Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Segala Kepedihan



"Mari ikut saya ke mobil!" ucap brigadir jenderal polisi pada Pak Tarno sambil memborgol tangannya dengan besi.


Pak Tarno terpaksa mengikuti instruksi polisi untuk masuk ke dalam mobil. Beberapa orang melihatnya keji dalam tatapan setan yang tak pernah siapapun sebelumnya. Tak sengaja Sarah melihat tatapan itu secara jelas dan tajam. Tatapan setan itu mempengaruhi penglihatannya untuk lebih intens memandanginya secara sepihak. Matanya terus menatap dengan keadaan kosong. Melihat Sarah yang terus terpancing pada permainan gelap Pak Tarno. Pak Tarno terus mengiming-iming anak itu dengan shall milik seorang yang telah tiada.


"Itukan shall punya Riri!" kaget Sarah pangling.


Byur!


Adit menyemprot air pada wajah Sarah yang serius membuat Sarah terkejut dibuatnya.


"Apaan sih, Dit," kesal Sarah mengelap wajahnya dengan tissue.


"Abisnya lo serius amat, lagi liatin apa sih?" tanya Adit penasaran seolah mengikuti penglihatan Sarah.


"Gue harus pergi sekarang juga!" ujar Sarah melihat mobil polisi itu telah pergi keluar gerbang.


"Eit... Mau ke mana? Hey?" teriak Adit yang merasa heran dengan tingkah Sarah yang berbeda kali ini.


Setelah kejadian itu terjadi, beberapa siswa banyak yang mencoba untuk menghibur diri di tengah keadaan genting seperti sekarang ini.


Semakin lama keadaan semakin ramai, banyak orang maupun masyarakat yang ingin masuk ke daerah terlarang polisi ini, sekeras apapun pihak sekolah menutup jalur khusus ini tak mempan untuk masyarakat menyerbu lokasi kejadian.


Hal ini membuat keadaan semakin sulit untuk dilupakan. Media-media tetap terus memberitakan apa yang telah terjadi beberapa jam yang lalu.


"Kapan lagi ada peristiwa aneh seperti ini," ujar sang wartawan.


"Iya untung aja ada berita ini kalau enggak gue mungkin kehabisan materi pemberitaan," balas temannya.


Gila bukan main, dunia perfilman sangat kejam untuk mengais-ngais sebuah informasi yang akurat. Bukan jadi permasalahan bagi guru sekolah, namun tindakan seperti ini semakin membuat para siswa sekolah menjadi takut dan terus dihantui berita yang tak kunjung reda.


Sarah mengambil kunci motornya, entah dengan kemauan keras apa Sarah ingin mengejar mobil polisi itu sampai-sampai ia lupa diri bahwa Olaf temannya sedang sekarat di rumah sakit tertembak oleh pembunuh keji itu.


"Gue harus kasih dia pelajaran lebih dari ini!" gumam Sarah bertekad dalam hati.


Perjalanan berjalan mulus hingga akhirnya terjebak pada suatu masa yang tak pernah akan Sarah lupakan sampai detik ini. Luka itu terbuka kembali dengan gelora suasana yang berbeda. Sarah sebenarnya tak ingin membuka luka lama yang telah dilupakannya. Namun beginilah manusia, mereka akan teringat kembali pada suatu masa kesedihan itu melanda.


Sekuat apapun engkau menyembunyikan luka, jika dia datang kembali pasti masih membekas bukan? Karena sejatinya, luka itu bukan sembarangan orang yang akan merasakan bagaimana kejadian utuhnya. Diam dan berdamai dengan kenyataan adalah cara untuk benar-benar menyembuhkan luka tersebut.


Pikiran Sarah melayang menuju masa kelam tepat pada tiga tahun yang lalu di jalan ini.


Flashback on


"Buk, Sarah gak mungkin bisa hidup tanpa Ibuk," Isak Sarah di depan nisan yang berbalut nama lengkapnya.


Yuri Nisa


Binti Abdul Aziz


Lahir : Bandung, 17 November 1989


Wafat : Jakarta, 5 Mei 2017


Mawar putih sudah menjadi kisah akhir Sarah bersama ibunda untuk terakhir kalinya di atas tanah liat coklat yang menjadi tempat peristirahatan terakhir abadi ibunda.


"Yaudah yuk kita pulang beb," ujar Riri sahabat Sarah yang paling pengertian dengan keadaan Sarah sejak kecil.


"Gamau gue masih mau sama Ibu," jawab Sarah menolak ajakan Riri.


