Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Antara gelap dan terang



"Gue kalau udah marah bisa meledak! Jangan sampai lo gue banting ke ujung sana!" bantah Olaf ketika Kenji tetap bersih keras mengikuti langkah Olaf.


Kenji terdiam sesaat melihat Olaf benar-benar tak ingin diikuti kali ini.


"Jika itu mau lo, oke fine, gue pulang sekarang."


Olaf melengkungkan bibirnya ke bawah menampakkan dirinya cemberut. "Oh yaudah silahkan lo pulang! Lagian gue gak mau buang-buang waktu lagi. Gue mau ke rumah duka sekarang!"


Olaf naik menuju motor Rama untuk pergi ke rumah Riri lalu meninggalkan Kenji yang masih menatap kosong ke arah Olaf.


Sepanjang perjalanan Olaf hanya diam. Keheningan menyertai mereka berdua. Rama merasakan suasana yang berbeda kemudian memilih angkat bicara.


"Udah jangan dipikirin cowo kayak gitu mah," ujar Rama menyentakkan Olaf.


Olaf kaget ketika Rama menyentakkan lamunannya. "Eh apaan gue gak mikirin dia!"


"Yaudah bagus, tenang aja hilang satu tumbuh seribu," balas Rama.


Olaf menghela napas panjang mulai berucap. "Bang, gue cuma heran, kenapa sih cowo udah sama yang satu mau aja boncengan cewe lain. Heran gue."


"Itu tuh cowo gak menghargai lo sebagai cewenya, lagian kalian abang liat gak ada cocok cocoknya," balas Rama menekankan kata cocok.


"Ih lo gitu amat!" Kesal Olaf.


"Serius deh, mending sekarang lo fokus sekolah dulu deh abis itu capai target utama lo buat raih cita-cita lo," nasihat Rama kepada Olaf.


"Sok bijak lo, kayak gak pernah bucin aja!" bantah Olaf mengejek Rama.


"Dih! Dibilangin ngeyel lo, yaudah serah lo!" jawab Rama.


"Hehehe, iya Bang, tumben lo baik sama gue? Ada apa apanya gak?" tanya Olaf sambil menepuk pundak Rama.


"Ada dong," jawab Rama merasa lega melihat adiknya itu mulai tersenyum tipis.


"Apaan?" tanya Olaf penasaran.


"Kayak gini terus ya, terus usilin gue, terus ceria, terus tersenyum bahagia, terus baik hati ke gue. Gue gak suka liat lo lemes kek tadi. Gak lo banget deh. Dan inget gue gak mau lo cengeng kayak tadi di kamar cuma karena masalah sepele. Gue gak mau adek kesayangan gue sedih. Pokoknya kalau ada masalah cerita sama gue," ucap Rama pada adiknya tulus.


"Ululuuuu, Abang gue bisa sweet gini," jawab Olaf sambil memeluk abangnya.


Rama senang melihat Olaf kembali ceria. Sebenarnya Rama tidak mempermasalahkan tentang Kenji terlalu detail. Yang dia fokuskan hanya kebahagiaan adiknya, mulai saat ini Rama harus memberi pelajaran kepada Olaf untuk lebih kuat menjalani hidup. Olaf harus kuat mental lahir dan batin. Jangan sampai hidupnya salah seperti Lena yang awur-awuran di masa lalu.


***


Sendu meratapi nasib yang disangka. Seorang siswi yang masih sehat bugar jasmani tanpa sakit tepat pada hari ini tewas begitu saja. Ya, itulah nasib Riri yang menggenaskan di markas samping sekolah.


"Pelan-pelan bang," ucap Olaf kepada Rama saat melewati markas sekolah.


Rumah Riri memang tak jauh dari sekolah sehingga Olaf bisa melewati markas sekolah. Markas itu ramai di datangi sejumlah polisi dan terlihat beberapa guru dan siswa yang mengerumuni daerah itu. Olaf ingin turun namun waktunya tak banyak, dia harus segera langsung ke rumah duka.


Beberapa menit kemudian Olaf sampai ke rumah duka. Olaf turun bersama Rama. Bendera putih telah terpasang tepat di depan rumah Riri. Sejumlah orang terlihat sedih akan kehilangan Riri. Olaf segera masuk berjumpa teman-temannya.


Mayat Riri sudah tergeletak di atas lantai. Badan Olaf seketika kaku melihat teman sekolahnya sudah tiada. Seharusnya hari ini, mereka akan berbahagia di rumahnya. Namun takdir berkata lain, Riri dahulu dipanggil oleh Sang Kuasa. Olaf menahan tangis yang tiba-tiba pecah melihat sejumlah sahabat karibnya tak henti-hentinya meraung memanggil nama Riri untuk hidup kembali. Ya itu teriakan Sarah.


