Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 42.



Jeff memandangi foto Haura yang ia panjang dalam figura yang diletakkan di atas nakas dalam kamarnya. Foto Haura yang tengah sibuk bekerja saat masih menjadi sekretarisnya. Jeff diam-diam mencuri foto Haura waktu itu. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan begitu bodoh dalam hal cinta. Dulu Jeff tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta gara-gara Olivia. Namun, Jeff sadar bahwa rasa cinta yang ia rasakan terhadap Olivia sangat berbeda dengan rasa cintanya terhadap Haura.


Dengan Haura, Jeff merasakan hidupnya berwarna. Tanpa Haura hidup Jeff seperti tak berguna. Haura adalah penyemangat buat Jeff. Tapi, sekarang ia sudah membuat Haura menjauh darinya. Belum lagi ia harus meluluhkan hati kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Haura.


"Huf! Kenapa rumit sekali. Apa yang harus aku lakukan." Jeff mengusap-ngusap foto Haura dengan perasaan gunda.


Ceklek!


Suara pintu yang terbuka berhasil mengalihkan perhatian Jeff. Setelah mengeceknya ternyata sang Mommy yang datang. "Mommy!" Sapa Jeff terkejut.


Kinara hanya menatap datar kearah Jeff. Dalam hati ia memang masih marah dan kecewa terhadap Jeff, tapi Kenara juga ingin membantu Jeff untuk mendapatkan maaf dari keluarga Pradipa. Sebab mempunyai menantu seperti Haura adalah impiannya sejak dulu. Kinara tidak ingin tali persaudaraannya dengan Zanna menjadi terputus dan berantakan hanya gara-gara kesalahan Jeff.


Kinara duduk di sofa ruang tamu yang diikuti oleh sang putra. "Mommy sangat kecewa sama kamu Jeff. Mommy kira kamu itu pria sejati. Tapi ... Ah, Mommy tak sanggup mengatakannya." Ucap Kinara to the point.


"Maafkan aku, Mom. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku benar-benar menyesal, dan aku sangat mencintai Haura. Bahkan kami masih saling mencintai."


"Daddy kamu marah besar atas perilaku buruk kamu. Maka dari itu perbaikilah segera. Mommy tidak ingin tali saudara antara keluarga Pradipa dan keluarga Kingston hancur. Jika kamu benar-benar menyesal, buktikanlah. Berjuanglah demi mendapatkan maaf dari keluarga Pradipa, dan perjuangkan juga cinta kamu terhadap Haura." Kinara menyemangati Jeff untuk berjuang.


Bruk!


"Aku janji akan memperbaiki semuanya, Mom." Jeff tiba-tiba berlutut didepan sang Mommy. Ia merasa sangat berdosa karena sudah membuat sang Mommy kecewa.


"Bangunlah, Nak. Mommy akan memaafkan mu jika kamu benar-benar berubah. Jangan ulangi kesalahan yang sama, oke." Kinara membantu sang putra untuk berdiri, lalu memeluknya.


"Jaga diri kamu baik-baik disini. Jangan pulang dulu ke rumah sebelum keadaan kembali seperti semula. Daddy kamu tidak akan tinggal diam jika kamu berani melanggar peraturannya. Mommy hanya berharap secepatnya kamu bisa menyelesaikan masalah ini." Kinara berkata dengan serius.


"Thank you Mom. Aku tidak akan membuat Mommy kecewa untuk yang kedua kalinya. I'm promise." Jeff bukan cuma berjanji terhadap sang Mommy, tapi juga kepada dirinya sendiri bahwa dia akan memperbaiki semuanya.


Sedangkan ditempat lain. Keanu dan Olivia tengah asik memadu kasih. Mereka sedang menikmati masa pengantin baru di sebuah villa yang baru saja Keanu beli. Mereka seolah lupa dengan apa yang terjadi sebelumnya. Yang ada dalam pikiran mereka adalah api cinta yang membara.


Aahh! Aahh!


