Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Lamaran



Olaf terbangun dari tidurnya, semalam sehabis penat berjalan-jalan bersama Kenji lalu dilanjutkan kerja di malam harinya membuat Olaf semakin lelah, ditambah lagi kemarin dia bolos tak masuk sekolah. Semakin banyak tugas yang tertinggal pastinya.


Olaf merenggangkan badannya sejenak, beban pikiran kemarin seketika plong. Pikirannya sudah mulai jernih. Olaf sudah merasa membaik walaupun belum seutuhnya.


Pintu kamar Olaf terbuka menampakkan Bunda yang sudah rapi memakai kebaya putih bercorak batik dengan make up yang sudah terhias di wajahnya.


Olaf terloncat dari kasur lalu mengambil handuknya.


"Pagi Bun, tumben jam segini udah rapih banget."


Bunda mendekati Olaf. "Ya ampun, Nak, udah jam segini kamu belum mandi juga."


Olaf menggaruk kepalanya tak gatal. "Hehehe iya, Bun, abisnya Olaf lelah kemarin abis kerja terus bikin tugas juga karena kemarin Olaf gak sekolah."


"Kamu buruan mandi ya terus pake kebaya ini jangan lupa dandan yang cantik," ucap Bunda mengeluarkan tote bag plastik butik pada Olaf.


Olaf menerima tote bag itu lalu melihat sejenak dengan penuh tanya. "Ini siapa yang mau nikah Bun?"


Olaf mulai gregetan, jangan bilang dia akan dijodohkan seperti difilm-film yang dia tontonnya minggu kemarin.


"Bun tapi sekolah Olaf gimana? Masa mau bolos lagi? Yang ada entar nilai Olaf menurun diakhir semester kan mau ambil beasiswa prestasi," bawel Olaf tak menerima kebaya itu.


Bunda mengeluarkan kebaya Olaf beserta alat make up nya. "Sayang, kamu gak tau ya? Kak Lena kan mau dilamar Mas Heru nanti jam 10."


Olaf terhenyuk kaget baru kemarin rasanya masalah mengalir begitu berat namun hari indah langsung datang hari esoknya. Sungguh, adil sekali.


"Beneran Bun?" Olaf berloncat gembira.


"Iya sayang, kemarin Mas Heru datang bareng orang tua nya ke rumah mau ngelamar Kakak kamu, Bunda senang banget, akhirnya ada juga yang mau nerima Lena apa adanya. Sekali pun udah dikhianati, Heru masih setia pada Lena. Begitu besar kekuatan cinta," jelas Bunda dengan mata yang berbinar.


Pantas saja kemarin tengah malam sebelum Olaf tidur. Olaf melihat banyak bunga di ruang tamu. Namun Olaf tak terlalu memperdulikan itu karena saking lelahnya.


Olaf memeluk Bunda saat air matanya mulai menetes ke pipi. "Maafin, Olaf ya Bun, karena Olaf gak mau cerita sama kalian jadi kayak gini deh jadinya. Gak ada yang larang Kak Lena deh," ucap Olaf dengan nada yang sangat bersalah.


"Iya nak, yang lalu udah lupakan saja. Yang penting masalah ini udah selesai. Kamu harus ingat, kalau ada apapun atau masalah apapun kamu wajib sekali untuk memberitahu pada orang tua mu. Jangan takut karena ancaman kalau kamu memang benar Nak. Karena kebenaran itu lebih baik dari pada berbohong apalagi berpura-pura tidak tau," nasihat Bunda menepiskan air matanya.


"Huhuhu, iya, Bun, pasti Olaf ingat kok pengalaman berharga ini, makasih ya Bun, udah maafin Olaf," balas Olaf tulus.


Olaf baru teringat masih ada satu rahasia yang disembunyikannya. Penyakit serius Lena belum diberitahu ya oleh orang tuanya. Apa Olaf akan memberitahu kabar buruk ini di tengah kebahagiaan yang ada?


"Oh ya Bun, Olaf mau kasih tau sesuatu kalau Kak Le ...," Belum sempat Olaf mengatakan seluruhnya Lena datang menghampiri kamar Olaf.


"Bunda," panggil Lena.


Bunda segera melirik Lena memprioritaskan Lena karena hari ini memang adalah hari spesial untuk Lena.


