Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Hadiah Kecil



Sisi memukul Olaf kuat.


"Lo jahat! Jahat jahat jahat!"


Entah apa yang merasuki Sisi saat ini, pagi ini Olaf yang baru datang sudah dipukuli oleh sahabatnya sendiri.


Olaf mengelak pukulan Sisi. "Apaan sih Siii! Lo kerasukan apa tadi malam?"


Sisi semakin mendongak menatap Olaf kejam. "Gue serius sama lo!"


Olaf bingung ada apa yang terjadi sedangkan Sarah dan Riri hanya bergeming saling pandang.


"Jadi ada apa?" tanya Olaf sekali lagi.


Sisi memperhatikan sekitar tak ada orang yang akan diceritakan. Dengan nada kecewa dia memukul Olaf lagi.


"Iih, kasih gue penjelasan," terang Olaf.


"Lo jahat sama calon pacar gue," rengek Sisi.


Sarah tertawa jijik melihat drama sahabat pagi ini. Baginya Sisi sangat lebay untuk mengatakan semua hal ini.


"Eit, maksud lo? Calon pacar?" tanya Olaf bingung.


"Itu lho si Ikhsan," tambah Riri menyambung perkataan Sisi.


"Hah? Kenapa Ikhsan?" teriak Olaf hingga sang pemilik nama mendengar suara Olaf saat dia baru memasuki kelas.


Ikhsan melirik Olaf sambil tersenyum terpaksa. Mungkin saja, Ikhsan masih menyembunyikan luka tadi malam yang sudah terjadi.


Sisi menarik tangan Olaf menuju luar kelas saat orang yang ingin diceritakannya telah datang. Begitu pula dengan Sarah dan Riri ikut mengekori mereka tak mau kalah info drama pagi ini.


"Oke, Si, gue gak ngerti apa yang terjadi, coba lo jelasin dari awal sama gue," ucap Olaf serius pada Sisi.


"Ikhsan cemburu buta liat lo mesra-mesraan sama anak Crawl Imp kemarin," balas Sisi melingkari tangannya.


"Terus hubungannya sama gue apa ya?" jawab Olaf tak mengerti.


"Lo gak boleh nyakitin perasaan calon pacar gue secara terang terangan," tandas Sisi.


"Hah? Ini anak beneran kesambet, guys," teriak Olaf kepada siapapun yang mendengarnya.


Sarah dan Sisi hanya tersenyum mengiyakan perkataan Olaf.


"Laf, intinya, Sisi itu mau ngebilangin jangan sakiti hati seseorang walaupun lo gak suka sama Ikhsan. Lo juga harus jaga perasaan Ikhsan yang dari dulu udah mendem perasaan sama lo," bisik Sarah lalu pergi meninggalkan Olaf.


Detik ini Olaf merasakan rasa bersalah pada dirinya sendiri.


"Udah tenang aja, gak usah dipikirin mah hal beginian. Namanya juga cinta gak bisa dipaksain," bisik Riri kembali memperjelas penjelasan dari mereka berdua.


Ucapan Sarah dan Riri berbanding terbalik. Di satu sisi, Sarah seakan menyuruh gue untuk jaga perasaan. Di sisi lain, Riri nyuruh gue bodo amat soal cinta.


Dan ya, Olaf akan mengikuti perkataan Riri.


"Apa dia akan memaksa perasaannya pada Ikhsan?" pikirnya tak karuan Yap pasti tidak.


Lalu Olaf menghilangkan pikiran itu dan kembali melanjutkan pelajaran. Sisi tampak tak respect pada Olaf. Membuat dirinya semakin bingung apa yang seharusnya dilakukannya.


"Si, gue harus gimana dong? Biar lo gak ngambek gini sama gue," ujar Olaf.


"Gue gak ngambek, gue gak akan pernah bisa marah sama lo, tapi gue cuma kesal aja sama lo, karena udah ngebuat Ikhsan jatuh hati terus sama lo tanpa melihat gue sedikit pun," jelas Sisi.


"Ululuuu, Sisi sayang, gue kan udah bilang sama lo, gue gak punya perasaan lebih sama Ikhsan selain seorang sahabat," terang Olaf meyakinkan sahabatnya.


"Makasih ya, Laf, udah ngertiin perasaan gue, jawaban itu yang gue mau tanya sama lo dari dulu," ucap Sisi.


"Yaelah, gue baru tau lo suka mellow akhir akhir ini, dasar bucin," ledek Olaf.


