Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Kesalahpahaman



Kenji sampai tepat waktu di sekolah, pakaiannya sudah rapi dan dia telah siap sedia untuk surprise kecil kecilan untuk kekasihnya itu. Kenji membuka kaca helm diperhatikannya setiap detik para siswa yang keluar dari gerbang sekolah. Namun, tanda-tanda Olaf beserta teman-temannya belum juga terlihat dari Indra penglihatan Kenji.


Lelah menunggu akhirnya Kenji membuka ponselnya, ada pesan masuk dari Olaf sejak dua puluh menit yang lalu.


Olaf : Yang? Kamu di mana sih? Aku udah nungguin nih di rumah.


Kenji membacanya perlahan lalu menepuk kepalanya pelan.


"Bodo banget sih gue, masa keberadaan Olaf aja gak tau!" batin Kenji kesal sambil menendang kerikil kecil di dekat motornya.


Seketika detik itu juga, dia teringat perkataan Kenzo sang kembarannya tentang Olaf tadi pagi. Berarti yang ditemui Olaf tadi pagi itu benarlah kembarannya. Pantas saja, Olaf marah-marah gak jelas kepada Kenji saat mengatakan dia sedang bekerja dan tak menemui Olaf dirumahnya.


Ini murni kesalahan Kenji karena tidak memastikan Olaf berada di mana. Kalau tahu begini ngapain juga Kenji harus repot-repot menuju sekolah.


Kenji segera menghubungi nomor Olaf. Nada tersambung dari nomor Olaf. Suara Olaf menggelegar mengejutkan Kenji detik itu juga.


"YANG? KAMU DI MANA SIH? GUE KAN NUNGGUIN DARI TADI!" teriak Olaf dari ujung telepon.


Kenji menahan dada sabar.


"Iya sayang, ini Kenji mau ke rumah kamu sekarang! Bentar lagi juga sampe kok, tungguin aja ya!"


"Yaudah buruan!"


"Siap tuan putri."


Kenji mematikan ponsel lalu kembali putar arah menuju rumah Olaf. Terbesit di benak Kenji, jawaban apa yang harus diutarakannya nanti jika Olaf menanyakan perihal Kenzo. Kenji tidak mungkin membuka luka lama tentangnya dengan Kenzo. Sudah 3 tahun luka itu masih tersimpan di benak Kenji. Jangan sampai tahun ini akan terulang lagi kembali hal yang sama.


Pandangan Kenji tersentak saat ada seorang wanita melambaikan tangan padanya untuk berhenti. Dengan sigap Kenji menekan rem cepat. Keringat dinginnya mengucur deras dipelipisnya.


"Woy! Bawa motor fokus dong, kalau gue ketabrak gimana?" umpatnya hampir tertabrak.


"Maaf Mbak, saya buru-buru nih," jawab Kenji.


Merasa tak terima, gadis itu meminta persetujuan kepada Kenji. "Anterin gue dong! Mumpung lo sendiri tuh!"


Kenji menolak cepat. "Maaf, Mbak, saya ada urusan penting jadi gak bisa bantu! Saya cariin go-jek aja gimana?"


"Hp saya mati Mas, makanya minta tolong mas anterin saya. Gak mau ya? Kalau gitu saya teriak nih biar mas masuk polisi!" ancamnya galak kepada Kenji.


Gadis dengan gaun putih ini sungguh mungil. Tapi suaranya melengking bagai suara knalpot tua yang memusingkan.


Kenji menyerah dan melajukan motornya saat gadis itu langsung naik ke motornya. Dengan terpaksa, Kenji menuruti permintaan orang yang sama sekali tidak dikenalnya.


"Yaudah lo mau ke mana?" tanya Kenji.


"Lurus aja terus belok nanti gue kasih tau lagi," jawabnya cuek.


"Emang gue tukang ojek!" batin Kenji merengut kesal.


***


Sudah pukul setengah enam namun belum ada satupun teman Olaf yang datang untuk berkunjung ke rumahnya. Entah ada angin apa, mereka telat semua. Olaf berpikir sejenak, apa jangan-jangan mereka sengaja merencanakan ini untuk mengejutkan Olaf? Jika itu terjadi Olaf akan berjaga-jaga sebelumnya untuk menggagalkan rencana mereka.


Lena menghempaskan tubuhnya lemas ke sofa yang juga sedang diduduki Olaf sambil mengangkat telepon.


"Hem iya, ini gue Lena. Paket bunga drawis Flow?"


"Jam berapa akan diambil?"


"Oh siap, nanti akan segera saya ambil ke tokonya."


Olaf tak sengaja mendengar percakapan Lena entah dengan siapa itu yang pasti ada kiriman bunga yang harus diambil ke sana.


Lena menatap Olaf sambil tersenyum. "Olaf lo sibuk gak?" tanya Lena lembut sambil merapikan anak rambut Olaf yang berantakan.


