
"Paman berhenti!!" teriak suara lantang seorang anak kecil menghentikan aksi Pak Tarno.
Pak Tarno memandangi asap yang keluar dari mulut bocah kecil itu. Merasa terkejut Pak Tarno mendekati anak itu.
"Zidan! Apa yang kamu lakukan disini? Buang itu sekarang juga!" ujar Pak Tarno lalu membuang sebuah vape yang ada di tangan Zidan.
"Kok dibuang Paman? Zidan kan suka ada asap-asapnya," tanya anak ini dengan polos.
"Nak, coba jawab Paman. Siapa yang membawamu ke sini?" tanya Pak Tarno merasa heran sambil memegang pundak Zidan yang sudah kotor berlumur lumpur.
"Om Teno yang udah ajak Zidan ke sini, Paman," jawab Zidan menunjuk arah selatan sekolah dibalik pohon besar itu.
Pak Tarno mengedarkan pandangan ke titik selatan. Namun usahanya tidak berhasil saat tangannya berhasil di grebek oleh Pak Budi.
Olaf mendekati sasaran. "Kena juga kan lo!"
Semua orang lantas lega karena Pak Tarno tadinya ingin menembak salah satu dari mereka semua.
Zidan yang melihat pamannya lantas merengek kepada semua orang.
"Jangan tangkap paman!" ujarnya sambil merengek.
Tanpa berpikir panjang Olaf segera meneriakinya. "Kepergok juga kan Lo! Sekarang jelasin kenapa temen gue Riri bisa mati di markas sana!"
"Saya tidak ikut ikutan," jawab Pak Tarno takut sambil menunduk.
Kelihatannya seluruh badannya lemas loyo tak bertenaga ditambah lagi keringatnya bercucuran.
"Jujur, jadi siapa yang udah bunuh temen gue?" tanya Olaf tegas.
"Bukan saya, bukan saya, bukan saya," ulang Pak Tarno sambil memohon melipat tangannya.
"Kalau bukan lo, kenapa tadi lo mau nembak kami semua haaaaa!" tandas Olaf.
"Udah masukin penjara aja, pembunuh mana ada yang mau ngaku!" ujar Bu Sesil berani.
Mendengar kata polisi, Pak Tarno gelisah minta ampun. Badannya bergoyang ke sana kemari mencoba untuk kabur dari genggaman kuat Pak Budi.
Melihat pamannya yang di gebrek begitu, Zidan mencoba membantu pamannya dengan menggigit tangan Pak Budi. Pak Tarno kini lepas kendali kemudian kabur dengan membawa Zidan ke area sekolah.
"PAKE KABUR LAGI! AWAS AJA LO!" teriak Olaf kemudian berlari dengan kecepatan ekstra mengejar Pak Tarno.
Pak Tarno berlari lumayan lamban karena tangannya masih terikat oleh tali.
"WOY! JANGAN KABUR LO!" teriak Olaf.
Kini Olaf dan Pak Tarno berlari-lari memutari lapangan sekolah. Melihat hal ini seluruh siswa keluar kelas begitu juga guru-guru yang sedang mengajar juga menghentikan kegiatan pembelajaran.
Semua siswa heran dengan apa yang terjadi. Bukannya malah bantuin, mereka malah bantu sorak lalu mengabadikan momen ini di sosial media mereka masing-masing.
Pak Tarno terus berlari bersama Zidan dan berusaha melepaskan tali yang terikat ditangannya. Setelah terlepas, pacuan larinya sungguh secepat kilat yang tak mampu dijangkau oleh seorang Olaf yang notabenenya hanya seorang gadis biasa.
Kekuatan pria akan kalah dengan kejaran seorang wanita. Saat Olaf ngos-ngosan untung saja ada Pak Budi, Mas Heru dan rekan lainnya yang ikut membantu Olaf mengejar Pak Tarno.
"KALIAN SEMUA! TOLONG SERBU PAK TARNO!" teriak Olaf serak kehilangan suara.
Beberapa orang siswa ada yang berusaha mengejar dan ada pula yang tak acuh melihat peristiwa ini.
Kini Pak Tarno berada pada posisi jalan buntu yang tak mungkin lagi untuk kabur, ditambah lagi banyak dari mereka yang sudah menyerbu Pak Tarno.