Keanu!


Yeah, Olivia!


Keduanya saling menyebutkan nama satu sama lain. Olivia menggerakkan pinggulnya di atas tubuh Keanu layaknya menunggangi kuda. Keanu menganga saat Olivia meliuk-liukkan pinggulnya. Merasa tidak tahan, Keanu mengangkat kepalanya lalu melah*p salah satu buah kenyal yang menggantung di depan wajahnya karena posisi Olivia berada di atasnya.


Ough ... Keanu ...


Olivia terus menjerit kala sang suami semakin kencang menggig** put***nya. Ia tak dapat menjabarkan bagaimana nikmatnya permainan jungkat-jungkit saat ini. Sebab setiap kalo Olivia bermain dengan Keanu rasanya akan selalu bertambah nikmat.


Keanu membalikkan posisi agar dirinya berada di atas tubuh sang istri. Ia mendorong benda pusakanya kedalam liang lahat milik Olivia yang terasa sangat hangat. Menusuknya dengan sangat dalam hingga mencapai dinding rahim. Mungkin karena benda pusaka milik Keanu sangatlah panjang dan besar membuat Olivia terus mengang*, dan terkadang hanya bisa mengigit bibir bawahnya karena merasakan hal yang sangat luar biasa.


"Sayang, kau terasa semakin nikmat," racau Keanu di tengah-tengah gempurannya.


"Milikmu juga terasa lebih jumbo, Keanu." Olivia juga menyempatkan diri untuk memuji benda pusaka milik sang suami yang telah menjadi benda favoritnya.


Mendengar pujian tersebut, Keanu menjadi semakin bersemangat untuk menggempur Olivia habis-habisan. Ia tidak akan membiarkan Olivia memuji laki-laki lain kecuali dirinya sendiri. Keanu menarik tubuh Olivia hingga ikut terduduk dengan posisi saling berpelukan. Dengan posisi seperti itu mereka terlihat sedang bermain jungkat-jungkit. Namun bukan permainan jungkat-jungkit yang sering dimainkan oleh anak kecil di taman bermain. Tapi, mereka tengah bermain jungkat-jungkit ala orang dewasa yang bisa menghasilkan seorang anak.


Aahh ... Aahh ...


Suara ******* memenuhi ruang tamu yang ditempati oleh pengantin baru tersebut. Ya, mereka tengah bermain jungkat-jungkit di ruang tamu. Keanu yang merasa tidak sabar langsung menerkam Olivia di sana, dan tak ingin menunggu lebih lama lagi hingga memasuki kamar. Lagipula di villa itu hanya ada mereka berdua. Jadi, mereka bebas mau melakukan apa saja.


Suara desah*n berubah menjadi erang*n. Tubuh keduanya menegang saat sesuatu dalam diri mereka mendesak ingin keluar melalui aset mereka masing-masing. Namun, sebelum semuanya terjadi, Keanu lebih dulu merubah posisi Olivia agar berjongkok di atas sofa lalu ia menerkam nya dari arah belakang.


Jleb!


Lagi-lagi keduanya mengang* saat merasakan sensasi baru dari permainan mereka. Keanu menghantam Olivia dengan sangat dalam. Membuat Olivia menjer*t kenikmatan. Keanu mempercepat gerakannya hingga kedua buah kenyal yang menggantung di dada Haura bergerak tak beraturan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Keanu menggenggam kedua buah kenyal itu, dan merem*s-rem*s layaknya bermain skuisi.


"Aahh! Olivia! Kau benar-benar membuatku gila." Tiada hentinya Keanu meracau dan memuji sang istri atas apa yang ia rasakan.


Olivia seakan terbang kelangit saat Keanu memujanya. Olivia merasa menjadi wanita yang paling beruntung. Bisa dicintai oleh laki-laki seperti Keanu. Olivia tidak ingin enak sendiri. Ia mendudukkan dirinya di atas pangkuan Jeff lalu menggerakkan pinggulnya keatas dan kebawah.


