Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Kesalahan Terbesar



Angin malam menyelimuti badan Olaf. Setelah pulang bekerja bukannya langsung tidur, Olaf malah berdiri dibalkon menikmati angin malam dingin yang menggenggam seluruh badannya. Ingin tidur namun mata masih berkompromi untuk sekedar menatap langit malam yang cerah ini. Bukan malam lagi namanya jika pergantian jam telah berputar menuju setengah dua belas malam. Setengah jam lagi dini hari akan menyapa Olaf.


Jiwa raga Olaf masih menetap di depan balkon kamar sambil duduk di sofa besar memeluk teddy bear besar miliknya pemberian Bunda pada ulang tahunnya kemarin.


Knop pintu gerbang berbunyi membuat Olaf terloncat dari duduknya. Pagar besi rumah terbuka masuklah mobil Mercedez Benz silver menuju garasi rumah Olaf. Gadis berambut cokelat panjang tergerai keluar dari mobil. Tubuhnya yang langsing dengan wajahnya yang terlihat lemas berjalan menuju pintu depan. Olaf terus memperhatikannya hingga bel rumah berbunyi berkali-kali. Tampaknya dia memencet bel berulang kali.


Olaf turun dari tangga membuka pintu. "Kak Lena! Apa kabar?"


Lena menghempaskan badannya ke sofa terlihat keletihan. Olaf duduk di samping Lena memegang dahi Lena yang terasa tak ada tanda demam di dahinya.


"Ih apaan sih! Gue gak sakit," tandas Lena.


"Lo kurusan Kak, semenjak kritis di Aussie, yaudah gih lo istirahat aja," ajak Olaf menuju kamar Lena.


Lena mengacuhkan ajakan Olaf lalu berjalan sendiri menuju kamar. Sifatnya sama sekali tidak berubah kepada Olaf meskipun Olaf telah banyak berbuat baik kepadanya.


Mas Heru datang dari depan pintu lalu berjumpa dengan Olaf.


"Olaf? Apa kabar kamu?" tanya Mas Heru.


"Baik Mas. Olaf yang harusnya nanya itu sama Mas. Kenapa pulangnya gak nelepon dulu sih? Mendadak banget. Katanya baru datang lusa," ujar Olaf.


"Gak tau Lena mau flight lebih awal katanya dia ada kerjaan," balas Mas Heru.


"Oh gitu, proyek Mas yang di Aussie gimana? Lancar?" tanya Olaf.


"Ya begitulah Laf, sedikit tersendat karena Mas juga khawatir akan keadaan Lena. Jadi selama di Aussie bukannya mau jalan-jalan malah Lena kritis di negara orang," jawab Mas Heru sendu.


"Jadi Mas sudah tahu kan penyebab Kak Lena kritis begitu?" tanya Olaf.


"Udah Laf, tapi Mas belum tahu apakah Ayah dan Bunda tahu akan penyakit serius Lena ini?" ujar Mas Heru serius.


Olaf menepuk pundak Heru agar mengecilkan suara. "Mas, jangan kenceng-kenceng ngomongnya," bisik Olaf.


"Kenapa?" tanya Mas Heru.


"Waktu itu kan Olaf udah bilang kalau penyakit Kak Lena ini biar dia sendiri yang ngomong sama Bunda, Olaf udah janji jaga rahasia ini, Mas," pinta Olaf sedih tak punya pilihan lain.


Olaf sangat menyayangi Kakaknya tulus. Serpihan kenangan di masa lalu telah mereka lalui bersama. Lalu apakah pantas jika Olaf mengabaikan Lena dalam situasi buruk seperti ini?


Pasti tidak.


Mas Heru tampak menguap, matanya sudah memerah. Olaf mengantarnya ke kamar tamu rumahnya. Karena bagaimanapun Mas Heru dan Lena belum sah menyandang Suami-istri. Pernikahan Mas Heru dan Lena akan diadakan secepatnya di bulan ini.


Mas Heru membawa sejumlah koper lalu mengikuti langkah Olaf. Setelah itu Olaf pun naik ke atas ke kamar tidurnya. Melihat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Olaf pun terlelap mengingat besok dia akan sekolah di pagi hari.


