Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Status Gantung



Awan biru kini menebarkan pesonanya menuju bumi Pertiwi yang indah bak permai. Seluruh siswa telah berkumpul di lapangan sekolah membicarakan pensi sekolah. Sejak kemarin kepala sekolah dan para guru sepakat akan mengadakan pensi di sabtu ini. Perlu kalian ketahui pensi tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Jika pada tahun kemarin para alumni tidak diikut sertakan namun pada tahun ini para alumni akan diundang dan diperbolehkan mengikuti kegiatan pentas seni. Pastilah tahun ini akan ramai sekali dengan keadaan sekolah yang besar ini.


Kepala sekolah, Bu Gita menyampaikan bahwa setiap kelas wajib untuk mengikuti pensi kali ini. Jadi setiap kelas harus menyiapkan diri untuk tampil di depan orang-orang penting kali ini. Pensi ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas seni pada masing-masing siswa dan sekaligus mengadakan syukuran sekolah atas kemenangan pertama Adiwiyata mandiri Nasional yang akan didatangi Walikota serta Gubernur kota.


Semua siswa bersorak gembira dan bertepuk tangan riuh menyambut Pensi tahun ini.


"Gilakkk! Para alumni ikutan juga!" ujar Riri kesenangan.


"Ih sumpah gue senang juga, akhirnya do'a gue selama ini dikabulkan. Kapan lagi ketemu Kakel cogan yang udah pada keren diterima di Universitas ternama. Apalagi Kak Dion, gebetan pertama gue di sekolah ini," balas Sarah tak mau kalah.


"Apaan gantengan juga Ikhsan gue," bisik Sisi saat melihat orang yang dibicarakannya ada didekatnya.


Sarah dan Riri hanya tertawa kucing-kucingan saat melihat Ikhsan tiba-tiba melirik ke arah barisan mereka.


"Hayo?! Ngomongin gue ya?" ucap Ikhsan dengan PD nya.


"Dih, geer banget lo, San," balas Sisi malu jika Ikhsan beneran dengar apa yang dibisikkannya tadi.


Sementara Olaf hanya menjadi pendengar tak memiliki daya tarik untuk membicarakan para alumni.


"Alumni tahun kemarin kaga ada yang cantik, menurut gue," tambah Ikhsan memecahkan suasana kikuk.


Barisan cowok memang berada di samping cewek kebetulan Ikhsan duduk bersampingan bersama geng Olaf dan teman-temannya.


"Apaan sih lo semua, pikirin tuh soal pensi, siapa yang mau ikutan pensi!" protes Bone sang ketua kelas yang sangar.


"Udah lo tenang aja Bon, kelas kita ada ciwi-ciwi band kok," balas Rafi mengedipkan mata kepada Sarah.


Sarah yang melihat itu merasa tidak nyaman kepada Rafi. Rasanya seperti mau muntah melihat Rafi begitu kepadanya.


"Cielah, bentar lagi sahabat gue udah gak jomblo lagi deh," goda Riri.


"Dih! Ogah gue sama dia mending gue sama monyet aja sekalian," tandas Sarah.


Semua orang tertawa mendengar balasan Sarah termasuk Rafi yang langsung manyun saat Sarah mengatakan hal tadi.


Olaf diam-diam membuka ponselnya sedari tadi. Tak ada notifikasi muncul di ponselnya sampai saat ini biasanya Kenji telah menyapa dirinya di sela-sela pagi menyapa bahkan subuh saja Kenji telah mengingatkan untuk solat.


Olaf semakin gelisah saat dia berpikir bahwa tadi malam tidak terlalu merespon perasaan Kenji. Apa jangan-jangan karena hal itu, Kenji mulai menjauh darinya. Ah tidak, ini hanya ilusi semata Olaf karena begitu gengsi dengan membalas perasaan cinta.


"Eh lo apaan sih megang hp mulu!" ujar Sisi.


"Oh, Kenji ya? Eh kemarin sweet banget dibawain makanan sama dia, kalau gue jadi lo merasa beruntung banget deh ada yang perhatiin," ujar Sisi keblabalasan kepada semua orang.


Ikhsan yang mendengar itu rasanya sudah muak. Sudah berapa kali menarik perhatian Olaf namun nih Olaf tetap sama tak menanggapinya lebih dari seorang teman.


"Laf, udah jangan ditungguin, nanti juga dikabari kok," ucap Sarah menenangkan Olaf.


"Yaudah mending kita tentuin deh pensi kali ini mau nyanyi apaan?" tanya Sarah mendahului mereka.


"Nah bener banget, kita harus bener-bener tampil spektakuler pas pensi, biar dapet perhatian sama kakel cogan," balas Riri bersemangat.


"Yeee, dasar, cogan mulu yang dipikirin," telak Sisi menggeleng kepala Riri.


***


Olaf memilah-milah pakaian yang ada di lemari. Sore ini memang Olaf harus membersihkan lemarinya yang sudah cukup banyak pakaian yang tak terpakai. Kadang Olaf juga risih dengan isi lemarinya yang begitu padat. Nah, sore ini mumpung senggang Olaf akan merombak kamar dan membersihkan kamarnya.


Olaf menggunakan teknik cepat tapi bersih karena dia akan terkejar waktu untuk membuat tugas sekolah yang begitu banyak apalagi malam ini dia kan bekerja seperti biasa.


Mulai dari pakaian mini yang dia tak pakai lagi sampai pakaian yang tak muat lagi dibadan Olaf. Olaf menarik roda itu ke sudut. Debu dari sudut itu menyembur ke hadapan Olaf.


Uhuk ... Uhuk ...


Parah ternyata banyak sekali sampah foto di balik lemari ini. Olaf memperhatikan semuanya. Semua foto dirinya yang alay nan buluk itu. Banyak sekali perbedaan dengan dirinya sekarang. Namun ada satu foto yang menarik perhatian Olaf yaitu fotonya bersama Lena dan Rama.


Ketiganya masih asyik diajak bermain dan hal yang lainnya. Dahulu, banyak hal yang dilakukan bersama namun saat ini sungguh ironis, sangat berbeda sekali. Semua hal akan dikerjakan sendiri. Apalagi Lena mulai berubah saat sudah mengenal cinta. Dari situlah Olaf berpikir bahwa cinta akan mengubah segalanya. Dia tak ingin hal seperti Lena akan menurun kepadanya. Dimulai dari jatuh cinta, patah hati, curhat dan juga yang paling bahaya adalah selingkuh.


Olaf segera membersihkan semuanya. Satu jam kemudian kamar Olaf bersih serta rapi dibuatnya. Jam telah menunjukkan pukul enam sore. Saatnya bersiap-siap melihat sunset di atas rooftop.


Olaf melangkah girang menuju atas, sudah dua hari dia tidak melakukan rutinitas ini. Rasa kangen merasuki jiwanya pada sunset kali ini. Saking rindunya, dia tak berhenti-henti memotret sudut sunset sore ini.


Notifikasi chat masuk dari ponsel Olaf berdering. Olaf segera mengeceknya, saat membuka pesan Olaf sempat kecewa karena bukan dia yang mengabari pesan melainkan Ikhsan menanyai kabarnya saat ini. Olaf sungguh bertanya-tanya dalam hatinya. Ke mana Kenji pergi?


Apakah dia hanya mempermainkan perasaan Olaf saja?


***


Pekanbaru, 30 April 2020


by, Indahoalkaf