Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Ditembak?



Olaf terbaring lemah di atas kasurnya. Merasa tak ingin diganggu Olaf menutup pintu kamarnya. Untung saja hari ini adalah hari off untuk bekerja. Jadi Olaf punya alasan untuk beristirahat. Badannya seakan terasa ngilu sekali akibat terhempas ke lantai tadi, bayangkan saja kakinya ditarik ke atas lalu badannya terjatuh mengenai lantai tak beralas pasti sakit sekali.


Olaf mencoba untuk duduk dan meneguk segelas air putih untuk menenangkan pikirannya. Bukan hanya fisik yang sakit namun seluruh pikirannya masih terngiang-ngiang akan masalah tadi sore. Tiba-tiba notifikasi chat muncul di layar hpnya.


Kenji : Laf, jadikan jalan? gue otw jemput lo ya


Olaf menepuk kepalanya lupa, karena kejadian tadi Olaf lupa jika ada janji dengan Kenji untuk pergi jalan malam ini.


"Aduh gimana nih, gue lupa lagi ada janji sama Kenji," pikir Olaf.


Olaf mencoba untuk berdiri tapi kakinya terasa lemah. Olaf mengetik pesan dan membalas pesan Kenji.


Olaf : Maaf Nji, gue lagi gak enak badan nih. Cancel dulu gpp ya?


Beberapa menit kemudian, notifikasi balasan dari Kenji masuk ke ponsel Olaf.


Kenji : Yaudah gpp, gue ke sana aja ya. Udah makan? Gue beliin bubur ayam ya.


Lingkar bibir Olaf naik ke atas, dia tersenyum membaca pesan Kenji.


Olaf : Boleh, makasih banyak Nji.


Send


Perasaan wanita memang luluh jika sudah ada yang perhatian kepadanya. Begitulah yang dirasakan Olaf saat ini. Hatinya sungguh berbunga-bunga. Mukanya memerah bukan main. Sungguh senang sekali.


Tok... Tok


"Masuk," ucap Olaf.


Pintu kamar Olaf terbuka menampakkan Sisi sudah rapi dengan seragam kerjanya. Sisi kaget melihat Olaf masih terbaring di atas kasur.


"Laf? udah jam berapa ni? Lo gak kerja?" tanya Sisi mendesak Olaf untuk bangun.


"Aduh!" ringis Olaf kesakitan saat Sisi menyentuh kakinya yang terasa ngilu.


"Eh lo kenapa? masih sakit ya jatuh di sekolah waktu itu?" tanya Sisi lagi.


"Aduh beb, ini lebih parah dari waktu gue ngejar lo di sekolah," balas Olaf kepada Sisi dengan nada yang menggebu-gebu.


"Jadi ceritanya lo izin kerja ni?" tanya Sisi.


"Gue libur beb, lo gak liat schedule ya?" ucap Olaf menunjukkan foto schedule di layar ponselnya.


Sisi merebut hp Olaf lalu melihatnya dengan lebih jelas.


"Waduh iya nih, lo libur, sia-sia deh gue ke sini," kecewa Sisi.


Olaf tertawa keras. "Makanya Si, lo kalau mau jemput gue kabari dulu kek, ni nyerocos PD banget."


"Iya gue kan kangen sama lo, kemarin gak bisa anter lo pulang karena gue jemput Lisa," jawab Sisi.


"Idih kebanyakan gaya lo mah, gih sana berangkat ntar lo telat. Titip salam sama anak-anak lain ya," ujar Olaf.


Sisi melihat jam dinding sudah waktunya untuk pergi. "Yaudah gue pergi dulu ya, lo istirahat aja, inget jangan keluyuran malam ini! Jaga kesehatan."


Tin.. tin


Suara klakson motor berbunyi dari bawah. Langkah Sisi terhenti ketika ada suara motor kemudian dia menuju ke balkon melihat siapa yang datang ke rumah Olaf malam begini. Setelah mengetahuinya, Sisi masuk ke kamar Olaf.


"Kenji datang, Laf, kalian mau ke mana? Kan udah gue bilang jangan keluyuran," omel Sisi tak suka.


Olaf sudah menduga itu Kenji, dia tak menggubris perkataan Sisi. Olaf segera berdiri tak sabar ingin bertemu Kenji. Langkahnya terpincang-pincang namun tetap dipaksanya.


"Ih, Laf, hati-hati, inget lo itu sakit," ujar Sisi mengimbangi langkah Olaf.


Sisi merangkul Olaf hingga teras rumah. Kenji turun dari motornya kemudian segera menuntun Olaf untuk duduk di kursi plastik yang ada di teras rumah.


"Yaudah gih lo duduk dulu," suruh Kenji lembut.


