Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Bingung



Kenji melihat panggilan dari ponselnya dengan segera dia menjawab telepon itu.


"Halo, sayangku Olaf ada apa?"


"Eh jangan pake sayang sayangan segala deh."


"Kamu kenapa lagi sih Laf? Ngambek lagi?"


"Ih lo bikin gue naik darah."


"Oh kamu pms ya? Iyadeh maaf nanti Kenji mampir ke rumah beliin kamu eskrim ya."


"Tadi kan lo udah ke sini, kenapa pura-pura gak kenal? Terus kenapa gak ngabari gue dulu?"


"Apaan Laf, kamu ngaur ya? gue lagi kerja nih. Mana bisa gue mendarat ke sana. Ribet banget nih, ntar gue telepon balik deh."


"Tapi Nji..."


Kenji mematikan teleponnya, lalu kembali me-repeat order pesanan yang begitu banyak pagi ini.


Olaf berusaha tenang saat beberapa menit Kenji mengirim fotonya sedang bekerja di dapur Crawl. Olaf menggigit jarinya, memikirkan apa yang terjadi tadi pagi. Dengan hembusan napas panjang. Olaf menyandarkan punggungnya pada kursi sofa empuk ruang tamunya. Jadi yang dilihatnya tadi itu siapa?


"Selamat datang, mari masuk," sapa seluruh penjaga tamu pada pintu rumah Olaf.


Bunda kemudian datang menyambut Heru yang telah datang bersama kedua orang tua dan kerabatnya. Olaf yang melihat itu terloncat girang sekaligus ingin minta maaf pada Heru.


"Mas Heru, Olaf kangen," ucap Olaf sambil memeluk Heru erat.


Semua orang memperhatikan tingkah laku Olaf yang tiba-tiba aneh ini. Heru pun sama begitu tapi dia tetap membalas pelukan adik ipar tercintanya.


"Makasih ya Mas, udah gak marah sama Olaf," ucap Olaf.


"Yaudah besok kalau ada apa-apa, ceritain ke Mas jangan ditutupi lagi ya. Saling terbuka kunci kejujuran," jawab Mas Heru mengusap kepala Olaf.


Olaf tersenyum pada Mas Heru tak lupa menyalami kedua orang tua Heru dengan sopan. Bunda dan Ayah pun begitu menyilahkan keluarga mempelai laki-laki untuk masuk ke acara.


"Sayang kamu ikutan foto yuk sama Kakak kamu," ajak Bunda pada Olaf.


"Siap Bun," balas Olaf lalu mengikuti mereka semua.


***


Sisi menghentakkan kakinya pada tembok samping kantin.


"Kesel deh gue, Ri. Kenapa Ikhsan selalu nelponin Olaf segitu amat sih. Udah dibilang juga Olaf gak sekolah karena Kakaknya mau lamaran, gak percayaan banget sama gue," keluh Sisi kepada Riri.


Jam istirahat kali ini mereka sepakat untuk membelikan hadiah untuk Kak Lena di depan sekolah. Sisi, Riri dan Sarah sudah berjaga-jaga agar diperbolehkan keluar gerbang sekolah.


Mereka bertiga tidak sekaligus datang ke piket untuk izin ke sana. Hanya satu orang yang akan berpura-pura keluar untuk sekedar membeli pena atau spidol.


"Biar gue yang ke piket. Kalian nunggu di balik pohon besar deket pagar ya," ujar Riri.


Riri dengan percaya dirinya berjalan menuju piket sekolah lalu menemui Bu Rena.


"Buk, saya mau izin ke keluar bentar dong buk, mau beli spidol permanent buat tugas," ujar Riri pada Bu Rena yang menjadi penjaga piket saat ini.


"Jam istirahat udah tinggal lima belas menit lagi kamu yakin mau keluar?" tanya Bu Rena.


Riri mengangguk mantap. "Iya serius Buk, bentar doang kok."


Bu Rena menyuruhnya untuk mengisi data sebagai syarat agar diperbolehkan keluar pada satpam. Setelah di tanda tangani oleh Bu Rena. Sarah segera menerimanya dengan senang hati lalu berlalu.


"Eh Riri, kamu perginya harus sendiri ya, saya hanya memperbolehkan satu orang untuk keluar gerbang," teriak Bu Rena.


Riri terdiam sesaat lalu mengerutkan kening. "Baiklah Buk."


Riri mengkode Sisi dan Sarah dari jauh untuk tetap di sana. Mereka yang mengerti kode dari Riri langsung mengangguk cekatan.


