
Langit sore ini kelabu menghitam membuat sejumlah siswa tergesa-gesa untuk kembali pulang ke rumah masing-masing. Angin berhembus kencang menerbangkan seluruh puing puing pasir yang mengenai mata Olaf. Matanya menyipit melihat ke depan. Olaf bingung harus sama siapa dia akan pulang sore ini. Dia baru ingat, bahwa hari ini Sisi akan menjemput adiknya yang bersekolah di SMP 8.
Olaf membuka layar ponsel sudah jam lima tepat. Diliriknya chat Kenji namun belum ada tanda ceklis biru di WhatsApp nya. Dengan berinisiatif Olaf akan memesan go-car saja agar tidak kehujanan sampai dirumah. Dibukanya aplikasi go-car lalu ponselnya bergetar menandakan ada ponsel masuk. Reflek, Olaf segera mengangkatnya.
"Hallo, Laf, lagi ngapain?"
"Nji, gue lagi mau pulang nih."
"Pulang sekolah? Sama siapa?"
"Naik go car."
"Lho gak bawa motor?"
"Enggak ada razia tadi pagi, jadi ya gue males bawa."
"Yaudah gue susulin lo ya, kirim lokasi lo sekarang."
"Serius lo?"
"Iya Olaf, sayang."
"Makasih Kenji, gue tunggu."
Olaf menutup telepon dari Kenji lalu bersorak gembira. Kenji memang datang disaat yang tepat. Kemudian, pipinya memerah saat Kenji sempat memanggilnya dengan sebutan sayang tadi.
Olaf segera mengirim lokasinya pada Kenji. Sepuluh menit kemudian, Kenji datang menemui Olaf.
"Sorry lama Laf," ujar Kenji memberi helm pada Olaf.
"Enggak kok sepuluh menit doang gak lama bagi gue," balas Olaf sambil menerima helm dari Kenji.
Olaf naik ke atas motor Kenji. Lalu mereka melanjutkan perjalanan selagi hujan masih belum turun. Beberapa menit kemudian, gerimis datang mengguyur kota ini. Kenji dan Olaf berinisiatif berhenti di sebuah halte yang dekat dari perjalanannya.
Mereka akhirnya turun lalu duduk di halte menunggu hujan reda. Tetesan air hujan menemani keheningan mereka. Olaf tampak gugup duduk bersampingan dengan Kenji. Namun kelihatannya Kenji tak merasakan hal yang sama dia memperhatikan suasana hujan.
"Rentangin deh tangan lo," ajak Kenji menarik tangan Olaf menuju sudut rembesan hujan.
Air itu mengalir ditampungan tangan Olaf dan Kenji. Tampaknya air itu sudah penuh, dengan iseng Kenji menyiram air ke wajah Olaf. Perang air menyerbu mereka ditengah hujan yang mengguyur.
Olaf lari menuju jalanan menikmati hujan deras nan menyejukkan jiwa. Kenji mengikuti Olaf menari di bawah hujan. Di rentangkannya tangannya lebar-lebar lalu diangkatnya kepalanya ke atas menikmati keseruan mandi hujan di sore hari.
"Aaa... Kenji kejar gue," teriak Olaf berlari sambil tersenyum bahagia.
Kenji mengejar langkah kaki Olaf lalu menangkapnya. "Hayo dapet," tangkap Kenji memeluk lingkar pinggang Olaf.
Olaf mengelak debar jantungnya berdegup kencang saat Kenji berhasil menangkapnya. "Nji, apaan sih lo, meluk-meluk sembarangan."
Kenji tersadar lalu melepas pelukan itu. "Lho tadi kamu yang minta dikejar?"
"Tapi gak gini juga kali," balas Olaf lalu berlarian takut dipeluk Kenji lagi.
Kenji menarik tangan Olaf seakan Kenji menyuruh Olaf untuk masuk dalam tatapannya.
Olaf semakin susah menelan salivanya. Dia hanya gadis kaku yang tidak tahu akan cinta.
"Jadi lo gak ngerasain kehangatan tadi?" tanya Kenji serius.
"Enggaklah, yang ada tuh dingin, lagian masih hujan," jawab Olaf asal menunjuk langit yang sudah gerimis.
Kenji memegang tangan Olaf erat. "Besok jalan yuk, gue libur kerja nih."
Tanpa pikir panjang Olaf mengiyakan perkataan Kenji karena tak mampu mengatakan apa-apa lagi. Melihat Olaf tak berekspresi, Kenji memotret wajah Olaf diponselnya.
"Yeay, dapet," gumam Kenji riang gembira.
Kenji memperlihatkan wajah longor Olaf ke depan wajahnya."KENJIIII HAPUSS!" Kelakar Olaf
"Gak, buat dipajang di kamar gue foto lo," balas Kenji tertawa terbahak-bahak.
