
Senin adalah hari baru setelah weekend. Di sini setiap manusia bergerak menuju aktivitas nan panjang. Harusnya pagi ini Olaf memiliki semangat full dari pada hari biasanya, namun itu tak didapatkannya. Justru Olaf terlambat sarapan bersama keluarga kecilnya. Olaf keluar kamar dengan tergesa membawa tas dan setumpuk buku.
"Olaf, gih sini kamu sarapan dulu, sayang," ajak Bunda.
Olaf melihat ke arah jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh tandanya sepuluh menit lagi pagar sekolah akan di tutup.
"Maaf, Bun, kayaknya gak sempat lagi deh sarapan barengnya, Olaf dah telat nih," tolak Olaf.
"Ya ampun nak, kamu tuh tumben banget hari ini telat. Nih minum dulu susu nya biar gak tumbang pas upacara." Bunda memberikan secangkir susu lalu memasukkan roti selai kacang ke dalam bekal Olaf.
Olaf meminumnya tergesa hingga terbatuk.
"Uhukk!"
"Pelan-pelan sayang, kamu tuh duduk dulu kalau minum," ucap Bunda.
"Hehehe iya, Bunda, Olaf pamit pergi dulu ya, udah telat nih. Bye Bun, Ayah, Kak Len, Bang Rama," pamit Olaf kepada semuanya.
"Lo gak mau bareng gue aja? biar cepat dan gak telat," tawar Bang Rama.
"Yaudah kamu bareng Abang kamu aja, lagian Bunda takut kamu ntar bawa motornya ugal-ugalan," pinta Bunda.
"Eh tapi... baliknya ntar susah dong," jawab Olaf.
"Udah, ayo, nurut aja napa sih!" Bang Rama menarik tangan Olaf menuju motornya.
Olaf terpaksa mengikuti Rama. "Yaudah, bye semua, gue pergi dulu."
Mentari seakan menyapa Olaf dengan sinar teriknya. Alunan musik juga seakan menyesapi gelora hati Olaf. Semua seakan menyambut keadaan mood Olaf. Walau pagi ini dia terlambat namun dia sangat senang masih diberi keluarga yang sangat perhatian kepadanya.
"Oh ya Bang, gue lupa, harusnya pagi ini gue jemput Sisi di rumahnya," ucap Olaf baru tersadar.
"Siapa Sisi?" tanya Rama.
"Yaelah lo make nanya lagi, ya temen gue dong, Bang," jawab Olaf enteng.
"Terus gimana mau ke rumah Sisi?" tanya Rama memelankan motornya.
Olaf melirik jam kecil di pergelangan tangannya tak menghiraukan pertanyaan Rama. Merasa diabaikan Rama kembali fokus pada perjalanan menuju sekolah Olaf. Setelah menempuh delapan menit perjalanan akhirnya Olaf sampai tepat waktu sebelum pagar sekolah tertutup rapat.
Olaf turun dari boncengan motor, "Bang bagi duit dong?"
Rama mengernyitkan dahi, "Harusnya lo yang bayar gue, nih malah malak orang lagi!"
"Ih, pelit amat sih, Lo, Bang, tanggal muda juga. Baru gajian juga kan lo?" tukas Olaf memasang mata puppy eyes-nya. "Yayaya? dikit aja jadilah," rayu Olaf kepada Rama.
Rama tertawa melihat ekspresi adik kandungnya itu, comel tapi rese. Rama mengeluarkan uang dua ratus ribu dari dompetnya. "Yaudah ni gue kasi, tapi inget, jangan boros lo!"
Olaf memeluk abang kandungnya, bentuk kasih sayangnya. "Ini banyak banget malah bang, maaci lho."
"Yaudah gih ntar lo telat lagi tuh!" pungkas Rama.
"Okay, abang gue yang paling ganteng sedunia! tapi boong," teriak Olaf dari jauh.
"Saelah, bisa aja lo. Dasar tukang palak!" balas Rama
***
Olaf berlari menuju koridor sekolah semua tampak lengang ternyata semua siswa telah berkumpul di lapangan untuk mengikuti upacara bendera. Olaf berlari kencang menuju kelas untuk meletakkan tas dan setumpuk buku di tangannya. Terlintas Sisi dan temannya yang lain sudah berada di tengah lapangan upacara.
"Olaf, tumben banget lo lama datengnya," teriak Sisi dari ujung sana.
Olaf menghentikan langkahnya saat dia telah menginjakkan kaki di tengah lapangan, napasnya berderu ngos-ngosan akibat berlarian dari ujung ke ujung.
"Ya ampun, Laf, lo itu duduk dulu gih, sampe ngos-ngosan gitu, sini gue bantuin lo duduk," ucap Ikhsan mencoba meraih tangan Olaf.
Olaf menolak genggaman tangan Ikhsan. "Gausah, gue bisa sendiri kok!"
Olaf duduk di senderan pohon besar itu. Seketika Sisi menghampiri Olaf dan duduk juga di sampingnya.