"Iya, makasih," balas Olaf.


Sisi yang dari tadi ingin berangkat kerja tidak jadi-jadi karena kehadiran Kenji.


"Eh gue berangkat deh, udah mau telat nih! Bye, dadah," pamit Sisi kepada keduanya.


Kenji mengangguk mengerti begitu pun dengan Olaf sambil melambaikan tangan kepada Sisi.


"Iya Si, lo hati-hati di jalan ya, makasih udah mampir," ujar Olaf senang.


Sisi berlalu dengan cepat mengendarai motornya. Malam ini menyisakan dua insan yang sedang dimabuk asmara di teras rumah Olaf.


"Gimana keadaan lo?" tanya Kenji.


"Itu kok bisa kaki lo memar gitu?" tanya Kenji penasaran memegang kaki Olaf.


"Biasa anak lasak jatuh juga bisa di mana-mana," balas Olaf sekedarnya.


"Makanya jangan lasak sayang, sini di elus kakinya biar sembuh," ujar Kenji mengelus lembut kaki Olaf.


Deg!


Perlakuan Kenji membuat Olaf baper setengah mati. Bisa-bisanya dia bersikap perhatian begini kepada Olaf. Mereka belum resmi ada ikatan, tapi Olaf sudah dibuatnya bawa perasaan begini.


Kenji mengelus lalu memijit pelan tangan Olaf. "Ada lagi yang mau dipijit?"


Olaf akui pijitan Kenji memang berasa ampuh di tangannya. Buktinya saat ini dia merasa lebih enakan dibanding tadi. Memang sentuhan kasih sayang bisa menyembuhkan segala penyakit ya.


Kenji mengejutkan Olaf yang terlihat termenung dari tadi. "Hey, lo kenapa?"


Olaf tersadar lalu menjawab gagap. "Ya a...pa?"


"Apa lagi yang mau dipijit sayang?" tawar Kenji sambil memasukkan helaian rambut Olaf ke samping telinganya.


Olaf merasa sangat istimewa di depan Kenji. "Udah cukup kok, Nji, by the way, thanks loh."


"Iya sama-sama sayang, apasih yang enggak buat kamu," colek Kenji.


Gila ni jantung gue gak berhenti berdebar kencang.


Olaf mencari bahan pembicaraan untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Eh, lo bawa apa tuh?" tanya Olaf menunjuk plastik putih di meja samping Kenji.


Kenji melirik ke samping lalu mengambil plastik itu. "Nih bubur ayam buat lo, pasti belum makan kan?"


Olaf menggeleng. "Belum, Nji. Lo tahu aja."


"Yaudah silahkan makan tuan putri. Mau di suapin atau tidak?" tanya Kenji.


"Enggak, gak apa-apa. Gue bisa kok makan sendiri," tolak Olaf.


Kenji berdiri melihat sejumlah bintang yang ada di atas langit.


"Terang ya malam ini, bintangnya kerlap kerlap nih," ucap Kenji menunjuk langit.


Olaf mendongak ke atas, benar juga yang dikatakan Kenji malam ini lebih terang dari biasanya. Olaf mendekat melirik bintang di samping Kenji.


"Kalau lo disuruh pilih lo lebih milih bintang atau bulan?" tanya Olaf.


Kenji berpikir sejenak. "Ya jelas gue milih bintang," balas Kenji.


"Kenapa harus bintang?" tanya Olaf.


"Karena bulannya udah milik Ayah sedangkan bintang milik gue," jawab Kenji.


"Siapa Bulan dan Bintang itu?" tanya Olaf penasaran.


"Bulannya ibu gue sedangkan Bintangnya orang yang disamping gue," goda Kenji kepada Olaf.


Olaf menunjuk dirinya sendiri. "Bintangnya gue?"


"Iya siapa lagi, sayang," balas Kenji.


"Sayang? Emang lo udah pernah nembak gue?" tanya Olaf.


"Oh jadi kamu mau ditembak dulu?" Kenji balik bertanya pada Olaf.


"Hm gimana ya," Olaf tertawa keras mendengar pertanyaan konyol Kenji.


Langit menjadi saksi bisu mereka berdua yang sedang bercakap-cakap satu sama lain. Harusnya dua insan ini sudah bersenang-senang di jalan namun apalah daya takdir tak memihak mereka keluar malam ini. Tapi berjumpa satu sama lain saja sudah membuat bahagia.


"Kalau misal lo disuruh milih, lo bakal ngapain habis ini?" tanya Olaf menyenggol lengan Kenji.


"Gue pengen miliki lo, Laf," jawab Kenji serius.


Olaf ternganga tanpa menjawab pertanyaan Kenji.


***


Pekanbaru, 27 April 2020


by, Indahoalkaf