
Rembulan malam bersinar terang menerangi angkasa malam ini. Kini Olaf telah tiba lebih awal di Caffe Sky Gold. Sebelum mengikuti arahan Bu Fika, Olaf sempat disuruh untuk mengantarkan makanan ke meja nomor 13. Setelah Olaf mengantarkan makanan itu, dia bertemu sosok yang telah ia jumpai sebelumnya.
Pria itu berbaju putih dengan apron hitam tiba-tiba nongol di depan Olaf. Lalu dia tersenyum membawa sepiring makanan untuk Bu Fika.
"Mbak, Bu Fika nya ada? Ini pesanan dari restoran samping," ucapnya.
Bu Fika sempat menoleh ke luar mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. "Eh Kenji, udah datang ya makanan saya?"
Kenji mengangguk dan berjalan menuju ruangan Bu Fika.
"Silahkan Bu," ucapnya.
"Tumben kamu yang ngantar makanan saya? Waiter kalian di mana?" tanya Bu Fika.
Kenji tersenyum tipis. "Ada kok buk, tapi saya aja yang mau ke sini. Sekalian mau lihat katanya di sini ada anak baru ya," kata Kenji melirik Olaf.
Olaf yang memperhatikan mereka sejak tadi lalu melirik ke samping menyembunyikan mukanya dengan malu.
"Yaudah, kalo gitu saya balik kerja lagi ya Bu, kalo mau pesan bilang aja lagi ntar saya bisa antar ke sini lagi," kata Kenji sambil berlalu mengedipkan mata kepada Olaf.
"Hahaha, siap, modus dasar!" Cekikan Bu Fika melihat tingkah konyol Kenji.
Bu Fika kembali bekerja sambil menyantap makanannya. Sementara Olaf pun pergi ke bar saat Sisi memanggilnya.
"Laf? Lo sibuk gak? Lanjutin kerjaan gue dong, ni nih tinggal tuang air sama kasih topping creamnya. Gue udah kebelet banget nih!" ucap Sisi lalu melepas apronnya dengan cepat.
Olaf segera melanjutkan tugas Sisi, dituangkan air bercampur cream dan topping sesuai pesanan
Olaf mengambil tray dan meletakkan condiment straw, tissue di atasnya. lalu Ikhsan datang menghampiri Olaf.
"Laf, pesenan bapak itu udah belom?" tanya Ikhsan.
"Ini udah nih, lo antar ya," ujar Olaf.
"Okedeh," balas Ikhsan membawa tray menuju ke depan.
Beberapa menit kemudian customer datang dengan ramah Olaf menyambut dengan senang hati.
"Silahkan, Ibu, mau Dine in or take away?" tanya Olaf.
Ibu itu menjawab ramah. "Dine In saja dek."
Saat Ibu itu membawa anaknya ke Caffe ini Olaf baru teringat bahwa itu adalah tetangga rumahnya. Pantas saja wajah Ibu ini begitu familiar diingatan Olaf.
"Adek Lucky?" panggil Olaf melambaikan tangan saat anak kecil itu berlari-lari mengejar Ibunya yang sudah berada di depan kasir sejak tadi.
"Lho kamu anaknya Bunda Gita ya? Olaf?" tebak Ibu samar-samar.
Olaf mengangguk cepat merasa bahwa dirinya itu adalah putri bungsu Bunda yang akan selalu dikenali tetangga di banding kedua kakaknya.
"Hebat kamu, umur segini sudah pandai mencari uang sendiri," tutur Ibu itu.
"Biasa saja kok, Bu, selagi ada niat kenapa tidak?" balas Olaf yakin.
"Yaudah, kamu semangat aja ya, Laf. Ibu gak jadi Dine in deh, soalnya Lucky udah mulai rewel nih. Take away ajadeh. Pesen Macaroni melt and cheese-nya tiga ya Laf. Berapa?" katanya sambil menggendong Lucky yang sedang rewel.
Olaf menginput pesanan. "Totalnya seratus tujuh belas ribu, Ibu."
Sembari menunggu Ibu itu membayar, Olaf berusaha menenangkan Lucky dengan mencubit pipi bakpao nya.
"Ih adekk, jangan rewel. Ntar lagi pulang kok," ganggu Olaf lalu menggelitik perut Lucky pelan.
Lucky merasa kegelian lalu tertawa terbahak-bahak akibat Olaf menggelitiki perutnya terus menerus. Akhirnya Lucky tertawa juga.
Mama Lucky memberikan uang seratus dua puluh ribu rupiah kemudian Olaf memasukkannya pada cash drawer dan mengembalikan uangnya tiga ribu rupiah lagi.
"Ini ibu kembaliannya," ujar Olaf memberikan tiga ribuan kepada Mama Lucky.
Mama Lucky menolak. "Buat kamu saja nak."
Olaf tersenyum tipis. "Oh baiklah, Bu, terimakasih. Pesanannya ditunggu tujuh menit lagi ya. Nanti saya panggil," ujar Olaf.