"Apaan? Jangan sogok gue lagi deh! Gue ada urusan bentar lagi sama temen gue!" tolak Olaf kesal merasa sudah tahu keinginan Lena.


Lena semakin lembut kepada adik bungsunya itu. "Ayolah Laf, bantuin gue di hari bahagia ini. Ya please?"


Tiba-tiba saja Rama lewat di depan mereka. Dengan kencang, Olaf segera meraih tangan Rama ke depan Lena.


"Nih lo suruh aja, Bang Rama!" ujar Olaf menjulurkan lidah pada Rama.


Demi apa Lena sudah berubah menjadi lebih lembut kepada keduanya? Atau ini hanya pencitraan agar mereka mau membantu Lena.


Rama berdehem "Ya." Lalu mengambil kunci motor dibalik laci sambil menarik tangan Olaf untuk ikut bersamanya.


Olaf tambah merasa kesal. Bagaimana jika nanti teman-temannya datang saat dia tak dirumah?


Olaf menunggu diluar saat Lena dan Rama masih berbicara tentang paket bunga tersebut akan diambil ke mana. Tiga menit kemudian, Rama keluar dan Rama menyalakan mesin motor lalu berlalu menuju jalanan ibukota yang padat.


Rama melihat google maps yang telah dikirim Lena saat sudah berada di jalan Pemuda 1.


"Eh bang jangan main hp ih di jalan," ucap Olaf.


"Gue lagi liat arah tokonya di mana," balas Rama.


"Oh biar gue yang ngecek, lo fokus bawa motor aja," ucap Olaf meraih ponsel Rama.


Olaf mengarahkan pusat Toko bunga dengan cekatan. "Lurus aja di samping kanan apotek tepatnya."


Olaf mengedarkan pandangannya ke kanan. Samar-samar Olaf melihat sosok familiar yang begitu dikenalnya. Begitu pula dengan motor yang dikendarainya. Jantung Olaf seketika terasa sesak melihat sosok itu sedang berboncengan dengan gadis mungil bergaun putih.


Dengan cepat Olaf menunjukkan arah pada Rama. "Buruan Bang, belok ke kanan!"


"Lho tapi katanya tadi lurus," ujar Rama.


"Yaudah sih ikutin aja apa kata gue," tukas Olaf keras.


"Iya-iya, ketus amat lo!" balas Rama.


Rama hanya mengikuti arahan dari Olaf sedangkan Olaf gemetaran melihat sosok itu lekat dan yap benar itu adalah Kenji, kekasihnya.


"Stop!" teriak Olaf pada Rama.


Reflek motor Rama berhenti mendadak. "Eh lo mau ke mana, Laf?"


Olaf mengacuhkan pertanyaan Rama lalu berlari mengejar Kenji yang sedang berhenti di depan gerai es krim. Gadis bergaun putih itu tampak masuk ke dalam gerai. Namun, Kenji masih duduk menunggunya di luar di atas motornya.


"Oh bagus! jadi ini yang lo lakuin ke gue selama ini?" sindir Olaf berteriak di depan Kenji.


Kenji tampak terkejut melihat Olaf yang sudah berada di depannya. Kenji menggeleng-geleng kepalanya berusaha mendekati Olaf.


"Ini bukan kayak yang lo pikirin, sayang," balas Kenji.


"Cukup panggil sayangnya!" tandas Olaf.


Gadis bergaun putih itu lalu keluar mendekati Kenji dengan membawa dua eskrim ditangannya.


Semakin perih yang sedang Olaf lihat saat ini. Bisa-bisanya hatinya terjebak pada seseorang fakboi seperti Kenji. Olaf segera berjalan mundur menjauhi Kenji.


"Awas Olaf!" teriak Kenji melihat ada motor yang mendekatinya.


Motor itu tak lain adalah motor Rama. Dengan sigap Olaf naik ke motor itu.


"Jangan dekati gue lagi!" teriak Olaf kepada Kenji yang masih bingung dengan apa yang terjadi.


Motor Rama kemudian melaju cepat meninggalkan Kenji.


"GUE BISA JELASIN KE LO!" teriak Kenji frustasi sekencang-kencangnya.


Olaf mendengar ucapan itu hanya memendam kecewa di dalam hatinya.


Gadis itu mendekati Kenji lagi. "Mas nih es krim buat Mas! Makasih udah ngantarin saya," ucapnya tanpa rasa bersalah.


Kenji hanya diam memalingkan muka mengabaikannya lalu melajukan motornya mengikuti arah motor Olaf.


Kejadian yang sungguh tak disangka Kenji terjadi begitu cepat. Bagaimana dengan nasib hubungannya ke depan bersama Olaf? Apakah masih baik-baik saja?


***


Pekanbaru, 16 Mei 2020


by, Indahoalkaf