Tak terasa kini Olaf menjadi komando paling depan dalam pelarian ini. Sedetik kemudian tenggorokannya terasa tercekat, penglihatannya buram, kepalanya pusing seolah bumi seakan berputar sangat kencang disertai terpaan angin yang membuatnya menggigil.
Dor!
Tembakan pertama tepat mengenai badan Olaf. Gelumuran darah segar menyebar ke mana-mana. Sontak membuat yang melihatnya bergidik ngeri. Detik itu juga, semua siswa maupun guru menjauhi kejadian.
"OLAFFFFFFF!" Teriak Lena penuh ketakutan dari ujung sana.
***
Seolah tak percaya apa yang terjadi, Sisi yang mendengar kabar itu segera mendekati lokasi kejadian. Denyut jantungnya terpacu lebih cepat. Cemas yang dia rasakan saat ini saat mendengar bahwa sahabatnya tertembak oleh seorang satpam sekolah ini.
"Bener ternyata dugaan gue selama ini, Pak Tarno emang pembunuh!" kelakar Sisi bersungut-sungut kepada Ikhsan.
"Gila! Gue gak nyangka aja," balas Ikhsan.
"Yaudah buruan! Sebelum terlambat," ucap Sisi panik.
Samar-samar bunyi sirine ambulance terdengar membuat suasana sekolah semakin kacau. Mendadak sekolah Olaf menjadi viral di beberapa berita ditambah lagi polisi dan wartawan sudah datang ke lokasi kejadian. Semua siswa tak percaya akan terjadi seperti ini di sekolahnya sendiri.
Sisi dan Ikhsan segera menghampiri Lena yang sedang terjatuh tak berdaya di hadapan Olaf.
Sisi memperhatikan badan Olaf yang terluka akibat tembakan peluru. Darahnya mengalir deras seperti sama halnya yang dilihatnya saat Riri meninggal waktu itu. Jantungnya berdetak cepat. Matanya berkaca-kaca, tak kuat menahan semuanya. Sisi menangis sangat kencang dan tersedu-sedu.
Apa mungkin dia akan kehilangan Olaf juga kali ini? Sungguh Sisi tak akan menerima ini semua.
Olaf segera diangkat petugas ambulance masuk ke dalamnya untuk dibawa ke Rumah sakit terdekat. Lena, Heru, Sisi dan Ikhsan masuk ke dalamnya.
"Kamu dapet info sopir itu dari mana sih? Asal nerima orang aja!" sungut Mas Heru kepada Lena.
"Pembunuh seperti itu tak boleh dibiarkan begitu saja," tegas Heru tak terima melihat adik iparnya terbaring lemah kehilangan banyak darah.
Telepon dering Lena kembali berbunyi. Bunda menelpon dirinya.
Lena panik harus berkata apa kepada Bundanya. Namun apa boleh buat, dia harus memberitahu kabar buruk ini pada keluarganya.
Senandung panjatan do'a tak henti-hentinya mengiringi setiap alunan bunyi sirine yang memekakkan telinga. Sisi menunduk memecahkan tangisan paling keras seisi ambulance ini. Tangannya tak berhenti merasakan denyut nadi Olaf yang semakin lama semakin melemah.
"Please jangan tinggalin gue, Laf," batin Ikhsan sendu.
***
"Lo bisa fokus dikit gak sih, Nji!" ujar kepala Koki yang ada disampingnya.
Lamunan Kenji seketika buyar saat melihat adonan yang dia masukkan salah bahan.
"Waduh! Argh!" Kenji segera mengganti bahan yang salah itu dan berusaha untuk fokus bekerja saat ini.
Seberapa kuat dia untuk fokus namun tetap saja tidak bisa. Pikirannya dipenuhi oleh Olaf saja dari tadi. Seolah batinnya berkata ada yang terjadi dengannya hari ini. Perasaan yang berkecamuk membuatnya selalu bertanya ada apa dengan dirinya saat ini.
Kenji melirik jam tangannya yang masih bertengger diangka tiga sore masih setengah jam lagi dia akan menetap di sini dengan perasaan gelisah dan penasaran.
