
Haura sangat senang karena Jeff menghabiskan bekal yang dia bawa. Bahkan Jeff dengan senang hati mengantarkan Haura pulang ke rumah. Sungguh Jeff adalah laki-laki yang sangat perhatian. Haura semakin tergila-gila kepadanya. Ia harus berusaha keras lagi untuk mendapatkan hati Jeff.
"Kak, minggu depan hadir ya ke acara wisuda ku di kampus," pinta Haura dengan penuh harap.
Jeff tidak langsung menyetujuinya karena disana pasti akan di hadiri oleh banyak orang. Sebab Jeff tidak suka dengan keramaian. Namun, saat melihat tatapan mata Haura membuat Jeff merasa tidak tega. Akhirnya ia menyetujui permintaan adik sepupunya.
"Baiklah, aku akan datang. Tapi mungkin sedikit terlambat."
"Tidak apa-apa Kak. Aku pasti menunggu kehadiran Kak Jeff di sana." Haura begitu senang Jeff akan datang ke acara wisudanya. Hingga dalam perjalanan pulang ia terus mengembangkan senyumannya.
"Ayo Kak mampir dulu ke dalam," ajak Haura ketika mereka sudah sampai di kediaman Pradipa.
"Lain kali saja, Ra. Aku masih ada acara di luar," tolak Jefferson dengan halus. Ia tidak ingin memberikan harapan palsu terhadap Haura. Jeff sangat tahu kalau Haura mendekatinya karena rasa cinta.
Meskipun Jeff dan Haura adalah saudara sepupu, tapi tidak masalah bagi mereka jika menjalin kasih ataupun sampai menikah. Hanya saja Jeff tidak ingin menjalin kasih dengan wanita manapun. Yang penting kebutuhan biologisnya sudah terpenuhi.
"Ya sudah hati-hati di jalan, Kak." Haura melambaikan tangan ketika mobil Jeff keluar dari halaman rumahnya. Tidak masalah walaupun Jeff tidak mampir ke dalam rumah. Cukup di antarkan pulang saja hati Haura sudah berbunga-bunga.
"Sayang, kamu pulang sama siapa?" tanya Zanna, mommy-nya Haura.
"Aku diantar sama kak Jeff, Mom." Haura berkata dengan wajah yang berseri.
"Hem, pasti senang sekali ya diantar sama gebetan," ledek Zanna kepada sang putri. Ia sudah tahu mengenai perasaan Haura terhadap Jeff.
Zanna setuju-setuju saja jika Haura menikah dengan Jefferson, putra dari kakaknya sendiri, Kirana. Hanya saja Zanna tidak tahu bagaimana perasaan Jeff terhadap Haura.
"Mommy apaan sih," Haura terlihat malu-malu di depan mommy-nya. Karena pada dasarnya Haura memang wanita pemalu.
"Ya sudah lebih baik kamu istirahat dulu, nanti malam ada acara makan malam dengan keluarga Mahendra, mereka meminta kamu agar ikut makan bersama."
"Aku malas Mom," rengek Haura kepada sang mommy.
"Kali ini saja, Sayang. Kasian mereka sangat ingin bertemu sama kamu. Lagipula ini adalah perintah dari Daddy kamu."
"Aahh! Ya udah deh aku ikut saja." Haura berjalan kearah kamar dengan langkah gontai. Kalau sudah berurusan dengan sang daddy pasti Haura tidak bisa menolaknya.
Haura tidak ingin mengecewakan daddy-nya, cinta pertama bagi seorang anak perempuan, termasuk juga dirinya yang sangat mencintai sang daddy. Begitu juga dengan sang mommy, Haura sangat menyayanginya. Sejak kecil Haura tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Jadi, Haura sedikit ingin berbalas budi dengan menuruti perintah dari kedua orang tuanya.
Asalkan bukan masalah hati, siapapun tidak bisa mengatur perasaan Haura untuk singgah di hati siapa. Karena di hatinya hanya bertakhta nama Jefferson, dan tidak akan tergantikan dengan laki-laki manapun.
Haura sangat tahu kalau keluarga Mahendra ingin sekali menjodohkan dirinya dengan putra mereka yang bernama Keanu. Namun, Haura selalu menolaknya dengan alasan ia masih terlalu muda untuk menjalin hubungan serius dengan seseorang.
