
Grep!
Jeff memeluk tubuh Haura dari arah belakang. Membuat Haura sangat terkejut dengan tindakannya. "Lepas! Kakak mau apa!" Haura berusaha melepaskan tangan Jeff yang melingkar di perutnya.
"Sebentar! Hanya sebentar! Biarkan aku seperti ini dulu, Haura," pinta Jeff dengan suara parau. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Haura. Menghirup aroma vanila dalam pada tubuh Haura yang telah menjadi candunya.
Jantung Haura berdebar kala Jeff semakin mengeratkan pelukannya. "Tolong lepaskan, Kak. Kita ini saudara! Tidak sepantasnya Kakak memelukku." Haura menaikkan satu oktaf suaranya, hingga Jeff melepaskan pelukan itu secara perlahan.
"Kenapa, Haura? Bahkan dulu kamu yang selalu menginginkan pelukan dariku." Jeff tidak tahan untuk membuat Haura kembali mengingatnya.
"Maksud Kakak apa? Aku tidak mengerti."
"Sebelum kamu mengalami kecelakaan. Kamu itu sangat mencintai ku, Haura. Bahkan kamu rela memberikan kesucian mu hanya untukku." Jeff menatap manik mata Haura dengan dalam.
Haura menggelengkan kepalanya tak percaya. Sebisa mungkin Haura mempertahankan kepura-puraannya dalam masa amnesia itu. "Itu tidak mungkin, Kak. Sangat tidak masuk akal jika aku mencintai Kakak sepupu ku sendiri."
"Tapi, itulah kenyataannya Haura. Apa kamu perlu bukti?" Jeff tersenyum smirk kepada Haura seolah ingin membuktikan sesuatu dengan caranya sendiri.
"Bukti apa maksud Kakak, dan apa juga yang harus di buktikan?" Haura berbicara setenang mungkin. Ia tidak mau kebohongannya terbongkar oleh Jefferson.
"Membuktikan kalau kamu sudah tidak suci, dan akulah yang merenggut kesucian mu."
Plak!
Haura sangat marah mendengar ucapan Jeff yang seolah merendahkannya karena sudah tidak suci lagi. "Jaga ucapan Kakak. Aku bukan jal*ng yang akan dengan mudahnya memberikan kehormatan ku kepada sembarangan orang." Kedua mata Haura berkaca-kaca. Sepertinya ia tidak akan sanggup lagi menahan cairan bening itu.
"Kamu memang bukan jal*ng, tapi kamu sep-"
"Cukup! Lebih baik Kakak keluar dari kamar ini. Atau aku akan teriak agar semua orang datang ke sini," ancam Haura dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Tidak akan! Sebelum kamu mengingat semuanya aku tidak akan keluar. Jika ingin berteriak, teriak lah. Kamar ini kedap suara. Seberapa keras kamu berteriak, tidak akan ada yang mendengarnya." Jeff tiada takutnya. Ia dengan sengaja menantang Haura untuk berteriak. Biarkan saja semua anggota keluarganya menggerebek mereka supaya Haura tidak jadi menikah dengan Keanu.
"Kau benar-benar g*la, Jefferson!" Hardik Haura dengan mata menyala. Ia tidak akan sudi melakukannya lagi dengan Jefferson meskipun Haura masih mencintai Jeff. Haura tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya. Lebih baik Haura keluar dari kamar itu dan pergi ke kamar Keanu. Namun, dengan cepat Jeff mencegahnya.
Jeff mengangkat tubuh Haura, lalu menggendongnya seperti koala dengan kepala di bawah.
"Aaaarrgh! Turunkan aku! Jefferson!" Haura memukul-mukul punggung Jeff dengan keras. Rambutnya yang basah menjuntai ke bawah.
Jeff tidak menghiraukan teriakan dan pukulan Haura yang tengah memohon untuk di turunkan. Malam ini Keff akan membuat ingatan Haura kembali apapun caranya. Sebab tidak ada waktu lagi, karena minggu depan adalah hari pernikahan Haura dan Keanu akan digelar.
Bruk!
"Kamu mau apa, Jefferson?" Haura meringsut mundur ke sisi ranjang. Ia ingin lari dan lepas dari Jefferson yang tiba-tiba mengerikan.
Grep!
