Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Persiapan Manggung



Sabtu adalah hari yang paling menyenangkan bagi seluruh siswa pasalnya hari ini sekolah hanya mengadakan kegiatan ekstrakurikuler sesuai minat dan bakat masing-masing. Khusus hari ini Olaf sebagai ketua ekstrakurikuler band sudah datang di ruangan khusus mereka yang sedang menunggu seluruh anggotanya.


Tampak seorang gadis berambut cokelat tergerai dengan memakai hoodie merah dengan celana jeans andalannya menyapa Olaf.


"Hoi, cepat amat lo datang, gak ngabarin gue lagi dari kemarin," teriak Sisi dari luar.


Olaf melihat Sisi yang masih berada di luar ruangan. "Masuk dulu gih, baru teriak teriak lo," lantang Olaf.


Sisi masuk kemudian berbisik pada Olaf. "Eh gue mau nanya nih serius."


"Apaan? Lo bikin gue penasaran aja," tanya Olaf.


"Lo ada hubungan apa sama anak kitchen seafood Crawl?" bisik Sisi.


"Oh, Kenji," balas Olaf menjauhkan telinganya pada mulut Sisi.


"Nah itu, Kenji, lo kemarin break bareng dia kan?" tanya Sisi kembali.


"Temen doang, orang dia ngajak gue break bareng, yaudah gue kebetulan laper kan," jawab Olaf santai.


"Yakin? Temen doang?" tanya Sisi ragu sambil menggoda Olaf.


Olaf berdehem. "Hm, iya temen, emang kenapa sih?"


Sisi menjawab cepat. "Ikhsan nanyain itu mulu kemarin sama gue dan lo tau dia sampe nge-chat gue."


Olaf membulatkan mata. "Serius lo?"


"Serius, ngapain gue bohong. Tapi gak apa-apa deh di chat sama dia. Biar sekalian anu..," ucap Sisi menggantungkan perkataannya.


"Anu? Pdkt?" tanya Olaf.


"Yap, benar sekali. Satu notifikasi dia itu bikin jantung gue berdebar kencang. Tau gak lo?" ujar Sisi mengungkapkan.


"Lebay, lo, kalau lo mau sama Ikhsan biar gue comblangin sekalian nih," ucap Olaf menyodorkan ponselnya untuk menelpon Ikhsan.


Sisi menolak. "Eh.. eh, gue mau usaha sendiri tanpa bantuan lo. Gue mau dia nerima gue apa adanya bukan karena lo atau sebagainya."


"Sinting, sejak kapan lo bijak gini, Si," tandas Olaf menepuk pelan kepala Sisi.


Beberapa menit mereka mengobrol datanglah anggota band yang lain termasuk Riri dan Sarah. Percakapan sederhana dimulai dari Olaf untuk kegiatan pagi ini. Semua telah siap sedia mengambil alih alat-alat masing-masing. Olaf mengambil microphone sebagai vokalis, Sisi sudah aman terkendali duduk di depan drum sebagai drummer, Riri sudah memegang gitar sebagai gitaris dan Sarah telah bersedia di depan keyboard sebagai pianis.


Anggota lain pun begitu dengan grupnya masing-masing. Kali ini grup Olaf yang akan memegang alih peralatan. Mereka akan berlatih untuk persiapan manggung di Caffe nanti.


"Ready guys? ayo kita mulai dari sekarang!" ujar Olaf kepada timnya sambil bertos ria.


"Oke kita mulai ya guys, semangat," teriak Sisi.


Setelah beberapa kali take, akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi latihan. Giliran grup kedua yang akan mengambil alih.


Olaf keluar melirik keadaan sekolah sambil meneguk air mineral. Tepat di lapangan basket sana Olaf melihat Ikhsan yang sedang memasukkan bolanya ke ring. Gayanya memang cool dan banyak orang-orang meneriaki nama Ikhsan untuk menyemangatinya.


Olaf memangil Sisi cepat. "Siiiiii, buruan sini!" teriak Olaf.


Sisi datang dengan menggenggam ponselnya fokus. "Iya, apaan sih Laf? Gue lagi nge game nih, ganggu aja."


Olaf merebut ponsel Sisi membuat Sisi kesal dengan perlakuan Olaf. "OLAF! Balikin!"


Olaf menunjuk ke arah lapangan menujuk Ikhsan. "Tuh, lo semangatin dia deh, bawa minum sekalian untuk dia," suruh Olaf kepada Sisi.


"Lo yakin? Gue takut nih," balas Sisi yang sudah memegang air mineral.


"Ini kesempatan lo untuk menarik perhatiannya. Kapan lagi kan?" ucap Olaf menyemangati Sisi.


"Iya juga sih, oke gue ke sana," balas Sisi sambil berjalan ke arah lapangan.


"Good luck, Si, moga berhasil," teriak Olaf sambil melambaikan tangan.


Perlahan-lahan Sisi mulai datang mendekati area basket sekolah. Kedatangannya banyak di perhatikan oleh kaum wanita yang juga sedang menyemangati anggota basket lainnya. Kini, Ikhsan kembali memasukkan bola basket ke dalam ring. Sorakkan pemain bersorak gembira dan riuh. Berkat, Ikhsan sekolahnya unggul daripada lawan.


Sisi melihat Ikhsan tak berkedip. Kedatangan Ikhsan tak di sadari Sisi. Ikhsan mengedarkan pandangannya ke sekitar. "Si? Ngapain lo di sini? Olaf mana?"


Dari ujung sini Olaf tersenyum karena Sisi dan Ikhsan sudah tampak dekat. Tiba-tiba ponsel Olaf bunyi tanda ada pesan masuk di hpnya. Di bukanya lalu dia berdehem sambil menghela napas.