"Iya sama-sama nak Olaf," balasnya.
"Bye Lucky, kiss bye nya mana?" ucap Olaf sambil melambaikan tangan.
Merasa tidak sadar sudah banyak saja pengunjung yang telah mengantri sejak tadi. Saking enaknya mengobrol, Olaf jadi lupa waktu. Dengan tak berbasa-basi Olaf segera menginput dan mencatat pesanan seluruh customer.
Olaf kembali me-repeat order seluruh pesanan kepada team kitchen. Team kitchen mengangguk dengan perkataan Olaf. Namun Olaf tak bisa bertindak sendiri. Dilihatnya Sisi juga sibuk membuat dessert untuk customer-nya. Hanya Ikhsan yang dilihatnya lagi low. Dengan terpaksa Ikhsan yang akan dipanggilnya.
"San, buruan sini deh, gue banyak pesenan nih, bantuin!" Seru Olaf.
Dengan sigap Ikhsan datang menemui Olaf. Beberapa pesanan sudah ready, Olaf mengomandoi Ikhsan untuk membungkus dan meletakkan seduh pesanan di atas tray.
"Ini pesanan pertama take away terus sampe sini Dine in semua, nih orang banyak maunya, lo gak boleh sampe salah kasih!" panik Olaf sambil melihatkan catatan kecilnya.
Ikhsan mendekat menuju Olaf. Dipegangnya punggung tangan Olaf seraya berkata. "Beb, tenang aja ya, ada aku kok di sini."
Mata Olaf membulat saat Ikhsan menyentuh tangannya. Inilah yang tidak disukainya dari Ikhsan. Ikhsan selalu terbawa akan perasaan jika sudah bersama Olaf.
"Eh kaleng rombeng, ini gue serius, gak bercanda!" teriak Olaf sambil melepaskan pegangan tangan Ikhsan.
Olaf melirik sekitar untung saja banyak yang tak sadar dengan apa yang telah diteriakinya.
"Udah buruan lo iket semua ini!" suruh Olaf.
Ikhsan menebarkan senyum terbaiknya. "Iya nyonya sayang."
Olaf melirik Ikhsan kesal. "Ih, amit-amit dah."
Setengah jam Olaf dan Ikhsan telah menyelesaikan seluruh orderan yang ada. Jam sudah berpindah cepat pada pukul sembilan. Satu persatu pengunjung meninggalkan persinggahannya. Hanya go-food yang masih banyak mondar-mandir menuju bar. Melihat itu, Olaf menghampiri Sisi.
"Gimana Si? Ada yang mau gue bantu?" tanya Olaf.
Sisi menggeleng. "Gak ada tuh, udah kelar semua. Mending lo minum tuh. Gue udah bikinin sejak tadi tapi belum sempat minum," balas Sisi sambil memberikan green tea cream kepada Olaf.
"Ululu, kasiannya Sisi, nih deh minum dulu, lo," ujar Olaf memberikan seduhan pertama pada Sisi.
Sisi tertawa dengan sikap Olaf.
"Eh, Laf, kalau dilihat-lihat, Ikhsan ternyata manis juga ya," senyum Sisi memandang Ikhsan dengan berbeda.
Olaf melirik Sisi bingung. "Manis dari mana? Cie lo naksir Ikhsan ya?"
Sisi tersenyum lebar. "Manis tau, apalagi kalau pake baju kerja. Keluar banget auranya," puji Sisi terus.
"Ah elah, jatuh cinta bilang aja kali," balas Olaf enteng.
"Eh tapi Laf, lo gak suka sama dia juga kan?" tanya Sisi serius.
Olaf menggeleng kepalanya cepat. "Ogah, amit-amit dah."
Sisi bergumam. Yes. Lalu melompat-lompat kegirangan. "Gue gebet dia mulai dari sekarang!"
"Banyakan gaya lo! Bilang aja langsung sono. Noh, gue bilangin ke dia, biar gue gak diganggu terus sama dia," tukas Olaf.
"Iih, apaan sih, gue mau naklukin hati nya pake cara gue sendiri," titah Sisi.
"Napa jadi bahas dia? Ogah banget gue," celacah Olaf.
Malam sudah mulai larut, Caffe telah tutup sejak beberapa menit yang lalu. Namun ada seorang pegawai restoran seafood samping melambai-lambai kan tangannya pada Olaf.
"Bye, Mbak Olaf, saya pulang dulu, kamu hati-hati di jalan ya," teriaknya.
Sontak semua orang melihat Olaf.
"Lo ada hubungan apa sama dia?" tanya Jessica.
Jessica ialah partner team kitchen perempuan satu-satunya di Caffe ini.
"Gak tau, orang gue gak kenal dia," balas Olaf acuh lalu melanjutkan pekerjaannya.
Setelah menghitung sales per hari ini. Olaf bersama teman-temannya yang lain dipersilahkan untuk pulang. Sungguh hari yang begitu cepat berlalu.
***
Pekanbaru, 16 April 2020
by, Indahoalkaf