
Tepat pada pukul sepuluh malam, Caffe ini sudah mulai lengang dikunjungi orang. Bu Fika sebagai owner caffe menyuruh untuk close malam ini. Semua karyawan bersiap-siap closing-an membersihkan area masing-masing sesuai job desk.
Empat jam penuh bekerja membuat Olaf tepar setengah mati. Jika begini setiap hari, bukan hanya badan Olaf yang habis tapi kesehatan Olaf akan terganggu.
Olaf terduduk diam kelelahan, kemudian Sisi menghampiri Olaf dengan raut wajah heran.
"Ah, lo, mah, baru segini doang udah capek," tukas Sisi menyenggol tangan Olaf.
"Gue gak pernah kerja ginian, udah biasa tersedia. Jadi begini ya susahnya mencari uang?" tanya Olaf menunduk membayangkan orang tuanya dan Bang Rama yang tiap hari banting tulang untuk membiayai kebutuhan keluarga.
Sisi tersenyum tipis sambil menasehati Olaf. "Hehehe iya begini, Laf, mulai saat ini Lo baru ngerti kan susahnya cari duit. Jadi kita harus semangat dong! Gue udah biasa kerja ginian. Semenjak Ibu meninggal, gue depresi gak punya uang. Tapi gue gak menyerah justru gue bangkit karena mikir adik gue mau gimana ntar terbengkalai. Gak mungkin cuma ngandelin Ayah."
Olaf tersenyum kelelahannya seakan sirna saat mendengar Sisi menyemangatinya. Mungkin Olaf harus bersyukur menjalani hidup. Karena hidupnya serba enak dibanding Sisi.
Disela perbincangan datanglah Ikhsan memberikan sebotol Fanta kepada Olaf.
"Nih, minum dulu, Laf. Lo pasti haus kan?" beri Ikhsan kepada Olaf.
Sisi menempeleng kepala Ikhsan. "Dasar lo, Olaf doang yang dikasih. Gue nya enggak. Parah lo, San."
Ikhsan tertawa kecil. "Hehehe, maaf, Si. Ini khusus buat tuan putri gue."
"Ewh dasar bucin!" telak Sisi.
Olaf menolak pemberian minuman fanta Ikhsan. "Sorry, San, gue lagi gak minum yang ber-gas. Gue tetap milih air mineral aja."
Sisi tersenyum lebar menyambar Fanta itu dari tangan Ikhsan. "Yaudah, buat gue aja kali, San, thanks ya."
Ikhsan kecewa lalu berbalik ke belakang membawakan air mineral untuk Olaf.
"Enak banget sih jadi Lo, Laf, ada yang perhatian," ucap Sisi sebal.
"Makanya jangan jomblo," ujar Ikhsan.
Olaf meralat ucapan Ikhsan. "Jomblo? Maksud lo, kita udah jadian gitu?"
"Iyalah sayang," balas Ikhsan genit kepada Olaf.
"Ngimpi lo, San. Hayu, Si, pergi dari sini!" balas Olaf risih meninggalkan Ikhsan.
Sisi menjulurkan lidahnya dari belakang, mengejek Ikhsan yang lagi patah hati.
***
Deru angin malam yang dingin membuat Olaf menyesal tidak membawa jaket tebal miliknya. Sisi mengencangkan motornya di jalanan sepi ini.
"Eh, Laf, ntar malam lo bikin PR Geografi gak?" tanya Sisi.
"Oh PR itu udah gue bikin dari kemarin, untung aja, jadi abis ini gue bisa langsung tidur," balas Olaf.
"Rajin banget lo! Gue besok liat punya lo aja ya," pinta Sisi memelas.
"Iya dong, emang lo males banget buat PR. Giliran PR matematika baru kerajinan sampe ke ubun-ubun," kata Olaf.
"Yayayaya? Gue liat PR Geografi lo besok ya? Gue capek banget nih," pinta Sisi sekali lagi.
"Iyadeh iya Sisiku, tapi inget, jangan jadi alasan bekerja jadi kamu bermalas-malasan belajar di sekolah. Kita sebagai pelajar tetap harus mengutamakan sekolah," ceramah Olaf kepada Sisi.
"Iya siap Buk, Olaf," jawab Sisi.
Begitulah yang namanya sahabat harus saling mendukung satu sama lain. Olaf dan Sisi memang mempunyai kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing. Jadi mereka juga akan saling mengingatkan sisi buruk mereka.
Tak terasa disela perbincangan mereka. Akhirnya mereka sampai di rumah Olaf.
"Lo gak sekalian nginap aja disini, Si?" tanya Olaf.
Sisi memikir sejenak. "Haduh, baju seragam gue gimana dong, gak bawa. Besok ajadeh, Laf."
Olaf memperhatikan jalanan kanan, kiri yang sudah semakin sepi. Karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Yaudah, besok lo nginap di sini aja ya! Udah larut nih, lo hati-hati di jalan. Kalau udah sampe, kabari gue," tutur Olaf panjang lebar cemas kepada sahabatnya.
Sisi tergelak heran. "Apaan sih, Laf, segitu takut banget gue kenapa-napa."
"Ih lo mah kalau lo dibegal gimana? Kan gue takut, gak punya teman kayak lo lagi." cerca Olaf khawatir.
Sisi menunjuk tangannya ke kepala Olaf seolah-olah mengatakan STOP.
