Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Senjata Makan Tuan



Gelora hati mendongkrak lebih tinggi bagai acuan angin yang berhembus tanpa batas. Langit biru menembus awan di pagi ini. Semangat Olaf melebihi batas normal hari ini. Sampai-sampai dia bangun lebih awal lalu menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya.


Jam dinding menunjukkan pukul setengah enam pagi. Olaf memasak nasi goreng dengan bumbu andalannya. Diirisnya bawang merah dan bawang putih, digilingnya cabe merah lalu disuirnya ayam potong goreng.


Tiba-tiba bunda datang menghampiri Olaf. "Eh, Sayang, tumben kamu cepat bangun?"


"Pagi Bunda, iya dong, Olaf kan mau bikinin sarapan buat semua," jawab Olaf sambil memasukkan minyak goreng ke kuali.


Bunda mengusap kepala Olaf. "Anak pinter, masaknya tiap hari ya, jangan cuma hari ini doang," ujar Bunda sambil tertawa.


"Gak tau kenapa hari ini Olaf semangat banget, Bun, serasa mau cepat pergantian jam," ucap Olaf tersenyum tipis.


"Hayo ada apa? Kamu gak lagi jatuh cinta kan?" goda Bunda


Jleb


Bunda tau aja.


Olaf segera menggeleng lalu mengalihkan pembicaraan.


"Enggak ah, Bunda ada-ada aja. Oh ya Bun, Bang Rama kok gak keliatan ya dari kemarin malam pas Olaf pulang kerja dia gak ada nampak," tanya Olaf.


"Oh, Rama, seharian tidur di kamar. Mungkin kelelahan kuliah sambilan kerja lembur dua hari yang lalu dia," ujar Bunda.


Olaf membulatkan mata. "Serius Bun?"


"Iya sayang, Abang kamu kayaknya butuh refreshing deh. Cariin dia cewe gih. Biar hidupnya gak gitu gitu amat," tutur Bunda.


Olaf tertawa mendengar jawaban Bunda. "Mana ada yang mau sama dia Bun, urakan gitu," ejek Olaf sambil tertawa.


Diam-diam telinga Olaf dijewer dari belakang oleh Rama yang telah berada di belakang nya sejak tadi.


"Ups, ketahuan ya ngejekin gue dari tadi," ujar Rama sambil menjewer adiknya.


"Aw, Bang, sakit tau," jawab Olaf.


"Siapa bilang gue urakan? Gini gini gue banyak fans di kuliah maupun tempat kerja. Lo gak tau sih keadaannya," ucap Rama.


Olaf hanya mengangguk sambil menjulurkan lidahnya. Dia tak peduli dengan omongan Rama. Olaf melanjutkannya untuk membuat nasi gorengnya.


Sepuluh menit kemudian nasi goreng telah tersaji di piring masing-masing. Semua orang merasa takjub dengan rasa nasi goreng Olaf.


Ayah menyuap nasi goreng Olaf pada suapan pertama.


"Laf? Kok ini asin banget ya yang kamu bikin," ucap Ayah.


Olaf merasakan sesendok nasi lalu meludahi nya. "Enggak kok Yah, ini udah pas."


"Anak micin mah emang gitu yah, suka yang asin asin," ejek Rama.


Olaf mendengus kesal bisa-bisanya Rama mengatainya dengan 'Anak Micin'. Tak terima diperlakukan begitu, Olaf membalas ejekan Rama. "Elu kali yang generasi Micin."


"Udah-udah, nanti Bunda bikinin sarapan baru buat Ayah, kalau ini keasinan," ujar Bunda.


Ayah bukan tak menghargai masakan Olaf. Dia hanya punya penyakit hipertensi yang mengharuskannya untuk mengatur pola makannya agar terhindar dari naik tensi yang berlebihan.


"Yah, maaf, Olaf sukanya makan yang asin gini. Ayah gak bisa makan deh jadinya," ujar Olaf merasa bersalah.


Ayah tersenyum tipis pada Olaf. "Tidak apa-apa Nak, Ayah makan roti sama susu saja sudah kenyang. Lagian bentar lagi Ayah meeting jadi gak mau makan yang terlalu berat."


"Oh gitu ya Yah, semangat deh meetingnya nanti," balas Olaf manis kepada Ayah.