Ough, yeah!


Eungh ... Aahh! Aahh! Keanu ...


Keanu memegang pinggul sang istri untuk membantunya bergerak cepat. Keduanya sama-sama menganga. Kali ini Keanu tak dapat menahan lagi apa yang sempat ia tahan. Tubuhnya menegang, miliknya semakin mengeras dan berked** saat milik Olivia seperti merem**nya di dalam sana. Hingga sebuah erang** lolos dari mulut keduanya.


Aahh! Aahh!


Nafas keduanya tak beraturan. Tubuh mereka mengkilap akan peluh yang berasal dari permainan jungkat-jungkit tersebut. Keanu menciumi punggung sang istri yang masih setia duduk di atas pangkuannya. Milik mereka masih tetap menyatu seolah tak ingin dilepas.


"I love you, Olivia." Bisik Keanu tepat ditelinga sang istri.


Olivia tersenyum manis saat mendengar ungkapan cinta dari sang suami yang entah sudah keberapa ribu kalinya diucapkan. "Love you to, Keanu." Itulah jawaban Olivia. Sama seperti Keanu yang tak bosan mengungkapkan cinta terhadapnya. Olivia juga tak pernah bosan membalas ungkapan cinta dari Keanu.


Keanu menggendong Olivia untuk memasuki kamar lalu menuju ke bathroom. Ia ingin mandi bersama dengan sang istri. Sudah lama rasanya mereka tidak mandi bersama. Keanu harus menggunakan waktu ini sebaik mungkin, mengisinya dengan hal-hal yang akan membuat semangat keduanya bertambah.


"Bagaimana kalau kita mencoba gaya baru di dalam sini, Sayang." Ucap Keanu saat memasuki bathtub.


"Mas! Kita baru saja melakukannya selama hampir 3 jam di ruang tamu! Apa kamu tidak lelah!" Sungut Olivia yang merasa jengah dengan sikap sang suami. Ia merasa bahwa Keanu tidak pernah merasa lelah sedikitpun di dalam hal bercinta. Bahkan ia tadi sudah kel**r berkali-kali, tapi Keanu masih saja terus menggempurnya.


Olivia memang mengakui bahwa Keanu sangatlah perkasa. Tapi, jika ia tidak diberikan istirahat barang sejenak pun, bisa-bisa miliknya lecet.


"Aku hanya bercanda, Sayang. Mana mungkin aku tega membuat mu tak berdaya."


"Beneran?" Olivia menatap Keanu penuh selidik.


"Hu'um." Keanu menganggukkan kepala sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang membuat Olivia tercengang. "Tapi, besok pagi kita harus mencobanya di dalam sini, oke." Keanu berkata dengan mata yang berbinar.


Olivia pasrah saja. Lagipula semua itu memang sudah menjadi tugas serta kewajibannya dalam melayani seorang suami. Asalkan Keanu tidak berselingkuh, dan tidak melakukan KDRT. Maka Olivia akan siap siaga untuk melayaninya. Ah, satu lagi. Asalkan tamu bulanannya tidak datang. Hahahahah.


Hari ini Haura sudah pulang dari rumah sakit. Ia masih tidak rela kehilangan calon anaknya. Namun, seperti apa dikatakan oleh sang Mommy bahwa Tuhan sudah merencanakan sesuatu yang lebih indah dikemudian hari untuk dirinya. Haura akan mencoba untuk ikhlas menerima cobaan itu. Hanya saja pikirannya tertuju kepada Jeff. Ia sudah tahu mengenai apa yang terjadi selama ia tak sadarkan diri. Haura merasa tersentuh saat mendengar bahwa Jeff telah mengakui kesalahannya di depan keluarganya.


Walaupun semuanya sudah terlambat, tapi pengakuan Jeff sudah cukup untuk mengembalikan kepercayaan Haura yang sempat hilang terhadapnya. Haura tinggal melihat saja seberapa besar perjuangan Jeff untuk berubah menjadi pria sejati. "Jefferson! Dari dulu sampai sekarang rasa cintaku terhadapmu tetaplah sama. Aku mohon berjuanglah." Batin Haura penuh harap.


