
Malam ini Olaf dan Sisi sengaja pulang cepat menuju rumah karena telah lelah melakukan aktivitas seharian. Belum lagi mereka akan begadang mengerjakan tugas untuk keesokan harinya.
"Duh, Si, malem ini kita begadang gak ya? PR banyak banget buat besok," keluh Olaf memicingkan mata.
Sisi tambah menguap melihat celotehan Olaf mengenai PR yang sangat banyak untuk besok belum lagi jika ada kuis mendadak. Kepala yang tadinya sudah puyeng makin bertambah oleng melihat setumpuk materi yang akan dihapal dengan waktu yang singkat.
"Hua, gue males banget, udah ngantuk nih," ujar Sisi merentangkan badannya di atas kasur Olaf.
Olaf menarik paksa tangan Sisi. "Ih, Sisi, Lo mau dihukum lagi gak bikin tugas? Ayo ayo semangat. Kita pasti bisa," teriak Olaf menggumpalkan tangan kirinya.
"Kalau begini ceritanya, mata gue gak bisa diajak kompromi. Huah!" ucap Sisi terduduk saat Olaf menarik tangannya.
Sisi kembali menjatuhkan badannya ke kasur. Badannya terasa ngilu sekali untuk diajak duduk apalagi untuk mengerjakan tugas.
Olaf memikir sejenak. Ide Olaf bisa ia gunakan untuk begadang mengerjakan tugas tanpa kantuk yang menyerang.
"Kuy ngopi hitam dibawah dulu. Biar semangat ngerjain tugas," tutur Olaf lalu membuka pintu kamarnya.
Setibanya di dapur, Olaf merebus air panas untuk membuat kopi. Dimasukkannya dua sendok kopi beserta gula, lalu memasukkan air panas ke dalam cangkir kopi.
Penyuka kopi pasti akan luluh dengan aroma kopi apa saja. Namun Olaf tak terlalu menyukai kopi hitam. Sisi sang penikmat kopi sangat candu akan semua jenis kopi. Seduhan pertama sangatlah dinikmati Sisi dan Olaf. Setelah secangkir kopi mereka habis, barulah mata dan tenaga mereka terisi kembali untuk dapat mengerjakan tugas hingga selesai.
"Laf, lo udah siap belum nomor 13? Gue gak ngerti nih jawabannya," ujar Sisi.
"PR yang mana?" tanya Olaf.
"Bahasa Inggris," jawab Sisi menggaruk kepalanya gatal.
"Lho masih stay di Bahasa Inggris? Lama banget, gue udah siap nih, liat aja," tutur Olaf.
Olaf memberikan PR Inggrisnya pada Sisi. Sementara di dua soal terakhir PR Geografi. Ponsel Olaf bersinar hidup menandakan notifikasi chat masuk.
Olaf segera melihatnya.
Ikhsan : Laf, udah tidur?
Olaf segera mengesampingkan notifikasi chat itu.
Sisi menatap Olaf. "Kok lo gak respon? Siapa emang yang nge-chat?"
Merasa biasa saja. Olaf hanya menjawab ngasal. "Oh itu sms nipu dari orang lain minta pulsa."
Sisi tertawa mendengar jawaban Olaf. "Hari gini masih ada yang minta pulsa? Dan mintanya sama elo?"
Olaf hanya cemberut. "Udah lo kerjain aja tuh PR nya cepat. Gue bentar lagi kelar nih," suruh Olaf.
Sisi segera mengencangkan percepatan menulisnya agar terpacu siap dengan Olaf. Sementara jam di dinding juga telah menunjukkan pukul satu malam. Tak ada yang tahu jika mereka telah bekerja keras untuk hari ini.
"Yeay, akhirnya gue siap juga," lega Sisi merenggangkan badannya ke samping.
"Yaudah yuk buruan tidur, gue ngantuk banget. Oh ya, besok kan ada senam pagi di sekolah. Lo jangan sampe telat ya. Tubuh kita juga butuh olahraga," ingat Olaf kepada Sisi.
Melihat jam telah berputar pada pukul dua dini hari. Barulah dua gadis tangguh ini terlelap menuju mimpi.
***
Olaf tersenggol dengan pergerakan tangan Sisi yang sudah berada tepat di wajahnya. Matanya menyipit melihat sinar matahari telah masuk melalu celah gorden. Olaf segera bangun lalu duduk dan minum segelas air putih untuk kesehatan paginya.
