Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Trauma



Sudah kesekian kalinya Olaf menguap tanpa sadar, di perhatikannya jam beker di samping lampu tidur kamarnya, jam itu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Matanya masih terjaga mematung mengingat kejadian kemarin yang semakin membuatnya takut dan sulit untuk terlelap. Semakin Olaf menahan kantuknya maka semakin berat baginya untuk melepas seluruh kepenatan ini, badannya yang masih lemah begitu pula dengan mental dan jiwanya masih belum kuat menerima semua hal yang telah terjadi padanya. Olaf duduk sejenak menetralkan kantuknya yang tak kunjung hilang. Ingin tertidur namun dia tidak bisa melawan rasa takutnya untuk kali ini. Pandangannya tertuju pada sebuah cermin besar yang memperlihatnya wajahnya yang masih pucat. Perasaannya masih teringat pada Riri yang mengajaknya ke suatu tempat aneh nan menakutkan. Olaf menelan salivanya, tiba-tiba ada sebuah rasa yang menjanggal di pikirannya. Sarah? Riri selalu menyebut nama Sarah saat itu. Ingatan Olaf kembali pada pertemuan singkat di alam bawah sadarnya saat itu.


"Dia bukan psikopat! Dia bukan psikopat," ulang Olaf berkali-kali memutari kepalanya pusing.


Luar biasa saat ini Olaf tahu bagaimana cara mereka membuat Riri semakin tersiksa di alam barzah sana. Semakin larut maka semakin takut Olaf untuk bisa terlelap dengan tenang. Jiwanya masih terngiang-ngiang pada Riri yang membuat otaknya berjalan kian gelisah.


"RIRII? AYO KELUAR DARI PIKIRAN GUE!" ujar Olaf gusar sambil melempar semua barang yang ada disampingnya.


Dus! Semua barang hancur lebur berantakan akibat ulah Olaf. Beberapa menit kemudian, Olaf terdiam, jantungnya terpacu lebih cepat dari biasanya. Bayangan kilat hitam tiba-tiba mampir begitu cepat di penglihatannya. Olaf melirik ke arah pintu, namun tak ada tanda-tanda seseorang yang akan datang. Kali ini Olaf benar-benar sedang sendirian di dalam kamarnya.


BUM! Reflek Olaf terlonjak dari kasurnya menuju balkon kamar. Ada suara dentuman keras yang berasal dari luar rumahnya. Olaf memperhatikan keadaan sekelilingnya. Olaf bernapas lega, ternyata hanya dentuman ban mobil tetangga yang meledak. Bukan hal yang aneh-aneh lagi yang di rasakannya.


Langkah pertama berbalik badan, Olaf dikejutkan dengan sosok seseorang yang menyapanya di depan cermin kamarnya. Lampu kamar seketika mati, tidak ada pencahayaan lagi. Deg! Bulu kuduk Olaf perlahan berdiri, kaki Olaf rasanya tak mampu untuk berdiri lagi. Jantungnya dari tadi seakan memompa darah begitu cepat, detakan jantungnya hampir copot. Seketika lampu hidup kembali, Mata Olaf seketika intens melotot bukan main, bayangan yang sedari tadi sedang dipikirkannya datang bak jelangkung yang tak di undang.


"To... long gue, Laf," rintih Riri tampak keletihan menahan napasnya yang terasa tampak sesak.


Riri terbatuk-batuk mengontrol pernapasan sambil memanggil nama Olaf. "Uhuk! Please ban...tuin gue."


Merinding asli! Olaf memegangi kedua tangannya yang mulai dingin.


"Jangan ganggu gue lagi, jangan, jangan, jangan," ulang Olaf sambil menggigiti bibirnya takut.


Perlahan Riri mendekati Olaf dengan keadaan zombie yang mengerikan. Badannya berlumuran darah bajunya sobek-sobek dan keadaan rambutnya sudah tak terurus.


"Stop! kita udah beda alam! Jangan ganggu gue lagi, Ri," ucap Olaf mendorong tangan kanannya ke depan.


"Hati-hati dia adalah psikopat nyata Laf," ucap Riri lagi.


"Siapa?" tanya Olaf penasaran.


"Ayah tiri gue," jawab Riri cepat.


"Apa lo punya Ayah tiri?" tanya Olaf semakin bingung.


"Pak Tarno, ayah tiri gue. Dia Ayah kandungnya Sarah," ungkap Riri spontan.


Olaf menutup mulutnya terkejut dengan apa yang telah terbongkar. Pantas saja mereka berdua jika telat datang ke sekolah selalu bisa dibebasin masuk.


"Lo licik! Lo udah bohongin gue! Kalian bermuka dua!" simpul Olaf mencaci Riri sambil melempar bantal besar ke depan muka Riri.