"Tapi bentar lagi hujan beb, ini udah gerimis lo," ingat Riri melihat ke atas langit hitam.


"Lo duluan aja gue perlu sendiri," jawab Sarah tak peduli.


"Oh yaudah kalau itu mau lo, nih bawa payung gue. Nanti kalau lo kehujanan dipake ya, beb," ujar Riri meninggalkan Sarah.


Sarah mengambil payung itu lalu menarik tangan Riri.


"Ri maafin Ibu gue ya karena Ibu gue lo jadi kehilangan Ayah juga," pinta Sarah.


Riri menghela napas panjang. "Gue juga gak ngerti, kenapa bisa jadi seperti ini. Ibu Lo sama Ayah gue? sejak kapan mereka berdua bisa menghianati anaknya?"


Air mata Sarah kembali berlinang tak menentu. Masalah apa lagi yang akan datang setelah ini? Rasanya dia tak sanggup untuk menjalani hari ditambah lagi Ayahnya sudah tak peduli dengan anak semata wayangnya ini. Kini yang tersisa hanya Riri yang selalu mensupport dirinya. Sampai saat ini Riri selalu bersikap baik padanya. Jauh dari mereka kenal, Riri tak bersikap jahat kepada Sarah. Karena bagi Riri, itu adalah masalah orangtuanya yang tak mungkin harus dikaitkan dengan persahabatannya dengan Sarah. Bagi Riri, semua sudah terjadi. Dan mulai saat ini Riri dan Sarah berjanji untuk tidak mengingat kejadian lampau itu lagi.


"Lo janji bakal selalu ada buat gue kan Ri?" tanya Sarah berkaca-kaca.


"Iya beb, gue janji sama lo. Kita sahabatan sampe tua nanti ya dan gue pasti selalu dukung lo," balas Riri.


"Kalau seandainya lo yang ninggalin gue duluan gimana Ri?" tanya Sarah tak sanggup seorang diri.


"Apaan sih lo! Udah ih lap air matanya, nih gue ada tissue," jawab Riri sambil mengajak Sarah untuk pulang.


Flashback off


Kata-kata itu selalu terngiang bagai kaset rusak yang terputar di pendengaran Sarah saat ini. Langkahnya tertatih kembali melanjutkan perjalanan dengan penuh luka yang menyesakkan jiwa.


Sejak saat itu semua luka, duka dan senang selalu dilalui bersama. Tapi saat ini Sarah akan menopang dirinya sendiri tanpa Riri. Itulah alasan Sarah mengapa dia sangat kehilangan Riri dihidupnya.


Dia depresi sekali.


Banyak hal hal yang sudah dilalui Sarah bersamanya.


Beberapa menit kemudian, Sarah sampai di kantor polisi tempat di mana Pak Tarno akan dipenjarakan. Namun sebelum itu Sarah akan memberinya pelajaran yang setimpal. Sarah masuk dengan emosi penuh menemui beliau.


"Jangan panggil gue 'Nak'. Lo bukan Ayah gue lagi!" balas Sarah dendam.


"Maafin Ayah Nak," pinta Pak Tarno mengeluarkan air matanya.


"UDAH PUAS LO HANCURIN HIDUP GUE? DENGAN MENINGGALNYA IBU TIGA TAHUN YANG LALU, NGEBUAT LO LUPA SAMA GUE. RIRI GAK SALAH YAH, YANG SALAH ITU IBU. RIRI SELALU SUPPORT SARAH SELAMA INI. TAPI KENAPA RIRI YANG AYAH BUNUH? DAN SEKARANG OLAF JUGA AYAH TEMBAK? MEREKA SALAH APA YAH?" ujar Sarah menjerit sejadi-jadinya sambil menangis meratapi nasib.


Pak Tarno memeluk anak semata wayangnya sambil memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Sarah.


"Buat apa Yah? Sarah besar dengan tangan Ibu Riri. Bukan Ayah atau Ibu kandung Sarah sendiri. Sarah sedih Yah," jelas Sarah serak sambil menahan tangisnya.


"Ayah tau, selama ini ayah salah. Namun bukan berarti kamu sudah tak menganggap Ayah tiada bukan?" ujar Pak Tarno.


Sarah melepas pelukan dengan kencang.


"Sampai kapan pun Lo bukan Ayah gue, Lo pembunuh, Lo udah bunuh kebahagian gue, Lo bukan Ayah gue," rintih Sarah perlahan menjauhi Ayahnya.


