Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Tewas



Setelah jam pulang sekolah berbunyi, nyaris mereka bertiga nekad untuk menerobos markas angker nan sunyi ini. Markas ini biasanya dipakai segerombolan preman sekolah yang nakal untuk tempat nongkrong cabut sekolah saat pagi hari. Namun berbeda suasana di sore hari. Tak ada yang berani mendekat apalagi singgah dan masuk ke dalam markas tersebut.


"Ngeri ih, gue takut masuk ke dalam," ucap Sisi merinding memegang bulu kuduknya.


Ikhsan yang mendengar itu tampak acuh dan berkata. "Kan udah gue bilang kalian tetap stay nunggu di luar, biar gue sendiri yang masuk ke dalam."


Sisi memelototi mata Ikhsan tak percaya. "Serius lho sendiri aja?"


Ikhsan menggangguk yakin mengarah Sisi.


"Rah lo ngapain sih masih sibuk HP aja!" sindir Sisi menyenggol bahu Sarah kuat.


"Gila! Ini beneran pusat titik Riri udah semakin dekat!" teriak Sarah melihat jelas titik merah di layar ponselnya.


Suasana semakin mencekam saat angin berhembus kencang menuju pelataran markas sore ini. Ikhsan masuk dengan tangan kosong tanpa membawa alat-alat keamanan untuk berjaga-jaga.


"San, nih bawa ponsel gue ya, biar akurat temuin Riri nya di dalam," saran Sarah.


"Okedeh, kalau dalam setengah jam gue gak keluar juga. Panggil nomor polisi secepatnya, jangan berani-berani masuk ke dalam!" ingat Ikhsan memperingati dua gadis ini.


Sisi yang melihat sosok Ikhsan yang pemberani semakin kagum akan pesonanya. Ah tidak, kali ini bukan saatnya untuk memikirkan itu semua. Perasaan Sisi hanya semakin khawatir jika terjadi apa-apa pada sosok yang sangat disukainya.


Ikhsan pamit melangkahkan kakinya, namun Sisi meraih tangannya cepat.


"Kamu hati-hati ya, San," ucap Sisi lekat dan sungguh tulus.


"Iya Sisi, kalian tenang aja. Everything it's okay!" jawabnya.


Langkah demi langkah dilalui Ikhsan sampai akhirnya di bukanya lah celah pintu yang tak terkunci itu. Plong! Suasana dalam markas sungguh sangat hampa dan berdebu. Sungguh, markas yang sangat jorok menurut Ikhsan. Ikhsan menutup mulutnya dengan sapu tangan, diambilnya lah galah panjang disudut kanan ruang tersebut.


Dengan gerak yang sangat berhati-hati. Ikhsan menekan sakelar untuk mendapatkan cahaya lebih agar bisa masuk lebih dalam di markas ini. Lampu kuning pijar menyala, Ikhsan terkejut melihat apa yang telah ditapakinya.


Jantung Ikhsan berdetak kencang, keringat dipelipisnya mengalir deras. Bulu kuduknya meremang berdiri. Ikhsan tak percaya apa yang telah dipijaknya. Segumuluran darah yang masih segar mengalir deras di kayu bawah tanah ini. Detik itu juga Ikhsan menepi menemukan ruangan lain.


Dengan wajah yang pucat, Ikhsan berusaha kembali untuk menemukan Riri. Dilihatnya titik keberadaan Riri di ponsel Sarah. Arahnya lurus bukan belok yang telah di laluinya sedari tadi.


"RIRI! JAWAB GUE! LO ADA DI MANA!" teriak Ikhsan kuat bergetar dan menggema.


Tak ada sahutan sama sekali dari Riri. Beberapa menit kemudian ada sebuah gesekan keras yang menggema ruangan. Reflek, Indra pendengaran Ikhsan mengikuti sumber suara tersebut. Semakin dekat semakin kuat bunyi gesekan tersebut. Ikhsan meraih knop pintu yang dia rasa ada seseorang di dalamnya.


Pintu terbuka. Tak ada yang mencurigakan dari dalam sini. Semua tampak kosong dan tak terawat, Ikhsan kembali menutup pintu itu dengan pasrah. Otaknya kembali memutar, sudah semua sudut markas yang disusulinya namun tak ada tanda orang uang berada di dalamnya. Ikhsan menghidupkan ponsel Sarah, kali ini dia akan menelpon Riri.


Nada tersambung. Langkah Kenji terhenti saat mendengar suara deringan ponsel dari arah jangkauannya.