Tapi tetap saja tak akan mempan melakukan itu pada Riri. Toh wujudnya saja tak bisa diraba lagi. Olaf terjatuh dan menangis sejadi-jadinya, dia sangat kecewa. Mengapa bisa harus dia yang mengalami semua ini? Semua orang bahkan sekarang tak ada yang bisa dipercayanya.


Riri mendekati Olaf penuh kesedihan. "Lo gak boleh nyimpulin kami yang enggak-enggak dong Laf, toh gue juga jadi korban, Lo bersyukur deh masih diberi kehidupan sama Tuhan."


Saat ini Olaf tak bisa berpikiran jernih. Dia sangat trauma dengan apa yang sudah terjadi padanya.


"Jangan ganggu gue lagi, Ri," pinta Olaf tersedu-sedu.


"Gue mau berpesan sama lo untuk yang terakhir kalinya. Tolong jaga Sarah ya Laf, hanya dia harapan gue biar bisa tenang di atas sana," ujar Riri menatap Olaf lekat.


Riri berdiri lalu berpamitan pada Olaf. "Gue pamit Laf."


"Tunggu, masih banyak yang mau gue tanyain, Ri," ujar Olaf.


"Mau tanya apa lagi Laf?" ujar Riri menoleh.


"Kenapa Pak Tarno tega bunuh lo? kan Lo anak tirinya?" tanya Olaf pusing.


"Kali ini tolong percaya sama gue, Dia psikopat nyata. Lo jaga diri baik-baik ya, Laf, jangan bernasib sama untuk yang kedua kalinya."


Olaf menepuk pipinya sakit. "Aw! ini bukan mimpi!"


Suara ketokan pintu kamar berbunyi, lalu ganggang pintu terbuka menampakkan sosok Sisi datang berpakaian lengkap kerjanya.


"Gilak! udah jam setengah satu malem lo belum tidur juga," ucap Sisi terkejut.


Olaf hanya diam tak menggubris.


"Mata lo kenapa? abis nangis ya?" tanya Sisi.


Olaf menyeka sedikit air matanya. "Enggak kok. Eh lo sendiri kenapa masih ke sini? pulang gih, udah malem. Masih sempat-sempatnya ke sini."


Sisi cemberut menatap Olaf. "Jadi gue gak boleh nyamperin langsung sahabat gue gitu?"


"Tuh kan ngambek lagi lo! Ya boleh lah, Sisi, gimana keadaan store, aman kan?" tanya Olaf.


"Aman, tapi banyak yang nanyain lo sumpah. Kali ini lo viral di mana-mana. Di sekolah, Caffe, dan yap nama lo udah tercatat sebagai siswi ke 36 yang sudah merasakan mati suri," cerocos Sisi.


"Mulai deh, lebay lo!" jawab Olaf.


"Eh tapi gue serius," balas Sisi meyakinkan.


Jam berputar hingga akhirnya percakapan mereka terhenti pada pukul 2 pagi. Sisi yang sudah dianggap sebagai keluarga Olaf sendiri, menginap di rumah ini bersama Olaf.


Percakapan mereka terhenti, saat Bunda tiba-tiba mampir ke kamar Olaf dan terkejut mengetahui bahwa anaknya belum juga terlelap di tengah malam begini.


"Ya ampun Olaf, Sisi, waktunya tidur. Kamu Si, bukannya diajak Olafnya tidur," ucap Bunda.


"Eh Bunda, belum tidur ya," kekeh Sisi.


"Lampu kamar kalian belum mati. Bunda jadi curiga kalian belum tidur dan ternyata benar kan, yaudah tidur gih," suruh Bunda.


"Iya Bun, iya," jawab Olaf.


Bunda pergi lalu menutup pintu dan mematikan lampu kamar Olaf.


Olaf dan Sisi kemudian berbaring lalu menatap langit kamar yang berkelap-kelip bintang di atap kamar. Sejumlah lampu kelap-kelip menerangi atas atap yang sungguh membuat mereka ingin bercerita banyak lagi namun apalah daya hari sudah pagi.


"Gue takut terlelap, Si, kalau gue gak bangun lagi besok harinya bagaimana?" ujar Olaf trauma.


"Udah tenangin diri lo, fisik lo pasti lemah dan butuh istirahat banyak, anggap aja gue gak ada. Sebelum itu lo berdoa lalu perlahan tutup mata lo dan berharap bahwa besok adalah hari yang panjang dan masih banyak lagi hari-hari baru yang akan lo lalui," balas Sisi panjang lebar.


Olaf mengangguk, senang sekali punya sahabat bijak yang selalu bisa membuat jiwanya menjadi lebih tenang.


"Makasih ya Si."


Olaf mencoba saran sisi lalu terlelap dengan tenang. Diam-diam Sisi memperhatikan Olaf ke samping lalu berkata di dalam hatinya.


"Gue bahkan hilang arah kalau kemarin lo beneran tinggalin kami semua, Laf."


***


Pekanbaru, 17 September 2020


by, Indahoalkaf