Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Terlambat



Kenji menaikkan ujung kemeja di tangannya sambil memperhatikan jam dinding yang terus berputar. Pikirannya kacau melihat Olaf yang sudah tak bernyawa di atas ranjang putih besar milik rumah sakit. Mayatnya akan dibawa sore ini ke rumah duka untuk dikebumikan esok harinya.


Kenji izin masuk kepada keluarga Olaf untuk menjenguk Olaf tuk terakhir kalinya. Sisi ikut dengan Kenji masuk ke dalam tuk melepas rasa kangennya yang tak mungkin di dapatnya esok hari.


Keduanya saling diam, bungkam memperhatikan badan Olaf yang sudah pucat dan dingin. Wajahnya yang terlihat tersenyum membuat semua orang lega, Olaf meninggal dengan perasaan senang tanpa beban.


Sisi terisak lalu kembali membuka suara. "Kenapa sih Nji? Lo selalu telat dikeadaan apapun itu! Harusnya Lo menjadi orang paling depan di sejarah hidup Olaf!"


Mendengar Sisi berbicara seperti itu Kenji merasa orang yang paling bodoh yang pernah ada. Yap, benar, Kenji memang belum menjadi yang terbaik untuk Olaf di masa hidupnya. Bahkan sebelum Olaf meninggal pun, Kenji belum sempat meminta maaf atas perlakuannya beberapa hari yang lalu yang membuat Olaf merasa sakit hati. Meskipun sebenarnya masalah ini hanya sepele tapi siapa sangka akan berakhir seperti ini. Bahkan waktu saja tidak menakdirkan kami untuk bersama merundingkan kejadian masalah yang tak seperti yang dia kira.


Kenji nunduk di sebelah kepala Olaf sambil menggenggam tangan Olaf erat, meskipun tangan itu sudah tak bernyawa dan dingin sekali. Kenji berusaha untuk menghangatkannya tuk terakhir kali.


"Sayangku Olaf, meskipun kita sudah tak bisa bersama. Meskipun kita sudah berbeda alam. Gue akan tetap mendoakan Lo dari bawah sini sebagai orang yang sudah sempat hadir memberi warna dikehidupan sepi gue. Gue akan terus mengenang Lo sebagai seseorang yang sangat berarti di hidup gue. Dan gue sangat-sangat meminta maaf atas apa yang sudah gue perbuat selama ini kepada lo. Tapi harapan gue cuma satu, Lo bisa kembali di dalam dekapan gue besok hari. Kita perbaiki dan ulang hal yang gak Lo dapat di hari lalu. Gue akan buat diri lo menjadi orang nomor satu yang paling bahagia di dunia ini," ujar Kenji berusaha menahan tangis dan menerima kenyataan.


Tak kuasa menahan tangis seketika meneteslah sedikit demi sedikit buliran air mata yang menyesakkan hati.


Sisi berusaha melihat ke luar saat ada terdengar suara kegaduhan. Dengan langkah cepat Sisi meninggalkan Kenji lalu membuka pintu.


Alangkah terkejutnya Sisi saat melihat Ikhsan sudah baku hantam bersama seorang lelaki yang sangat familiar di lihatnya.


"Stop! San," teriak Sisi menghentikan aksi Ikhsan yang sudah membuat anak orang babak belur begini.


Sisi memperhatikan lawan Ikhsan. "Lo Kenji kok bisa Lo di luar sih?"


"Nah sekarang Lo tau kan, ini Si Kenji udah tau Olaf meninggal. Bisa-bisanya dia datang bersama wanita lain pake gandengan tangan dan saling care satu sama lain! Gapunya otak banget ya!" Kelakar Ikhsan menatap Kenji dengan keji.


Sisi geleng-geleng kepala sambil menepuk wajahnya keras. "Gak mungkin, gak mungkin. Ini gak mungkin. Tadi gue sama Kenji kok di dalam. Jadi ini siapa?" tanya Sisi heran setengah mati.


Beberapa petugas kesehatan dan Satpam rumah sakit datang menghampiri suara kegaduhan tersebut.


"Maaf bang, jangan meresahkan pasien lain! Tolong jika ada masalah keluar saja!" tegas Satpam rumah sakit memperingati Ikhsan.


Sisi segera membawa Ikhsan keluar untuk menyelesaikan masalah yang ada.


Namun lawan yang di maksud Ikhsan hanya diam dan enggan mengikuti mereka.


"Woy, Nji, Lo ikut sini. Ngapain lo di situ?" tarik Sisi menggandeng keduanya.


Sisi melepaskan genggaman mereka berdua saat sudah sampai di luar rumah sakit.


"Lo apa-apaan dah! Udah tau Olaf udah meninggal masih aja cari keributan di dalam!" tandas Sisi memarahi Ikhsan.


"Maaf gue cuma kesal sama Kenji nih!" ujar Ikhsan menunjuk ke arah Kenji.


"Gue bukan Kenji. Justru gue ke sini mau jelasin kalau Kenji punya kembaran. Kenalin gue Kenzo," ujar Kenzo sambil mengeluarkan tangannya dari saku untuk berjabat.


