Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Menghilangnya Riri



Resah sudah dirasakan keduanya, Sisi dan Sarah dari sibuk gerasak-gerusuk melihat perpindahan jam yang dari tadi berlalu tanpa hasil yang jelas.


"Gimana dong? Riri belum balik juga sampe sekarang?" bisik Sarah yang telah duduk di sampingnya.


"Aduh gimana nih, gue khawatir banget sama dia, opsi ketiga gue bener kan, dia bakal kenapa-napa," ujar Sisi memegangi keningnya.


Melihat keduanya tampak panik, Ikhsan menegur mereka dengan tegas.


"Shut! Kalian pada kenapa sih? Fokus belajar? Jangan ngobrol aja!" tandas Ikhsan memelototi matanya.


Sarah yang melihat Ikhsan merasa kesal. "Diem lo! Lo gak tau apa-apa!" balas Sarah kasar.


"Emangnya ada apa sih? Cerita ke gue?" tanya Ikhsan penasaran.


"Lo yakin mau bantu kalau kami cerita?" ujar Sarah menantang Ikhsan.


"Yap, kenapa tidak?" Ujar Ikhsan.


"Riri menghilang!" teriak Sisi yang tampak stress dan lupa menjaga mulutnya untuk berdiam diri.


Sarah segera menatap lekat Sisi begitu pula teman sekelas serta Bu Intan melirik ke arah mereka. Ikhsan yang tak menyadari itu segera menatap bangku Riri yang kosong tak berpenghuni.


"Duh, Si! Mulut lo bisa dikontrol gak sih?" bungkam Sarah mengetuk tangannya ke meja.


"Eh iya sorry, gue kan keceplosan, abisnya gue pusing nih!" jawab Sisi.


Sisi menjadi pusat perhatian detik ini, semua siswa sibuk menanyakan keberadaan Riri.


"Sisi, ke mana Riri?"


"Eh gila, gue baru sadar Riri gaada."


"Perasaan tadi gue liat Riri tadi pagi dah. Kok hilang dah hilang aja."


Begitulah kira-kira pertanyaan dari teman sekelas Sisi tentang menghilangnya Riri.


Bu Intan, guru yang sedang mengajar pelajaran saat ini langsung memanggil Sisi meminta penjelasan.


"Sisi kamu ke BK sekarang! Saya udah telepon pihak BK saat ini!" suruh Bu Intan.


Sisi mengangguk mengerti mendengar suruhan Bu Intan. Kemudian dia mengajak Sarah untuk ikut dengannya.


"Oke Buk, Sisi pergi barengan Sarah ya Buk, karena kami yang tahu jelas asal-usul menghilangnya Riri," terang Sisi pamit pada Bu Intan.


Ikhsan yang mendengar itu tampak mengerutkan dahi. Bagaimana bisa Riri menghilang? Pasti ada yang disembunyikan oleh Sisi. Ditambah lagi Olaf tidak masuk sekolah dengan alasan yang tak dipercayainya.


"Gue ikut," teriak Ikhsan saat Sisi dan Sarah sudah berada diujung pintu.


Semua orang terkaget memperhatikan tingkah Ikhsan. Ikhsan berlari mengejar mereka namun langkahnya dicegat oleh Bu Intan.


"Apa hubungannya kamu ikut mereka?" tanya Bu Intan.


Ikhsan memikirkan alasan apa yang akan dikatakannya agar bisa ikut dengan mereka. Otaknya berputar seratus delapan puluh derajat dari biasa. "Saya tahu Riri di mana," balas Ikhsan ikut campur dalam urusan ini.


"Hah?!" Sarah dan Sisi kaget mendengar alasan Ikhsan yang sungguh tak masuk akal.


Ditambah lagi semua siswa semakin heran. Ada apa ini sebenarnya? Keadaan semakin rusuh banyak mulut yang menceritakan Riri, Sisi, Sarah, Ikhsan dan Olaf pun juga diceritakan dalam masalah ini.


Bu Intan melirik Ikhsan yakin lalu membiarkannya ikut dengan Sisi dan Sarah. Ikhsan memandang keluar lalu mengikuti jejak Sisi dan Sarah ke ruangan BK.


"Woy, tungguin gue!" teriak Ikhsan.


Sisi dan Sarah melihat Ikhsan yang berhasil menipu semua orang.


"Ih apaan sih lo! Ngapain lo bohong sama mereka semua? Gak lucu tau!" tukas Sisi menempeleng kepala Ikhsan.


"Gila lo ya, lo bakal bilang kronologi Riri di mana nanti? Udah deh lo gak usah ikutan dalam masalah ini," ujar Sarah


Ikhsan semakin yakin ada yang disembunyikan oleh keduanya.