"Nih minum, Lo keliatannya haus banget deh," kasih Sisi kepada Olaf.
Olaf menerima mineral lalu meneguknya. "Thanks ya, Si."
"Iya sama-sama, lagian lo sih tumbenan banget telat masuknya. Begadang lo ya? Mikirin apa?" tanya Sisi.
"Begadang apaan, justru malam kemarin gue lebih awal tidurnya. Oh ya, gimana tawaran lo tentang Band itu?" ucap Olaf sambil membuang mineral yang telah habis diminumnya.
"Serius lo?" tanya Olaf girang.
"Serius, tapi ada satu syarat Laf kata owner Caffe nya," pinta Sisi mengerucutkan bibirnya.
Olaf bingung seraya berkata, "Lo kok malah sedih gitu ekspresinya?"
Sisi menghela napas lalu berbicara. "Hm, tapi kita harus bayar pajak per bulannya, Laf. Duit dari mana coba? Itu pajak gede lagi perbulannya."
Olaf memutar bola matanya. "Gimana kalau kita menyisihkan uang masing-masing tiap bulannya?"
Sisi yang sang ratu matematika berkata, "Yaelah Olaf, tujuan kita nge-band bukan sekedar hiburan tapi untuk menghasilkan uang juga. Jadi kalau kita nyisihin uang untuk bayar pajak doang percuma dong."
Olaf cekikikan melihat tingkah Sisi yang sudah mulai perhitungan. "Kalau uang lo gak mau diusik sama sekali. Yaudah gue yang tanggung punya Lo."
"Ih kok lo gitu sih, gak fair banget. Ntar uang lo abis digue," tolak mentah Sisi.
"Jadi gue harus gimana? Masa batalin rencana," balas Olaf menaikkan bahu.
Sisi membuka ponselnya melihat notifikasi yang masuk. Lalu tersenyum.
Olaf penasaran mendekati dan merebut ponsel Sisi. "Apaan tuh?"
"Ih lo rese, kepo banget sih!" Tukas Sisi mengambil alih kembali ponselnya.
"Cie lo punya gebetan baru ya?" Tebak Olaf menceng-cengi Sisi.
"Bukan, tebakan lo salah. Kita dapet jawaban dari masalah yang tadi," ujar Sisi senang mengayunkan tangan Olaf.
"Apaan sih gue tambah penasaran nih," ujar Olaf.
"Kita ditawari kerja di Caffe itu, kebetulan lagi ada lowongan." jawab Sisi antusias.
Olaf meneguk ludahnya. "Lo yakin kita bisa kerja sambilan kuliah terus nge-band lagi?"
Sisi yang punya semangat tinggi dengan sangat yakin menganggukkan kepala. "Aah, olaffyouuu, gue senang banget sumpah."
Olaf mengernyitkan dahi seraya berbatin dalam hati. "Apa gue bisa menjani semua ini."
"Yaudah lo percaya gue deh. Ini seru pasti. Kalau lo gak mau join juga gak apa apa sih," ucap Sisi menyibakkan rambutnya lalu pergi ke lapangan upacara karena sudah akan dimulai.
"Eit, Si, tungguin gue. Iya iya gue join deh," balas Olaf bangun dari duduknya.
"Nah gitu dong. Itu baru temen gue," colek Sisi.
Ikhsan menggelengkan kepala melihat dua cewe ini dari tadi mengobrol saja. "Parah, lo pada gue gak diikut sertakan untuk menggibah."
"Idih! Siapa yang menggibah, sok tau banget lo!" Tandas Olaf.
Sisi tertawa gembira melihat Ikhsan lalu menjentikkan jari.
"Nih bocah lagi, gile lo ya, senyum-senyum liat gue, iya tau kok gue ganteng kan?" kata Ikhsan dengan PD merapikan rambutnya.
"Kepedean banget. Lo mau ikut join gak sama ka... ," Belum siap Sisi berbicara Olaf lebih dulu menginjak kaki Sisi sambil menyumpal mulut Sisi dengan tangannya.
Sisi meraung kesakitan. "Aw, apaan si Laf, gue mau ngomong sama dia."
Olaf menggelengkan kepala. "Pokoknya jangan, please jangan."
"Kenapa?" tanya Sisi.
Ikhsan yang lebih lama melihat tingkah mereka menjadi curiga. Ada apa dengan mereka.
"Siap, grak. Pemimpin upacara barisan menyiapkan barisannya."
Upacara bendera berlangsung hikmat. Sang pusaka bendera merah putih telah dikibarkan. Terik matahari juga sudah mulai memancarkan sinarnya.
Setelah 30 menit lamanya, akhirnya barisan dibubarkan. Olaf, Sisi dan Ikhsan kembali ke kelas untuk melanjutkan kegiatan belajar.
Begitupun sebaliknya guru-guru sebentar lagi masuk mengajarkan muridnya. Pagi yang sangat indah bagi mereka.
***
Pekanbaru, 07 April 2020
By, Indahoalkaf