Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Jalan Bareng



Perasaan terpuruk memang sangat membuat hati semakin sedih. Berlama-lama bersendirian di kamar memang bukan pilihan yang tepat. Untung saja Kenji datang mengajaknya keluar dari zona sedih ini.


Baju hitam polos dengan jeans putih sudah dikenakan Olaf sedari tadi. Kenji mengabari kalau dia akan sampai lima menit lagi, Olaf segera turun dari tangga. Situasi rumah sangat hampa, semua orang ada di rumah namun semuanya berkurung diri di dalam kamar. Olaf membuka pintu kemudian keluar menunggu kehadiran Kenji di teras rumah.


Sembari menunggu Kenji. Olaf berpikir sejenak ada sebuah suara tangisan di kamar Lena. Tangisnya tersedu-sedu. Olaf baru ingat karena kamar Lena berada tepat dibawah teras. Pastinya akan terdengar sampai ke bawah. Olaf semakin tak enak hati mendengarnya. Semakin berlarut di dalam kesedihan, Olaf semakin murung dan tidak mood.


Sepeda motor Kenji akhirnya terparkir di depan rumah Olaf. Gadis itu sudah duduk di kursi teras rumah. Namun dia tak sadar akan kedatangan Kenji. Wajahnya masih menunduk murung. Sepertinya masalah Olaf memang benar-benar buruk. Kenji berjanji akan menjaga kata-katanya nanti jika berinteraksi pada Olaf.


Olaf terhenyuk kaget saat wajahnya ditempeli es krim oleh Kenji yang tiba-tiba mendatanginya.


"Ih dingin tau, kapan lo datang?" tanya Olaf mengusap pipinya yang masih dingin.


"Dari tadi gue datang, masa orang ganteng kayak gue gak disadari kedatangannya," balas Kenji mencibir Olaf.


"Yeeh, PD banget lo, ya sorry, gue masih pusing ini," ujar Olaf.


"Yaudah yuk, dari pada pusing mending happy fun bareng gue, yuk," ajak Kenji sambil meraih tangan Olaf.


Olaf melirik es krim yang diberi Kenji. "Bukain dulu es krimnya," ujar Olaf memasang wajah puppy eyesnya.


Kenji tersenyum tipis. "Manja banget lo ya, yaudah iya sini tuan putri, dibukain deh es krimnya."


Kenji membuka es krimnya lalu memakannya tanpa rasa bersalah.


"Ih Kenji, itu kan es krim buat gue. Kenapa lo embat," protes Olaf.


"Siapa bilang ini buat lo? Gue kan beli buat diri gue sendiri," jawab Kenji.


"Nyebelin banget sih, kalau gitu gue gak jadi jalan deh sama lo," ngambek Olaf memutar badannya ke arah pintu rumah.


Kenji menarik lengan Olaf cepat. "Gitu aja kok ngambek sih. Yaudah nih khusus buat lo," ujar Kenji mengeluarkan plastik bening kepada Olaf.


Olaf menerima plastik itu lalu merogohnya. Terlihat ada es krim strawberry di dalamnya. Olaf mengembalikan plastik itu pada Kenji.


"Lo kenapa? Gak suka ya?" tanya Kenji.


"Suka, tapi gue sukanya yang itu," balas Olaf sambil menunjuk es krim yang dipegang Kenji.


"Saelah sama aja cuma beda rasa," ujar Kenji.


Olaf memutar bola matanya, lalu Kenji mengalah memberikan es krim itu pada Olaf.


"Nih buat lo aja, biar sweet makan berdua," ujar Kenji.


"Najis masak gue dikasih yang bekas lo," tukas Olaf.


"Lha salah mulu gue," jawab Kenji.


"Yaudah yuk pergi lagi, ntar telat lagi nontonnya," ucap Kenji melirik jam tangannya.


Kenji jalan berdampingan dengan Olaf. Keduanya punya perasaan namun Olaf belum sama sekali menjawab langsung perasaan Kenji.


Motor Kenji melaju ke jalanan, Kenji meraih tangan Olaf dari belakang.


"Pegangan Laf, ntar lo jatuh lagi. Soalnya lo kan lagi pusing," teriak Kenji dari atas motor.


Olaf berpura-pura tidak mendengar perkataan Kenji. Sebenarnya dia mendengar tapi dia hanya gugup untuk sekedar berpegang pada Kenji.


"Laf? Lo dengar gue kan, pegangan ntar lo jatuh," ulang Kenji sekali lagi.