Riri menyapa satpam lalu memberikan secarik kertas dari piket tadi. "Pak ini surat izin saya."


Satpam melirik surat itu lalu berbicara. "Kamu mau ke mana?"


"Saya mau beli spidol ke depan bentar Pak," balas Riri.


"Lho kamu kan yang dulu terlambat masuk sekolah terus nyogok saya pake rokok?" tanya Pak Satpam yang masih mengingat kejadian waktu itu.


"Aduh mati gue, lagian gue gak kepikiran kalau gue ada masalah nih sama Pak Satpam. Kalau tau begini mending Sarah yang ke piket tadi," batin Riri panik.


"Kok diam! Saya lagi bicara sama kamu! Kamu mau ke mana? Gak ngakalin saya lagi kan?" tanya Pak Satpam dengan nada membentak Riri.


"Please Pak, waktu itu saya khilaf mau masuk sekolah yaudah minta tolong bapak untuk bukain gerbang sebagai permintaannya saya beliin bapak rokok deh bukan maksud untuk nyogok kok, asli kok," jawab Riri dengan berhati-hati.


"Yaudah silahkan keluar tapi cuma lima belas menit ya," ujar Pak Satpam.


Tak menyangka dengan respon Pak Satpam yang tiba-tiba menjadi sangat baik.


Aduh Riri pusing harus berbuat apa saat ini. Bagaimana caranya dia untuk mengajak Sisi dan Sarah untuk ikut bersamanya. Sedangkan dia punya masalah di sini. Riri berlalu keluar lalu tangannya ditarik oleh satpam itu.


"Kena kau!" ujar Pak Satpam itu membungkam Riri dengan tangan kasarnya.


Riri dibawa kabur ke sebuah rumah kosong dekat sekolah yang menjadi markas anak berandalan sekolah berkumpul. Riri terisak dan mencoba teriak meminta pertolongan.


"Tolong!!!" jeritnya tak berdaya saat Satpam itu menyumpalkan kain dalam mulut Riri.


Riri dibiarkan tergeletak di bawah lantai kotor yang sudah dibasahi darah merah segar di dalam ruangan. Riri melihat ngeri, air matanya selalu menetes ke pipi dengan deras. Panik sekali rasanya, entah bagaimana nasibnya setelah ini. Apakah dia masih bisa hidup atau mati di tempat ini?


***


Sisi dan Sarah masih menunggu kehadiran Riri di balik pohon besar. Namun, sampai saat ini Riri tidak datang ke tempat yang sudah mereka janjikan.


"Duh! Riri lama banget sih!" ujar Sarah sambil menggaruk-garuk tangannya yang sedari tadi digigiti nyamuk.


"Lo punya firasat buruk gak sih Rah?" tanya Sisi melihat ke arah gerbang.


"Maksud lo Riri kena masalah gitu di pos satpam?" tanya Sarah.


"Hm, ya mungkin, habisnya bentar lagi lonceng bunyi tapi dia gak ke sini-sini," balas Sisi.


"Gimana kalau kita cek ke sana?" ujar Sarah.


"Ide bagus tuh!" jawab Sisi.


Mereka keluar dari balik pohon besar itu kemudian langsung berlari menuju pos satpam. Setelah tiba di sana, tak ada tanda-tanda orang di sini. Riri tak ada di sini, Pak Satpam pun juga tak stay menunggu pos Satpam.


"Haduh Riri? Ke mana sih lo?" panik Sisi mengedarkan pandangannya.


Bel masuk pelajaran sudah berbunyi, langkah mereka terhenti saat ada guru yang menegurnya.


"Eh kalian, ngapain masih di sana! Ayo pada masuk, udah bel tuh!" ujar Bu Rena piket.


"Iya iya buk," jawab Sarah.


Sisi mencoba berpikir jernih.


"Menurut gue ada tiga opsi Rah,


Opsi pertama, Riri pergi sendirian keluar karena bingung gak ada alasan buat ngajak kita.


Opsi kedua, Riri masuk BK karena ketahuan mau ajakin kita keluar.


Opsi ketiga, Riri ada apa-apa di luar sana," ujar Sisi pada Sarah.


"Lo serius dengan opsi ketiga?" tanya Sarah semakin khawatir.


"Yaudah kalau gitu kita cek ke BK dulu deh Riri nya," balas Sisi berlari bersama Sarah dengan cepat.


Bagaimanapun Riri merupakan sahabat karib mereka yang tak mungkin mereka biarkan begitu saja.


***


Pekanbaru, 11 Mei 2020


by, Indahoalkaf