mereka merasa kehilangan setengah mati. Karena itulah sejak Haura kecil Zanna dan Rei selalu menugaskan beberapa bodyguard untuk menjaga Haura dari jarak jauh agar kejadian di masa lalu tidak terulang kembali. Sesuai keinginan Haura yang tak mau dikawal akhirnya Rei memerintahkan para bodyguard tersebut mengawasi Haura dari jarak jauh, dan tidak boleh lengah sedikitpun.


Zanna dan Rei tidak pernah menceritakan tentang Flora terhadap Haura, karena mereka takut Haura juga merasa sedih. Cukup mereka berdua yang merasa kehilangan atas meninggalnya Flora. Tidak! Flora belum meninggal menurut keyakinan Zanna dan Rei.


"Kamu tenang saja, Sayang. Aku akan mengupas kejadian di masa lalu hingga ke akar-akarnya. Jika para polisi tidak bertindak lanjut, dan hanya berpura-pura menyelidiki kasus tersebut. Aku akan menyelidikinya sendiri melalui anak buahku." Ucap Rei penuh tekad dan amarah yang membara.


"Sudah 22 tahun lamanya, Mas. Kita kehilangan putri pertama kita. Mungkin karena dulu kita tidak sejaya sekarang, makanya kita tidak bisa mengusut kejadian itu dengan kekuasaan kita yang masih rendah. Namun, sekarang posisi kita sudah tinggi di negara ini, Mas. Jadi, aku mohon buka lagi kasus 22 tahun yang lalu. Aku yakin putri kita masih hidup." Zanna menggenggam tangan Rei memohon agar mencari keberadaan putrinya dan juga mencari sang pelaku.


"Pasti, Sayang. Seharus Flora yang menikah lebih dulu, bukan Haura. Tapi ... Yasudahlah, mau bagaimana lagi. Ini semua salah aku yang tak becus menjaga Flora hingga dia diculik."


"Bukan cuma salah kamu, Mas. Salah aku juga yang tidak bisa menjaga Flora dari mara bahaya. Dulu kita terlalu sibuk dengan urusan kantor sampai tidak bisa memberikan waktu banyak untuk bersama Flora di rumah, dan kita hanya menitipkannya kepada pengasuh yang sangat lemah."


"Sudahlah jangan dipikirkan lagi. Hari ini adalah hari bahagia kita dalam merayakan pernikahan putri kecil kita. Kita pikirkan masalah Flora besok saja. Sekarang lebih baik kita istirahat." Rei menggendong tubuh sang istri lalu membaringkannya di atas kasur empuk itu.


Rei ikut berbaring di samping sang istri. Pikirannya masih terbayang saat menggenggam tangan Haura di altar pernikahan. Rasanya benar-benar berbeda. Ia sungguh merasakan sebuah rasa yang begitu aneh. Ia seperti menggenggam tangan Flora saat masih kecil ketika bermain di taman samping rumah. Sentuhan yang tak pernah ia lupakan. Hatinya mengatakan bahwa pengantin itu adalah Flora bukan Haura.


Akan tetapi, Rei menepis pemikirannya yang tak masuk akal. Mana mungkin Haura berubah menjadi Flora. Pasti Rei berhalusinasi karena sangat merindukan Flora, ia sampai mengira Haura adalah Flora yang telah lama dinyatakan meninggal.


Haura masih setia berendam di dalam bathtub. Ia tidak sadar kalau dirinya berendam terlalu lama. Hingga tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuh pipinya, membuat Haura langsung membuka kedua matanya dengan sempurna.


Aa--Emph ... Emph ...


Haura ingin berteriak namun mulutnya lebih dulu dibekap oleh seseorang yang telah menyentuh wajahnya.