Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Pertemuan langsung



Kelap-kelip cahaya Caffe mendominan saat Olaf masuk ke dalamnya. Saat ini seperti biasa Olaf melakukan aktivitas seperti biasa seperti malam kemarin. Diletakkannya tas beserta barang miliknya ke dalam lokernya yang telah bertuliskan nama Olaf di depannya.


Olaf memakai apronnya lalu menuju pantry meneguk segelas air putih. Tiba-tiba datang gadis berkacamata menghampiri Olaf. Yap, dia Jessica. Gadis yang selalu mengikat rambutnya dengan style kitchen yang membuat dia terlihat sangat metching sebagai koki perempuan satu-satunya di Caffe ini.


"Laf, lo disuruh ke depan tuh! Anak shift pagi udah mau pulang. Lo gantiin gih," ujarnya di depan pintu.


Olaf mengangguk dan segera menuju depan kasir. Terlihat wajah anak shift pagi sudah tampak kelelahan.


"Akhirnya, Lo ready juga, Laf, gue udah sumpek banget nih, ngadepin customer. Capek banget gue," ucap Lila ngos-ngosan pada Olaf.


Malam ini memang terlihat lebih ramai dari biasanya. Pantas saja Lila mengeluh ternyata masih banyak pesanan yang harus di selesaikannya belum lagi customer menumpuk di depan kasir.


"Ayo dong, Mbak, gue udah nunggu dari tadi di sini!" ujar seseorang memprotes.


Olaf segera mengambil tindakan, di catatnya seluruh pesanan lalu di calling-nya ke belakang untuk segera disiapkan.


Sembari menunggu, Olaf kerepotan untuk mengantar ini semua pada meja customer. Lagi-lagi Ikhsan yang akan membantunya.


"San, lo udah siap kan dining nya?" tanya Olaf.


Ikhsan mengangguk lalu memasang wajah semangat yang memancar.


"Lo tolong anterin ini semua ya, yang ini tuh di situ ibu-ibu yang pake jilbab merah. Kalau yang ini bapak samping yang agak gendut di pojok sana," jelas Olaf pada Ikhsan.


Ikhsan memerhatikan gaya bahasa Olaf yang terlampau jujur lalu tertawa.


Merasa heran, Olaf menatap cemberut kepada Ikhsan.


"Gue dari tadi ngomong, Lo cuma ketawa doang? Niat bantuin gak sih!" kesal Olaf.


"Niatlah, cuma gak usah bilang kata gendutnya juga kali. Kalau bapak itu tersinggung. Lo bisa apa?" tukas Ikhsan.


Olaf tak merespon baik perkataan Ikhsan. Baginya pesanan lebih utama saat ini. Untuk kata-kata tadi bisa diralat, bahkan bapak itu saja tak mendengar perkataan Olaf.


"Yaudah gue bisa kok anterin ini sendiri. Awas sana!" ngambek Olaf membawakan sejumlah makanan pada customernya.


Ikhsan meminggir akibat diusir Olaf. Merentangkan tangannya untuk membantu Olaf. Namun Olaf menolaknya.


"Is, gini amat kalau cewek udah ngambek," batin Ikhsan.


Sejumlah pasukan remaja meninggalkan meja panjang tempat nongkrongnya. Mereka berterimakasih kepada Caffe ini. Berkat tempat yang telah disediakan untuk sekedar membuat tugas dan berkumpul bersama sahabat.


Semuanya berserakan, Olaf paling tak menyukai keadaan seperti ini. Di sapunya lah lantai secara perlahan sampai bersih. Saat Olaf menyapu, rombongan Kenji bersama teman-temannya datang melewati Olaf.


Awalnya mereka meneriaki nama Olaf namun beberapa menit kemudian Kenji masuk sendiri dan yap datang menemui Olaf.


"Gak break?" tanya Kenji di sela-sela kegiatan Olaf.


"Iya bentar lagi gue break, nih masih berserakan," jawab Olaf masih tetap menyapu sela di lantai.


Sedari tadi Kenji tetap diam di tempat belum beranjak memperhatikan Olaf.


"Lo gak break? Ngapain masih di sini?" tanya Olaf heran.


"Gue nungguin lo, bareng hayu," ajaknya.


Olaf memperhatikan jam dilingkar tangannya. Sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Pantas saja perutnya dari tadi protes ingin dikasih makan.


"Mau break di mana lo?" tanya Olaf.


"Terserah," jawab Kenji.


"Oh oke kita ngebakso aja yuk di samping, gue laper soalnya," balas Olaf lalu meletakkan sapu.


Olaf masuk ke dalam mengambil jaket kemudian meminta izin kepada Bu Fika bahwa dirinya belum ada break dari tadi. Bu Fika hanya mengangguk lalu memanggil Olaf.


"Laf, ibu nitip juga dong, kamu mau beli bakso kan ke samping?" ujar Bu Fika mengetahui bahwa Olaf akan membeli Bakso.