"Iya-iya gue dengar," balas Olaf.


Perhatian Kenji sangatlah besar kepada Olaf. Dia sebagai kaum wanita merasakan suatu hal yang mengguncang di kehidupannya. Sebelumnya tidak ada satu pun lelaki selain Ayah yang memperlakukannya bak bidadari. Bagaimana mungkin jika Olaf tidak baper?


Lima belas menit kemudian, mereka sampai di Mall Grand Central Jakarta. Mall yang terkenal ramai dengan pengunjung karena merupakan salah satu pusat perbelanjaan sekaligus area hiburan, makanan, bioskop dan event artis ternama nomor satu di ibukota.


"Ayo buruan, ntar telat lagi nontonnya," ujar Olaf melihat jarum jam telah menunjukkan pukul setengah tiga sore.


Kenji berjalan mengekori Olaf yang sudah tak sabar menonton film fantasy yang sudah berbulan-bulan ditunggunya. Hari ini waktu yang pas untuk mengubah mood-nya.


Sesampainya di bioskop, mereka memesan dua tiket, dua buah milo dan tak lupa popcorn. Waktu yang ditentukan telah datang. Akhirnya mereka menuju studio dalam waktu yang tepat. Saat telah duduk di bangkunya, filmnya baru saja dimulai.


"Tuh kan bener, gue udah nyangka banget kalau si Alena itu mau ngerebut kekuatan Aila," ucap Olaf kepada Kenji ditengah penayangan film.


Kenji hanya tersenyum tipis mengiyakan perkataan Olaf.


"Lo lucu kalau lagi nonton," ujar Kenji.


Olaf melirik ke samping. "Lucu apaan dah? Itu beneran keren banget filmnya. Tuh tuh, mereka masuk ke pendakian tanpa bawa apa-apa," ucap Olaf menguasai film.


"Lucu, lo serius banget nontonnya. Seriusin guenya kapan? Lo belum balas pertanyaan gue malem itu," ucap Kenji.


Deg! Mengerti apa yang dimaksud Kenji, Olaf langsung memutar otak untuk mengalihkan pembicaraan.


"Hush! Diem deh, lo ganggu gue nonton aja, lagi seru tuh!" ucap Olaf.


Kenji hanya menghela napas panjang mendengar jawaban Olaf yang melulu mengalihkan pembicaraan.


Hening, tak ada suara yang terucap satu pun sampai film ini berakhir. Mungkin gugup atau ada rasa kecewa diantaranya. Dan Olaf merasakan hal yang gugup saat ini.


"Mmm, Nji, gue mau ngomong sesuatu nih sama lo," ucap Olaf.


"Yaudah ngomong aja, lagian gratis kali ngomong," jawab Kenji ketus.


Melihat suasana hati Kenji yang tidak bersahabat. Olaf mengurungkan niatnya untuk membalas perasaan Kenji. Hatinya masih ragu karena dari awal memang dia takut jatuh kemudian terhempas lalu ditinggalkan. Olaf sangat sayang kepada dirinya, jadi dia harus berhati-hati untuk mengambil tindakan.


"Jadi mau bilang apaan?" tanya Kenji.


"Mmm, menurut lo jatuh cinta itu seru gak sih?" tanya Olaf.


"Bukan seru, Lo kira wahana yang bisa dimainin. Cinta itu misteri, kadang susah tergapai namun terasa indah jika terbalas," jawab Kenji.


"Oh ya? Terus kalau lo udah jatuh cinta. Apakah lo siap menghadapi semua resikonya?" tanya Olaf.


"Pasti siap dong, semua hal yang kita lakukan sekarang ini pasti ada resiko termasuk jatuh cinta dan lo juga harus siap patah hati nantinya kalau udah kenal cinta," jawab Kenji bijak.


"Ih apaan sih lo, gitu amat ngomongnya," ujar Olaf menepuk bahu Kenji.


"Yaudah jadi lo mau ngomong apa barusan?" tanya Kenji lagi.


"Gak jadi gue bete sama lo!" ngambek Olaf.


"Dasar tukang ngambek, tenang aja gue gak bakal ninggalin lo kok," ucap Kenji tulus.


"Seriusan?" tanya Olaf.


"Iya sayang, apasih yang enggak buat kamu," jawab Kenji.


"Dasar tukang gombal!" tukas Olaf.


"Biarin, emang lo, tukang ngambek!" balas Kenji sambil menjulurkan lidahnya.


***


Pekanbaru, 07 Mei 2020


by, Indahoalkaf