Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Diam saja atau bagaimana?



Selepas itu Olaf memutuskan untuk pergi sekolah saat jam telah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Memikirkan hal yang tadi tak membuat Olaf tenang saat berada di rumah ditambah lagi Sisi berada di rumahnya saat ini.


"Laf, menurut lo, Kak Lena sakit apa ya?" tanya Sisi memulai pembicaraan ketika sejak tadi tak ada yang angkat bicara.


Olaf tak bergeming, dirinya dari tadi hanya diam seakan mulutnya terbungkam keras untuk mengatakan satu kata pun.


Merasa suasana hati Olaf sedang tidak baik. Sisi memutuskan untuk diam sejenak tak mau mengajaknya mengobrol.


Tatapan Olaf kosong, hatinya merasa dilema dan kacau. Sudah banyak rahasia yang tertutup tentang Lena yang tidak diketahui siapa pun kecuali dirinya. Ingin rasanya mengatakannya pada Ayah dan Bunda namun disatu sisi, Olaf sudah berjanji dan berikrar kepada Lena untuk tidak memberi tahu apapun pada semua orang kecuali jika waktunya telah tiba.


Flashback on.


Pintu kamar terbuka dengan langkah pelan Olaf masuk menuju kamar Lena diam-diam.


"Kak Lena, gue minjam powerbank lo dong, bentar doang," teriak Olaf mengambil powerbank di atas nakas.


Lena tak bersuara sepertinya dia tak mendengar suara Olaf dari toilet. Beberapa menit kemudian, Olaf pergi meninggalkan kamar Lena. Ketika ingin keluar, Olaf mendengar rerintihan kesakitan dari sudut sana. Dengan penasaran, Olaf menoleh ke belakang. Alhasil dia melihat Lena berdiri lemas memegangi seluruh kepalanya.


Tangannya bergetar merangkul Lena menuju kasur. Olaf menadahkan punggung tangannya ke kening Lena. Terasa sangat panas.


Lena terbaring lemas di sana. Dengan cemas, Olaf ingin ke bawah meminta bantuan Ayah, Bunda atau pun Bang Rama karena dia tahu tak bisa mengatasinya sendirian.


Lena menarik tangan Olaf dan menggelengkan kepalanya. Lalu Lena menunjuk sejumlah obat yang telah dikonsumsinya sejak dua bulan yang lalu


Olaf membaca tulisan yang berada pada obat itu lalu membulatkan matanya kaget.


"Jadi lo selama ini sakit?" gumam Olaf meneguk salivanya.


Lena segera menyuruh Olaf untuk menyuapi obat ke mulutnya. Dimasukkannya lah obat itu pada mulut Lena kemudian memberikan air putih untuk melarutkannya.


Beberapa menit kemudian. Sakit kepala Lena mereda. Dia telah bisa duduk dan mengobrol pada Olaf.


"Lo sakit kepala gini sejak kapan sih Kak?" tanya Olaf penasaran.


"Dua bulan yang lalu," jawab Lena cuek.


"Terus Lo gak takut gitu nantinya lo kenapa-napa?!" tutur Olaf.


"Apaan sih! Buktinya sekarang gue udah baik-baik aja," balas Lena.


"Tapi tadi gue liat dibungkus obat lo ada tulisan brain cancer?" ujar Olaf.


"Iya, kenapa? Gue mengidap kanker otak dari bulan yang lalu. Toh, gak ada juga yang merhatiin gue kan. Cuma lo satu-satunya orang yang tahu gue lagi sakit gini!" kelakar Lena.


"Hah? Lo dari dulu gak berubah ya Kak, Masi tetap egois dan angkuh, asal lo tahu gue bisa aja beberin ini semua ke Bunda. Supaya lo keurus, bukan hanya main sana-sini sesuka hati lo!" tukas Olaf.


"Diam! Ini urusan gue dan gue gak butuh satu orang pun yang akan mengasihani gue kalau akhirnya ya gue sakit." tekan Lena pada setiap kata-katanya.


"Tapi lo tetap kakak gue kak dan keluarga harus tahu lo lagi sakit," balas Olaf berkaca-kaca.


"Lo bisa janji gak sama gue?" tutur Lena.


"Iya apa?" jawab Olaf risih dengan keadaan seperti ini.


"Please, jangan sekali-kali lo cerita ke Ayah sama Bunda atau siapa pun itu tentang kesehatan dan urusan pribadi gue. Gue gak akan tinggal diam kalau lo beberin ini semua, ada masanya mereka bakal tahu ini dari mulut gue sendiri," tegas Lena sedikit mengancam Olaf.


Lena menjerit kesakitan ke sekian kalinya setelah memaki Olaf. Diminumlah sejumlah obat itu dengan kadar yang begitu banyak.


Hap


Olaf merebut obat tablet itu dari tangan Lena.


Flashback off


"Awass!!"


Badan Olaf ditarik seseorang agar tidak mengenai bola basket. Olaf seketika sadar berada di tengah lapangan.


Dari arah depan Sisi datang bersama Riri dan Sarah.


"Laf? Are you okay?" tanya Sarah.


Olaf mengangguk seakan tidak terjadi apa-apa padanya.