"Yaudah nanti aja kita bicarakan ya, sayang, kamu mandi gih. Dandan yang cantik nanti Bunda ke sini lagi deh. Nanti sore jangan lupa ajak temen kamu ke rumah ya, biar rumah makin ramai," ujar Bunda lalu mengikuti langkah Lena menuju kamarnya.


Olaf berpikir sejenak tak mungkin juga Olaf akan mengatakan kabar buruk di hari bahagia.


Sebelum mandi Olaf mengabari wali kelasnya bahwa dia tak bisa masuk hari ini begitu pula Olaf telah mengabari Sisi untuk datang ke mari sore ini.


Olaf segera masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya.


***


Dekoran ini sangat elegan dengan adanya flower power. Warna khas ungu-putih menghiasi langit setiap dinding dengan kilauan semerbak cahaya yang masuk ke dalam rumah Olaf.


Olaf berjalan pelan memakai heels hitam yang biasa dipakainya untuk manggung. Jalannya tertatih tidak terbiasa, langkah demi langkah Olaf sampai pada gerbang luar rumah yang sedang di dekorasi. Olaf melihat seseorang yang tidak familiar di benaknya. Dia merasakan kebahagiaan juga datang saat tambatan hatinya datang dengan tidak disangka.


"Hey, lo kenapa gak bilang sama gue kalau mau ke sini?" sapa Olaf menepuk punggungnya.


Olaf terkejut melihat rambut Kenji yang sudah terpangkas tipis dari kemarin.


"Eh, lo pangkas rambut kapan? Perasaan kemarin masih panjang sampe ke poni," ujar Olaf memperhatikan rambut Kenji lalu memegangnya.


Orang itu menghentikan aktivitas memasang talinya. "Jangan pegang-pegang, Mbak siapa ya?"


Mendengar hal itu Olaf mengomel kesal. "Kenji? Ih ini gue, gak lucu ih bercanda lo."


Olaf sang tukang ngambek kemudian membelakanginya sambil merengut tak senang. Beberapa menit kemudian wanita separuh baya dengan dress birunya datang menghampiri Olaf.


Olaf yang melihat orang itu kemudian tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. "Bu Fika? Wah kok bisa tau rumah saya?


"Kamu cantik banget Olaf," puji Bu Fika sambil mencubit pipi Olaf.


"Hehehe, makasih Bu, Ibu juga gitu kok makin cantik aja," balas Olaf.


"Ibu baru tau, ternyata yang mau didekor ini rumah kamu," ucap Bu Fika sambil memberikan kartu nama usaha dekor milikinya. Terlihat dari kartu namanya saja sudah tampak mewah tertulis dengan tinta gold yaitu "Flower Miracle Decoration."


"Wah keren banget Buk, udah punya Caffe terus punya usaha dekor elegan lagi, pengen deh jadi pengusaha muda kayak Ibu," ujar Olaf terinspirasi pada Bu Fika.


"Makanya kamu ikuti jejak Ibu gini. Laf, eh ini kamu kenapa berdiri di sini sih? Bukannya liat kakak kamu lagi di dandan," tanya Bu Fika.


"Tadi tuh Olaf di sini liat tuh anak... ," ujar Olaf melirik ke belakang mengedarkan pandangannya.


"Ada apa Laf? Siapa?" tanya Bu Fika.


"Tadi tuh di sini ada Kenji, Ibu bawa dia sekalian ya?" tanya Olaf penasaran.


"Hah? Kenji? Anak Crawl Imp itu?" ujar Bu Fika.


"Nah iya betul banget, Buk. Tadi dia di sini makanya Olaf samperin," balas Olaf antusias.


"Apaan sih Laf? Kamu ngingo deh! Makanya jangan kepikiran Kenji melulu, hayo suka sama Kenji ya? Aman nanti saya bilangin langsung," ucap Bu Fika.


"Haduh bukan gitu buk," balas Olaf.


Olaf bingung, mengapa Kenji tidak mengabarinya terlebih dahulu kalau mau ke sini.


Olaf menelpon Kenji detik itu juga. Lalu yang Olaf anehkan adalah Kenji tidak mengaku kalau dia datang ke rumah Olaf pagi ini. Perasaan Olaf seketika curiga dengan anak itu.


***


Pekanbaru, 10 Mei 2020


by, Indahoalkaf