Haura sempat protes terhadap sang daddy mengenai pemutusan tali persaudaraan antara keluarga Pradipa dan keluarga Kingston. Namun, ucapan sang Daddy sama sekali tak bisa dibantah. Untuk saat ini Haura hanya bisa diam saja sambil memikirkan bagaimana caranya membantu Jeff agar bisa mendapatkan maaf dari sang Daddy.


Begitu sampai dikediaman Pradipa ternyata sudah ada Adit, asisten pribadi Reinaldo. Yang pastinya datang untuk membawa kabar penting. Sebab tidak bisanya Adit akan langsung datang ke kediaman Pradipa jika tak ada hal penting dan mendesak.


"Sayang. Antar Haura ke kamarnya. Aku ada urusan dengan Adit. Nanti menyusul lah ke ruang kerja." Titah Rei terhadap sang istri.


Zanna menurut saja. Ia yakin kedatangan Adit membawa kabar tentang penyelidikan kasus 21 tahun silam. Jantungnya berdebar saat mengingat wajah Flora yang sangat menggemaskan. Zanna sangat merindukannya. "Sayang, kamu istirahat saja. Mommy harus menyusul Daddy." Ucap Zanna sambil mengusap kepala sang putri.


"Why, Mom? What happen?" Haura sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Adit.


"Mommy juga tidak tahu, Sayang. Tapi, Mommy berharap Adit membawa kabar baik mengenai kasus kakak kamu. Sudahlah, nanti Mommy akan menceritakan apa yang disampaikan oleh Adit. Jangan terlalu banyak berpikir. Lebih baik kamu hubungi Jefferson mumpung tidak ada Daddy di sini." Zanna mengedipkan sebelah matanya kepada sang putri.


"Mommy!" Seru Haura dengan suara manja. Ah, Haura sangat beruntung bisa memiliki ibu sebaik Zanna yang selalu mengerti akan perasaannya. "Thank you Mom." Haura mengecup pipi kanan sang Mommy sebelum akhirnya ia ditinggal seorang diri dalam kamar yang megah tersebut.


Dengan cepat Haura mencari nomor kontak Jefferson pada ponselnya. Lalu mengirim pesan kepadanya.


"Aku sudah sampai dirumah. Apa kamu baik-baik saja?" Begitulah isi pesan yang dikirim Haura kepada Jefferson.


Tak berselang lama ponselnya kembali bergetar. Namun, bukan sebuah pesan yang masuk, melainkan sebuah panggilan video dari Jefferson melalui aplikasi whatsapp. Haura menggeser icon hijau untuk menjawab panggilan tersebut. Telihat jelas wajah tampan Jefferson di dalam layar ponselnya.


"Baby, maafkan aku. Seharusnya aku yang bertanya apakah kamu baik-baik saja? Maafkan aku yang tak bisa menjaga kamu sehingga kita harus kehilangan calon anak kita." ucap Jefferson dari seberang telepon.


"Its oke, Jeff. Ini semua terasa sangat berat untuk aku jalani. Aku belum bisa menerima kepergiannya. Tapi, aku akan berusaha untuk mengikhlaskannya." Haura berkata dengan suara parau. Ia berusaha keras untuk menahan air mata yang sejak tadi mendesak ingin keluar.


"Jangan menangis, Baby. Kamu harus kuat, dan kamu harus sehat. Aku akan berjuang untuk mendapatkan maaf dari kedua orang tua kamu. Percayalah, aku sangat mencintaimu, Haura."


"Semangat berjuang, Honey. Aku menunggumu disini." Haura tersenyum manis untuk memberikan semangat kepada laki-laki yang ia cintai.


