Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Kena Skors



"Parah lo, Bu Ida udah lama nungguin lo dari tadi," ujar Ikhsan menghampiri Olaf bersama dengan Kak Lena dan Mas Heru.


Olaf melirik jam mungil yang melingkar ditangannya. Sudah empat puluh lima menit Olaf pergi bersama Sisi meninggalkan ruangan BK sedari tadi.


"****** gue! Kena hukuman plus plus kalau begini mah!" ujar Olaf kepada Sisi yang masih setia berdampingan disampingnya.


Lena dan Heru hanya menaikkan bahu tak mengerti apa yang Olaf katakan. Akhirnya, mereka pun masuk dengan cepat yang di komandoi oleh Olaf.


"Permisi, maaf Bu, saya telat," ucap Olaf melihat Bu Ida sudah standby dikursi merahnya.


Terlihat pula lelaki bujang berbadan besar yang duduk disamping Diandra. Sepertinya itu abang kandung Diandra.


"Heh! Lo dari mana aja!" Kelakar Diandra mencaci Olaf.


"Gue tadi abis dari markas sebelah," balas Olaf kepada semua orang.


Lantas mereka memperhatikan Olaf dengan raut penuh penasaran.


"Ngapain kamu ke situ lagi?" tanya Bu Ida.


"Saya ke situ untuk memastikan penyebab apa yang membuat teman saya Riri meninggal, Bu," jawab Olaf penuh penekanan.


"Alah! Bohong lo! Bilang aja lo mau cabut kan!" tandas Diandra.


"Ngomong tuh mikir jangan asal ceplos," balas Olaf tak terima.


"Nah tuh kan lo ngegas aja!" kelakar Diandra.


Keduanya seperti kucing dan anjing sedang beradu argumen satu sama lain.


"Diam!!!" ujar Sisi mengeraskan suaranya.


"Laf, please deh, jangan respon Diandra gitu lagi. Udah jelas dia itu mau panas-panasin lo!" Nasehat Sisi kepada sahabatnya, Olaf.


"APA LO BILANG?" teriak Diandra sambil berdiri tegak menghadap Sisi.


Diandra tak peduli ada banyak orang di depannya. Dia tetap bersi keras membela diri. Sungguh egois.


"Lo jangan ikut campur ya urusan gue sama Olaf!" ancam Diandra memperingati Sisi.


Olaf tak tinggal diam menerima perlakuan Diandra yang begitu kepada sahabatnya sendiri. Olaf berbisik pelan kepada Diandra.


"Jangan mentang-mentang ini sekolah punya lo. Lo bisa sesuka hati, ikutin apa mau lo! Ini ramai cuy, ini tempat umum bukan kelas lo! Seenaknya aja lo begini di depan Bu Ida!"


Bu Ida semakin geram kepada keduanya. Sebagai sosok guru yang berpengalaman dibidang psikologi. Bu Ida tahu persis mana anak yang jujur maupun anak yang berbohong. Gerak-gerik mereka telah terekam di kepala Bu Ida.


Tanpa basa-basi berbicara kepada Olaf dan Diandra. Bu Ida segera mengeluarkan surat skors seminggu untuk mereka berdua yang wajib ditandatangani oleh wali murid yang telah bersedia datang.


Lena yang melihat adiknya semakin nakal menatapnya kesal menggoreskan tanda tangan hitam disecarik kertas putih resmi sekolah begitu pula dengan wali murid Diandra yang sudah menandatangani surat itu lebih dulu daripada Lena.


Olaf menggigiti bibirnya dengan terpaksa dia harus diliburkan dirumah seminggu. Pikirannya kacau, baru kali ini Olaf di cap sebagai anak nakal di sekolah tercinta. Sungguh, Diandra membuat namanya tercemar kali ini.


Diandra tak terima keputusan Bu Ida. "Bu, kenapa saya harus kena skors juga?" tanya Diandra kesal.