"Oh oke, siap, buk," balas Olaf berlalu meninggalkan ruangan Bu Fika.


Olaf mendatangi Kenji di depan sana yang telah menunggunya.


"Hayu, keburu tutup nih!" ajak Olaf.


Entah pikiran apa yang merasuki Olaf sehingga mau sama break bersama orang yang mungkin baru beberapa menit dikenalnya.


Kenji mengiringi langkah Olaf, baru kali ini intuisinya kuat terhadap perempuan di sampingnya. Olaf benar-benar menarik perhatiannya saat pertama kali mereka bertemu.


Merasa diperhatikan aneh, Olaf memalingkan muka dari Kenji.


"Lo kenapa?" tanya Olaf.


Lalu melanjutkan perbincangan singkatnya. "Btw, waktu itu lo ke Caffe bareng kakak lo ya?"


Olaf mengingat peristiwa pertama kali yang terjadi tepat di Caffe Sky Gold. "Hm iya kenapa? Jangan bilang lo ngintai gue sama Kakak gue ya, waktu itu makanya kita ketemu lagi di samping meja Caffe?" tuduh Olaf memastikan bahwa Kenji memanglah orang tahu segalanya.


Kenji menggeleng cepat. "Enggak, gue gak tau apa-apa tentang lo. Soal ketemu waktu itu lo kaget. Gue gak tau masalahnya."


Olaf berdehem. "Hm, baguslah kalau lo gak tau."


Kenji balik bertanya, "Emang ada apa sih? Sampe lo kaget ngeliatin gue gitu?"


"Gak apa-apa, abisnya lo tiba-tiba muncul di depan gue," balas Olaf santai.


"Hayo, lo ngapain, ngaku?" ucap Kenji supaya Olaf memberi tahunya.


"Apaan sih. Kepo amat lo, baru kenal juga," balas Olaf jutek.


Olaf bersyukur karena di waktu itu Kenji tidak melihat dirinya sedang berakting mengambil ponsel Lena yang sedang terciduk berpergian bersama kekasih gelapnya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai. Olaf duduk di depan Kenji, lalu Kenji memesan dua mangkok bakso kepada Mas Jaka.


"Mas, bakso dua ya, makan sini," ujar Kenji kepada Mas Jaka.


"Oke, Nji, udah ganti pasukan aja lo, Nji," balas Mas Jaka.


"Hahaha biasalah Mas," tawa Kenji sepertinya telah akrab kepada Mas pemilik bakso ini.


Olaf membuka ponselnya lalu melirik ada notifikasi wa dari nomor yang tak dikenal.


"Yaelah, belum disave ya nomor gue," seru Kenji melirik ponsel Olaf.


"Oh, ini nomor lo. Maklum gue baru sempet buka hp," bales Olaf.


"Rumah lo di mana, Laf?" gumam Kenji.


"Eh?" Olaf mengernyitkan dahi.


"Terlalu cepat ya gue nanya?" tanya Kenji.


"Bukan sih, tujuan kita ke sini mau break bareng bukan interograsi gue," jawab Olaf cuek.


"Kan sekalian," jawab Kenji.


"Lagian kenapa sih make nanya-nanya rumah gue di mana?" ujar Olaf.


"Ya, biar tau aja, biar bisa bareng lagi sama lo," jawab Kenji.


"Oh, gitu, rumah gue di Jl. Mahkota deket Spbu sebelah kanan," balas Olaf.


"Wah, pas banget, rumah kita searah," jawab Kenji menjentikkan jari.


"Oh ya? Lo di mana?" tanya Olaf.


"Jl. Srikandi ujung," balas Kenji.


"Searah sih tapi jauhan lo," ucap Olaf.


Tak terasa hidangan bakso mereka telah siap. Mas Jaka mengantarkannya kepada Kenji.


"Silahkan, Mbak, Mas," ucapnya ramah.


"Makasih ya Mas, ntar gue traktir lo kalau gue berhasil," bisik Kenji.


Olaf merasa aneh pada Kenji. Dia hanya tersenyum lalu menyantap bakso yang telah dihidangkan. Perutnya begitu lapar membuat satu mangkok bakso pun tak kenyang diperutnya.


"Mas, pesen satu mangkok lagi dong!" Ucap Olaf.


Kenji menatap wajah kepada Olaf. Gila banget nih cewek, badan kecil. Makannya banyak.


"Apa liat-liat? Gue laper tau pengen makan orang sekalian!" ujar Olaf menekan garpu pada baksonya seakan ingin menyantap Kenji hidup-hidup.


Entah karena apa Olaf bersikap seperti ini kepada semua cowok yang berusaha mendekatinya. Prinsipnya, simple, jika Ilfeel tinggalkan. Kalau ingin mendekat, mendekatlah.


***


Pekanbaru, 19 April 2020


By, Indahoalkaf