"Hayo, kita makan dulu, Laf, masih ada waktu sebelum senam dimulai nih. Ayo, tadi kan lo belum sarapan," ajak Sisi mengerti apa yang dirasakan Olaf pagi ini.


Sisi tak ingin Olaf meratapi kejadian tadi pagi yang membuatnya semakin sedih.


Melihat raut wajah Olaf yang tak bersemangat dan kosong. Sarah dan Riri penasaran ada apa dengannya hari ini.


Sisi bergumam rendah. "Kakak kandungnya masuk rumah sakit di Aussie."


Sarah dan Riri seraya berkata, "Hah? Kok bisa?"


***


Setelah selesai senam para guru akan ada rapat besar-besaran dengan kepala sekolah mengenai tentang pensi tahunan akhir tahun.


Otomatis, semua kelas akan ada jam kosong. Sungguh, jam surga dunia bagi para siswa yang menikmatinya.


Semua siswa tampak kegirangan. Ada yang bermain hp, nonton drakor, mengobrol bersama, makan, dan lain sebagainya. Aturannya hanya satu jam kosong hanya diberlakukan di dalam kelas tidak boleh mondar-mandir luar kelas. Bagi yang keluar tanpa izin akan dikenai Sanksi keras.


Olaf memilih tidur di mejanya mengingat jam tidurnya telah berkurang malam kemaren bersama Sisi untuk mengerjakan tugas.


Begitupun Sisi matanya sudah loyo melihat sekitar dan memilih tidur di kelas.


Melihat keadaan sekitar Ikhsan angkat bicara. "Yaiyalah mereka kemarin kerja shift malam. Wajar saja kecapekan," bela Ikhsan di tengah-tengah kerumunan cewe.


"Aw, dibelain," tutur Riri gemas.


"Apaan sih kalian! lagi pada ngapain itu?" tanya Ikhsan penasaran.


"Lagi main Ludo online, lo ikutan gak? Masi kurang satu nih," jawab Riri.


"Yaudah ikut, kayaknya seru nih," ucap Ikhsan duduk di depan Sarah dan Riri.


Mereka pun bermain.


Di sela-sela jam istirahat berbunyi. Olaf dan Sisi akhirnya bangun dari tidur pulasnya.


"Laf, Si, ayo buruan keluar!" Ajak Ikhsan.


Olaf menguap melihat jam di ponselnya. "Hah? Udah jam segini aja."


Terlihat notifikasi nomor luar negeri yang Olaf rasa itu dari kakaknya Lena. Olaf merasa kesal mengapa dirinya bisa tak mendengar deringan ponselnya sendiri.


Dengan segera Olaf keluar kelas dan menghubungi nomor asing itu.


Nomor itu terhubung cepat dan segera berakhir. Belum sempat Olaf berbicara, pulsanya telah tersedot cepat oleh operator.


"Sial, pulsa gue habis lagi," keluh Olaf


Akhirnya dia meminta Rama untuk mengisikan pulsa.


Olaf segera men-chat Rama.


**Olaf : P


P


Rama : Apaan? Gue sibuk nih!


Olaf : Nomor luar negeri nelpon gue, gue rasa itu Kak Lena. Lo tolong isiin dulu gue pulsa dong. Anggap aja ini permintaan kedua gue. Lo Masi hitang permintaan sama gue kan, Bang?


Rama : Hah? Serius lo? Itu dari Aussie? Awas kena tipu lo ntar.


Olaf : Gue gatau, yang penting coba dulu. Yaudah buruan isiin saldo pulsa gue.


Rama : Ok, nanti kabari gue kalau udah ada info tentang Lena.


Olaf : Iya**.


Tring.


Pulsa Olaf telah terisi lalu Olaf menelpon nomor asing tadi.


Nada nya kembali terhubung.


"Hallo," ucapnya.


"Kak Lena? Lo baik-baik aja kan? Gimana keadaan Lo?"


"Hah? Lena? Ini Mas Heru, Laf."


"Oh Mas Heru, gimana keadaan Kak Lena, Mas?"


"Masih kritis, Laf, Lena belum sadarkan diri sejak kemarin. Mas bingung, dokter sini bilang ada benjolan besar di kepalanya. Apa kamu tahu?"


Jantung Olaf berdegub kencang. Sekarang bukan hanya dirinya yang mengetahui penyakit Lena. Bahkan Mas Heru telah mengetahui semuanya.


"Mas, Lena boleh tanya gak?"


"Mau tanya apa Olaf?"


"Apa Ayah sama Bunda udah Mas kabari sebelum aku?"


"Belum, Laf, Mas sungkan mau bilang, karena Mas tahu pasti nanti orangtua kamu sedih di sana."


"Iya, Mas, tolong jangan bilang kebenarannya terlebih dahulu pada mereka ya Mas?"


"Siap Olaf, Mas akan kasih tahu jika Mas sudah sampai di Indonesia nanti."


"Jangan Mas."


"Kenapa?"


"Pokoknya jangan."


Telepon terputus mendadak. Jaringan luar sekolah memang tak baik dikarenakan mendung.


Langit siang berubah menjadi kelam saat tetesan air hujan luruh jatuh membasahi bumi. Ternyata bukan hanya Olaf yang merasakan kesedihannya. Langit pun ikut bersedih merasakan suasana hati Olaf.


***


Pekanbaru, 17 April 2020


by, Indahoalkaf