Ikhsan dan Sisi kaget bukan main ternyata selama ini Kenji punya kembaran yang tak kalah gagah dari dirinya. Pantas saja, Sisi sempat pusing melihat kejadian yang telah terjadi.


"Maaf kalau sudah membuat kalian ribut tadi, gue gak bermaksud untuk membuat kekacauan. Gue cuma mau datang melayat Alm. Olaf," ujar Kenzo sopan.


Ikhsan merasa dirinya sangat bersalah lalu meminta maaf kepada Kenzo. Lalu Sisi menyalahkan Ikhsan untuk lebih teliti saat ingin meninju seseorang.


"Emang lo kenal Olaf?" tanya Sisi kepada Kenzo.


"Gue pernah ketemu dia sekali. Waktu itu dia juga mengira kalau gue ini Kenji, pacarnya," balas Kenzo.


"Jadi selama ini Olaf gak tau kalau Kenji itu punya kembaran?" tanya Ikhsan kepada Kenzo.


Kenzo menghela napas. "Mana gue tahu. Urusan Olaf itu sama Kenji bukan sama gue."


"Kalau sempat Kenji gak ngasih tahu ini sama Olaf semasa hidupnya, parah banget sumpah. Gue ngerasa Olaf itu seperti boneka di hidup Kenji," ujar Ikhsan membela sahabatnya Olaf.


"Sudah-sudah tak ada yang perlu disesali. Sekuat apapun kalian menyalahkan seseorang. Olaf gak akan pernah hidup lagi. you know? She was die!" ucap Sisi menasehati mereka.


Sisi berlari meluapkan emosi yang ada di bawah pohon besar yang pernah dilaluinya bersama Olaf. Ikhsan hanya mengikuti Sisi dengan perasaan sedih.


"Lo yang tabah ya meskipun sulit pasti kita bisa melalui ini semua," ucap Ikhsan sambil menenangkan Sisi kemudian memeluk Sisi dengan penuh kehangatan.


***


Rama sengaja pulang agak cepat di sore ini dan benar saja dugaannya, saat ini rumah kosong tak berpenghuni. Ke mana semua orang?


Rama berusaha untuk menelpon seluruh anggota keluarga mulai dari Olaf, Lena, Ayah, Bunda dan terakhir Mas Heru. Tapi tak ada yang mengangkat telepon darinya. Rama hanya bingung mengapa semua orang melupakan dirinya.


Tak masalah jika dia dilupakan tapi feeling Rama takut terjadi apa-apa dengan keadaan rumah ini. Maka dari itu Rama izin pulang cepat dari kampusnya.


Rama terkejut saat sosok Olaf tiba-tiba turun dari lantai atas mengejutkan dirinya.


"Woy Bang! Dari mana aja lo! Gak ngabarin gue dari tadi!" ucap Olaf.


"Ya ampun Laf, lo ngagetin gue aja!" ujar Rama yang merasa terkejut saat Olaf datang secara tiba-tiba.


"Idih penakut banget lo!" tindih Olaf kepada Rama.


"Ke mana semua orang?" tanya Rama kepada Olaf.


"Masa Lo gak tau sih! Makanya jadi orang update dong!" ledek Olaf menyenggol badan Rama.


"Serius gue gak tau, lo hobi banget deh candain gue. Orang gue lagi serius ini," ucap Rama kesal kepada adiknya itu.


"Mereka lagi jengukin gue dong," ujar Olaf kepada Rama.


"Gue gak bercanda Olaf, gue serius. Ke mana semua orang?" tanya Rama tegas menatap Olaf.


Olaf berdehem sambil cemberut menatap Rama sambil memutar kedua bola matanya. "Heem, siapa juga yang bercanda. Gue serius ini, mereka lagi jengukin gue di rumah sakit."


Rama mengatur napasnya sabar, menahan amarahnya kepada Olaf yang sering membuatnya kesal.


"Untung adek gue, kalau enggak udah gue bunuh lo!" ujar Rama.


"Bunuh aja, wle," ujar Olaf berlari dari jangkauan Rama.


Rama lari mengejar Olaf satu tangkapan sudah diraih Rama. Namun mengapa seakan badan Olaf tak bisa disentuhnya secara fisik. Rama menyentuh punggung Olaf berulang kali namun tetap saja tak ada rangsangan sama sekali. Rama menjauhi Olaf bergidik ngeri.


"Woy bang! Kok berhenti? Tapi mau ngejar gue?" teriak Olaf yang tetap meladeni Rama.


Rama masih tetap diam, pandangannya lekat melihat wujud Olaf dari atas kepala sampai bawah mata kaki.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara sirine ambulance mendekati depan rumah. Rama berlari pontang panting melihat apa yang telah terjadi. Ambulance itu tepat berhenti di depan rumahnya.


Rama intens terkejut saat Bunda turun dari mobil ambulance itu sambil menundukkan wajahnya lemas.


"Bun siapa yang meninggal?" tanya Rama penasaran.


Bunda tak menjawab. Namun Rama membuka peti jenazah tersebut. Terlihatlah mayat Olaf sudah terbaring tenang.


"Olaffffffffff!" teriak Rama menangis sejadi-jadinya.


***


Pekanbaru, 17 Juni 2020


by, Indahoalkaf