Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Perkara Perasaan



Tepat pada pukul tujuh malam, Kenji tiba di depan rumah Olaf. Rumah Olaf  terang benderang dari depan. Kenji memperhatikan kaca kamar lantai dua yang terlihat ada seorang  gadis yang sedang berkaca memperhatikan penampilannya. Mungkin saja itu Olaf, tebak Kenji. Kenji menelpon nomor Olaf ada nada tersambung namun sang pemilik ponsel belum mengangkat telponnya.


Dari atas jendela, Olaf melihat ada seorang pengendara yang berhenti di depan rumahnya. Olaf memperhatikan jam dinding di kamarnya. Memang tepat sudah jam tujuh malam. Olaf keluar menuju balkon dan memperhatikan motor kawasaki yang dibawanya. Sang pemilik motor masih sibuk memperhatikan ponselnya.


Olaf memanggilnya. "Kenji?"


Merasa dipanggil oleh seseorang. Kenji melihat pada sumber suara. Ternyata Olaf sudah menyadari kedatangannya.


"Akhirnya lo tau gue dah sampe. Hp lo ke mana sih?" balas Kenji.


Olaf memutar matanya. "Hp gue di tas gak kedengaran, bentar lagi gue ke bawah."


Olaf kembali mengecek penampilannya. Kali ini sudah bagus baginya. Dress maroon dengan kelap-kelip mutiara yang melekat dilengannya beserta rambut terurai indah ke bawah membuat Olaf semakin percaya diri manggung malam ini. Dikenakan high heels hitam 7 cm yang telah dibelinya sejak seminggu yang lalu. Terakhir, dia menyemprotkan parfum lavender.


Merasa sudah sempurna, Olaf turun ke bawah. Tampak Ayah, Bunda dan Bang Rama sedang asyik menonton film bersama. Sungguh, keluarga yang hangat bagi Olaf. Untung saja Bunda sudah tidak terlarut pada Lena yang sedang kritis di Aussie. Bunda sudah menyerahkan semuanya pada yang Maha Kuasa. Tugas kami hanya berdoa kepada-NYA untuk kesadaran Lena.


Olaf mendatangi mereka semua termasuk Rama yang sedang memelototi nya setengah mati.


"Siapa nih?" tanya Rama pura-pura tak mengenali Olaf.


"Wah sayang, cantik banget kamu. Mau ke mana sayang?" tanya Bunda sambil mengelus rambut lembut Olaf.


"Bun, Yah, Olaf pamit manggung di Caffe malam ini ya bareng Sisi dan lainnya," pamit Olaf pada kedua orangtuanya.


"Boleh sayang asal pulangnya nanti jangan terlalu larut ya," balas Ayah.


"Bunda mah asal Ayah ngizinin aja," ujar Bunda.


"Yaudah kali, selagi masih muda dibanyakin bakat. Kek gue nih, waktu dulu tiap minggu gue selalu ikut pentas seni," bangga Rama pada dirinya sendiri.


"Ewh, gue gak nanya tentang lo," tandas Olaf sambil menjulurkan lidahnya.


"Oh, ya, sayang, kamu perginya bareng siapa, Nak?" tanya Bunda.


"Sama temen, Bun, udah nunggu tuh di depan. Aku ke depan langsung ya, dadah semua," pamit Olaf mengkiss-bye keluarganya.


Olaf membuka pintu, langkahnya gemulai menuju motor Kawasaki milik Kenji.


"Maaf ya gue lama ke bawahnya, gak apa-apa kan?" tanya Olaf menghampiri Kenji.


Selangkah dua langkah kaki Olaf masih belum imbang mengenakan heels yang satu ini. Langkah Olaf tertatih saat ada geludukan batu di semen jalan. Olaf hampir terhempas ke bawah namun dengan sigap Kenji datang menangkap Olaf.


Sepersekian detik Olaf ada pada pelukan milik Kenji. Tatapan Kenji semakin dalam saat mereka berdua saling tatap satu sama lain. Kenji terlihat matching dengan kemeja hitam yang dikenakannya dengan jeans putih semakin membuat jantung Olaf semakin berdegup kencang melihat kegagahan Kenji.


"Cantik," satu kata ucap Kenji saat masih memeluk gadis di depannya.


Reflek Olaf segera melepas pelukannya. "Sorry, gue ngerepotin lo, heels gue nih gak bisa diajak kompromi sama orangnya."


Kenji tersenyum tipis lalu menyentuh pipi Olaf pelan. "Gak papa, Laf, santai aja sama gue."


Olaf mengangguk lalu menaiki motor Kenji. Dirinya seakan malu dengan apa yang terjadi barusan. Dan juga mengapa jantungnya tak bisa dikontrol didetik itu. Selama di perjalanan hanya keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Tampaknya tak ada yang berani berkata. Akhirnya Kenji angkat bicara.


"Tadi gue lihat ada cowo yang datang ke rumah lo, Laf, tapi dia diem lalu pergi pas udah ngeliat gue, dia siapa ya?" tanya Kenji.


"Siapa? Gue gak ada janji selain sama lo," balas Olaf.


"Coba pikir-pikir dulu, gue gak enak nih bawa pacar orang," tandas Olaf.


