
Selintas Olaf tersadar, mengapa sosoknya saat ini berdiri di ruang putih kosong tak berlampu namun justru bisa menyilaukan penglihatan yang sedang dilihatnya. Matanya menyipit memperhatikan keadaan sekitar. Olaf tak mengerti seingatnya tadi dia sedang ketakutan dan berlari ketika melihat sosok hitam besar yang berlari ke arahnya seakan mengajaknya menjauh dari keramaian orang-orang sekitar. Olaf terus berjalan hingga ke ujung, lalu ditemuinya lah banyak karangan bunga bertuliskan namanya. Dia mengeja setiap kata dari karangan bunga tersebut.
"Turut berduka cita atas kepergian Jilolaf Agranita Chaiputri."
Olaf memegang karangan bunga itu sambil berjalan santai menuju sebuah rumah yang bertegakkan kayu coklat dengan bendera putih yang berkibar akibat angin kencang yang menyelimuti keadaan cuaca. Karena penasaran, Olaf memasuki rumahnya dengan perasaan aneh. Dilihatnya dengan dalam Bunda yang sedang menangis tersedu-sedu menghadap seorang jenazah yang tak diketahuinya. Olaf masuk dengan cepat menemui bunda.
"Bundaaaa? Kenapa? Ada apa?" tanya Olaf menaikkan suara.
Namun apa yang terjadi? Tak ada satupun orang yang menghiraukannya. Olaf memandang dirinya lekat. Dia berusaha keras memanggil Sisi juga dari sini. Tapi tetap saja usahanya tidak direspon.
"Gue kenapa jadi kayak gini?" ujar Olaf histeris melihat keadaan dirinya.
Menjejak tapi tidak terlihat, meraba tapi tidak terasa, memanggil tapi tidak terdengar. Begitulah yang dirasakan Olaf saat ini. Semua seolah memanggil dirinya dalam panjatan do'a yang hikmat. Namun arwahnya masih berkeliaran di dekat mereka. Olaf berusaha untuk memeluk orang-orang yang disayanginya. Namun tak bisa lagi dirasakannya hangatnya sentuhan kasih itu. Sekuat apapun untuk menenangkan Bunda di hadapannya namun nihil. Tak ada yang bisa diperbuatnya selain memperhatikan orang-orang yang bersedih atas kepergiannya. Mulai dari Bunda, Ayah, Kak Lena, Bang Rama, Mas Heru, Sisi, Ikhsan, dan juga orang yang dicintainya Kenji yang terlihat lemas termenung memperhatikan jasad. Olaf baru sadar dia sudah berbeda alam dengan mereka. Mana mungkin lagi bisa berinteraksi dengan orang-orang yang berada di dunia.
Arwahnya kembali memperhatikan tubuh yang senantiasa sehat dan badan yang segar itu. Rerintihan air mata dan kesedihan masih dirauti Olaf. Siapa sangka akan berakhir tragis seperti ini. Bukankah takdir sudah berlaku pada masing-masing umat? Dan kita sebagai makhluk Tuhan hanya perlu menunggu takdir itu tiba.
Tangan Olaf terulur dengan sebuah sentuhan ajaib yang sangat berbeda dirasakannya.
"Sudahlah tak ada yang perlu disesali, kehidupanmu sudah berakhir. Ayo kembalilah bersamaku di alam kita," ujar seorang gadis yang tiba-tiba muncul mendatangi Olaf.
Gadis itu begitu familiar di mata Olaf. Suaranya pun sudah hapal betul dan mirip sekali dengan suara yang sudah didengar Olaf berkali-kali.
"Astaga Riri! Gue kok bisa genggam tangan lo?" teriak Olaf kesenangan sambil memeluknya.
Riri hanya bungkam terdiam melihat sikap Olaf yang begitu aneh.
Secercah harapan keluar dari mulut Olaf dengan sendu. "Gue gak mau mati, Ri."
"Tapi saat ini lo ditakdirin untuk pergi dari dunia ini dan ikut bersama gue ke atas sana," jawab Riri.
"Lo percaya takdir bisa diubah gak?" tanya Olaf bersemangat.
"Gak bisa lah, kita sebagai makhluk kecil hanya bisa menjalankan apa yang telah ditulis Tuhan," jawab Riri.
"Tapi gue percaya takdir gue bisa diubah. Gue yakin pasti bisa, masih ada hal yang belum gue wujudin di dunia bersama mereka," yakin Olaf bersungguh-sungguh menunjuk keluarga dan sahabatnya.
