Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Ruang Tiga dimensi



Pikiran Sarah melayang saat dia tersadar sudah berada ruang hampa putih tak bertapak. Tak ada bangunan seperti biasanya, semua kosong hanya ada segerombolan udara pekat yang terbang di setiap arah. Persis seperti ruang tiga dimensi, pikirnya.


Sarah berjalan lurus memandangi suasana kabut putih yang menyesakkan jiwa. Dadanya terasa sesak berada ditempat seperti ini. Ayolah kali ini Sarah akan mencari jalan keluar dari tempat aneh ini. Sarah berlari muak dengan cepat dari tempat ini. Semakin cepat pergerakannya ingin keluar tetap saja dia akan kembali di tempat yang sama.


"Huh sial! Gue ada di mana ini!"


Pandangan Sarah seketika fokus saat melihat dua pasang kupu-kupu yang terbang lurus dengan santai. Karena penasaran dari mana arah kupu-kupu itu berada Sarah mengikutinya dengan sigap. Sarah heran semakin dia mengikuti kupu-kupu itu, ruangan itu seketika berbinar binar dengan kilauan cahaya yang entah dari mana datangnya. Pergerakan Sarah terhenti saat kilauan cahaya putih seperti sang kilat menghampiri matanya.


"Aw! Tolong gue!" teriak Sarah terjatuh lemas sambil menunduk ketakutan.


Tiba-tiba ada uluran tangan yang mencoba membantunya. Sarah mendongak ke arah atas, terlihatlah gadis tinggi semampannya dengan memberi senyuman dan uluran tangan.


"Riri? Lo masih hidup kan?" tanya Sarah lekat.


"Maaf Rah, gue gak bisa barengan lo lagi ya," jawab Riri tetap tersenyum.


"Ri? Lo beneran nyata kan? Kita bisa main bareng lagi kan?" tanya Sarah sambil memegang erat tangan sahabatnya itu.


Riri menggeleng pelan. "Gak bisa, gue udah punya teman baru di sini Rah, lo bisa main bareng Sisi dan Olaf di sana."


Detik itu juga mata Sarah sudah berkaca-kaca dibuatnya.


Tes


Air mata Sarah keluar deras mengenai pipinya. Riri menyeka air mata yang keluar dari mata Sarah. "Lo jangan nangis gini dong, gue udah tenang kok di sini."


"Tapi Ri, gue maunya kita barengan lagi," tandas Sarah tak terima.


Riri berusaha meyakinkan Sarah terus namun tak berhasil. Malah Sarah tetap keras kepala ingin kembali bersamanya.


Riri berkata lembut sambil memegangi bahu Sarah. "Kita udah beda alam Rah! Gue harap lo bisa doain gue dari sana dan gue selalu support lo dari sini. Jangan lupa sering ngunjungi gue nantinya ya. Gue janji akan jagain lo terus walaupun dari atas sini."


Sarah semakin meraung sejadi-jadinya. Tangisnya pecah mendengar perkataan Riri barusan. Sarah segera memeluk Riri dengan erat.


"Jaga diri lo baik-baik ya! Oh ya satu pesan gue, kalian bisa laporin satpam sekolah kita itu! Dia seorang psikopat! Jangan sampai ada korban lain selain gue."


Sarah tidak mengerti apa maksud dari Riri barusan. Bayangan Riri perlahan-lahan menghilang menembus luar ruangan. Seketika itu pula Sarah terbangun dari alam sadarnya.


"Sarah! Alhamdulillah, akhirnya lo siuman juga!" ujar Sisi lega menghela napasnya.


Sarah terdiam ternyata yang dilaluinya tadi hanyalah alam bawah sadar.


"Riri gimana Si?" Satu kata yang keluar dari mulut Sarah setelah dia siuman.


Sisi dan Ikhsan sama-sama bingung untuk menjelaskan hal ini kepada Sarah. Sisi melirik Ikhsan agar dia yang menjawab pertanyaan Sarah dengan hati-hati.


"Hm jadi mayat Riri akan dibawa ke rumahnya. Lo ikut kan ke rumah jenazah?" tanya Ikhsan.


Sisi yang mendengar jawaban Ikhsan segera menginjak Kaki Ikhsan.


"Eh ****! Ngapain lo bilang kayak gitu!" bisik Sisi pelan.


Merasa heran, Ikhsan hanya menaikkan bahu.


Sarah menunduk sambil memasang wajah sedih dan menyeka air matanya yang terus-menerus keluar. Tak kuasa melihat Sarah, mereka pun menangisi kepergian Riri yang tak disangka-sangka.


Ponsel Sisi kemudian berdering. Menampakkan nama Olaf di layarnya. Sisi segera mengangkatnya.


Setelah mengangkat telepon, tidak ada suara Olaf yang terdengar oleh Sisi.


"Hallo Laf?"


Detik ke sepuluh barulah terdengar suara serak dari Olaf.