"Apa? Kamu manggil aku apa? Coba diulang sekali lagi." Pinta Jefferson begitu antusias. Ia tadi mendengar Haura memanggilnya Honey. Inilah kali pertama Haura memanggilnya dengan begitu mesra. Aaaahh, jantung Jeff seakan meleleh dibuatnya.


"Emm ... Aku harus istirahat. Nanti aku hubungi kamu lagi." Haura mencari alasan untuk menghindari permintaan Jeff. Ia jadi malu sendiri.


"Baby ... Ayolah, satu kali saja. Aku ingin mendengarnya lagi." Jefferson memasang wajah memelas agar Haura mau mengikuti permintaannya. 


Haura sedikit ragu. Namun, ia tidak tega melihat Jefferson memohon kepadanya. "Yes Honey. Klik!" Setelah mengatakan itu, Haura langsung menutup panggilannya. Jantungnya berdebar saat mengatakan sesuatu yang sangat menggelikan menurutnya.


Jefferson mematung ditempatnya saat mendengar suara seksi sang pujaan hati. Ia meneguk saliva nya dengan susah payah. Haura bukan hanya memanggilnya, tapi juga membangunkan adik kecilnya di bawah sana. Entah Haura sengaja atau tidak, ia terdengar seperti sedang menggoda Jefferson dengan suaranya yang dibuat se seksi mungkin, dan terdengar mendayu-dayu. Walaupun Haura mengatakannya secara singkat, tapi mampu membangkitkan has** Jefferson.


Jeff segera berlari ke dalam kamar mandi untuk bersolo karir. "Haura, kamu semakin nakal ternyata. Aku sudah tidak sabar ingin memberikan hukuman terhadap mu." Kata Jeff sambil memainkan lima jarinya di bawah sana untuk mengeluarkan mayones.


Di dalam ruang kerja.


"Apa yang kamu dapatkan Dit?" tanya Rei to the point. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui info tentang Flora.


"Saya menemukan rekaman CCTV di depan rumah Anda yang lama, Tuan." Adit menunjukkan hasil rekaman tersebut kepada sang atasan yang telah ia salin ke dalam ponselnya.


"Rekaman CCTV? Bukankah waktu itu CCTV di rumah sedang bermasalah?" Rei tampak kebingungan. Di rumah ia yang dulu memang ada beberapa CCTV untuk berjaga-jaga saja, meskipun kualitasnya tidak sebagus dengan CCTV yang ada dirumahnya sekarang ini. Karena itu saat ia ingin memeriksa rekaman CCTV untuk melihat siapa orang yang telah menculik Flora, ternyata CCTV di rumahnya tengah bermasalah. Akhirnya Rei tidak dapat mengetahui siapa sang penculik tersebut.


"Saya sudah memperbaikinya, Tuan. CCTV di rumah anda yang dulu bukan benar-benar rusak. Tapi, memang ada yang menyabotasenya." Terang asisten Adit dengan ekspresi serius. Asisten Adit memang sangatlah cerdas. Ia juga ahli dalam bidang meretas CCTV yang sempat disabotase. Karena itu Rei menjadikannya asisten pribadi. Hanya saja Rei terlambat memberikan tugas kepadanya. Andaikan sejak dulu ia memerintahkan Adit untuk menyelidiki kasus penculikan Flora, pasti ia sudah mendapatkan informasi tersebut.


Rei mulai memutar video hasil rekaman CCTV pada 21 tahun silam. Kualitas gambarnya memang tidak terlalu bagus, tapi cukup jelas bagi Rei untuk melihat siapa yang telah menculik Flora waktu itu. Terlihat jelas di sana saat Flora tengah bermain kejar-kejaran di halaman rumah bersama dengan Lili. Wajah Flora terlihat sangat ceria, walaupun usianya baru satu tahu, tapi ia sudah bisa berlari-lari kecil. Hati Rei terasa sakit saat melihat video tersebut.