"Nak Diandra, Ibu kali ini harus adil kepada seluruh murid. Tak ada lagi cerita bahwa tahta yang akan dipertimbangkan daripada sikap kamu. Benahi diri kamu seminggu sampai semuanya benar-benar pulih. Ingat jangan sampai ada dendam diantara kalian," jelas Bu Ida menasehati.


Bu Ida memang begini, dia tak bisa marah kepada murid. Namun tindakannya memang selalu spontan untuk menghukum murid sekolah yang nakal.


Diandra yang mendengar itu. Langsung keluar dari ruangan BK dengan emosi dan tak terima.


Olaf kembali berbicara sopan kepada Bu Ida. "Apa Ibu tak bisa mempertimbangkan kesalahan saya untuk tidak diskors?"


"Maaf Nak Olaf, kesalahan kamu telat datang ke sini sudah saya masukkan ke dalam buku hitam sekolah. Lebih baik, kamu diskors sampai emosi mu benar-benar terkontrol kembali," jawab Bu Ida.


Mas Heru dan Lena mendengar penjelasan Bu Ida kemudian meminta maaf atas kesalahan Olaf. Beberapa menit kemudian akhirnya mereka pamit pulang.


Olaf terpaksa menerima kesalahan ini. Namun, Sisi tak menerima bahwa Olaf harus di skors. Ikhsan pun begitu dia hanya mengerutkan dahinya pusing.


"Hebat bukan yang telah terjadi?" ujar Olaf menyesal.


"Haduh ini kali pertama gue lihat lo di cap sebagai murid nakal di sekolah," balas Sisi.


"Makanya jangan ngilang kalian dah, udah dibilangin dipanggil BK Masi juga keluyuran," ucap Ikhsan.


"Lo gak tau apa yang terjadi, makanya enak bilang gitu," tandas Olaf.


Lena dan Heru hanya menerima kenyataan bahwa adiknya ini harus pulang saat ini juga.


"Lo bilang ke Bunda gimana ntar kalau lo diskors gini?" tanya Lena.


"Please jangan bilang Bunda, Kak. Gue pernah nyelamatin lo waktu itu saat lo selingkuh waktu itu sama yang lain," bisik Olaf.


Lena memasang wajah kesal. Bisa-bisanya Olaf mengatakan masa lalu yang sudah benar-benar disesalinya.


"Anggap aja waktu itu lo pernah nakal begitu pula dengan gue sekarang," bisik Olaf lagi.


Heru bingung dengan adik kakak yang saling menyembunyikan sesuatu darinya. "Apaan sih bisik-bisik?"


"Makasih banget Si, San. Kalian udah nungguin gue sampai sejauh ini. Gue pulang dulu ya," ucap Olaf menyalami mereka berdua.


Mereka berdua sendu melihat Olaf yang harus di-skors selama seminggu.


"Udah dong jangan mellow gini. Gue kan masih kerja kita kan bisa ketemu tiap malam," ujar Olaf merangkul keduanya.


Sisi tersenyum tipis melihat Olaf. Begitu pula Ikhsan yang semakin menyukai kepribadian Olaf.


Olaf pergi bersama Lena dan Heru menuju parkiran. Seketika jejak Olaf menghilang dari penglihatan mereka.


"Seandainya si Olaf punya perasaan yang sama," ujar Ikhsan menatap kosong ke depan.


"Saelah baper Lo mah baru juga dirangkul Olaf," kesal Sisi lalu berlari meninggalkan Ikhsan.


"Eh si? Kok malah gue yang ditinggalin!" teriak Ikhsan mengejar Sisi.


***


Olaf merentangkan tangan membuka knop pintu mobil. Dirinya langsung terkejut dengan apa yang dilihatnya di dalam mobil.


"Maling!" Teriak Olaf memukul pria separuh baya tersebut. Wajahnya tertutup masker dengan topi yang cukup menutupi wajah bulatnya sehingga Olaf tidak terlalu jelas memperhatikan wajahnya.


