
"Sial, ni anak pasti pake ngadu ke orang tuanya kalau dia gak bersalah!" batin Diandra memperhatikan gerak gerik Olaf yang sedang menelpon seseorang di sana.
Sisi mengejutkan Diandra saat dia terciduk mengintip Olaf dari balik jendela ruang BK.
"Kenapa lo takut ya bokap sama nyokap lo gak bisa dateng?" Kejut Sisi dari belakang yang sudah berada di ruang BK ini.
Diandra sedikit tersentak saat Sisi sudah berada di belakangnya.
"Takut? Lo salah tebak!" balas Diandra langsung pergi meninggalkan jendela saat terlihat Olaf sudah selesai menelpon seseorang.
Sisi memperhatikan Olaf yang duduk lalu memasang sepatunya dengan tergesa-gesa. Langkahnya sigap ke depan sambil melambaikan tangan kepada seseorang yang tak terlihat oleh Sisi dari jendela.
Karena penasaran Sisi keluar mengejar Olaf. Langkah Olaf sampai pada sebuah gerbang sekolah yang tidak terkunci.
"Olaf!!!!" Teriak Sisi mengejar Olaf yang sudah jauh tertinggal.
Sisi memperhatikan sekitar pos satpam. Muncul rasa curiga saat melihat Pak Tarno tidak berjaga di pos satpam pada jam pelajaran sekolah ini. Apalagi melihat gerbang sekolah yang tidak terkunci sama sekali. Walaupun curiga, Sisi kembali meredamnya terlebih dahulu dan kembali mengejar Olaf.
"Woy, Olaf ngapain lo ke sana lagi!" teriak Sisi ngos-ngosan mengatur pernapasan.
Olaf membalikkan badan ke belakang saat ada seseorang yang memanggil namanya. "Sisi? Ngapain lo ikutin gue?" tanya Olaf bingung.
Sisi menyela pertanyaan Olaf. "Harusnya gue yang nanya! Ngapain lo lari-lari ke sini lagi! Udah jelas tempat ini bahaya!"
Olaf menunjuk ke arah depan. "Tuh liat! Gue lagi ngikutin Sarah. Dari tadi gue liat dia keluar terus gue ikutin dia sampai sini!"
Sisi terpelongo melihatnya. Sarah berani-beraninya masuk ke batas zona merah markas sekolah setelah kejadian menggenaskan kemarin menimpa sahabatnya Riri.
Olaf melangkah ke depan, namun Sisi menarik tangan Olaf. "Lo yakin mau susulin Sarah ke sana?" tanya Sisi takut.
"Yaiyalah, Lo mau ada korban selanjutnya setelah Riri?" jawab Olaf tegas.
"Enggaklah, tapi gue takut kalau kita kejebak juga di sini," balas Sisi meyakinkan Olaf agar tidak masuk.
"Terus maksud lo kita harus ajak semua orang untuk ke sini? Kelamaan, keburu Sarah kenapa-napa dong. Yaudah hayu, gue yakin kita dapet jawaban pasti setelah ini," ujar Olaf meyakinkan Sisi.
Olaf bergandengan tangan bersama Sisi. Apapun yang terjadi mereka harus mendapatkan jawaban penyebab kematian Riri.
Dengan langkah yang super hati-hati mereka berdua masuk menuju pintu markas. Suasana gelap mencekam membuat mereka semakin takut untuk sekedar melangkah maju ke depan.
"Mana Sarah? Kok gak ada sih?" tanya Olaf pada Sisi.
"Gak tau nih! Okey, gue tau kita harus ke mana," balas Sisi lalu berjalan ke depan.
Olaf hanya mengikuti langkah Sisi. Langkahnya sembari berjalan tepat mengingat tempat Riri yang tewas menggenaskan kemarin.
"Sarah!!" Teriak Olaf kencang.
"Sarah! Ngapain ke sini lagi! Hayo kita keluar!" Teriak Sisi juga yang mencari keberadaan Sarah.
Sisi menghentikan langkahnya tepat pada pintu di mana Riri meninggal kemarin. Sisi masih ingat bagaimana Sarah terjatuh dan tertatih melihat mayat sahabatnya tergeletak di lantai dan bergelumur darah tertusuk pisau.
Olaf mengernyitkan dahi bingung. "Lo kok berhenti di sini Si?"
"Gue yakin, Sarah pasti ke sini!" jawab Sisi penuh percaya diri.
Sisi memegang knop pintu lalu membuka pintunya. Dan yap! benar, Sarah sudah berada di sini. Badannya membelakangi Sisi dan Olaf.
"Ya ampun Sarah! Ngapain lo ke sini lagi!" ujar Olaf menghampiri Sarah.
Olaf memegang tangan Sarah lalu badannya pun menghadap Olaf tepat di depan wajahnya.
Sepersekian detik, Olaf teriak ketakutan. Wajah Sarah berubah mirip menyerupai muka Riri. Olaf berpikir bahwa itu adalah arwah Riri yang gentayangan.
