
Arvin dengan setia mendengarkan curahan hati sahabat bastard-nya itu. Bukannya merasa iba, Arvin malah tertawa terbahak-bahak. Akhirnya keinginannya terkabul. Jeff menyesal sudah menyia-nyiakan Haura hanya demi cinta masa lalunya.
"Sialan kau! Teman lagi susah malah bahagia." Jeff memukul pelan bahu Arvin merasa kesal.
"Itu adalah balasan yang setimpal, Jeff. Kamu bahkan mengatakan Haura wanita murahan, dan juga tega menukarnya dengan Olivia. Sekarang keinginan mu tercapai 'kan. Haura benar-benar akan bertunangan dan menikah dengan Keanu tanpa kamu minta." Arvin berkata dengan wajah serius.
"Itu karena aku tidak tahu niat busuk Olivia. Sekarang aku ingin memperbaiki hubungan ku dengan Haura." Jeff bertekad akan memperjuangkan cintanya terhadap Haura.
Cinta? Jika mengingat kata itu membuat Jeff kembali merasa bersalah. Sebab Jeff selalu mengatakan tidak percaya dengan yang namanya cinta kepada Haura, dan sekarang Jeff sudah termakan dengan ucapannya sendiri. Dia baru sadar kalau hatinya telah memilih Haura, bukan Olivia.
"Hubungan apa yang kamu maksud? Bukankah tidak ada hubungan spesial diantara kamu dan Haura? Selain ikatan saudara sepupu." Arvin mengingatkan status Jeff dan Haura yang sesungguhnya, hingga membuat Jeff menciut.
"Aku yakin Haura masih sangat mencintai ku. Jadi, status kami akan berubah menjadi suami-istri, bukan lagi kakak beradik." Jeff berkata penuh percaya diri. Padahal Haura sudah melupakannya.
"Ckckckck! Terserah kau saja. Jika kamu benar-benar mencintai Haura. Maka berjuanglah. Aku tidak bisa membantu apapun dengan keadaan Haura yang sekarang. Aku takut berdampak buruk pada kesehatannya."
"Tidak masalah. Aku bisa berjuang sendiri tanpa bantuan orang lain termasuk kamu." Lagi-lagi Jeff bersikap sombong. Ya, meskipun ucapannya selalu benar.
Arvin pergi meninggalkan Jeff seorang diri di restoran Muara. Tempat favorit mereka berdua ketika sedang besantai, ataupun ingin membahas sesuatu. Arvin tidak sabar ingin bertemu dengan sang kekasih, dan ingin bermain di atas ranjang. Ah, Arvin semakin tergila-gila kepada Jeni yang selalu membuatnya kecanduan.
"Honey, I coming." Arvin memasuki apartemen dengan senangnya. Namun, ia tidak menemukan keberadaan sang kekasih di sana. "Jen! Jeni! Kamu dimana?" Arvin terus mencari keberadaan Jeni di setiap sudut ruangan. Tapi, ia tidak menemukannya.
Arvin menemukan kertas di atas nakas samping tempat tidur, yang ternyata adalah surat dari Jeni. Arvin membacanya dengan jantung berdebar.
"Maafkan aku yang tak sanggup hidup bersama mu lagi, Arvin. Aku sangat mencintaimu, tapi ... Aku juga tak bisa menjalani hubungan ini tanpa adanya kepastian. Kita memiliki komitmen yang berbeda, dan tak akan pernah menjadi sama. Aku harap kita bisa menjalani kehidupan yang baru, serta mencari kebahagiaan dengan pasangan yang sesuai dengan kriteria kita. Aku selalu takut di campakkan oleh mu, jika aku tidak patuh dengan aturan yang kamu buat di dalam hubungan kita. Sedangkan aku sangat ingin menikah dan memiliki anak darimu. Namun, apalah dayaku yang tak mampu membuat hatimu luluh."
"Aku hanya wanita pelampiasan mu saja 'kan?Aku yakin kamu tidak sungguh-sungguh mencintai ku. Bodohnya aku yang percaya dengan semua ucapanmu. Kau tahu Arvin? Aku selalu tertekan dengan kehidupan yang kita jalani. Aku lelah saat berpura-pura bahagia di depan kamu. Aku harus kuat berperang dengan batinku yang tak sejalan dengan pikiran ku."
