
Olaf mengangguk cepat lalu fokusnya ambyar saat customer lainnya protes bahwa pesanannya belum juga diantar. Malam ini Olaf sangat keteteran karena tak ada yang membantunya. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Terlebih lagi, Ikhsan tidak masuk hari ini dikarenakan dia Off kerja. Biasanya Ikhsan lah yang disuruhnya untuk membantu Olaf.
"Mbak sendirian ya? Gimana sih, ini anak saya udah pada laper," ujar ibu-ibu berkacamata yang daritadi telah nangkring sejak tadi.
Bu Fika selaku manager mendengar celotehan customer langsung sigap keluar ruangannya membantu Olaf untuk pertolongan mendesak.
"Ada apa ini, Laf?" tanya Bu Fika.
"Ini buk, Olaf lagi banyak pesenan, gak ada yang ngantar nih. Ikhsan kan libur Bu, jobdesk Olaf jadi double nih," balas Olaf.
Bu Fika melirik sekeliling semua crew tampak begitu sibuk dengan job desk-nya masing-masing lalu Bu Fika berinisiatif untuk memanggil satu orang part time untuk membantu Olaf.
Beberapa jam kemudian anak itu datang di hadapan Olaf.
"Hai Kak, kenalin aku Cia, part time di sini di panggil Bu Fika tadi. Apa ada yang bisa saya bantu?" tawarnya sopan pada Olaf.
Olaf melihat catatan buku pesanannya lalu mengarahkannya pada Cia untuk segera di selesaikan.
"Nah ini yang paling tengah kamu kasih ke Ibu itu ya, jangan lupa minta maaf soalnya ini pesanan lama banget baru mateng," ucap Olaf mengarahkan anak itu.
Cia mengangguk mengerti lalu dengan cekatan dia mengantarkan seluruh pesanan yang diajukan Olaf. Setengah jam kemudian Caffe mulai sepi, orang-orang pada pulang meninggalkan tempatnya. Ada juga yang kemudian berganti restoran ke samping untuk makan lagi.
Cia membereskan meja dan kursi yang sudah kosong. Melihat tak ada yang akan dilakukan lagi Olaf ikut turun tangan menemani Cia di sana.
Saat Olaf datang, Cia menggubris. "Aduh kak, kakak di atas aja ini kan job desk aku. Ntar ada yang beli susah kan," ujarnya.
"Santai aja kali lagian di sini gak ada tuh yang namanya itung-itungan kerja. Semua harus kerja sama satu sama lain. Lagian udah sepi jadi gak apa-apa gue ke sini kan," balas Olaf
Olaf berpikiran positif bahwa anak ini memanglah baik, sopan dan sangat rajin. Memang beruntung Bu Fika bisa merekrut karyawan yang benar-benar beretika.
"Oh ya Cia, kamu umur berapa ya? Kayaknya masih sekolah deh," tanya Olaf sembari mengelap meja dengan towel putihnya.
Cia mengangguk dan tersenyum tipis. "Hehehe iya kak, aku masi 16 tahun, butuh banget duit buat ikut ujian Univ dua tahun lagi."
Olaf terkesiap dengan apa yang dikatakan Cia. Bahkan dirinya saja belum berpikiran untuk kuliah di mana. Namun anak ini sudah merencanakan lebih awal.
"Wah kita beda setahun dong, aku 17 tahun nih bulan ini," jawab Olaf.
"Oh masih sekolah juga toh, seneng deh bisa kenalan sama Kakak. Kak Olaf ya namanya?" tanya Cia lalu berjabat tangan bahwa mereka belum sempat berkenalan sedari tadi.
Olaf menerima uluran tangannya tersenyum pada Cia. Sedetik kemudian, Kenji bersama rekan kerjanya mulai keluar meninggalkan pekerjaannya. Lalu dengan ramah, Kenji masih menyapa Olaf dengan lembut dan menyinggahinya.
"Hey Laf, yuk break. Kamu udah break?" tanya Kenji.
Setelah seharian penuh Olaf menunggu Kenji di ponselnya, akhirnya dia muncul nyata di hadapan Olaf.
Olaf terdiam, sikapnya kikuk melihat Kenji. Raut wajahnya juga datar saat Kenji sudah ada di depannya.
"Laf, kok bengong? Jangan bengong-bengong atuh, nanti kesambet," ujar Kenji menepuk dahi Olaf pelan.