"Yee mana gue tahu, ini perasaan gue gak bisa dikontrol. Eh, btw, lo udah jadian ya sama anak Crawl Imp itu? Siapa sih namanya?" tanya Sisi penasaran.


"Hahaha, Kenji maksud lo? Belum sih, gue cuma temenan doang kok," jawab Olaf jujur.


"Teman apa teman? Teman tapi mesra gak sih? Cieee," ledek Sisi menguoda Olaf.


***


Matahari sudah tenggelam menyisakan langit oranye yang biasa Olaf dan Sisi lihat di rooftop atas. Sudah menjadi kebiasaan mereka melihat sunset bersama. Karena bagi Olaf senja adalah bagian dari hidupnya. Senja selalu mengajarkannya seluruh kepenatan yang telah dilaluinya semenjak pagi akan sirna setelah melihat senja di sore hari.


Olaf memotret langit senja pada story WhatsApp nya. Tiga menit kemudian, ada nama Kenji muncul melihat view story WhatsApp Olaf.


Hanya sekedar melihat tanpa bertegur sapa.


Olaf mematikan ponselnya. Lalu beralih ke kamar bersama Sisi bersiap-siap untuk kerja hari ini.


"Eh, Si, gue bingung deh, Kenji kok gak ngabarin gue dari tadi ya?" tanya Olaf.


"Hayo, lo baper ya sama dia?" tukas Sisi kepada Olaf.


"Hah? Enggak kok, cuma ya kemarin kemarin dia nanyain kabar gue terus," jawab Olaf berusaha tidak mengakuinya.


"Lo hati-hati aja sama cowok sekarang, Laf, banyak yang modus yang ngebuat nyaman terus ngilang," ujar Sisi mengakui fakta itu.


Olaf memikir benar juga yang dibilang Sisi, tak seharusnya dia memikirkan orang yang tak penting baginya.


"Amit-amit gue gitu, Si," jawab Olaf memukul bahu Sisi pelan.


Tepat jam tujuh malam mereka berangkat kerja seperti biasa. Jalanan ibukota masih sama ramainya. Akhirnya mereka sampai di Caffe Sky Gold.


Olaf memakai apronnya rapi lalu mengisi condiment rak yang kurang rapi. Di rapikannya satu persatu agar kelihatan lebih bersih.


Saat Olaf menunduk ke bawah, Sendy, anak bar yang lagi bersama Sisi memanggil Olaf.


"Laf, tuh ada yang nyariin," ujar Sendy menunjuk ke arah depan.


Olaf berdiri lalu terlintas Kenji yang sudah berada di depan kasirnya.


"Ini buat lo, Laf," ucap Kenji memberikan kotak kecil berbungkus kertas kado yang unik berpita.


Olaf ragu untuk menerimanya, saat ini perkataan Sisi mendominan di pikirannya.


"Ingat cowok banyak yang modus."


"Apaan ini, Nji?" tanya Olaf bersikap biasa saja.


"Nih, hadiah buat lo," jawab Kenji lagi menyodorkan hadiah itu ke tangan Olaf.


Dengan terpaksa, Olaf mengambil kotak pemberian Kenji. Lalu mengucapkan terimakasih pada Kenji. Lalu Kenji berlalu meninggalkan Olaf. Semua karyawan menggoda Olaf dengan riuh.


"Cieee, di kasih kado."


"Sweet banget Kenji."


"Udah jadian ya kalian?"


Itulah yang Olaf dengar dari beberapa banyak yang mencoba menggodanya. Ikhsan yang melihat itu cuma bisa cemberut menerima kenyataan.


"Kalah saing lo, Bro," tukas Sendy pada Ikhsan.


Sisi menginjak kaki Sendy kuat, saat Sendy mencoba merendahkan Ikhsan di depan semua orang. Sisi tak tahan jika ada yang melukai hati seorang gebetannya.


"Apaan sih Si! Sakit tau!" keluh Sendy.


"Yaudah kalau tau sakit, diem aja," tandas Sisi.


Olaf membuka hadiah kecil itu perlahan terlihat beberapa pena warna-warni di dalamnya yang bermotif unicorn dan ternyata bukan hanya pena. Ada sebuah kotak pensil berwarna tosca. Yap, itu warna kesukaan Olaf.


Dari mana dia tahu gue butuh banget ini semua?


Olaf menutup loker lalu kembali bekerja dengan suasana hati gembira. Siapa yang tidak senang jika diberi sebuah hadiah bukan?


***


Pekanbaru, 22 April 2020


by, Indahoalkaf