Jeff menangkap kaki Haura, menariknya, dan membuatnya terlentang di atas kasur. Jeff menindih tubuh Haura, lalu melah*p bibirnya dengan rakus. "Emph ... Emph ...." Haura ingin berteriak tapi tidak bisa. Ingin berontak juga tidak bisa, sebab Jeff mengunci semua pergerakannya.
Jeff membuka tali bath robe pada tubuh Haura dengan cekatan. Hingga bath robe itu terlepas dengan sempurna. Memperlihatkan kulit putih Haura yang seperti susu. Jeff terpanah melihat pemandangan di depan matanya. Tingkat sakti mandraguna milik Jefferson langsung berdiri tegak. Bahkan lato-lato nya sudah siap bertempur untuk menggemparkan dunia.
"Lepaskan, Jefferson! Jangan g*la kamu!" Haura marah, benar-benar marah terhadap Jeff. Mungkin dulu Haura dengan suka rela memberikan tubuhnya kepada Jeff karena mencintainya. Namun, sekarang Haura tidak akan bodoh lagi. Apalagi ada janin di dalam rahimnya yang harus ia jaga.
Jeff tidak menggubris ucapan Haura, ia dengan cekatan membuka pakaiannya sendiri. Lalu kembali menindih tubun Haura. Jeff menggeram kala senjatanya bersetuhan dengan goa milik Haura. Rasanya begitu hangat. Ia bagaikan disengat oleh aliran listrik yang membangkitkan gair*hnya.
Haura menggelengkan kepala agar Jeff tidak melakukan pelece**n terhadapnya. Ya, pelece**n, sebab Jeff melakukannya dengan paksaan yang juga bisa dikatakan sebagai pemerk***an. Namun, Jeff seakan tuli. Ia tidak menghiraukan permohonan Haura.
"Eungh!" Jeff kembali menggeram saat Haura memberontak yang otomatis badannya bergerak hingga mengges*k tongkat saktinya. "Jangan bergerak Haura, kau semakin membuatku tak tahan." Jeff berkata sambil memejamkan matanya.
Jeff membuka kaki Haura lebar-lebar menggunakan kedua kakinya. Ia memposisikan tongkatnya ke lembah surgawi milik Haura. "Tidak! Jangan lakukan itu, Jeff! Aku mohon!" Haura menangis menatap penuh permohonan kepada Jeff.
"Diamlah, Haura. Biarkan kali ini aku mendominasi. Bahkan dulu kamu tidak setakut ini." Lagi-lagi ucapan Jeff melukai perasaan Haura.
Jeff menghentakkan pinggulnya dengan sekali hentakan. Walaupun terasa sangat sulit, tapi Jeff tidak mau mengulangnya lagi, dan menunggu terlalu lama.
Jleb!
Aaaakh!
Haura merintih kesakitan dibawah kungkungan Jefferson. Bukan hanya miliknya yang terasa sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit. Perlakuan kasar Jeff membuat Haura merasakan sakit fisik dan batin.
Jeff terus memompa tubuhnya di atas Haura, hingga lato-latonya bertabrakan dengan kulit Haura yang menimbulkan suara aneh. Jeff merasa miliknya terjep*t. Sungguh rasanya jauh lebih nikm*t dibandingkan dengan pertama kali ia melakukannya bersama Haura.
Haura merasakan perut bagian bawahnya kram. Sakit sekali, Haura tidak bisa menahannya lagi. Ia seperti akan kehilangan nyawanya, sebab Jeff menghantam nya dengan keras. "Hen-tik-kan, Jeff. I-ni sang-at sak-kit." Ucap Haura terbata.
Jeff yang menyadari kesakitan di wajah Haura. Ia mempercepat gerakannya hingga bibit terongnya menyembur sempurna di dalam rahim Haura. Jeff melepaskan senjatanya dengan perlahan. Betapa terkejutnya ia saat melihat banyaknya darah yang keluar dari milik Haura, hingga menggenang di atas sprei.
Jeff menatap Haura yang sudah menutup mata. Tubuh Jeff bergetar, ia tidak menyangka bahwa perbuatannya sudah mencelakai Haura. "H-haura, bangun." Jeff berusaha membangunkan Haura. Namun, hasilnya nihil. Haura tetap setia menutup kedua matanya dengan tubuh lemas.
"Dasar bedeb*h! Apa yang kamu lakukan kepada Haura!"