Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Terciduk



Kerumunan siswa-siswi memenuhi parkiran sekolah. Setelah penat menuntut ilmu, akhirnya pulang adalah kata yang menyenangkan bagi seluruh siswa. Kini Olaf bingung harus menunggu siapa untuk pulang. Sementara, Sisi ada kegiatan ekstrakurikuler dance bersama club nya.


Olaf mencoba menelpon Rama tapi nihil tidak ada nada sambung darinya.


Tin...tin...


Suara motor mengejutkan Olaf padahal dia sudah berdiri di pinggir tapi masih saja diklakson. Sang pemilik motor membuka helmnya.


"Laf, lo nungguin siapa? Bareng gue aja yuk. Panas nih, lo gak kepanasan?" tawar Ikhsan sambil menepis keringat di dahinya.


Olaf menimbang-nimbang tawaran Iksan. Di lihatnya lagi layar ponsel, mencoba menelpon Lena. Olaf menelpon Lena, nada sambung terhubung di nomor Kakaknya itu.


"Hallo kak. Bang Rama ke mana sih?"


"Ooh, Rama kuliah ada jadwal mendadak dari kampusnya."


"Waduh terus gue pulangnya gimana dong?"


"Yaelah lo manja banget deh, pulang sana sama temen lo."


"Ihh lo nyebelin banget sih!"


"Yaudah, ya, gue sibuk, mau pergi nih, gue matiin ya, bye."


"Eh.. tapi.. hallo Kak." Telepon terputus secara sepihak.


Dengan terpaksa Olaf mengiyakan tawaran Ikhsan untuk pulang bersamanya. Olaf naik menuju motor ninja milik Ikhsan. Sebenarnya Olaf risih harus berbonceng dengan motor begini. Namun bagaimana lagi, tak ada pilihan lain.


"Udah siap?" tanya Ikhsan memastikan Olaf.


Olaf mengangguk perkataan Ikhsan. Ikhsan mengegas motornya melalui jalanan. Namun dicegat oleh satpam.


"Maaf Mas, itu Enengnya dipanggil dari tadi sama bapak itu," ucap Satpam itu kepada kami.


Sontak Olaf mengedarkan pandangannya ke samping.


"Mas Heruuuu!!!" Seraya Olaf berteriak lalu turun dari motor Ikhsan.


Olaf mendekati Mas Heru dengan langkah cepat. "Mas Heru udah dari tadi ya manggilin Olaf?"


Mas Heru tersenyum lebar ke arah Olaf. "Enggak kok Laf, barusan aja Mas panggil kamu, tapi langsung didengar satpam."


"Oh gitu, Mas apa kabar? Kok mendadak banget ke sini. Cari Olaf lagi bukannya cari Kak Lena, hehehe," tawa Olaf sumringah.


"Ya gak ada salahnya Mas jemput adik ipar Mas yang paling comel ini," balas Mas Heru mencubit pipi bakpao milik Olaf.


"Hahahaha, Mas bisa aja. Yaudah kita buruan pulang. Kak Lena udah nunggu tuh di rumah," pinta Olaf sambil menepis dahi.


Sebelum mengikuti Heru menuju mobilnya. Olaf sempat lupa mengabari Ikhsan di ujung sana. "Haduh, San, sorry banget nih. Gue udah dijemput sama Mas Heru. Lo duluan aja gih. Thanks ya sebelumnya."


Ikhsan hanya tersenyum tipis. "Yaudah gue duluan ya, lo hati-hati pulangnya." Ikhsan menghidupkan mesin motornya dan berlalu.


Tinggallah Olaf seorang diri lalu Olaf melangkahkan kaki menuju mobil Heru yang berada di ujung sana.


Sore ini sangat panas dan gerah, keringat mengucur dari pelipis Olaf.


"Aduh, panas banget nih! Haus lagi."


Mas Heru menghidupkan AC mobil. "Oh, kamu haus ya? Mau nge jus dulu?"


Olaf menutup mulutnya segan. Tak ada maksud Olaf untuk meminta Heru membelikannya jus. Dia hanya mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini.


"Yaudah, santai aja kali, Laf. Mas ini bukan siapa-siapa kamu juga. Bentar lagi jadi abang ipar kamu, jadi jangan segan begitu," tutur Heru.


"Yaudah kalau gitu Olaf mau dibeliin Jus buah naga aja, Mas, di pinggir jalan Tirtayasa," ucap Olaf.


Perut Mas Heru reflek berbunyi tampaknya ia tak makan dari siang tadi. "Hm, sekalian makan aja kali ya, Laf. Mas lapar nih belum makan dari tadi siang."


Olaf hanya mengiyakan permintaan Mas Heru.


Mas Heru berbalik memutar mobil ke arah Utara. Olaf hanya menikmati perjalanan sambil memainkan ponselnya. Ada notif snap Ig dari Sisi, sejak tadi siang yang belum sempat di lihatnya. Beberapa orang meng-coment story Olaf. Ada yang julid dan ada pula yang memujinya.


"Sudah sampe Olaf, ayo kita turun!" ucap Heru melepas selt safety nya.


Olaf mengedarkan pandangan ke depan. Tak menyangka Mas Heru mengajaknya ke Caffe Sky Gold. Kebetulan sekali ini tempat yang akan ditujunya ketika weekend nanti.