***


Ayam berkokok membangunkan sejumlah rakyat muka bumi. Olaf merentangkan badannya lalu duduk menikmati keindahan pagi menghadap jendela yang belum ditutup gordennya sejak kemarin.


Olaf membuka jendela pagi lalu menghirup panjang udara segar pagi ini. Tak punya banyak waktu untuk melihat keindahan pagi. Olaf akhirnya pergi mandi mengguyur seluruh tubuhnya untuk bersiap ke sekolah.


"Pagi, Bun, Yah, Kak, Bang, Mas," sapa Olaf sudah rapi berseragam.


"Pagi, sayang, kamu ceria banget pagi ini," balas Bunda mengusap kepala Olaf lembut.


"Hehehe iya dong, Bun, karena semuanya lengkap, Olaf jadi tambah semangat," balas Olaf gembira.


Berbeda dengan Rama, wajahnya tampak sangar melihat ke arah Lena. Seketika, Olaf mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, saat Gio, selingkuhan Lena datang memukuli dirinya.


Olaf menginjak kaki Rama menyuruh Rama keluar sebentar. Rama keluar menuju teras rumah diikuti oleh Olaf.


"Lo jangan cari masalah deh pagi-pagi, Bang. Senangin hati Bunda itu gak mudah. Jangan lo rusakin momen hangat ini," ucap Olaf menekankan kata jangan.


"Lagian gue sebal sama Kakak lo, gak ada berubahnya semenjak remaja. Coba aja dia dulu gak keluyuran sama anak geng motor. Pasti hidupnya lurus tanpa ada orang yang gangguin hidupnya lagi," balas Rama.


"Tapi, Bang, Gio gak mungkin bakal gangguin Kak Lena lagi. Soalnya dia udah tahu bahwa Lena sudah menikah," jelas Olaf.


Olaf terkejut saat Lena tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Jadi Gio udah ke sini?" tanya Lena panik mendengarkan percakapan mereka.


Rama senang saat Lena akhirnya tahu dan mendengarkan semuanya.


"IYA SELINGKUHAN LO DATANG DUA HARI YANG LALU! LO MIKIR GAK SIH, OTAK LO DI MANA?"


Lena menampar pipi Rama. Olaf yang melihatnya merasa terkejut sekali. Suasana yang tadinya aman berubah menjadi rusuh.


Ayah, Bunda dan Mas Heru datang keluar rumah mendengar keributan yang ada. Situasi semakin buruk ketika Rama menceritakan semua aib Lena di depan keluarga besarnya. Rama muak dengan sikap angkuh Lena selama ini. Sudah sepantasnya dia menerima ganjaran semua ini.


Mas Heru yang mendengarnya merasa kecewa sekali dengan perbuatan yang tak senonoh oleh Lena. Orang yang sangat dicintainya bisa-bisanya berkhianat dengan dirinya.


Begitupun Ayah dan Bunda merasa malu dengan Lena. Bukannya akan bangga bahwa Lena sebentar lagi akan menikah namun ini semua berbeda perkara.


Lena menangis tersedu-sedu menghadap Heru yang sudah tampak tak respect kepada Lena.


Olaf merasa sedih, bisa-bisanya Rama tega kepada saudarinya sendiri untuk membongkar aib Kak Lena. Olaf sudah berusaha menutup rapat aib itu, agar semua orang mendapatkan kebahagian. Justru, Rama lah yang menghancurkan segalanya.


Jam telah menunjukkan pukul tujuh. Olaf akan terlambat jika datang ke sekolah. Tak ada semangatnya lagi untuk datang ke sekolah. Akhirnya Olaf memilih untuk bolos sehari karena kepalanya terasa semakin pusing melihat keadaan yang ada.


"Bunda, maafin aku," mohon Lena berlutut kepada Bunda.


Bunda tak kuasa menahan tangis. Padahal anaknya sendiri sudah akan menikah namun mengapa ada masalah sebesar ini.


Rama mendekati Olaf lalu berbisik.


"Ini semua salah lo, Laf, sepandai-pandainya lo nutupi bangkai pasti akan kecium juga."


Olaf berpikir dua kali, ternyata selama ini yang dilakukannya adalah kesalahan terbesar yaitu menutupi semua kesalahan Kakak kandungnya.


***


Pekanbaru, 04 Mei 2020


by, Indahoalkaf