"Yang cantik dikit napa! Eh ngapain lo pajang foto gue?" tanya Olaf penasaran.
"Buat gue santet," balas Kenji asal.
"Ih seriusan, Nji, lo nyebelin banget sih," cemberut Olaf memanyunkan bibirnya.
"Sayang, jangan gitu kamu makin imut," ujar Kenji.
"Sayang?" tanya Olaf mengernyitkan dahi.
"Iya aku sayang kamu," goda Kenji.
"Udah cinta kok gengsi, Mbak," ujar Kenji.
Olaf sama sekali tak menggubris perkataan Kenji. Hujan sudah reda, disebelah kanan sudah terlukis pelangi indah yang menghiasi kota. Pakaian Olaf basah kuyup lalu Kenji membuka jaketnya dan diberinya pada Olaf.
"Kamu pake ya biar gak masuk angin," ujar Kenji memasangkan jaket itu pada Olaf.
"Iya makasi, Nji," balas Olaf.
Perjalanan ini kali pertama yang dirasakan Olaf dan Kenji. Hari sudah semakin senja Olaf tiba di rumahnya dengan selamat.
"Yaudah kalau gitu gue masuk dulu ya," ujar Olaf.
"Gih masuk langsung mandi ya, jangan ngapa-ngapain dulu inget langsung mandi," tekan Kenji kepada Olaf.
"Iyaiya bos, langsung mandi kok," balas Olaf.
Olaf melambaikan tangannya kepada Kenji yang sudah berlalu dari rumahnya. Jaket Kenji ada pada Olaf, di ciumnya aroma parfum Kenji yang merekat di jaketnya.
"Wangi banget, lembut baunya," pikir Olaf.
***
"Ya ampun sayang, kamu ngapain hujan hujanan pulangnya," khawatir mama dari ujung dapur melihat Olaf.
"Tadi mandi hujan, Bun," balas Olaf terkekeh.
"Mana Sisi? Kamu pulang sama siapa nak?" tanya Bunda.
"Sama temen Bun, gak bisa bareng Sisi, Bun, dia jemput adikya hari ini," jawab Olaf.
"Oh gitu, siapa temennya?" tanya Bunda.
"Kenji Bun," balas Olaf.
"Hayo temen atau temen, baru dengar nama itu Bunda, Nak," goda Bunda.
"Temen Bun, masih temen," ucap Olaf.
"Yaudah gih mandi sana, nanti kamu masuk angin lho," ujar Bunda.
Olaf melangkahkan kakinya menuju kamar dan mengambil handuk untuk mandi. Langkahnya tergesa-gesa saat ponselnya bunyi sejak tadi di dalam tas. Dengan sengaja Olaf melihat Lena yang mengirimkan sebuah pesan WhatsApp dari kontaknya.
Lena : Minggu depan gue balik ke Indonesia
Olaf bernapas lega akhirnya Lena sadar juga dari komanya sejak lima hari yang lalu. Olaf sengaja tak meresponnya cepat karena badannya sudah basah kuyup untuk memencet mesin keyboard hp.
Olaf berpikir tenang, mengapa Lena tiba-tiba mengatakan hal seperti itu. Apa waktunya sudah tidak cukup lagi untuk menerima keadaan yang sebenarnya. Olaf terlarut dalam tidurnya setelah mandi dengan air hangat tadi.
Tiba-tiba dari arah yang tak disangkanya, Rama sudah masuk di kamar Olaf dan mengacak rambut Olaf.
"Laf, bangun, ada yang nungguin Lo tuh di bawah," ujar Rama.
"Siapa Bang?" tanya Olaf.
"Gak tau yang penting cowok," balas Rama.
Olaf melirik balkon tampak sosok gagah yang perkasa duduk di depan garasi Olaf. Mulutnya terbungkam melihat seseorang yang ada dibawah.
Dengan segera Olaf datang menghampirinya cepat. Bukannya menyapa Olaf malah mengusirnya kejam.
"Ngapain ke sini?!" bentak Olaf.
"Gue mau ketemu kakak Lo, Lena di mana?" tanyanya bermohon.
Amarah Olaf memuncak saat Gio memaksa dirinya untuk masuk menemui Lena.
"Lo jangan sekali-kali gangguin kakak gue lagi! Dia udah senang sama suaminya. Awas aja lo ke sini lagi! Gue bakal beberin lo ke kantor polisi saat ini!" kelakar Olaf menunjuk wajahnya keji.
Perlahan Gio maju berusaha mencekik leher Olaf. Tak ada orang di sini. Rama sedang asyik di kamarnya. Olaf terkejut dengan apa yang di lakukan Gio.
"TOL ... ONG!" pintanya serak bergema.
***
Pekanbaru, 25 April 2020
by, Indahoalkaf