"Aku harap setelah ini kita tidak bertemu lagi. Jika bertemu pun, tolong berpura-pura lah tidak saling mengenal. Terimakasih sudah memberikan sesuatu yang paling berharga untuk ku. Sesuatu yang sangat aku inginkan dari dulu. Aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku. Maaf, aku telah lancang melanggar peraturan darimu."
Jatung Arvin seakan berhenti berdetak setelah membaca isi surat itu. Ia tidak bermaksud memberikan harapan palsu terhadap Jeni. Arvin hanya belum siap untuk menuju ke jenjang pernikahan. Jauh dari lubuk hatinya yang terdalam Arvin sangat mencintai Jeni, dan tidak berniat sedikitpun untuk mencampakkannya.
Arvin meremaa surat itu dengan mata menyala. Ia marah dengan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Jeni, dan tidak mengerti dengan apa yang Jeni rasakan. Arvin benar-benar menyesal dengan tindakannya selama ini. Ternyata bukan hanya Jeff yang menjadi laki-laki brengsek, tapi Arvin lebih jauh dari kata brengsek itu sendiri.
"Maafkan aku, Jeni. Aku sangat mencintaimu." Arvin mengusap wajahnya kasar. Ia tidak mau kehilangan Jeni. Arvin menyambar kunci mobil yang ia letakkan di atas meja tadi. Ia akan mencari Jeni sampai dapat. Arvin akan mengabulkan keinginan Jeni untuk menikah. Agar ia tidak kehilangan Jeni lagi.
"Tunggu! Apa yang dimaksud dengan sesuatu yang berharga? Kenapa Jeni membuat teka-teki hingga membuat ku tak mengerti. Tapi, aku sangat penasaran dengan ucapan Jeni. Sepertinya ada sesuatu yang telah aku lewatkan." Gumam Arvin saat berada di dalam mobil. Ia melajukan mobilnya menyusuri jalanan untuk mencari dang pujaan hati.
Sedangkan di tempat lain Jeni tengah meringkuk di atas kursi taman dalam keadaan menangis. Hatinya begitu hancur saat memutuskan untuk pergi dari kehidupan Arvin. Jeni mengusap perutnya dengan lembut. "Maafin mommy, Sayang. Biarkan mommy menangis untuk saat ini. Mommy janji setelah ini tidak akan menangis lagi." Ucap Jeni pilu.
Ya, Jeni pergi dalam keadaan hamil. Ia sengaja tidak meminum pill kontrasepsi karena ingin mempunyai keturunan dari Arvin, laki-laki yang sangat dia cintai. Oleh sebab itu Jeni memutuskan untuk pergi dari kehidupan Arvin. Ia tidak ingin mendapatkan amukan dari Arvin jika ketahuan bahwa dirinya tengah hamil. Sebab Arvin sangat melarangnya agar tidak hamil.
Arvin pasti akan menyuruh Jeni untuk menggugurkan kandungannya. Jeni tidak mau itu terjadi. Ia begitu menyayangi calon bayinya meskipun baru berusia 2 bulan. Jeni harus mencari tempat yang aman, agar Arvin tidak menemukan keberadaannya. Jeni yakin sekarang ini Arvin sangat marah terhadapnya karena pergi tanpa pamit.
Akan tetapi, Arvin pasti lebih marah lagi jika mengetahui fakta kehamilan itu. Jeni mengirup udara sebanyak-banyaknya untuk menetralisir dadanya yang terasa sesak. Tiba-tiba ada yang duduk di sampingnya, membuat Jeni reflek menurunkan kakinya yang sejak tadi ditekuk sebatas dada.
"Kenapa menangis?" tanya seorang wanita cantik yang di kawal oleh empat bodyguard, serta dua orang perawat.
"Haura!" Batin Jeni terkejut saat melihat sosok wanita yang sering diceritakan oleh Arvin ketika sudah berada di apartemen.
"Ah, tidak apa-apa." Jeni menjawab dengan sedikit gugup. Meskipun Haura tidak mengenalnya, tetap saja Jeni merasa takut.
"Pasti lagi patah hati ya?" tebak Haura tepat sasaran. "Perkenalkan namaku Haura." Haura mengulurkan tangannya kepada Jeni. Kebetulan ia jalan-jalan ke taman meskipun harus di jaga ketat atas permintaan sang daddy karena takut terjadi sesuatu lagi terhadapnya.
"Ah, nama saya Jeni." Jeni menerima uluran tangan itu sambil tersenyum ramah.