Haura tersenyum membayangkan dirinya menikah dengan Jeff dan hidup bahagia serta dikaruniai anak-anak yang lucu bersamanya. Ia mengirim pesan kepada Jeff, sebuah pesan yang menunjukkan rasa perhatian darinya.
Calon suami : "Kak Jeff jangan lupa istirahat meskipun sibuk dengan banyaknya pekerjaan. Supaya kakak tidak sakit, dan minggu depan bisa hadir di acara wisuda ku."
Haura tersenyum saat membaca isi pesan yang ia kirimkan kepada calon suaminya. Ya, Haura sudah mengasumsikan bahwa Jeff adalah suaminya.
Sedangkan Jeff tidak memperdulikan suara ponselnya yang bergetar. Ia sibuk mendes*h di bawah kuasa Nita. Dia membawa Nita ke salah satu apartemen miliknya untuk menuntaskan hasr*tnya yang sudah berada di ubun-ubun.
Aahh! Olivia! Lebih cepat!
Jeff mencengkram rambut Nita dengan begitu kuat. Ia merasa tidak tahan, lalu menggerakkan pinggulnya dengan gerakan maju-mundur cantik. Mul*t Nita sudah penuh dengan terong jumbo milik Jeff yang sangat perkasa.
Bukan hanya jumbo, tapi juga begitu panj*ng hingga terong itu menembus kerongkongan Nita. Mambuat Nita terbelalak kaget, ia tidak menyangka bahwa Jeff begitu brutal jika hasratnya sudah memuncak.
Emph ... Emph ... Emph ...
Nita mencengkram tangan Jeff yang menjabak rambutnya saat merasakan pelepas*n.
Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...
Nita tersedak karena mayones yang keluar dari tongkat sakti mandraguna milik Jeff begitu banyak. Namun, tidak lama setelah itu Nita tersenyum bahagia saat melihat Jeff puas dengan servis yang dia berikan.
"Tuan, jika anda ingin yang lebih dari ini. Saya juga bisa," tawar Nita dengan tangan yang meraba-raba perut sixpack, Jefferson.
"Jangan mimpi! Tidak sembarangan wanita yang bisa aku masuki," tandas Jeff penuh penekanan. Ia menepis tangan Nita dengan kasar, Jeff sangat jijik melihat seorang wanita yang menawarkan dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan kepuasan serta bayaran layaknya seorang j*lang.
Meskipun Nita memang salah satu j*lang yang ia sewa selama satu bulan. Namun, hanya j*langnya dalam memakan ice cream.
Jeff selalu membandingkan semua wanita dengan Olivia yang sangat menjaga dirinya dari sentuhan laki-laki termasuk dirinya. Bahkan dulu waktu mereka ada di kota A, Jeff selalu merayu Olivia agar bisa tidur dengannya, tapi di tolak mentah-mentah oleh Olivia.
Padahal Jeff melakukannya hanya untuk menjadikan Olivia miliknya seutuhnya, dan agar Olivia tidak berpaling kepada laki-laki lain. Jeff yang sudah dewasa dan terpengaruh dengan pergaulan di kota A sangat bebas. Jadi, Jeff melakukannya dengan wanita lain meskipun hanya melakukan cara itu-itu saja.
Jeff memerintahkan Nita untuk segera pulang. Sebab Jeff tidak mau wanita itu tinggal terlalu lama di apartemennya. Semua mantan sekertarisnya sering Jeff bawa kesana jika tiba-tiba dirinya butuh pelampiasan.
Jeff mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Ia membaca pesan dari Haura tanpa berniat membalasnya. Lebih baik Jeff melanjutkan pencariannya terhadap Olivia yang hilang secara tiba-tiba. Ia yakin kalau Olivia ada di kota J, tapi Jeff tidak menemukan titik terang mengenai keberadaannya.
Jeff hanya mengandalkan Arvin dalam pencarian itu. Namun, entah mengapa keberadaan Olivia sangat sulit di temukan. Meskipun Jeff sudah di patahkan hatinya oleh Olivia, tapi Jeff tetap mencintainya.
"Aku harus bisa menemukan mu Olivia! Agar aku bisa menghapus rasa cinta ini yang begitu menyakitkan," batin Jeff penuh ambisi.