"Lo yakin gak mau menetap di atas sana? Dunia terlalu kejam buat kita Laf, percaya sama gue," mohon Riri agar Olaf mengikuti langkahnya.
Olaf masih keras kepala dan tak mau mendengarkan ucapan Riri. Alhasil Riri pergi dan menghilang dari arah pandang Olaf dengan sekejap mata.
"Riri jangan tinggalin gue, gue takut sendirian di sini!" rengek Olaf ketika Riri telah pergi meninggalkan dirinya.
Bak neraka dan surga Olaf memperhatikan keadaan sekelilingnya. Di sebelah kanan Olaf melihat begitu takjub dengan pemandangan yang sangat luar biasa indahnya. Suasana nyaman, adem, dan tenang menghiasi wajah penghuni di dalamnya. Mereka tampak sangat ramah dan tersenyum pada Olaf. Satu sama lain menggenggam erat kitab suci Al-Qur'an ditangannya. Olaf di tarik masuk ke dalamnya. Merasa sangat terharu bisa masuk ke ruangan yang sungguh megah ini. Olaf berpikir sejenak, jika suasana seperti ini Olaf akan betah untuk menetap di dalamnya.
"Wahai anak bumi, tetapkanlah pilihanmu, ingin kembali ke dunia atau akhirat?" tanya salah satu penghuni di dalamnya.
Olaf memikirkan dosanya yang begitu besar di dunia, mana mungkin dia akan masuk ke dalam dunia yang fana ini.
Waktu yang singkat untuk bisa menjelajah di dalamnya. Olaf sudah di tarik keluar menuju arah kiri penglihatannya. Sungguh, sebenarnya Olaf tak sanggup jika untuk sekedar menatap sedetik pun pemandangan yang begitu menyeramkan dan meyayat hatinya.
Dari arah kiri Olaf diterjunkan untuk masuk juga ke dalamnya dengan di dampingi dua monster hitam yang mengerikan baginya. Monster itu terus menatap dan mengekang dirinya agar mau disuruh apa yang diperintahnya. Dilihatnya lah banyak siksaan pedih yang menyiksa dirinya. Penghuni di dalamnya pun terus menjerit meminta pertolongannya kepada Olaf. Hati yang berseru kencang ingin meninggalkan hal ini namun apa yang terjadi? Olaf masih dijaga oleh berburuan sang monster di sampingnya. Merasa tidak betah, Olaf berlari kencang meninggalkan tempat ini.
"GUE MAU PULANG! ASLI SEREM BANGET!" teriaknya resah.
Seberapa kencang Olaf berlari dia tak akan bisa kabur dari sang monster itu. Olaf terus dikejar kejar oleh sang monster hingga akhirnya Olaf tercampak di laut besar berombak dahsyat. Di mana langkahnya tidak dapat lagi untuk bisa menyelamatkan diri. Olaf terhanyut di lautan sebesar ini. Olaf terus berteriak memanggil Bundanya.
"BUNDAAAA!" Olaf terbangun dari jasadnya lalu mengejutkan semua orang yang telah bertakziah di rumahnya.
Olaf terbangun dari kematiannya dengan membulatkan mata ketakutan. Napasnya tersengal-sengal membuat semua orang ketakutan melihatnya. Olaf memperhatikan sekelilingnya, sudah tak ada lagi monster mengerikan itu di sini. Badannya pun tidak basah karena terguyur hanyut di dalam laut besar.
Suasana pecah menjadi ketakutan, lantunan Yasin yang sedari tadi sedang dibacakan seketika terhenti melihat sosok mayat yang tiba-tiba terduduk kembali. Ini sungguh aneh bukan, Dokter telah menetapkan bahwa Olaf itu meninggal namun Allah masih memberikan Olaf kesempatan untuk hidup di dunia ini.
Semua orang lantas terkejut dan merasa takut dengan kejadian ini.
"Hantu Olaf gentangan!" teriak salah seorang pemuda bernama Rudi menyoraki semua orang.
Semua warga mundur menjauhi mayat termasuk teman-teman Olaf. Olaf bangun dengan keadaan pucat, lalu memeluk bunda yang berada di depannya. Bunda hanya shock melihat kejadian yang sungguh tak dimasuk akalnya.
"Badan kamu benar-benar dingin, nak, apa yang telah engkau lewati selama beberapa jam ini?" tanya Bunda.
"Sepertinya aku benar telah melewati masa mati suri, Bun," jawab Olaf.
Semua orang tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Mereka masih takut untuk melihat Olaf apalagi untuk sekedar berbincang padanya.
***
Pekanbaru, 19 Juli 2000
by, Indahoalkaf