Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Sekolah sambil Kerja?



Sisi mengendalikan motornya dengan pelan di persimpangan lampu merah. Emosi sejumlah pengguna jalan meledak-ledak saat pasukan geng motor memenuhi jalan raya pagi ini.


"*Woyy, gilak, pagi-pagi ngapain nyerbu ke jalanan!"


"Haduh bisa-bisa gue telat nih!"


"******* geng motor sialan*."


Begitulah hujatan sejumlah pengguna motor di jalan raya pagi ini. Dari arah belakang tampak rombongan polisi sedang mengejar pasukan geng motor itu yang membuat jalan raya pagi ini sungguh padat dan sesak.


"Ayo, Pak tangkap aja mereka!" Seru Olaf bersemangat menyemangati para polisi yang lewat.


"*****, ini pagi-pagi kenapa ada aja masalah." Sisi mengumpat kesal menghela napas panjang melihat keadaan ibukota sesak nan begitu ramai.


"Gilak, keren ya. Pasukan geng motor itu berani-beraninya masuk area jalanan pagi begini!" Kagum Olaf sambil bertepuk tangan.


"Ih, gilak lo ya! Hal sialan gitu dibilang keren!" tandas Sisi.


"Bukan gitu, gue cuma heran aja. Kok dengan bodohnya mereka mau masukin area jalanan raya pagi begini," telak Olaf.


"Modal nekad berujung penjara," ujar Sisi tertawa gelak.


Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau, namun mereka tetap membungkam diam di tempat. Sejumlah pengguna motor membunyikan klaksonnya, membuat suasana tambah kacau. Salah satunya ada yang membunyikan klakson kepada Olaf dan Sisi.


"Laffff, Siiii," sapanya mulai mendekati motor Sisi.


Olaf menoleh ke samping lalu membuka kaca helmnya. "Eh, Riri, lo kejebak juga?"


Riri hanya mengangguk. "Kita lewat jalan motong aja hayu. Di sini lama gak bakal gerak-gerak mah sampai nanti," jelas Riri.


"Ayo, gue gak tau jalan," terang Sisi.


Sisi membelokkan motornya dengan pelan mengikuti arah Riri. Sejumlah halangan akhirnya teratasi saat Riri datang menghampiri mereka.


Riri memasuki jalanan kecil yang sedikit berliku dengan hati-hati, begitupun dengan Sisi mengendalikan motornya agar tetap seimbang. Sebenarnya jalan ini tak layak untuk dilalui tapi apa boleh buat mereka harus melaluinya. Jalanan licin dan sempit membuat Olaf turun dari motor Sisi.


"Haduh kotor deh sepatu gue kalau nginjek tanah beginian," keluh Olaf sambil berjalan.


"Sabar ya Laf, yang penting kita sampe sekolah tepat waktu," balas Riri berteriak dari depan.


Sisi hanya tertawa kecil melihat Olaf. "Eh Eneng! Mau ke sekolah kok gitu amat ya," bully Sisi iseng.


Olaf cemberut. "Hm awas lo ya, tar gue bully balik."


Tepat pada pukul tujuh lewat satu menit mereka sampai di gerbang sekolah. Namun sial, satu menit saja tidak ditoleransi lagi oleh satpam sekolah.


"Pak, tolong dong, cuma telat semenit doang ini," lirih Olaf memegang besi pagar sekolah.


Satpam mengelak tegas tetap pada pendiriannya. "Tidak bisa Neng, jika sudah telat akan selamanya telat."


Riri membujuk Satpam ini dengan iming-iming rokok dan kopi. Riri tahu lelaki pasti akan luluh dengan barang itu.


"Pak, bukain dong pintunya, nanti saya beliin rokok sama kopi deh," ucap Riri mengedipkan mata centil.


Pak satpam ini melirik ke kanan kiri, merasa tidak ada guru yang berlalu lalang. Dia segera membukakan pintu untuk mereka.


Sisi tertohok heran di depan gerbang. Terdiam dengan apa yang terjadi. Rayuan halus dari Riri berhasil meski hanya mencoba satu kali saja.


"Ayo buruan, Si, masuk! Ngapain diam di sana," seru Olaf sambil menarik tangan Sisi.


"Parah tuh Satpam! Di sogok sekali aja langsung nurut. Dasar manusia matre!" cela Sisi mencak-mencak menendang batu yang ada di depannya.


