
"Lo pikir gampang cari hadiah gituan!" tukas Sisi mengeluarkan amarahnya pada Sarah yang tak mengerti betapa paniknya Sisi saat ini.
Sarah tahu apa yang dirasakan Sisi, ini semua ulah mereka yang tak sabaran menunggu waktu pulang tiba.
Sisi mengeram lumpuh melihat suasana BK yang tak berpenghuni. Semua dimulai dari sini, sudah beberapa menit yang lalu mereka berkejar-kejaran untuk datang ke sini mencari Riri.
"BK kosong, jadi opsi pertama bisa jadi pilihan buat kita," ujar Sarah.
"Lo yakin Riri ke sana sendirian?" tanya Sisi mengerutkan dahinya.
"Yaudah sekarang gue coba telpon," balas Sarah mengeluarkan ponselnya.
Nada telepon dari ponsel Riri tersambung.
"Gimana aktif gak nomornya?" tanya Sisi mendesak meminta jawaban.
Sarah menggeleng melihat layar ponselnya. "Aktif sih cuma gak diangkat."
"Sini gue coba lagi," ucap Sisi merebut ponsel Sarah.
Beberapa kali Sisi menghubungi nomor Riri namun satupun nihil tidak diangkat.
"Gue punya ide, kita lacak keberadaan Riri dari ponsel mumpung hp nya hidup tuh," ujar Sarah menyentikkan jarinya.
"Brilian, buruan lacak," balas Sisi.
Sarah mengotak-atik ponselnya.
"Nih, Riri masih berada di sekitaran sekolah, lo liat deh mapsnya," ucap Sarah menunjukkan arah Riri berada.
"Syukurlah kalau Riri masih di sekitaran sini," balas Sisi lega menghembuskan nafas panjang.
"Tandanya opsi pertama bener kan, kita tunggu ajadeh Sisi beberapa menit lagi ya," ujar Sarah.
Bu Rena menyaringkan suaranya dari mic speaker sekolah.
"Seluruh murid silahkan masuk ke kelas, jangan berkeliaran. Apalagi duduk di depan BK. Ayo kalian dua cewek yang lagi duduk duduk di sana masuk," sindir Bu Rena kepada Sisi dan Sarah.
Sisi dan Sarah terloncat malu, bisa-bisanya Bu Rena mengatakan sindiran itu dengan keras menggunakan microphone.
"Eh gile, kita dilirik tuh sama Bu piket," ujar Sarah.
"Yaudah biarin kita cabut satu hari ini," balas Sisi.
"Eh lo apaan sih! Mau cari masalah baru?" tanya Sarah semakin pusing.
"Riri belum datang, Rah, lo yakin belajar konsen di dalam kelas?" tanya Sisi.
"Ya enggak konsenlah, tapi setidaknya kita beranjak dari sini dulu," balas Sarah meraih tangan Sisi agar mau berdiri.
Sisi dan Sarah berjalan diam-diam menuju kantin sekolah. Sekecil apapun usaha untuk kabur dari kelas pasti ujung-ujungnya akan ketahuan.
"Eh kalian! Mau ke mana? Gih masuk kelas, saya laporin ke wali kelas ya!" teriak Bu Henny sang pemilik warung jujur kantin sekolah yang kebetulan masih berada di kantin sekolah.
"Duh ******, gimana dong?" bisik Sarah.
"Emm... kita mau ke kelas kok ini Buk," ujar Sisi tersenyum tipis mengiyakan perkataan Bu Henny.
"Yaudah yuk buruan kita nungguin Riri di kelas aja," bisik Sarah lagi.
"Masuk atau saya laporin ke wali kelas kalian! Anak kelas XI-A kan? Saya tahu wali kelas kalian!" ancam Bu Henny.
Mendengar itu rasanya takut untuk bermain-main lagi dengan urusan sekolah. Sisi dan Sarah tak punya pilihan lain untuk masuk kembali ke kelas dengan keadaan yang masih ragu.
***
Olaf memperhatikan fotonya tadi di camera Canon EOS milik Mas Heru. Hasil dari foto itu sangat jernih, Olaf berniat untuk memindahkan foto ini di ponselnya.
"Bagus banget yak hasilnya," ujar Lena memperhatikan setiap sudut gambar dari camera yang dipegang Olaf.
Heru tersenyum tipis. "Iyakan aslinya orangnya juga cakep."
"Apaan sih pada ribetin camera," tukas Olaf kemudian membawa camera itu pergi meninggalkan acara lamaran Kakaknya.