"Hem, Si."


"Lo kenapa? Abis nangis ya?"


"Enggak kok, gue gak apa-apa Sisi."


"Bohong lo, gue udah kenal lo sejak lama, Laf, sini cerita ke gue."


"Kenapa kalian semua gak ke rumah gue, hua?"


"Lo mau tau kebenaran yang sesungguhnya?"


"Iya kenapa Si? Ada apa?"


"Tepat hari ini ada kabar duka, teman kita Riri meninggal dunia sore tadi di markas sekolah."


"SERIUS LO?"


"Gue gak pernah bohong dengan hal ini, Laf."


"Udah nanti gue jelasin semua ke lo dan lo tau, gimana Sarah sekarang? Dia sedih banget gitu sahabatnya ninggalin dia."


"Oke-oke Si gue ngerti keadaan dia gimana. Gue otw ke rumah duka."


"Hati-hati lo, eh lo belum cerita ke gue, kenapa lo abis nangis? Nangisin apa?"


Olaf mengurungkan niatnya untuk menceritakan tentang Kenji saat ini. Fokusnya hanya pada kepergian Riri yang membuatnya semakin gelisah dengan keadaan yang ada.


"Gapapa, yaudah gue matiin ya,"


Nada telepon terputus.


Olaf berteriak di atas kasurnya stres.


"OH DUNIA MENGAPA BEGITU PELIK!"


***


Kenji memarkirkan motornya di depan rumah Olaf. Dengan sigap Kenji langsung masuk ke dalam rumah Olaf. Masih banyak orang-orang yang datang ke acara lamaran Kakaknya. Dengan keadaan seperti ini, Kenji sulit untuk menjangkau Olaf.


Kenji segera menghubungi nomor Olaf. Namun beberapa kali dia menelpon selalu saja di riject oleh Olaf. Kenji terus berjalan menuju pusat keramaian keluarga Olaf.


Detik itu juga, Kenji melihat Rama, Abang Olaf yang sudah ditemuinya di jalan tadi.


"Ngapain lagi lo ke sini?" tanya Rama menghadap Kenji sangar.


"Gue mau ketemu Olaf, Bang, bisa gak?" balas Kenji sopan kepada Rama.


"Gak bisa. Olaf udah nangis nangisan di kamar dan lo baru sadar apa yang Lo perbuat ke dia?" celah Rama kepada Kenji.


"Sorry, bang, itu bukan seperti yang kalian lihat! Saya tulus mencintai Olaf," jawab Kenji berani.


"Udah basi! Sana lo pulang, lagian Olaf juga udah gak mau ketemu lo lagi," usir Rama membawa Kenji keluar rumah.


Sedetik kemudian Olaf nampak turun dari tangga berganti pakaian serba hitam dan mata yang sudah sembab.


Bunda merasa heran dengan anaknya yang satu ini lalu menghampiri Olaf.


"Lho kamu mau ke mana Nak? Kok wajahnya sembab gitu?" tanya Bunda.


"Bun Olaf mau ke rumah Riri dulu, barusan Sisi kabari kalau Riri meninggal," balas Olaf kepada Bunda.


Bunda terkejut mendengar kabar duka ini sekaligus di hari ini adalah hari bahagia milik kakaknya. Namun berbeda dengan kehidupan orang lain yang sedang berduka.


"Innalilahi, yaudah kamu ke sana deh ya. Bunda titip salam sama yang lain, kamu hati-hati ya, Nak, jangan pergi sendiri. Ajak Abang kamu ke sana," kata Bunda sambil mengelus bahu Olaf.


"Baiklah Bun, Olaf pergi dulu," pamitnya.


Olaf melangkah menuju luar rumah. Seketika dia melihat Kenji yang sudah berada di teras rumah bersama dengan Rama.


"Olaf?" panggil Kenji cepat.


"Udah Lo pergi sana! Biarin dia sendiri!" tukas Rama menjegat tangan Kenji agar tak bisa mendekati Olaf.


Olaf yang melihat itu merasa tak peduli.


"Bang, anterin gue ke rumah Riri dong!" Teriak Olaf pada Rama.


"Kamu mau ngapain ke sana?" tanya Rama kepada Olaf.


Kenji yang mendengar itu segera menyambung perkataan Olaf. "Yaudah sama gue aja, Laf."


"Ogah!" jawab Olaf melirik Kenji.


"Yaudah oke Abang antarin kamu, tapi kenapa harus sekarang ke rumah Riri?" tanya Rama.


Olaf menunduk, matanya berkaca-kaca.


"Riri meninggal."


Sontak keduanya terkejut mendengar hal ini.


Kenji segera mendekati Olaf. "Sabar ya sayang."


"Udah jangan ganggu gue lagi!" kelakar Olaf menepis tangan Kenji dari bahunya.


***


Pekanbaru, 20 Mei 2020


by, Indahoalkaf