Walaupun Olaf tidak mengabarinya sejak dua hari yang lalu namun rasa sayangnya pada Olaf tak akan pernah pudar. Kenji hanya memberikan waktu luang pada Olaf untuk benar-benar sendirian.
Lima belas menit sebelum pulang, Kenji segera bersiap memakai jaket dan helmnya lalu meminta izin untuk pulang lebih awal.
"Woi Nji! Cepat amat lo balik!" ujar rekan kerja Kenji yang satu shift dengannya.
"Sorry, Bro, gue ada urusan nih. Duluan ya," jawab Kenji kemudian berlalu keluar.
Kenji memanggil nomor Olaf namun sial operator yang menjawab teleponnya. Dengan inisiatif yang tinggi Kenji melajukan motornya menuju rumah Olaf. Sepuluh menit kemudian, Kenji sampai di depan rumah Olaf. Namun suasana rumah sepi tak ada orang.
"Seharusnya jam segini dia sudah pulang sekolah," batin Kenji semakin gelisah.
Terus menerus menelpon Olaf namun tak ada nada sambung yang didapat Kenji. Dengan demikian Kenji terpaksa menyusul Olaf ke sekolahnya demi mendapatkan sebuah kabar.
Hiruk pikuk keramaian sekolah dengan sejumlah wartawan dan polisi membuat Kenji bingung dengan apa yang terjadi di sekolah Olaf.
Kenji berusaha masuk di tengah keramaian yang ada untuk mencari informasi. Namun langkahnya terhenti saat ada peliputan acara televisi yang disiarkan oleh reporter.
"Baik Pemirsa, Saya sudah berada di lokasi kejadian. Ada banyak misteri yang belum terungkap semenjak peristiwa ini terjadi. Sebelumnya sudah ada korban yang meninggal di markas sekolah ini. Dan tepat pada hari ini, korban siswi sekolah ini bertambah. Banyak siswa yang menjadi saksi nyata atas kejadian tragis tersebut. Sampai saat ini korban sudah di bawa ambulance menuju Rumah Sakit Petala Bumi," jelas Reporter membawakan berita siang ini.
Belum sempat bertanya, Kenji sudah mendengar ada kejadian tragis oleh satpam sekolah yang menembak seorang siswi dengan pistol.
"Permisi, Kak, ada apa ya kok ramai begini?" tanya Kenji penasaran.
"Itu lho Bang, salah satu murid sini tertembak pistol dua jam yang lalu," jawab siswi itu penuh yakin.
"Boleh tahu namanya siapa?" tanya Kenji penasaran akan hal ini.
"Jilolaf Agranita Chaiputri, biasa dipanggil disini Olaf sih, Bang," jawab salah seorang gadis berambut panjang itu.
Ribuan tusukan pedang rasanya amat meyayat hati Kenji. Biarlah dia disakiti sekuat apapun namun jangan Olaf yang merasa sakit. Berita ini sungguh meyayat seluruh jiwanya. Hancur rasanya mendengar kabar buruk yang selalu dihindarinya.
Kenji segera menghubungi nomor Sisi yang telah di dapatnya dari Bu Fika-Manager Caffe tempat Olaf bekerja.
Nomor Sisi tersambung.
"Hallo Si, kabari gue sekarang kalau Olaf baik baik saja!"
Sisi tersedu-sedu tak berkata lalu suara seraknya kemudian berucap sepatah kata.
"Maaf ini siapa?"
"Kenji pacar Olaf."
"Oh bukannya kalian lagi ada masalah ya? Kata Olaf waktu itu?"
"Bukan urusan lo! Sekarang jujur, gimana keadaan dia?"
"Olaf kritis, Nji."
Kenji terluka bukan main. Dia menambah kecepatan motornya tinggi menuju rumah sakit Petala Bumi.
Seketika Kenji mengingat kata-kata Olaf yang pernah dikatakannya.
"Kalau lo punya waktu luang, jangan lupa luangin waktu buat gue ya. Kalau lo bahagia jangan lupa tersenyum karena kebahagiaan cepat sirna dan gak mungkin seutuhnya abadi, jangan sia-siakan kesempatan itu."
Kenji menyeka air matanya yang mulai tersedu-sedu.
***
Pekanbaru, 13 Juni 2020
by, Indahoalkaf