"Iya sayang, kamu juga semangat sekolahnya, jangan terlalu kecapekan ya. Fokus dulu masalah sekolah lalu yang kedua baru kerja. Prioritas kan dahulu sekolah kamu," nasehat Ayah.


Olaf hanya mengangguk mengerti dengan nasihat Ayah.


"Gimana kerjaan lo aman kan?" ujar Rama yang ikut nimbrung.


"Alhamdulillah lancar aja Bang, tumben lo nanyain gue," dengus Olaf.


"Salah mulu gue, heran. Kapan-kapan gue nongkrong ke sana ya," balas Rama.


"Iya boleh. Eh ntar anterin gue ya bang," pinta Olaf memelas pada abangnya.


Rama menolak mentah-mentah. "Gak bisa, jadwal gue padat."


"Bawa motor aja gih, males amat jadi anak," ujar Rama.


"Gak mau ada razia, gue males bawa motor," balas Olaf.


"Yaelah pantes, yaudah iya gue anterin deh. Tapi ntar gue gak bisa jemput lo ya," tutur Rama.


"Yaudah iya, ntar baliknya bareng Sisi aja," balas Olaf.


Akhirnya mereka berangkat juga. Olaf dan Rama pamit kepada Ayah dan Bunda. Mereka meluncur menuju jalanan. Pagi ini terlihat sepasang adik dan kakak lagi akur satu sama lain.


***


"Eh tau gak gue gabisa tidur semalam kemarin," ujar Riri tampak pucat pasi.


"Kenapa gak bisa?" tanya Sarah.


"Gilak gue takut abis nonton film horror malam kemarin," balas Riri.


"Yaelah, setan doang lo takut," tandas Sisi.


Dari arah luar Olaf baru memasuki gerbang sekolah. Langkahnya cepat menemui teman-temannya.


"Hey, cepet banget udah pada datang," sapa Olaf.


"Emang lo yang telat mulu?!" tukas Sarah.


"Apaan sih, baru juga sekali gue telat," lirih Olaf.


"Eh-eh diam, tuh, Ikhsan gue udah datang," sorak Sisi menunjuk arah depan.


"Ih dasar, bucin," dengus Riri.


"Udah-udah ayo buruan ke kelas. Ngapain di sini, yang ada entar diliatin orang-orang," sergah Sarah.


Sisi Masi melihat ke depan menunggu Ikhsan yang berlalu ke sini. Sarah dan Riri sudah duluan berjalan menuju kelas sedangkan Olaf melirik ponsel nya lalu tersenyum.


Kenji : Selamat pagi, Laf


Tiga kata dari Kenji sudah membangkitkan semangat Aira kepada sosok yang bisa mengguncangkan hatinya. Olaf segera membalasnya.


Olaf : Selamat pagi juga, Nji


Diam-diam Sisi merebut ponsel Olaf lalu membacanya keras sambil berlari menghindari Olaf.


"Cieeeee, yang lagi berbunga-bunga," ledek Sisi keras membuat semua orang memperhatikannya di lapangan kini.


Olaf mengejar Sisi cepat menghindari pusat perhatian yang ada. Jika ditanya saat ini Olaf merasa malu melihat tingkah Sisi. Olaf juga merasa kesal privasinya diumbar seperti ini.


Olaf menekuk lututnya yang terasa sakit mengejar Sisi. Langkahnya terhenti seketika pahanya terasa kram.


"Aw!" ringis Olaf.


Tiba-tiba dari arah depan ada sosok lelaki yang bersedia mengulurkan tangannya.


"Ayo, bangun, sini gue bantu," ucap Ikhsan dengan lembut.


Olaf mendongak ke atas, cahaya matahari seketika menutupi badannya akibat Ikhsan sudah berada di depannya. Olaf menerima uluran tangan tersebut lalu berdiri.


"Makasih, San," balas Olaf.


Dari kejauhan Sisi melirik Olaf merengut, bisa-bisanya Olaf yang malah berduaan bersama Ikhsan. Dengan kesal Sisi menghampiri mereka berdua.


"Yuk Laf, kita ke kelas! Nih hp lo! Ayang beb lo tadi chat nih," ujar Sisi mencoba memas-manasi Ikhsan.


Sisi merangkul lengan Olaf kembali ke kelas. Akibat perbuatannya Olaf jadi terjatuh dan yang paling merugikan yaitu melihat orang yang dia sayang malah sok jadi pahlawan membantu Olaf.


***


Pekanbaru, 24 April 2020


by, Indahoalkaf