Olaf segera membalas.


Olaf : Siang juga, gue udah bangun kok dari tadi.


Send.


Dari arah yang tak disangka, Sarah dan Riri datang menghampiri Olaf.


"Laf, kita ke Caffe Sky Gold yuk siang ini? Sekalian mau liat tempat bandnya. Gladi resik gitu," ujar Sarah memohon.


"Iya, Laf, gue pengen ke sana juga nih, lagian kan anak band lain masih latihan nih, jadi kan kita free," tambah Riri.


Olaf memikirkan sejenak lalu masuk dan bertanya kepada anggota lainnya. Mereka tak keberatan. Jadi sah saja jika Olaf dan teman yang lainnya untuk pergi ke Caffe sekarang ini.


Olaf keluar membawa tas. "Yaudah, hayu, lo panggil Sisi di lapangan ya, ajak dia sekalian. Gue nunggu kalian di parkiran."


Olaf melangkah menuju parkiran. Nada pesan kembali berbunyi. Olaf membacanya dengan heran. Bukannya dia geer tapi anak itu selalu mengingatkannya hal sederhana yang tak perlu dilakukannya.


***


Sesampainya di Caffe Sky Gold. Olaf bersama teman-temannya di sambut ramah oleh crew dan sobat kerjanya.


"Olaffff, Sisiiii, ngapain ke sini?" tanya ramah Kiko kasir bar pagi ini.


Kiko tampak masih santai karenanya pagi ini belum banyak pengunjung yang datang.


"Eh, Kak Kiko, kami mau liat tempat panggung sekalian nongkrong ajasih," balas Olaf.


"Oh mau manggung ya ntar malam?" tanya Kiko.


"Iya kakak, nanti jangan pulang dulu ya, liat kami manggung dulu," ujar Sisi tersenyum kepada Kiko.


Kiko menggangguk sambil tersenyum tipis. "Oh tenang aja, gue pasti liat kalian kok, soalnya malam Minggu kemarin kan diisi sama grup SMA Angkasa. Nah malam ini dari spesial dari sekolah kalian, masa iya gue gak lihat. Semangat ya, gue lanjut kerja ya, ada customer datang," ujarnya sambil mendekati customer tersebut.


"Yaudah, Kak, lanjut aja, santai," balas Sisi.


"Eh gue, mau ke wastafel bentar ya, basuh muka, kucel banget nih, muka gue," ujar Olaf lalu berjalan menuju wastafel.


Olaf berdiri di depan kaca besar yang menampakkan wajahnya. Dihidupkannya kran air. Air mengalir begitu deras kemudian Olaf membasuh seluruh wajahnya. Segar sekali yang dia rasakan saat ini. Setelah membasuh wajah, Olaf mengeringkan wajahnya dengan tisu lalu menaburkan bedak tipis beserta lip balm di bibirnya agar tak kelihatan pucat.


"Udah cantik kali, Mbak," kejut Kenji yang tiba-tiba datang dari samping.


Wastafel Caffe memang terhubung langsung pada restoran Crawl Imp seafood jadi siapapun yang lewat wastafel pasti langsung terlihat koki restoran dari arah sana.


"Lo kok bisa di sini?" lirih Olaf.


"Ya, bisalah gue masuk pagi hari ini, terus nampak Mbak cantik di wastafel," balas Kenji merayu Olaf.


"Panggil Olaf, bukan Mbak, ini bukan waktu kerja gue," ucap Olaf tak terima dipanggil dengan sebutan 'Mbak'


"Oh oke, Laf, terus ngapain lo ke sini?" tanya Kenji penasaran.


"Gue ntar malam manggung di sini," jawab Olaf.


"Serius lo? Gue ikut ya, mumpung masuk shift pagi nih," mohon Kenji pada Olaf.


"Ya serah lo, tapi ini kan malam Minggu, lo gak nge-date gitu sama pacar lo?" tanya Olaf.


"Shit ngapain gue nanya aneh-aneh. Dasar nih mulut bar bar amat," batin Olaf.


Kenji tertawa terbahak-bahak. "Semua malam sama aja bagi gue."


"Oh yaudah," balas Olaf.


"Ntar malam gue jemput lo, gimana?" tawar Kenji kepada Olaf.


Olaf diam sejenak. Memikirkan keadaan.


"Heleh, tenang aja, pergi bareng doang, masa gak boleh," tukas Kenji.


"Yaudah iya, tapi lo tau gak rumah gue?" tanya Olaf.


"Jl. Mahkota kan?" ujar Kenji.


"Yap bener, masih inget aja lo. Ntar gue share lok balik deh," balas Olaf sambil membuka ponselnya.


Terlihat di sana ada pesan baru dari Ikhsan.


Ikhsan : Ntar malem gue jemput lo ke rumah ya, kita perginya bareng aja ya Laf.


Read.


Olaf segera membalasnya.


Olaf : Maaf San, lo telat ngomong sih. Gue udah janji sama yang lain.


Send


Kenji melambaikan tangannya tepat pada wajah Olaf. "Hey, dari siapa?"


Olaf terkesiap. "Eh, bukan siapa-siapa kok."


"Okedeh, ntar jam 7 gue udah di rumah lo deh," ujar Kenji.


"Iya, Kenji," balas Olaf.


Raut wajah Kenji sangat bergembira lalu dia berjalan menuju restoran sambil mengepalkan tangannya menang seraya berkata. "Yes."


***


Pekanbaru, 20 April 2020


by, Indahoalkaf