"Riii, lo beneran ninggalin gue?" teriak Sarah tak terima Riri sudah terbaring pucat tak bernyawa.


Olaf segera memeluk Sarah dan menenangkannya. "Rah, udah lo sabar yah."


Tak menyangka kehadiran Olaf. Sisi seketika mendatangi Olaf dengan pelukan hangat juga. Mereka bertiga di keadaan berpelukan kali ini merasa kehilangan Riri yang begitu besar.


"Lo kok lama dateng sih!" khawatir Sisi kepada Olaf.


"Maaf, gue tadi ada problem sedikit," jawab Olaf.


"Ada apa lagi?" tanya Sisi penasaran kepada Olaf.


"Nanti aja setelah ini gue cerita sama lo. Sekarang gue yang nanya, ini Riri kenapa bisa seperti ini?" tanya Olaf.


Sisi mengajak Olaf menjarak dari kerumunan. Sisi menjelaskan dengan jelas apa yang terjadi tadi.


"Gue belum selesai cerita! Ada hal yang perlu gue selesaiin sama lo setelah melihat name tag di kantong Riri setelah dia meninggal," kata Sisi serius menatap Olaf.


Sisi kembali menjelaskan yang terjadi kepada Olaf.


"Jadi lo nuduh satpam itu yang bunuh Riri?" tanya Olaf.


"Sssstt, suara lo bisa dikecilin dikit gak!" tandas Sisi menutup mulut Olaf cepat.


"Hm, iya-iya, lepasin dulu!" balas Olaf menunjuk tangan Sisi yang berada di mulutnya.


Olaf menerawang jauh di dalam pikirannya setelah Sisi memberikan name tag Pak Satpam yang tercetak jelas disebuah karatan hitam pekat bertuliskan huruf Tarno.


Sebenarnya apa yang telah terjadi?


***


Kenji memarkirkan motornya kecewa di halaman rumah. Bisa-bisanya pilihannya kali ini berbeda dengan kemauan hatinya.


"Bodoh banget sih gue bilang gitu ke Olaf!" cetus Kenji menendang kerikil yang berada di depannya.


Kerikil itu lepas landas mengenai motor yang tak asing dilihat oleh Kenji. Dengan cepat Kenji menatap aneh, ada apa anak ini kembali lagi ke sini sambil menatapi motornya. Sudah beberapa bulan Kenzo tidak pulang ke rumah. Namun detik ini mengapa anak itu baru sadar untuk pulang ke rumah.


Langkahnya masuk ke dalam. Tak disangka ibu Kenji sudah berada bersama seorang gadis yang barusan ditemui Kenji beberapa jam yang lalu.


"Elo? Ngapain di sini?" tanya Kenji sambil menunjuk penuh kejut.


"Eh? Hai," sapa gadis itu kikuk.


Ibu Kenji menatap aneh. "Kalian sudah kenal?"


"Ini dia Bu, yang hancurin hubungan gue sama Olaf!" tandas Kenji.


Kenzo datang menghampiri mereka.


"Apaan sih salah-salahin cewek gue!" bela Kenzo.


"Oh jadi ini cewek Lo? Punya cewek dijaga Nzo, jangan biarin dia di jalan kayak tadi!" ketus Kenji menyibakkan kemejanya ke atas kursi.


Merasa gerah, Kenji merampas minuman dingin yang berada di tangan gadis itu.


"Eh itu kan punya gue?" ujarnya.


Kenzo yang melihat itu langsung naik darah atas perlakuan Kenji.


"Bisa lembut dikit gak ke cewek?"


"Urus tuh cewek lo! Jangan suruh suruh orang buat ngantar dia," jawab Kenji menyindir.


Gadis itu merasa bersalah atas kejadian tadi. "Maaf gue gak sengaja tadi. Tapi tadi serius gue benar-benar gak tau mau minta tolong sama siapa. Dan gue gak nyangka muka lo mirip banget sama Kenzo."


Kenzo melirik Rina, gadis itu bernama Rina. "Tuh kan dia udah minta maaf sama lo!"


"Oke gue maafin. Tapi lo harus ketemu sama Olaf buat bilang kalau kita gak ada apa-apanya," jawab Kenji menyuruhnya.


"Emang itu tujuan gue ke sini buat lo! Rina bilang dia ketemu kembaran gue, yaudah gue mau berdamai sama lo mulai detik ini," ucap Kenzo.


Kenji menatap heran. "Aneh lho bisa berubah secepatnya ini."


Kenzo menatap Rina. "Yaps, gara-gara dia."


Ibu hanya tersenyum melihat anak-anaknya yang sudah semakin dewasa dan sudah bisa berdamai seperti ini.


***


Pekanbaru, 01 Juni 2020


by, Indahoalkaf