"STOP! lo gak boleh negatif thinking gitu. Perbanyak pikiran positif. Biar hidup lo tenang."
"Hehehe iyadeh, Si, makasih banget udah ingatin gue apa artinya bersyukur dan berpikir positif. Yaudah buruan pulang! Tar ada yang ngikutin lo lagi! ups," ucap Olaf menutup mulutnya diakhir kata.
"Hm, tuh kan, nethink lagi. Yaudah, bye."
"Assalamualaikum," ucap Olaf di depan pintu.
"Ululuuuuu, adek gue baru pulang jam segini. Dari mana lo hah? Ngikutin gue pulang jam 11 ya?" Telak Rama menganggu adiknya.
Kenapa selalu Rama yang membuat mood-nya berubah menjadi lebih buruk.
"Salam tuh dijawab!" sindir Olaf lalu berlalu meninggalkan Rama.
"Iya Waalaikumsalam, seriusan gue nanya lo kerja di mana? Kata Bunda lo kerja. Tapi gue gak tau di mana," ucap Rama mengejar Olaf.
"Caffe Sky Gold," balas Olaf cuek.
"Hm, yaudah deh adek Abang yang pinter cari uang. Tidur ya, jangan sampe telat bangunnya besok," ingat Rama kepada adik bungsunya.
"Kalau gue telat gimana?" tanya Olaf balik.
"Permintaan kedua lo bakal hangus dong," jawab Rama cepat.
"Eeh iya, lo masih punya hutang permintaan sama gue!" tandas Olaf.
"Oke, gue besok gak telat. Kalau lo yang telat, Lo harus bayar gue ya? Dua ratus ribu," tantang Olaf.
Rama cekikikan melihat adiknya yang tukang palak. "Gila, sejak kapan adek gue jadi matre gini!"
"Hehehehe, bercanda," balas Olaf.
"Yaudah deal, gue terima tantangan lo," balas Rama sambil berjabat tangan kepada Olaf.
Olaf masuk ke kamar meninggalkan Rama. Olaf segera mengganti pakaiannya dengan piyama renggang. Kemudian membunyikan seluruh urat badannya yang terasa sangat remuk.
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan di hari-hari sebelumnya. Dipejamkannya matanya, lalu terlelap di tengah keramaian dunia mimpi. Semoga Olaf tidak telat lagi untuk hari esok.
***
Ayam berkokok lantang pagi ini. Cahaya matahari pun telah masuk melalu celah gorden kamar Olaf. Namun sang pemilik kamar masih nyenyak tertidur di ranjang empuknya itu.
Alarm sudah berbunyi berkali-kali namun Olaf selalu menundanya. Setiap pergerakan sudah menambah waktu yang berlalu. Namun Olaf masih tetap tenang berguyur dalam dunia khayal di mimpinya.
"Olaffffffff, bangun," teriak Rama membangunkannya.
Olaf terjaga dari kantuknya, namun tak ada orang yang sedang memanggilnya. Olaf menelisik sekitar dan melihat jam di dinding menunjukkan pukul 05.00.
"Hah? Ternyata cuma mimpi! Gue gak telat dong," Olaf menepuk pipinya dan merasa kesakitan.
"****** lo bang, gue yang bakal bangunin lo pagi ini. Awas aja, Lo!" batin Olaf dendam dalam hati kepada abangnya yang selalu iseng kepadanya.
Olaf mengambil handuknya lalu mengguyur badannya dengan shower hangat.
Cukup dua puluh menit. Olaf sudah berpakaian rapi lalu tak sabar untuk membangunkan Rama di kamarnya.
Olaf berlalu menuju kamar Rama. Namun ekpektasinya tak sesuai realita. Rama sudah tak ada di kamarnya.
"Bang Rama! Lo udah bangun?" teriak Olaf di perantara tangga meneriaki abangnya itu.
Terlihat hanya Ayah dan Bunda di ruang makan.
"Apasih, Nak, pagi-pagi kamu udah teriak gitu," protes Bunda sambil memasak nasi goreng untuk kami.
"Bang Rama mana Bun?" tanya Olaf penasaran.
"Oh, Abang kamu, udah berangkat pagi-pagi buta tadi," balas Bunda.
"Nih ada titipan uang buat kamu, dari Rama," ujar Ayah memberikan uang dua ratus ribu kepada Olaf.
Olaf mengernyitkan dahi. Dia kan kalah tantang. Mengapa Rama masih berbaik hati memberikan uangnya kepada Olaf.
"Ambil uangnya sayang, itu dari abang kamu kok. Terus makan nasi goreng buatan Bunda dulu ya, baru kamu berangkat," ucap Bunda menyuguhkan nasi goreng pada Olaf.
Olaf mengambil uang itu dan mengiyakan ucapan Bunda. Perlahan-lahan Olaf mengunyah sarapan dengan hambar. Sepi juga jika Rama tak ada di rumah saat ini. Ditambah lagi Lena sudah pergi ke Aussie meninggalkan Ayah dan Bunda. Rumah seketika semakin sepi tanpa mereka.
Ayah mengejutkan Olaf. "Sepi ya nak?"
Olaf tersadar saat Ayah mengejutkan Olaf.
Bunda cekikikan, "Kalau jauh bertengkar, kalau dekat rindu."
***
Pekanbaru, 13 Maret 2020
by, Indahoalkaf