"Apa jangan-jangan Riri beneran ada di dalam sini?"


***


"Duh gimana nih! Udah setengah jam, Ikhsan belum keluar juga," cemas Sisi menggigit jarinya.


"Iya nih, gue juga jadi takut, dia kenapa-napa," balas Sarah gelisah.


Suara menggelar keluar dari markas itu. Teriakannya kencang hingga terdengar sampai ke luar. Sontak membuat mereka menjadi curiga bahwa Ikhsan benar-benar terjerat masalah di dalam sana.


"Jangan! Lo gak ingat apa kata Ikhsan, jangan masuk ke dalam!" larang Sarah menarik tangan Sisi cepat.


"Terus kita harus di sini gitu nunggu polisi datang? Ya enggak dong. Bisa-bisa kita salah langkah Rah!" tandas Sisi yang tak peduli dengan perkataan Sarah.


"SIIIIIII, PLEASE!" teriak Sarah saat Sisi sudah bergerak maju menuju markas.


Sarah merampas tas Sisi yang berada di sampingnya mengambil ponsel Sisi dan segera menelpon polisi. Tangannya lincah lalu ucapannya terbata-bata pada polisi.


"Baiklah, Jalan Kenanga samping sekolah ya nak, Sarah! Tunggu kami di sini. Kamu jangan berani-berani masuk ke dalam," ujar Polisi itu mengingatkan Sarah.


"Baik Pak, segera ke sini yaaaaaaa," balas Sarah panik setengah mati.


Lalu apa yang harus dilakukannya? Yaps, pasti Sarah akan mengejar Sisi.


***


Langkah Ikhsan terhenti pada gorden panjang yang menyayat hatinya saat sudah tahu badan Riri tergeletak di lantai dengan ganas. Perutnya tercantol pisau tajam dengan gelumuran darah segar yang mengalir deras di seluruh badan Riri. Ikhsan tak kuasa menahan tangisan. Hatinya hancur melihat teman sekolahnya, tewas dengan ganas di markas ini.


"RIRI, BANGUNN!" teriak Ikhsan menghampiri mayat Riri.


Tangan Ikhsan sudah bersimbah darah Riri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Air matanya pecah tak berhenti-henti melihat darah itu mengalir terus mengenai tangan Ikhsan seperti air mengalir. Ikhsan bersumpah mulai saat ini harus memperhatikan seluruh teman-temannya agar kejadian ini tak terulang untuk kedua kalinya.


Tujuh menit kemudian, Sisi dan Sarah datang bersama para polisi menghampiri ruangan ini. Sisi dan Sarah terkejut dengan apa yang mereka lihat. Sahabatnya tergeletak bersimbah darah.


Keduanya hanya bisa menangis sejadi-jadinya dengan kepergian Riri yang tak disangka akan seperti ini. Sarah mendekati mayat Riri.


"Jangan pergiiiiiii, Ri, gue gak punya temen terbaik lagii," Isak Sarah memeluk kepala Riri yang tak bersimbah darah. Hanya kepalanya yang utuh yang tak di siksa.


Sisi yang melihat Sarah merasa iba. Bagaimana jika Olaf yang mengalami ini, dia pasti sudah akan mati sesaat mengingat teman terbaiknya. Ngomong-ngomong soal Olaf, Sisi jadi teringat akan janjinya bersama teman yang lain untuk datang ke acara lamaran Lena, Kakak Olaf.


Sisi merasa bersalah karena idenya yang menyuruh untuk membelikan sebuah kado untuk Lena, berakhir tragis di markas ini. Sahabatnya berujung maut akibatnya. Sisi mulai menyalahi dirinya sendiri.


"Maaf Ri, gara- gara gue. Lo jadi begini," isaknya sedih mengahadap Riri.


Keduanya berada diantara Riri. Sarah oyong tak kuasa melihat perut Riri tercantol pisau. Pandangannya buyar laku dia terjatuh ke lantai tak percaya jika Riri sudah benar benar tiada.


Sisi semakin panik dengan keadaan Sarah yang pingsan. Ikhsan segera menggendong Sarah keluar.


Tatapan Sisi bingung saat melihat ada name tag kecil yang terjatuh dari saku baju Riri.


Sisi mengeja namanya.


"Tarno Abdullah."


"Satpam itu? Jadi dia yang mencelakai Riri?" gumamnya sambil menyeka air mata.


***


Pekanbaru, 18 Mei 2020


by, Indahoalkaf