"Apaan sih, udah lo duluan aja. Gue masih banyak kerjaan nih," jawab Olaf.
Cia yang mendengar itu ikut nimbrung dengan percakapan mereka. "Yaudah Kak Olaf, duluan aja breaknya, aku bisa sendiri kok. Lagian ini bentar lagi siap."
"Udah gak apa-apa kita breaknya bareng aja," jawab Olaf kembali meneruskan pekerjaannya.
Melihat Olaf masih fokus, Kenji hanya menghela napas. "Hm, kalau gitu yasudah, gue duluan ya, Laf, Happy working," ucap Kenji lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Olaf yang melihat itu merasa kecewa kepada Kenji. Mengapa bisa bisanya dia pergi begitu saja tanpa membujuk Olaf terlebih dahulu.
"Cowonya Kak Olaf ya?" pinta Cia kepada Olaf.
"Enggak kok, cuma teman," balas Olaf.
"Terus kenapa gak mau bareng dia aja? Kasian lho udah capek capek ke sini dianya," ucap Cia.
"Udah biarin dia aja sendirian. Gue lagi gak mood ngomong sama dia," balas Olaf.
Cia hanya diam tak mengerti jalan pikir Olaf. Lalu mereka memutuskan untuk break dan pergi ke luar mencari makanan.
Saat ingin izin Olaf menemui Sisi terlebih dahulu. "Si, gue duluan break ya, laper nih. Gue barengan sama Cia. Lo ikutan gak?"
Sisi menolak karena masih ada yang harus dikerjakannya. Ditempat kerja mereka berdua jarang bersama karena berbeda jenis pekerjaan. Hanya saat sekolah dan pulang lah akan bersatu kembali.
"Lo duluan deh, gue lagi ribet nih. Kalau keluar ntar gue nitip teh aja deh puyeng pala gue nih. Pen ngeteh," ucap Sisi.
"Ululu, santai Si, jangan diambil pusing mah kerjaan. Oke, ntar gue beliin lo teh ya," balas Olaf.
Olaf dan Cia beranjak menuju luar. Tak ada yang bisa mereka makan selain bakso karena tak ada lagi orang yang jualan pada malam hari. Olaf memperhatikan sekitar gerombolan Kenji sedang nongkrong di sana. Apa yang harus Olaf lakukan? Haruskah dia menghindar dari sana? Olaf berhenti sejenak.
"Kenapa kak? Kok berhenti?" tanya Cia curiga.
Olaf merasa gelisah melihat gerombolan Kenji yang sedang di sana. Bagaimana mungkin dia akan ke sana?
Cia yang mengetahui itu langsung menarik lengan Olaf dengan cepat. "Udah tenang aja Kak, katanya cuma temenan sama Kak Kenji tapi kok groginya gitu amat ya, sampe gak mau nemuin dia," celetuk Cia cekikikan.
Ah tadi Olaf mencap Cia sebagai anak yang sopan namun ternyata salah. Olaf akan menarik semua perkataannya tadi. "Ih, Cia, kita mending beli jajanan di luar aja yuk, naik motor."
"Apaan sih Kak, Ayo, jangan ragu, aku temenin," tukas Cia percaya diri.
Akhirnya Cia menarik lengan Olaf dan sampailah mereka di sana. Di depan segerombolan anak Crawl Imp yang di dalamnya ada Kenji yang sedang bermain domino bersama teman-temannya.
"Olaf!" panggil Kenji.
Olaf memutar bola matanya tak suka. "Sial!"
Kenji mengikuti tempat duduk Olaf lalu duduk di sampingnya. "Laf, lo kenapa sih? Dari tadi keliatan bete banget sama gue?"
"Oh jadi lo mau tau?" tanya Olaf.
"Yaiyalah sayang," balas Kenji.
"Gue bete lo gak ngabarin gue seharian," jelas Olaf.
Cia terkejut mendengar hal tersebut. Sedari tadi Olaf hanya mengaku bahwa Kenji hanyalah temannya.
"Olololo ternyata nungguin, maaf yang, gue tadi sibuk bikin report akhir bulan," jawab Kenji mencolek pipi Olaf dan mencoba merayunya.
"Jadi kalian sudah pacaran?" tanya Ikhsan yang tiba-tiba datang menghampiri Olaf.
***
Welcome Mei
Pekanbaru, 01 Mei 2020
by, Indahoalkaf