"Huaaaaa! Setan!" teriak Olaf ketakutan.
"Seriusan itu Sarah kan kok mukanya Riri sih?" ujar Sisi cemas.
Keduanya cemas sekaligus takut dan khawatir. Mengapa Sarah bisa berubah menjadi Riri? Dengan cepat mereka keluar pontang-panting menuju pintu namun naas pintu tertutup rapat terbanting dan terkunci rapat.
"Jangan lari kalian!" ucapnya.
"Tes!" Cairan kental kemerahan terjatuh dari atas mengenai baju Olaf. Bajunya yang putih kemudian menjadi kotor akibat darah yang tercucur dari atas sana.
Bulu kuduk Olaf berdiri tegak, tenggorokannya tercekat, badannya seketika kaku tak bisa digerakkan. Sisi yang melihat Olaf hanya bisa syok lalu terduduk di lantai dengan lemas.
"Kalian harus menyingkirkan satu orang sebelum ada korban selanjutnya setelah gue!" Ucapnya lantang.
Olaf menatap bingung matanya berkaca-kaca ketakutan.
"Maksud lo apa?" tanya Olaf tak mengerti.
"Olaf gue tau lo punya firasat buruk tentang gue, jadi please mengertilah!" jawabnya.
"Lo sebenarnya Sarah atau Riri?" tanya Olaf lagi.
"Gue? Gue Riri. Gue minjam badan Sarah kali ini. Gue harap lo bisa ngerti ya apa kata gue. Tolong singkirkan dia! Sebelum lo dan teman-teman lain mati menggenaskan kayak gue!" jelasnya penuh teka-teki.
"Tapi gimana caranya gue tahu kalau lo gak kasih tau siapa yang bunuh lo!" ucap Olaf.
"Gue gak punya banyak waktu untuk kembali ke dunia! Dan gue harap lo bisa kabulin permintaan gue biar gue bisa tenang di sisi-NYA. Tolongin gue ya," pintanya memohon.
Olaf menepuk pipinya kuat.
"Aw! Beneran ini nyata!"
Beberapa menit kemudian Sarah terjatuh pingsan lalu menghilang entah ke mana. Olaf mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Namun memang benar tak ada tanda-tanda Sarah maupun Riri di sini. Hanya Sisi yang jongkok sambil menutup matanya di ujung sana.
Olaf menghampiri Sisi lalu mengajaknya keluar markas. Kini mereka telah berada di luar. Baju Olaf yang kemerahan pun seketika sirna tak berbekas. Entah apa yang telah terjadi tadi. Hanya pesan singkat dari Riri yang membuat Olaf kebingungan.
"Ini bukan mimpi kan?" tanya Sisi kecemasan menggigiti kukunya.
"Bukan, ini nyata Si. Kayaknya Riri kasih kita clue buat cari orang yang bunuh dia deh!" ujar Olaf.
"Hah? Apaan gue gak ngerti!" jawab Sisi.
"Cekrek!"
Pintu markas terbuka menampakkan sosok Sarah keluar dari markas ini. Olaf dan Sisi seketika menatap kaget luar biasa. Sarah hanya berlalu meninggalkan mereka tanpa menyapa dan mengatakan apa-apa.
Mereka mengikuti Sarah sampai ujung gerbang sekolah. Olaf memberanikan diri untuk menarik tangan Sarah dari belakang.
"Rah! Lo gak kenapa-napa kan?" tanya Olaf.
Sarah melepas genggaman tangan Olaf dan hanya diam mengacuhkannya.
Sisi yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. Ini nyata bukan?
Suasana seketika berubah saat Lena dan Mas Heru memanggil Olaf dari ujung parkir sekolah.
"Olaf!" panggil Lena.
"Eh Kakak udah dateng!" jawab Olaf.
"Lo dari mana sih! gue telepon dari tadi gak lo angkat!" kesal Lena memperlihatkan ponselnya.
Olaf mengeluarkan ponselnya, memang benar ada empat panggilan tak terjawab sedari tadi.
"Waduh, maaf kak! Ayo ke BK, bantuin gue ya, please, gue kena panggil orang tua nih!" jawab Olaf sambil memohon ke kakaknya.
"Hm kalau bukan karena Mas kamu nih yang nyuruh kakak ke sini ogah deh ke sekolah kamu!" pinta Lena melirik Heru.
Olaf tersenyum tipis pada Mas Heru.
"Makasih banget mas, udah mau ngebujuk Kak Lena."
"Iya adikku, emang kamu buat masalah apa? Kenapa bisa dipanggil gini?" tanya Heru penasaran.
"Nanti Olaf ceritain deh Mas. Yang penting kalian masuk dulu deh, ke ruang BK, please ya," ajak Olaf sambil menarik tangan keduanya.
Lena memperingati Olaf. "Awas lo ya sampe ngerepotin gue! Gak bakal mau lagi gue ke sekolah lo!"
"Idih gitu amat punya Kakak," jawab Olaf.
***
Pekanbaru, 06 Juni 2020
by, Indahoalkaf