Olaf berjalan menuju pintu atas rooftop. Dia berniat untuk memotret langit sore biru yang indah. Sesampainya di atas terlihat masih banyak orang yang berkerumun di bawah. Acara lamaran Lena memang ramai didatangi oleh rekan kerja dan teman-temannya. Belum lagi teman Heru yang datang dari luar kota yang berusaha menyempatkan waktu untuk datang ke sini. Pantas saja rumah Olaf tak habis-habisnya lengang di datangi oleh kerumunan orang.
Olaf meletakkan camera diatas kursi yang bersandarkan tasnya. Di depan camera Olaf bergaya dengan style ampuhnya. Memang dari dulu dia menginginkan foto diatas rooftop dengan keadaan cantik begini maksudnya dengan dihiasi makeup dan bulu mata tebal.
Olaf memiringkan badannya lalu menunjuk langit sore biru yang menenangkan, beberapa menit kemudian flash cahaya camera terpetik. Olaf mendekati camera, walaupun tidak ada yang memotretnya. Hasil dari camera itu cukup bagus. Olaf tersenyum tipis, foto ini akan diunggahnya nanti ke Instagram miliknya.
Olaf melirik jam mungil yang melingkari tangannya. Jam 4 sore tanda bahwa anak sekolah akan pulang sebentar lagi.
Jika Sisi dan temannya datang nanti dia akan berjanji untuk mengajak mereka foto di atas sini. Style fotonya semakin menarik.
***
Kenji melepaskan semua atribut kerja yang dipakainya. Kini sudah waktunya untuk pulang dan melanjutkan hal apa saja yang diinginkannya.
"Hey bro, gue balik duluan ya," ucap Kenji berpamitan kepada teman-temannya.
"Ye, cepat amat lo balik, tumben," jawab Panji teman Kenji yang masih bekerja di shift itu.
"Gue ada urusan makanya balik cepet. Yaudah gue cabut ya," ujar Kenji meninggalkan Crawl Imp.
Sesampainya di perjalanan, Kenji baru sadar jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Ini waktunya Olaf pulang sekolah. Daripada ribet nanyain Olaf si tukang ngambek. Lebih baik Kenji memberi surprise langsung ke sekolahnya dengan membawa sejumlah eskrim dan coklat yang diinginkan Olaf.
Kenji melajukan motornya menuju swalayan, langkahnya tertuju pada eskrim vanila yang disukai Olaf. Saat ingin membayar, ponselnya berdering menampilkan panggilan video call dari Kenzo kembaran Kenji.
"Hey bro, tumben lo vc gue ada apa?"
"Gue mau nanya, saat ini lo deket sama cewek ya?"
"Iya, kenapa emang?"
"Tadi pagi, pas gue kerja ngedekor, ada satu cewe yang manggil nama lo, terus pake ngacak-ngacak rambut gue segala lagi. Gue rasa dia deket banget sama lo."
"Ya gue emang deket sama cewe, tapi gak mungkinlah orang dia aja tadi pagi sekolah."
"Oh mungkin temen lo kali yang udah hapal gimana wajah lo, rambut lo. Yang gue bikin ketawa tuh cewe lucu. Dia pasti kaget kalau kita punya kembaran. Emang lo belum pernah ceritain ke siapa gitu kalau kita punya kembaran?"
"Kaga pernah cerita gue."
"Pantes. Yaudah deh gue cabut dulu."
Kenzo mematikan ponselnya sepihak.
Kenji yang melihat antrian kasir, segera membayar barang yang telah diambilnya. Setelah itu, langkahnya tergesa-gesa menuju keluar. Melihat jam sudah menunjukkan pukul lima kurang lima belas. Bisa-bisa Olaf keburu pulang duluan nantinya.
***
Olaf menunggu teman-temannya di teras rumah. Sudah pukul lima sore, namun tak ada tanda-tanda Sisi and the geng akan datang. Begitu pula dengan Kenji sang kekasih hati yang belum stay di rumahnya.
"Laf, temen kamu di mana nih? Kok lama banget datangnya?" tanya Bunda yang tiba-tiba datang menghampiri Olaf.
"Gak tau nih Bun, belum ada kabar dari tadi," balas Olaf sambil menunggu balasan chat dari ponselnya.
"Yaudah, kalau udah datang. Kamu panggil Bunda ya, suruh masuk kawannya sekalian foto bareng Kakak kamu," ujar Bunda.
"Siap bos," jawab Olaf dengan hormat.
Sembari menunggu Olaf mengetik pesan untuk Kenji.
Kenji : Yang? Kamu di mana sih? Aku udah nungguin nih di rumah.
***
Pekanbaru, 12 Mei 2020
by, Indahoalkaf