Heru yang melihat adiknya itu langsung menarik tangan Olaf dengan sigap. Lena yang melihat sikap Olaf yang semakin menjadi-jadi seketika membentak Olaf dengan keras.


"LO APA-APAAN SIH! INI SOPIR KITA YANG BARU!" tandas Lena.


Olaf reflek berhenti memukuli pria paruh baya tersebut. Akibat teriakan maling tadi berkumpulah sebagian guru menuju parkiran sekolah tempat Olaf dan Lena berdiri.


Pak Budi selaku guru Olahraga sekolah sudah membawa tongkat bisbol untuk berjaga-jaga.


"Mana malingnya Nak?" tanya Pak Budi sudah bersemangat untuk menangkap sang Maling.


Seketika Heru kembali meluruskan keadaan yang terjadi kepada semua guru yang sudah sampai di parkiran ini.


"Kami juga risau Mas, soalnya Pak Tarno tidak masuk sejak kemarin sore. Makanya pas Nak Olaf teriak maling. Kami jadi yakin kalau ada maling di sekolah ini," ujar salah seorang guru piket menjelaskan semuanya.


Olaf melirik sekitaran pos Satpam, Yap memang benar tak ada Pak Tarno yang berjaga di sana. Pos satpam memang benar-benar kosong hari ini.


"Lho kenapa gak ada penggantinya Bu?" tanya Olaf.


"Tidak, Nak Olaf, sekolah tetap memakai Pak Tarno selaku keluarga milik yayasan ini," jawab Pak Budi.


"Gak adil banget sih! Sekolah rasa milik keluarga. Pantas saja, sekolah tetap memakai jasanya untuk menjadi satpam di sini," balas Olaf.


"Shut! Lo yang sopan kalau ngomong, Laf! peringat Lena.


"Hem iya, maaf Kak," balas Olaf menunduk.


Olaf segera meminta maaf kepada sopir baru Kak Lena. Namun sopir tersebut enggan untuk bersalaman kepada Olaf. Karena merasa hari ini benar-benar buruk, Olaf terus berusaha untuk mendapatkan permintaan maaf pada sopir tersebut. Lena dan Heru masih mengobrol bersama guru-guru Olaf.


"Pak, gue sekali lagi minta maaf ya, suer gak sengaja," ujar Olaf sopan.


Sopir itu mengangguk, "Iya, saya sudah maafkan kamu."


Olaf lega sudah dimaafkan. Semoga hari ini tak ada kejadian aneh lagi yang akan diperbuatnya.


Sopir itu kemudian terbatuk-batuk dengan kencang di dalam mobil. Merasa kasihan Olaf memberikan mineral kepada Bapak itu. Namun sopir itu menolak pemberian Olaf.


"Minum Pak ini halal kok," ucap Olaf.


Dia menggeleng cepat kemudian terbatuk-batuk lagi. Olaf memaksakan diri untuk memberikan minuman itu ke mulut sopir itu.


"Maaf ya Pak, saya buka maskernya," ucap Olaf sopan.


Sopir itu semakin gelisah ketakutan saat Olaf membuka maskernya.


"Lho Pak Tarno?" kaget Olaf sambil melirik Lena di luar sana.


Bukan hanya Olaf yang terkejut, Pak Tarno selaku Satpam sekolah juga takut ketahuan oleh pihak sekolah bahwa dirinya berbohong untuk izin bekerja.


Semua guru mendekati Olaf dan merasa terkejut dengan apa yang sedang dilihatnya.


"Kak Lena sopir baru lo kok satpam sekolah ini?" Teriak Olaf histeris.


"Seriusan lo?" tanya Lena bingung.


Pak Tarno keluar mobil kemudian menodongkan pistol dari sakunya.


***


Pekanbaru, 08 Juni 2020


by, Indahoalkaf