
"TO... LONG."
Satu kata yang tersekat ditenggorakan Olaf saat Gio mencekik leher Olaf dengan kuat. Napas Olaf tersenggal-senggal akibat tangan kuat Gio menekan saluran tenggorokannya. Olaf berusaha mengelak tangan Gio dengan keras namun apalah daya Olaf yang mempunyai tenaga yang lemah dibanding lelaki. Dengan inisiatif sendiri, Olaf menendang sekuat-kuatnya pintu kayu rumah hingga berdentum keras.
'Buughh'
Tangan Gio reflek terlepas dari leher Olaf saking terkejutnya. Dengan sigap Olaf kembali memukul ulu hati Gio lalu memukul wajahnya memar.
Hap... Hap
Pukulan Olaf sukses membuat Gio sedikit oyong. Olaf menendang kaki Gio dengan teknik bela diri yang pernah dia pelajari sejak SMP. Namun dengan tangkas Gio menangkap kaki Olaf cepat. Olaf tak tinggal diam dia menampar pipi Gio dengan sekuat tenaga.
Plak
Badan Olaf tersungkur akibat Gio telah menangkap kakinya. Kini Olaf benar-benar merasa khawatir. Dirinya sudah lemah tak sanggup untuk berdiri. Sedangkan Gio tertawa melihat lawannya sudah tergeletak di atas lantai.
"Heh! Beraninya lo sama cewe!" murka Rama yang tiba-tiba datang menghampiri Olaf.
Untung saja Rama datang disaat yang tepat. Saat ini memang bantuan dari Rama sangat diperlukan Olaf.
Melihat adiknya sampai tergeletak di lantai dengan keringat yang mengucur ditubuhnya dan rambut yang sudah acak-acakan membuat emosi Rama naik ke tingkat paling atas setinggi gunung Everest dunia.
"Bang tolongin gue," lirih Olaf memegang lemas kaki Rama.
Rama menggendong adiknya ke sofa rumah. Lalu Rama menggumpalkan tangannya merasa geram kepada Gio yang telah mencelakai adik kesayangannya.
Dengan angkuh Rama memulai aksinya dengan menarik baju Gio kasar lalu dipukulnya perut buncit Gio dengan kekuatan ekstra berlipat ganda. Gio terhuyung ke belakang lemas. Olaf yang melihat aksi Rama langsung bertepuk tangan. Rama mengeluarkan ototnya lalu tak berhenti membogem muka Gio sampai lebam. Mukanya benjol kemerahan seperti memakai blush on wanita.
"Ampun, saya sudah tidak kuat," gumam Gio menyerah pada Rama.
Rama menghentikan pukulannya namun tangannya masih mencengkram erat bahu Gio, agar tidak kabur.
"Maksud lo ke sini apaan? Lo siapa! Berani-beraninya mukulin cewe begini! Gaada otak lo *******!" sergah Rama keji mengumpat pada Gio.
Gio menunjukkan ekspresi takut lalu membalas perkataan Rama. "Gue Gio, pacarnya Lena."
Emosi Rama semakin memuncak saat ada orang asing mengaku-ngaku menjadi pacar Kakaknya.
"WOY *******! KAKAK GUE UDAH MAU NIKAH, JANGAN NGAUR LO!"
Gio membulatkan mata, jadi selama ini dia dibohongi oleh Lena yang beberapa hari silam tiba-tiba menghilang.
"Nikah? Kenapa Lena gak pernah bilang sama gue?" balas Gio
"EH ****. LO SIAPA DATANG-DATANG NGAKU PACAR KAKAK GUE, CIH," umpat Rama kesal.
Gio mengeluarkan ponselnya lalu memberikan foto itu sebagai bukti kepada Rama agar dipercayai. Di gambar itu terlihat foto Lena bersampingan dengan Gio dengan tersenyum bahagia.
Plak
Rama memukul wajahnya sendiri tak percaya apa yang terjadi. Dia syok sekaligus terkejut. Mengapa selama ini dia tak tahu tingkah nakal Kakaknya.
"Terus lo ke sini mau cariin siapa? Lena udah nikah seminggu yang lalu," ucap Rama melahap ucapan Gio.
"Sorry, bang, karena Lena gak ada, gue nyari adiknya tuh, si Olaf," jawab Gio menunjuk Olaf.
