Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 30.



Hari ini Haura sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Dimas karena keadaannya yang sudah membaik. Hanya saja Haura harus bed rest selama 1 minggu untuk menjaga kesehatan janinnya yang sempat pendarahan. Haura pulang diantar oleh Keanu.


"Terimakasih atas bantuannya," ucap Haura memecah keheningan di dalam mobil yang ia tumpangi bersama Keanu.


"Aku melakukannya karena kesepakatan kita." Keanu menjawab dengan cepat.


"Ya aku tahu itu. Tapi, tetap saja aku sangat berterimakasih. Mana ada laki-laki yang mau menikah dengan wanita hamil, hasil dari laki-laki lain."


"Ada! Aku. Hehehehe." Keanu terkekeh geli. Sekarang ia terlihat lebih akrab dengan Haura. Keanu merasa Haura adalah wanita yang asik jika diajak ngobrol. Ia kira Haura pribadi yang manja dan kekanak-kanakan. Namun, ternyata Haura jauh lebih dewasa dari yang ia bayangkan. Tidak masalah meskipun ia harus menikahi Haura demi masa depan Olivia serta anaknya yang masih berusia 2 tahun.


Rencananya yang akan pergi jauh setelah bertunangan sama Haura untuk menikah dengan Olivia, Keanu tunda. Ia rasa kesepakatan yang dibuat oleh Haura jauh lebih menggiurkan, dan jauh lebih aman dari amukan sang papa.


"Tapi, hanya pernikahan palsu. Oiya kapan aku bisa bertemu dengan Olivia? Aku ingin berbicara empat mata dengannya. Pasti akan sangat sulit untuk Olivia menerima keputusan ini. Semoga saja dia mau mengerti, dan menunggu sampai anak ini lahir," tutur Haura panjang-lebar.


"Setelah masa pemulihan kamu berakhir. Kamu tenang saja, Olivia bukan wanita jahat, dan egois. Jika kita menjelaskan semuanya dengan benar, maka Olivia akan mengerti. Lagipula ini kesempatan bagus untuk aku dan Olivia," ungkap Keanu menjelaskan.


"Ya semoga saja." Haura hanya bisa pasrah. Ia hanya butuh sosok suami hingga ia melahirkan nanti. Setelah itu Haura akan mengembalikan Keanu kepada Olivia. Ah, rasanya Haura sudah menjadi wanita paling jahat di dunia ini, sebab ia akan menikahi calon suami orang.


"Bagaimana dengan Jeff?" tanya Keanu pelan. Ia takut membuat Haura tersinggung dengan pertanyaannya.


"Aku tidak ingin mendengar namanya." Haura sudah bertekad tidak akan pernah memaafkan Jefferson yang sudah melukai fisik dan batinnya.


"Tapi ... Dia adalah ayah biologis dari anak kamu. Saat anak kamu sudah besar kelak, ia pasti akan menanyakan ayah kandungnya. Sedangkan aku tidak mungkin mengakui hal itu. Apalagi aku sudah memiliki Marvel."


"Aku tahu, Keanu. Sudahlah jangan ikut campur masalah tentang Jefferson. Itu akan menjadi urusanku setelah kita bercerai nanti."


"Okay, sorry. Tak ada maksud untuk ikut campur." Keanu memilih diam saja takut membuat Haura semakin kesal.


"Its oke." Haura tersenyum tipis kepada Keanu.


Tak berselang lama akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Keanu dan Haura telah sampai di kediaman Pradipa. Keanu dengan perhatian membukakan pintu mobil untuk tunangannya, lalu membimbingnya masuk ke dalam rumah. Mereka disambut hangat oleh Zanna dan Rei.


"Sayang, kita langsung makan siang bersama ya. Mommy sudah memasak makanan kesukaan kamu sama Keanu," ujar Zanna penuh semangat.


"Makanan kesukaan aku?" tanya Keanu penasaran. Pasalnya ia tidak pernah memberitahukan makanan kesukaannya terhadap tante Zanna.


"Iya kesukaan kamu. Rendang sapi 'kan?" Zanna balik tanya kepada Keanu.


"Rahasia." Jawab Zanna terkekeh kecil.


Keanu pasrah saja, entah tante Zanna tahu dari siapa Keanu tidak perduli. Mereka langsung menuju ke ruang makan untuk melangsungkan acara makan siang bersama.