Flora dan Lili mengganti permainan dengan petak umpet. Orang pertama yang bersembunyi adalah Lili. Flora mulai mencari Lili yang tengah bersembunyi di balik kursi. Namun saat Flora tengah asik dengan permainannya, tiba-tiba datang sebuah mobil hitam yang berhenti tepat dihalaman rumah. Terlihat seorang laki-laki berbadan kekar tengah berjalan kearah Flora lalu menggendongnya. Flora menangis saat ada orang asing yang ingin membawanya pergi.


Lili yang mendengar tangisan Flora langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Ia sangat terkejut saat ada orang asing di sana. "Siapa kamu? Lepaskan Non Flora." Teriak Lili dengan kedua mata yang melotot tajam.


Laki-laki yang menggendong Flora langsung menghajar Lili sampai pingsan. Sungguh dia adalah laki-laki yang sangat kejam. Setelah itu laki-laki tersebut langsung membawa Flora masuk ke dalam mobil hitam. Flora yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa, ia hanya bisa menangis sambil berteriak memanggil sang Mommy dan Daddy.


Tangan Rei terkepal kuat saat menyaksikan video tersebut. Air matanya luruh seketika. Ia tidak akan mengampuni orang yang telah menculik Flora, dan juga siapa yang terkait dengannya.


Ceklek!


Terlihat Zanna memasuki ruang kerja sang suami untuk ikut mendengarkan informasi apa yang Adit bawa. Tak banyak tanya, sebab kedatangannya langsung disuguhi oleh sebuah rekaman CCTV yang diperlihatkan oleh sang suami. Zanna menutup mulut, hatinya terasa ngilu saat melihat Flora menangis waktu itu.


"Siapa laki-laki itu, Mas? Kenapa dia tega menculik Flora?" ucap Zanna dengan linangan air mata yang membasahi kedua pipinya.


"Entahlah, aku todak tidak tau apa motifnya kenapa bisa menculik Haura. Padahal waktu itu aku sama sekali tidak mempunyai musuh. Adit cepat cari informasi mengenai orang ini, dan selidiki juga mobil yang ditumpanginya." Titah Rei dingin.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit undur diri." Adit sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Setelah sang atasan mengembalikan ponselnya, Adit langsung bergegas pergi dari ruang kerja tersebut untuk menjalankan perintah sang atasan.


Rei mengusap wajahnya kasar. Ia harus segera menangkap orang sudah menculik Flora, dulu. "Haura dimana?" ucap Rei mengalihkan perhatian Zanna yang masih menangis. Ia tidak ingin larut dalam kesedihan. Sebab sekarang bukan waktunya untuk bersedih. Yang paling penting adalah menemukan pelaku dalam penculikan Flora.


"Dia ada dikamarnya, Mas." Zanna menghapus sisa air matanya. "Aku ingin menemui Haura dulu, Mas."


"Tunggu, Sayang." Rei menahan tangan sang istri dengan lembut, lalu mendudukkannya di atas pangkuannya.


Kedua mata mereka saling bertemu. Rei mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka menyatu. Namun, hanya sebentar, sebab Zanna lebih dulu melepaskan pagutannya. "Mas! Sekarang bukan waktunya." Protes Zanna dengan wajah cemberut.


"Lalu kapan waktunya, Sayang, hum? Kita sudah lama tidak melakukannya," ucap Rei dengan manja.


"Lama? Baru juga dia hari, Mas." Zanna dibuat jengah oleh tingkah sang suami yang tak ada bosan-bosannya dalam hal bercocok tanam.


"Suasana hatiku sedang kacau. Berikan aku vitamin agar aku semangat, Sayang." Rei mulai merem** salah satu buah kenyal milik sang istri yang masih terasa kencang.


Jika sudah seperti ini, menolak pun tiada gunanya. Zanna pasti selalu terbuai akan sentuhan sang suami. Ah, dirinya terlalu lemah hingga tak dapat menolak keinginan Rei yang begitu memabukkan. Akhirnya terjadilah permainan tanaman-tanaman di dalam ruang kerja Rei. Entah gaya apa yang mereka gunakan Author nya juga tidak tahu.