"Siii, buruan bangun, udah pagi nih," ucap Olaf masih mengantuk.
Sisi hanya mengerang kecil mengiyakan kata Olaf. Namun tak sama sekali badannya duduk untuk terbangun. Malah masih tidur lelap.
Olaf melihat raut wajah Sisi. Sepertinya dia kelelahan sekali. Olaf tak tega membangunkannya lebih awal. Biarlah dirinya terlebih dahulu mandi dan bersiap-siap pergi sekolah.
"Lho Laf, kok gue gak dibangunin sih?!" kaget Sisi melihat Olaf yang sudah rapi.
"Heleh, udah capek dari tadi gue bangunin lo. Tapi gak nyahut-nyahut!" protes Olaf.
"Seriusan?" tanya Sisi lagi.
"Iya, mandi gih sana, lo bau!" tandas Olaf sambil tertawa.
Beberapa menit menunggu Sisi siap. Terdengar alih-alih suara ribut dari ruang dapur.
"Kamu tuh yang salah! Harusnya Lena ditahan waktu dia mau ke Aussie!"
"Ayah kan gak tahu, Bun, kalau akhirnya bakal terjadi seperti ini."
"Asal Ayah tahu, Bunda udah punya firasat buruk kalau Lena tetap ngeras pergi ke Aussie."
"Tenang dulu, Bun, ini semua bukan salah Heru atau pun Ayah. Yang penting kita harus berdoa untuk keselamatan Lena ya.
Olaf berada di anak tangga mendengar semua percakapan Ayah dan Bunda. Sisi hanya segan menginap di rumah Olaf di saat yang tidak tepat.
"Duh, Laf, gue gak enak nih sama keluarga lo," lirih Sisi yang mengikuti langkah kaki Olaf.
"Udah lo tenang aja, lo duduk di sini dulu ya," saran Olaf.
Olaf menghampiri kedua orangtuanya dengan cepat dan bertanya akan keadaan Lena.
"Bun, Yah, apa yang terjadi?" tanya Olaf penasaran.
"Everything it's okay, sayang, kamu gih langsung berangkat aja. Ini udah jam tujuh empat puluh." suruh Ayah kepada Olaf.
"Tapi, Yah, tadi Olaf dengar Lena dan Aussie. Kak Lena kenapa Yah?" tanya Olaf lagi.
Bunda tak tahan menahan lirih tangisnya. Air matanya pecah di depan Olaf lalu Ayah memeluk Bunda. Olaf tidak mengerti apa yang terjadi tapi baginya Lena adalah bagian penting dari keluarga ini.
"Kamu jangan nakal ya Olaf. Kakakmu itu keras kepala kan. Makanya dia, hiks," Bunda tak bisa melanjutkan kata-katanya lalu menangisi Lena lagi.
"Bunda! Stop, mikir yang aneh-aneh tentang Lena. Kabar dari Heru belum kita telaah dengan benar. Heru pasti akan jaga Lena di sana. Bunda tenang dulu ya," ucap Ayah lagi-lagi menenangkan Bunda.
Bunda hanya menangis tersedu-sedu. Mendengar kabar dari Lena yang sudah masuk rumah sakit Aussie beberapa hari yang lalu.
Sisi yang masih duduk terdiam di tangga diajak ngobrol oleh sosok pria besar dan tinggi dengan khas rambut yang rapi ke samping. Siapa lagi jika bukan Rama.
"Si?" panggil Rama dari atas tangga.
Rama memang telah mengenal jelas teman terdekat Olaf yang perempuan. Apalagi Sisi sudah tak asing lagi jika berada di rumah ini.
"Lo ngapain duduk di sana? Olaf mana? Tuh anak tega banget ninggalin temennya sendiri di sini," omel Rama.
"Hush, pelan-pelan ngomongnya, Bang," lirih Sisi sambil menunjuk ke bawah.
Rama mendongak lalu segera turun ke bawah melihat Bunda menangis bersama Ayah. Keadaan semakin mellow saat Olaf mengetahui hal yang sesungguhnya namun tidak diberi tahunya kepada keluarganya tentang Lena.
"Aduh, nih pasti efek hiperdosis obat yang telah dikonsumsi Lena selama ini," batin Olaf dalam hati.
***
Pekanbaru, 17 April 2020
by, Indahoalkaf