Sedangkan ditempat lain Jeff tengah frustasi. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ingin rasanya Jeff membongkar apa yang pernah terjadi antara dirinya dan Haura sebelum Haura mengalami kecelakaan. Namun, Jeff tidak bisa karena itu sama saja ia mencari mati jika sampai sang daddy tahu kelakuan bej*dnya yang lebih parah dari yang dia lakukan kemarin terhadap Haura.


"Aargh! Sial! Kenapa jadi serumit ini. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau kehilangan Haura, tapi aku juga tidak mau terkena amukan daddy untuk yang kedua kalinya. Sekarang saja aku sudah mendapatkan hukuman dari daddy dan mommy. Jika mereka tahu kalau aku sudah merenggut kesucian Haura dan juga mengancamnya, bisa-bisa aku dicoret dari daftar kartu keluarga Kingston." Ucap Jeff frustasi.


"Apa aku sudah keterlaluan terhadap Haura? Apa aku juga harus jujur kepada mommy dan daddy tentang apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku harus mengorbankan nama baikku agar bisa menebus kesalahanku terhadap Haura? Apa aku harus bersujud di kaki Haura supaya medapatkan maafnya?" Monolog Jeff sambil mondar-mandir layaknya setrikaan.


Jeff berpikir keras untuk meluruskan masalah yang menimpanya. Ia sadar jika semua masalah berasal darinya. Andaikan saja ia tidak menodai Haura dan menyuruhnya untuk tutup mulut, maka semuanya tidak akan serumit ini. Bahkan Haura sekarang tidak mengingatnya.


"Tunggu! Bukankah cinta tidak akan salah mengenali orang yang dia cintai? Jadi, meskipun Haura hilang ingatan seharusnya dia tetap ada rasa sama aku saat kita bertemu. Amnesia juga tidak mungkin bisa merubah perasaan seseorang, dan hanya akan mengubah memori ingatannya. Apa jangan-jangan ...." Jeff menggantung ucapannya saat dipikirannya terlintas akan sesuatu yang mencurigakan.


Dengan cepat Jeff menyambar kunci mobilnya. Ia ingin pergi ke suatu tempat untuk memastikan kecurigaannya. Jeff tidak mau kecolongan. Ia harus secepatnya menyelesaikan masalah yang terjadi antara dirinya dan Haura. Jika kecurigaannya terbukti benar, maka Jeff akan menemui Haura sekarang juga. Ia tidak perduli dengan Om Rei yang akan menghajarnya.


Jeff menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit Medika. Jeff berlari di koridor rumah sakit. Tujuannya adalah ruang dokter yang menangani Haura, yaitu dokter Dimas. Jeff harus mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya dari dokter Dimas.


Bagi seorang Jefferson sangatlah mudah mencari dimana ruangan dokter Dimas. Siapa yang tak kenal dengan dirinya. Siapa juga yang berani melawan perintahnya. Jika ada yang berani maka bersiaplah kehancuran akan mendatanginya.


Tanpa mengetuk pintu Jeff langsung menerobos masuk ke dalam ruangan dokter Dimas. Tentu saja dokter Dimas sangat terkejut dengan kehadiran Jeff di sana. Hampir saja dia marah karena tidak sopan memasuki ruangannya. Namun, saat melihat siapa yang datang membuat nyali dokter Dimas menciut.


"Sekarang siang Tuan Jefferson. Ada keperluan apa hingga Anda datang kemari." Ucap dokter Dimas dengan sopan.


"Ada yang ingin saya bahas." Jeff berkata sambil melangkah ke kursi tempat biasanya dokter Dimas duduk.


"Tentang apa, Tuan?" tanya dokter Dimas penasaran. Sebab baru kali ini Jefferson datang menemuinya untuk sesuatu. Pasti ada hal penting yang ingin Jefferson bahas.


"Tentang kesehatan Haura. Jelaskan semuanya dengan benar. Apa dia benar-benar amnesia atau tidak!" Tegas Jeff to the point.


Dokter Dimas membulatkan kedua matanya sempurna. Tubuhnya seakan tak bertulang. Ia benar-benar gugup sekaligus takut. Dokter Dimas bingung harus menjawab apa. Di satu sisi ia sudah berjanji kepada Haura untuk merasahasiakan kebenaran yang sesungguhnya. Tapi, di sisi lain ia sangat takut terhadap Jefferson. Dokter Dimas tahu betul orang seperti apa yang tengah berhadapan dengannya.


"Ah, i-itu ...."