"Seriusan ini kita ke sini Mas?" tanya Olaf.


"Ya serius, ini Caffe baru launching hari ini terus banyak orang yang mengunjungi. Jadi apa salahnya?" balas Heru kemudian turun dari mobil.


Olaf menggeleng cepat lalu ikut turun dari Mobil. Dari depan saja sudah terlihat ramai sekali apalagi masuk ke dalamnya. Olaf memotret dari jauh lalu mengirim ke WhatsApp Sisi.


Saat masuk ke dalamnya sungguh sangat menyita mata. Keadaan dalam sungguh luar biasa saat dilihat. Banyak ornamen dan lukisan emas tentulah nama Caffe nya saja adalah Caffe Sky Gold. Sudah banyak pelanggan yang duduk. Hingga ada satu sofa yang tersisa untuk kami.


"Gila, rame parah, Mas," ujar Olaf.


"Baru hari pertama buka, sudah patut seramai ini, Laf," balas Mas Heru.


Waiter Caffe ini datang dengan ramah menghampiri kami. "Silahkan, mau pesan apa Mas dan Mbaknya?" ujarnya sopan memberikan buku menu.


Heru membuka daftar menu terlihat banyak sekali bermacam khas kopi yang tersedia di sini. Bukan hanya ada minuman, di sini juga tersedia makanan dari yang berat hingga ringan dan juga pastinya beberapa dessert.


Olaf melihat takjub. "Wow, lengkap banget menu yang tersedia. Mas tadi kan lapar? Gimana kalau pesan Rice bowl egg yang large?" tutur Olaf menunjuk salah satu makanan.


"Apaan itu, Itu mah kesukaan Kakak kamu. Mas pesan Baked Potato Carbonara with the cheese sama Butterschoot Macchiato creamer," ujar Mas Heru.


Sang waiters mencatat pesanan Heru. "Kalo Mbak mau pesan apa?"


Olaf melihat drinks menu. "Aku ini ajadeh, Ice Vannelete Float with cake."


"Sekalian pesanin buat kakak kamu yang tadi itu, take away aja," ujar Mas Heru.


Merasa sudah cukup, Waiters itu mengulang kembali pesanan kami lalu pergi menuju bar.


Tring


Notif wa memenuhi ruang ponsel Olaf.


Sisi : Gila, Lo udah sampe aja ke Caffe itu.


Olaf : Mas Heru tau yang ngajak gue.


Send


Olaf menutup ponselnya. "Oh, ya, Mas, Kak Lena tau gak kita di sini?"


"Ini mau Mas telepon, Laf, Mas kangen banget sama Kakak kamu." Heru membuka ponsel dan mencall 'Sayang' di ponselnya.


Olaf mengernyitkan dahi seperti dia mengenal bunyi familiar ini. Tapi di mana arah sumber bunyi itu berada?


Dengan rasa penasaran, Olaf kembali mengingat nada dering yang sering di dengarnya.


"Anjirr, itu kan suara deringan telepon Kak Lena. Tenang, Olaf. Kak Lena gak mungkin ada di sini. Itu nada telepon kan banyak yang make," batin Olaf sangat sangat penasaran.


"Mas, Olaf mau ke toilet bentar yah," pamit Olaf.


Olaf berdiri mematung melihat arah kanan, kiri, depan serta belakang lalu berjalan menuju toilet.


Semenit berkaca pada wastafel toilet, Olaf kembali meng-call nomor Lena. Nada tersambung.


"Hallo," terdengar suara lelaki dari ujung sana.


"Ya, hallo, ini siapa ya? bisa bicara sama Kak Lena?"


"Oh, Lena lagi di toilet. Ini kami pergi makan ke salah satu Caffe. Ada pesan gak buat Lena?"


"Caffe di mana ya Mas?"


"Sky Gold."


"Okay, mending menurut gue ya, lo jangan ganggu Lena lagi deh Om, soalnya dia mau tunangan minggu depan."


"Serius? Ini siapa ya? hall..."


Olaf memutuskan telpon secara sepihak.


Sekarang Olaf tau semuanya. Tebakannya sungguh sangat benar. Dia akan memergoki Lena sebentar lagi. Liat saja ekspresi Lena nanti jika tahu Mas Heru ada bersama Olaf.


Sudah sepuluh menit, Olaf di sini. Namun Lena nihil tak ada dijangkauan mata Olaf. Merasa bosan, Olaf keluar dari toilet melihat sudut hingga sudut Caffe ini. Ternyata bukan hanya satu tenant Caffe dalam ruangan besar ini. Di samping Caffe ini ada sebuah restoran seafood besar yang bernamakan 'Crawl Imp Sea food'. Jika dilihat dari pengunjung Restoran tak berbeda juga dengan Caffe Sky Gold, yang lumayan ramai dikunjungi orang.


Olaf terus memperhatikan sekitar restoran Sea food sampai terlihat sang Koki restoran itu melambaikan tangan kepadanya.


"Mbak, jangan diliatin terus, mampir gih. Saya kasih special buat, Mbaknya." gombal Sang Koki yang terlihat dari arah wastafel Caffe.


Olaf tengsin setengah mati lalu kembali ke toilet dengan terburu-buru hingga menabrak seseorang.


***


Pekanbaru, 08 April 2020


By, Indahoalkaf