"Lah lo kok malah kesal, harusnya beruntung kita udah dibolehin masuk. Ah elah lo mah," balas Olaf.


"Yaudah deh kita buruan masuk kelas. Udah telat nih!" tandas Riri tak menghiraukan kejadian tadi.


***


Matahari memancarkan sinarnya begitu panas. Siang ini para siswa merengek gerah akibat listrik sedang padam sejak dua jam yang lalu akibatnya daya AC kelas XII-A tidak tertampung untuk menyala.


Olaf yang sedang mencatat isi ringkasan seketika berhenti sejenak. "Catat dulu tuh materi sejarah, baru ngeluh panas!"


Riri yang mendengarkan ocehan mereka segera menghadap ke samping bersama Sarah. "Lagian lo kerajinan banget sih, Laf. Bener kata Sisi, ini panas banget."


Sarah juga mengangguk membenarkan kata Riri.


"Eh btw, Olafffff, gue lupa nanya nih. Lo belum cerita kan sama gue gimana keadaan Caffe di sana," ujar Sisi antusias.


Olaf tampak memikir apa yang terjadi kemarin kemudian tertawa terbahak-bahak dengan apa yang telah dia lakukan kemarin. Anggap saja tak ada yang terjadi dengan yang telah usai.


"Pokoknya bagus deh tuh Caffe keren banget. Pengunjungnya juga rame pake banget," jawab Olaf masih tertawa riang mengingat kejadian kemarin.


Sisi, Riri dan Sarah sontak heran. Perkataan Olaf tidak ada yang lucu, namun mengapa dia seolah menganggap itu semua lucu?


"Apaan sih Lo, ketawa-ketawa gak jelas!" tandas Sisi.


Riri heran lalu menyentuh kening Olaf dengan punggung tangannya.


"Gimana panas gak?" tanya Sarah kepada Riri.


Riri menggelengkan kepala.


Ponsel Sisi berdering, ada pesan masuk yang diterimanya.


"Eh, gais, Bu Manager CSG nge chat gue nih," ujar Sisi.


Sisi mengeja setiap kalimat teks itu agar terdengar oleh teman-temannya.


Bu Fika : Si, kamu sama Olaf udah boleh kerja mulai besok malam ya. Ibu udah report nama kalian. Untuk nge band khusus di malming saja.


Sisi tersenyum senang menepuk kedua tangan kepada Olaf. "Yes! Bulan depan udah nerima gaji, Ayey."


Mungkin hanya Sisi yang sangat antusias dengan ini. Olaf sebenarnya tak ada niat untuk bekerja disela kesibukan sekolah. Namun apa daya, karena hobi Band-nya dia harus membayar pajak yang tak akan cukup bila dibayar menggunakan uang jajannya. Tapi saat ini, Olaf harus bersyukur dengan apa yang terjadi.


"Jadi gais, gue sama Sarah tetap nge band malam Minggu kan bareng kalian?" tanya Riri memastikan.


"Ya iyalah beb, kapan lagi kita bisa nge band begini," balas Sisi menyentikkan jarinya.


Di tengah pembicaraan, datang Ikhsan memberikan sesuatu kepada Olaf.


"Nih, ada yang kasih bekal buat kamu," beri Ikhsan memberikan kotak bekal berwarna merah.


"Siapa yang kasi, San?" tanya Olaf.


"Gak tau gue gak kenal. Cowo lo ya Laf?" balas Ikhsan menunduk kecewa.


"Hah?! Sejak kapan Olaf punya pacar," teriak Sisi.


Olaf membungkam mulut Sisi. Lalu mengecek ponselnya dan tersenyum manis. Lalu membalas chat darinya.


Bang Rama : Makasi abangku, udah turutin kemauan Olaf. Mwah.


"Cieee, dibawain bekal sama cowonya!" Ceng Ceng Riri.


Olaf tersenyum licik, sebenarnya yang membawa bekal itu adalah abang kandungnya sendiri. Namun dia tak menggubris apa yang terjadi. Biarlah netizen membicarakannya supaya Olaf bisa mendadak terkenal, pikirnya.


"Parah lo Laf, gak pernah cerita kalau lo dekat sama cowo," tukas Sisi.


"Aduh, Ikhsan patah hati deh," teriak Sarah melihat Ikhsan yang sudah memilih berdiam diri di tempat duduknya.


"Hahaha, bagus juga rencana gue tadi pagi," batin Olaf seru.


***


Pekanbaru, 11 April 2020


by, Indahoalkaf