Kasus ini semakin riweh akibat ada pengakuan baru yang diketahui semua orang yang ada di ruangan kantor polisi ini. Ternyata anak ini adalah Ayah Sarah. Sungguh berita yang sangat besar untuk sebuah kejadian dihari ini.


***


Rumah sakit Petala Bumi, rumah sakit terdekat untuk menyelamatkan nyawa Olaf yang sekarat menghadapi hidup dan matinya. Terakhir Sisi mengecek denyut nadinya sudah mulai melemah. Perasaan cemas, panik dan sedih yang dirasakan semua orang yang sedang menunggu Olaf di luar ruangan.


Sisi tak henti-hentinya merenungi nasib Olaf yang berada di dalam ruangan hitam itu bersama dokter dan dua orang suster lainnya.


"Pasti sakit ya, Laf," raung Sisi ingin memeluk Olaf namun apalah daya nya hanya bisa melihat Olaf dari jauh.


Telapak tangan seseorang yang telah lama diincar Sisi kini melekat erat menggenggam tangannya. Yap itu Ikhsan. Sisi melirik Ikhsan penuh tatap.


"Lo jangan sedih gini ya, kasian Olaf kalau lo nangis terus Si," ucap Ikhsan mencoba menenangkan Sisi sambil memeluk Sisi penuh hangat.


Jantung Sisi berdetak kencang pasalnya baru kali ini Ikhsan begitu sangat peduli dengan keadaannya.


"Jangan peluk gue San," ucap Sisi sambil menyeka air matanya.


"Maksud lo apa?" tanya Ikhsan heran.


"Pikir aja sendiri," balas Sisi tak ingin mengaku soal perasaannya.


"Coba jujur apa sih yang mengganjal dari pelukan gue?" tanya Ikhsan heran.


Sisi kembali mengeluarkan air matanya deras lalu memukul dada Ikhsan pelan, semakin lama semakin kuat membuat jeritan Sisi lebih kencang.


"Hey, Si, Lo kenapa gini sih?" Ikhsan bertanya sambil memegangi pundak Sisi. Tatapan mereka lekat dalam. Ikhsan menghapus air mata Sisi dengan pelan.


"Sisi," panggil Ikhsan dengan nada serius.


"Lo jahat San," keluh Sisi pelan.


"Jahat kenapa hey?" balas Ikhsan.


"Jangan baperin gue kalau lo sayangnya sama Olaf. Seberapa kuat gue untuk menjauh dari Lo tapi perasaan gue gak bisa San. Gue sayang banget sama lo. Apa Lo tau itu semua ha?" Titih Sisi mengeluarkan perasaan yang selama ini dipendamnya.


Ikhsan terkejut dengan pengakuan Sisi barusan. Hati nuraninya seakan selalu terfokus dan mati pada Olaf tanpa tau dan memperhatikan ada orang yang sangat menyayanginya. Ikhsan merasakan suasana semakin haru di bawah alam sadarnya.


"Maafin gue ya si, gue baru tahu perasaan Lo selama ini," ujar Ikhsan menyesal telah membuat Sisi terjatuh pada cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Beberapa menit kemudian, dokter bersama dua orang suster lainnya keluar ruangan dengan raut wajah menunduk.


Lena yang melihat itu segera berdiri.


"Jadi gimana keadaan adik saya dok?" tanya Lena khawatir.


"Maaf, adik kamu Olaf sudah tiada sebelum dibawa ke rumah sakit, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pertolongan pertama tapi dia tak berhasil diselamatkan," ucap sang dokter.


"Gak mungkin, gak mungkinlah," ujar Lena shock mengetahui ini semua.


Heru, Sisi dan Ikhsan pun terlonjak mendekati Lena. Berusaha menerima apa yang terjadi.


"Jadi Olaf meninggal dok?" tanya Sisi tak percaya apa yang terjadi.


"Iya, sebentar lagi kami akan mengurus jenazahnya," balas dokter sambil melirik Olaf ke dalam ruangan.


Suara histeris perlahan terdengar oleh mereka membuat Lena, Heru, Sisi dan Ikhsan melihat ke arah depan.


"Olaff gak kenapa-napa kan nak?" teriak Bunda dari ujung sana langsung menghampiri Lena dan memeluk dirinya.


Lena terpacu lemas melihat Bunda yang baru datang dan belum mengetahui bahwa anaknya telah tiada.


"Bun, Olaf sudah tak bersama kita lagi," jawab Heru mewakili pertanyaan Lena yang sudah tak bisa mengucap satu kata pun.


"Innalilahi wainnailaihi Raji'un."


***


Pekanbaru, 16 Juni 2020


by, Indahoalkaf