Sarah dan Sisi menatap lekat satu sama lain. Walau bagaimanapun mereka butuh sosok lelaki untuk membantunya menemukan Riri.


"Yaudah oke, lo ikut kami, tapi jangan cari masalah lain ya? janji?" ujar Sisi yang langsung mengambil keputusan.


Ikhsan berjanji untuk tidak memperibet segalanya. Mereka pun menceritakan kronologi masalah yang telah berlalu sejak beberapa jam yang lalu. Merasa paham, Ikhsan mengangguk tenang dan berusaha menceritakan kronologi itu pada ruang BK nanti.


Sebelum itu Sarah kembali menelpon Riri beberapa kali. Nomornya masih aktif namun selalu saja tidak diangkat olehnya. Selagi ponsel Riri masih aktif, Sarah kembali melacak keberadaan Riri.


"Lo liat deh, dari tadi siang Riri tuh gak ganti-ganti posisi, tetap disitu aja," ujar Sarah melihatkan ponselnya pada Sisi dan Ikhsan.


Ikhsan langsung menyambar ponsel Sarah memperhatikan dengan fokus arah di mana Riri berada.


"Gue tau ini di mana, ini kan markas di samping sekolah yang gedungnya udah mulai ambruk itu," ujar Ikhsan yakin dengan siklus peta ini.


Sisi melirik kembali dan mengingat jalan samping sekolah.


"Iya bener nih, pas banget di samping sekolah. Tapi ngapain Riri di sana?" tanya Sisi semakin khawatir.


"Apa jangan-jangan Riri diculik terus dilarikan ke sana?" tebak Sarah curiga.


"Ih lo nebaknya gitu amat," balas Sisi cemberut.


"Okey, rumornya yang sering ke sana itu anak bandel dan suka bolos sekolah," ucap Ikhsan.


"Tapi waktu itu gue liat, banyak juga yang menjadikan tempat itu sebagai tempat belajar," balas Sarah melihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Kalau gitu mending kita yang ke sana, setuju gak?" usul Sisi tak sabar ingin menjemput Riri.


Ikhsan melotot melihat perkataan Sisi. "Jangan, kalian cewe gak boleh ke sana!"


"Eh tapi, kami kan mau ketemu Riri," keluh Sarah.


"Bener banget, gimana kalau Riri beneran di aniaya di sana? Gue khawatir banget," ujar Sisi was-was.


"Yaudah kalau gitu, sekarang kita ke sana. Tapi janji sama gue lo gak bakal boleh masuk ke dalam markas. Cukup gue yang masuk, kalian tetap di luar ya. Awasi gue!" ucap Ikhsan serius menatap Sisi.


Sisi yang ditatap seperti itu seketika berbinar melihat sepasang mata Ikhsan yang begitu tulus mengatakannya. Ketertarikan Sisi pada Ikhsan mulai bertambah. Sarah mengacaukan pikiran aneh dari Sisi dengan menepuk pipinya.


"Sadar! Riri dalam bahaya, Si," kaget Sarah membangunkan khayalan Sisi.


Detik ini juga mereka pergi ke luar sekolah dengan izin dari piket. Beberapa langkah ingin ke luar. Mereka langsung dicegat oleh Satpam.


"Mau ke mana kalian?" tanya Pak Satpam itu judes.


"Keluar Pak, udah diizinin kok sama piket," balas Ikhsan.


Sementara Sisi dan Sarah kelihatan aneh pada Satpam yang satu ini yang sedari tadi memperhatikan wajah mereka.


"Gak boleh! Gak ada yang boleh keluar!" larang Pak Satpam itu.


"Eh tapi kenapa Pak?" tanya Sisi penasaran.


"Sudah saya bilang tidak ya tetap tidak!" tandas keras Pak Satpam kasar.


Merasa terkejut dengan perlakuan Satpam kali ini. Ikhsan mulai curiga dengannya. Sarah memperhatikan gerak-gerik Satpam ini ada yang salah pada tampilan seragamnya yang berantakan.


Bel tanda pulang berbunyi, tak ada lagi alasan Satpam ini untuk mengurung mereka. Sisi tersenyum keji lalu mengambil kunci gerbang di atas meja pos dengan sigap.


"Dengar? Bukankah bel pulang sudah berbunyi?" ucap Sisi merebut kunci itu lalu membuka gembok itu dan Ikhsan mendorong pagar sekolah. Sementara Sarah melangkah duluan menuju markas.


***


Pekanbaru, 14 Mei 2020


by, Indahoalkaf