"Pacar? Gue jomblo dari dulu. Gak ada niatan pacaran juga," jawab Olaf spontan.


"Oh ya? Seriously?" tanya Kenji.


"Yes, I'm serious," jawab Olaf.


"Kalau misal ada yang nembak atau yang suka sama lo gimana? Diterima atau ditolak?" tanya Kenji.


"Apaan sih lo! dari kemarin interogasi gue mulu," tandas Olaf menyilangkan tangannya.


Angin berhembus kencang menembus jalanan panjang Ibukota. Sebentar lagi Olaf bersama Kenji sampai pada tujuannya.


***


4 missed call


Sisi


Olaf segera masuk ke dalam Caffe menemui teman-temannya. Ternyata dari tadi mereka telah berkumpul menunggu kehadiran Olaf. Akhirnya yang ditunggu sampai juga.


"Olaf, lo datengnya lama banget, jadi gak bisa latihan bentar kan," ujar Sisi.


Olaf memperhatikan sekitar sudah ramai pengunjung yang datang. Dari arah yang tak disangka, Bu Fika datang menghampiri kami.


"Ayo kalian udah bisa mulai lima menit lagi, mumpung pada ramai gini. Biar pengunjung pada terhibur."


Olaf, Sisi, Sarah dan Riri menjawab serempak. "Baik, Buk, Siap."


Mereka tak lupa bertos ria sebelum manggung dimulai.


Olaf bersama temannya menaiki panggung yang telah di sediakan. Akhirnya cita-cita mereka nge band ternyata juga. Ini real bukan ilusi semata yang sering mereka bayangkan pada halusinasi.


Olaf mengeluarkan suara emasnya. Kali ini mereka sepakat untuk menyanyikan lagu Tolong, Budi Doremi.


*Kurasa ku sedang jatuh cinta


Karena rasanya ini berbeda


Oh, apakah ini memang cinta?


Selalu berbeda saat menatapnya


Mengapa aku begini?


Hilang berani dekat denganmu


Ingin ku memilikimu


Tapi aku tak tahu


Bagaimana caranya?


Tolong katakan pada dirinya


Lagu ini kutuliskan untuknya


Namanya selalu kusebut dalam doa


Sampai aku mampu


Ucap, "Maukah denganku*?"


Olaf dan teman-temannya sengaja membawakan lagu ini karena kehendak Sisi yang ingin mengutarakannya pada Ikhsan. Namun apalah daya, Ikhsan tak peka akan rayuan Sisi. Dia malah memilih Olaf untuk seseorang yang dicintai. Memang cinta ini begitu rumit.


Semua orang bertepuk tangan, begitupun dengan Kenji dia mengacungkan jempol pada Olaf.


Olaf turun dari panggung lalu beralih pada meja yang telah disediakan untuk mereka. Dari kejauhan Kenji menatap Olaf serius, kedua bola matanya tak berkedip ke arah Olaf.


Olaf mulai salting lalu melirik ke belakang, siapa tahu ada hal aneh yang ada di belakangnya. Setelah Olaf menoleh, tak ada apa-apa di belakang. Kesimpulannya, Kenji memang benar-benar memperhatikan dirinya.


Kenji melangkah mendekati Olaf, melihat hal tersebut Olaf hanya diam menunggu kedatangan Kenji.


*Satu detik


Dua detik


Tiga detik*


Berada di hadapan Kenji, Olaf merasakan getaran yang berbeda. Bahkan mulutnya saja sudah bungkam untuk mengatakan sepatah kata pun.


"Kamu cantik," ucap Kenji meraih genggam punggung tangan Olaf.


Olaf tersenyum kikuk, langkahnya mengikuti arah Kenji yang mengajaknya ke meja dinner malam ini. Mereka berdua menjadi pusat perhatian keramaian. Tentu saja, Olaf tambah malu karena banyak yang memperhatikannya.


Sepasang mata pun segera keluar melihat pemandangan tersebut. Langkahnya tergesa-gesa menuju keluar. Sisi segera menyusulnya, mungkin berat bagi Ikhsan untuk melihat ini semua. Tapi inilah kenyataan, Olaf lebih memilih Kenji.


"San, lo ke mana?" kejar Sisi ke luar.


Ikhsan tak menghiraukan Sisi, langkahnya terhenti saat Sisi berhasil mengejarnya.


"Aduh, Si, Lo ngapain repot-repot ngejar gue sih!" tandas Ikhsan.


"Gue kan khawatir lo kenapa-napa," balas Sisi.


"GAK PERLU!" kelakar Ikhsan reflek menolak bahu Sisi.


Entah tenaga Ikhsan yang terlampau kuat membuat dorongan itu terhempas ke belakang. Sisi terjatuh. Badannya yang kurus tak mampu menopang dorongan Ikhsan.


"Aw!" raung Sisi.


Ikhsan terkejut tak menyangka dorongannya membuat Sisi terjatuh.


"Si, maaf, gue speechless, sumpah gak sengaja," ucap Ikhsan meraih tangan Sisi.


"Iya gak apa-apa kok, San," jawab Sisi tertatih.


Tak mengerti apa yang terjadi karena memang jika sudah masalah perasaan tak memakai logika dan sulit untuk diterima apalagi dipaksakan.


***


Pekanbaru, 22 April 2020


By, Indahoalkaf