Olaf yang mendengar itu seketika tak berani menatap Rama. Masalahnya dengan Lena hanya mereka berdua yang mengetahui. Lena banyak berselingkuh akhir-akhir ini dengan kekasih gelapnya dan yang mengetahui itu semua hanya Olaf. Namun Olaf tak mau berbagi masalah ini kepada keluarganya karena sudah terlanjur berjanji kepada Lena. Lena berjanji ingin berubah setelah kembali ke Indonesia. Dan Olaf mempercayai itu. Namun mengapa masa lalunya yang satu ini mengganggu suasana bahagia Lena.
Rama kemudian menatap Olaf serius meminta penjelasan dengan apa yang terjadi.
"Laf? Apa-apaan ini! Coba jelasin ke gue!" kelakar Rama menaikkan suaranya.
Olaf menunduk takut melihat abangnya sudah marah begitu. Seperti akan melahap orang yang ada di depannya.
"Olaf! Jawab!" bentak Rama.
Olaf mengeluarkan sepatah kata. "Dia selingkuhan Kak Lena, Bang, sorry, gue baru bilang ke lo soal ini."
"Cuma sama yang ini gue kenal karena dikenalin Kak Lena, Bang," jawab Olaf jujur.
"Maksud lo? Cuma sama yang ini? Berarti Lena sering main sama yang lain bukan sama yang ini doang?" tanya Rama meminta penjelasan.
"Hm, i..y..a," jawab Olaf gugup.
"SHIT! SIAL! LENA BIKIN MALU!" umpat Rama.
Dengan langkah pelan Olaf mendekati Rama sambil meringis menenangkan redam emosi Rama.
"Bang, maaf, gue gak berani cerita ini ke lo!" lirih Olaf.
"Kenapa Olaf? Kenapa? Kenapa Lo gak pernah cerita sama gue dan Bunda soal Lena ini. Ini sungguh perbuatan yang ah... ," Rama menendang kursi plastik di depannya membuat Gio dan Olaf terkejut dibuatnya.
Marahnya Rama jangan ditanya dia akan berubah menjadi seperti monster hidup. Maka dari itu, Olaf enggan menceritakan semuanya kepada Rama semua masalah ini. Olaf sudah membayangkan hal ini akan terjadi jika Rama sudah emosi.
"Sekarang lo udah paham kan di mana kesalahan Kakak gue, Lo itu cuma selingkuhan Lena. Ingat Lena udah Nikah. Jangan sekali-kali lo ke sini buat ganggu dia lagi! Kalau lo ke sini lagi. Gue patahin tulang lo! Awas aja lo!" Kelakar Rama kepada Gio.
Gio yang mendengar itu semua segera kabur terbirit-birit meninggalkan rumah bak neraka itu.
Kemudian Olaf juga langsung kabur masuk ke rumah meninggalkan Rama.
"Eit, Olaf, sini dulu lo! Masalah kita belum kelar," singgung Rama memanggil adiknya.
Olaf linglung lalu berbalik menemui Rama. "Iya-iya, gue jelasin."
Setelah menerima penjelasan Olaf, Rama menyuruh Olaf untuk menelpon Lena. Awalnya Olaf menolak, namun Rama bersikeras menyuruh Olaf.
Nada telepon tersambung kepada nomor Lena.
"Hallo."
"Hallo Len! Ini gue Rama."
"Oh kenapa ya? Olaf di mana?"
"Jelasin sama gue, Gio itu siapa lo?"
"Hah? Gio?"
"Halah, jangan sok-sokan gatau lo, ngaku, lo selingkuh kan."
"Hush! Diem ntar Mas Heru dengar. Lo apa-apaan sih Ram. Gue baru sadar dari koma bukannya lo nanya kabar, eh malah nuduh gue yang enggak-enggak."
"Awas ya lo begitu lagi, gue bongkar semua aib lo!"
"Olaf di mana? Gue mau ngomong!"
"Gak ada Olaf di sini dan gue ingetin sama lo jangan pernah lo ancam adek gue, Olaf buat nutup nutupin semua aib lo!"
"Iyaiya lusa gue pulang ke Indonesia, okay!"
Tut...
Nada panggil telepon diputuskan sepihak.
Untung saja kedua orangtuanya sedang keluar jadi tak ada yang tahu akan masalah ini.
***
Pekanbaru, 26 April 2020
by, Indahoalkaf