Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
My Sister go out



Olaf menguap sambil mengucek matanya ngantuk. Saking ngantuknya, Olaf baru tersadar ia masih mengenakan seragam sekolah. Ketika itu Olaf terlonjak kaget melihat jam di dinding kamarnya.


"What? Udah jam 10 malam aja."


Selama empat jam, Olaf tertidur pulas tak menyangka tergeletak di samping kasur nan empuk. Mungkin gravitasi kasur lebih besar saat Olaf kelelahan. Olaf menghadap cermin besar kamarnya. Terlihat sosok mata yang sipit dan rambut yang berantakan. Olaf membuka tasnya mengambil spray face untuk membersihkan sedikit noda di wajahnya.


Olaf mengernyitkan dahi, ada sebuah benda persegi berwarna peach. Ada banyak notifikasi panggilan tak terjawab begitu pun message. "Aduh, hp Kak Lena belum gue balikin."


Dengan segera Olaf melangkah menuju kamar Lena. Setibanya di depan Kamar Lena ada aturan masuk menuju pintu kamarnya. Disini tercatat. "Welcome, budayakan mengetuk pintu sebelum masuk. Dan jika tidak penting, jangan memasuki area."


Tanpa basa-basi Olaf tak menghiraukan aturan aneh yang telah dibikin Kakaknya itu. Lagian pintu Kamar Lena juga telah terbuka sedikit jadi untuk apa Olaf mengetuk pintu kamar lagi, pikirnya.


"Kak Lenaaaaaaaaa, gue datang bawain hp lo!" Teriak Olaf memenuhi isi kamarnya.


"Kak, Lo di mana sih?" cari Olaf mondar-mandir sampe menuju toilet kamar Lena.


Derasan shower kamar mandi terdengar dari luar. Olaf berpikir bahwa Lena sedang mandi sehingga tak mendengar ada keberadaannya di sini. Olaf duduk di atas meja rias Lena. Sembari menunggu, Olaf mengecek ponselnya.


6 panggilan tak terjawab.


"Hah? Mas Heru? Ngapain juga nelpon gue segala," batin Olaf.


Olaf membuka sejumlah pesan di ponselnya, tak ada yang menarik perhatiannya kecuali pesan dari Mas Heru. Olaf membacanya.


***Mas Heru : Laf, Lena di mana ya? Udah balik belum? Mas telpon belum diangkat-angkat nih. Belum ada kabar dari dia. (19:34)


Mas Heru : Laf, mas ada di bawah nih. Kamu ngapain di kamar dari tadi? Ketiduran? (21:30***)


Olaf pusing apa yang terjadi. Itu pesan Mas Heru setengah jam yang lalu. Dan satu lagi yang jadi pertanyaannya. "Jadi, jika Lena belum pulang. Yang ada di kamar mandi itu siapa?"


Olaf kembali menggedor-gedor pintu toilet Lena sembari memanggil kencang namanya. "Kak Lena... Kak Lena... Lo di dalam kan? Jawab!"


Seketika pintu kamar mandi terbuka yang menampakkan wujud lelaki tinggi besar. Ya siapa lagi kalau bukan Rama. Abang kandung Olaf.


"Apaan sih Laf, gue lagi mandi juga lo gangguin," kesal Rama masih memakai handuknya.


Olaf kaget. "Kok Lo mandi di toilet Kak Lena sih?" tanya Olaf sambil mencari-cari Lena.


"Di kamar gue toiletnya lagi repair gak ada air. Makanya deh gue numpang di sini. Lagian pintu kamar Lena ke buka, yaudah deh di sini aja," balas Rama tanpa rasa bersalah.


Olaf memasang wajah masam. "Abang, gue dari tadi nyariin Kak Lena. Lo malah sibuk mandi di sini!"


"Gue gak tau, namanya juga gue baru balik kerja. Gue gak tau apa-apa, Laf. Lagian gue liat tuh di ruang tamu, Mas Heru, Ayah sama Bunda masih ngumpul. Gue kira ya silaturahmi aja," jelas Rama.


Olaf menyibak rambutnya. "Ah lo mah, kerja Mulu, sibuk. Jadi gak tau kan apa yang terjadi!"


"Daripada lo, lupa diri sampe mandi aja belum, tuh ganti dulu seragam sekolahnya, Neng," sindir Rama kepada Olaf.


Olaf geram kepada tingkah kakak dan Abang nya itu. Apa cuma dia yang waras di keluarga ini?


Dari pada membuang waktunya bersama Rama. Olaf kembali turun menuju ruang tamu. Terlihat di sana ada Ayah, Bunda dan Mas Heru yang gelisah karena Lena belum juga pulang sedari tadi.


"Ya ampun, Olaf, seragam kamu kenapa masih dipake?" tanya Bunda menghampiri anak bungsunya itu.


Olaf menjawab, "Aduh, Bun, maaf tadi Olaf ketiduran. Terus langsung liat chat Mas Heru. Katanya Kak Lena belum pulang ya?"


Olaf menyesal tak memberi langsung ponsel Lena sejak tadi sore. Tak ada yang tahu keberadaannya termasuk Olaf. Dan tak ada yang tau jika ponsel Lena ada bersama Olaf.


"Bunda, Ayah, Mas Heru, tenang dulu ya. Soalnya Kak Lena pernah bilang, kalau misalnya dia telat pulang berarti tuh dia ada kerjaan mendadak kali. Kalian positif thinking ajadeh," ucap Olaf menenangkan.


Ayah dan Bunda setuju dengan Olaf. Namun Heru tampaknya cemas akan keberadaan calon istrinya itu.


Sembari menunggu, Olaf berdoa kepada Allah agar Lena dijauhkan dari marabahaya dan pastinya akan pulang ke rumah dengan keadaan baik-baik saja.


Sudah lewat jam setengah dua belas malam kami menunggu. Akhirnya Lena datang juga.


"Lena? Kamu dari mana saja?" tanya Bunda khawatir.


Melihat ini semua Lena bingung, mengapa semua orang tampak sendu. Dan sangat bahagia saat dia tiba.


Olaf menghampiri Lena dan segera memeluknya. "Kak Lena, Lo dari mana ajasih? Tuh liat kami semua udah cemas banget ke lo."


"Hah? Apaan sih, orang gue tadi ada masalah dikit sama clien. Makanya terlambat pulang," jawab Lena.


Ayah menasehati Lena, "Kamu itu perempuan, gak baik pulang selarut ini sendirian, kan ada Heru. Kenapa kamu gak ngabarin dia sebelum itu?"


"Iya maaf, Yah, tadi Lena lupa ngabarin kalian," jawab Lena simple.


Semua memasang mata lega saat Lena sudah kembali ke rumah. Ayah dan bunda langsung masuk ke kamarnya, begitu pun dengan Olaf yang sudah kembali menguap sedari tadi.


Namun Heru sepertinya ada yang ingin di sampaikan kepada Lena. Setelah semua orang meninggalkan mereka berdua. Mas Heru berdiri mendekati Lena.


"Sayang, kamu ke mana aja sih? Aku kangen kamu yang dulu," ucap Heru mengelus wajah Lena yang sedari tadi tertunduk.


"Hey, liat, Mas."


Lena menatap Heru dengan mata yang berkaca-kaca lalu memukul bahu Heru pelan. "Harusnya, Lena yang ngomong gitu. Mas ke mana aja selama ini? Sibuk terus dengan kerjaan, huhuhu."


Buliran air mata Lena pecah seketika saat ini. "Mas jawab. Mas ke mana aja? Mas gak perhatian lagi ke Lena. Lena gak kuat, jadi Lena menghindar aja dari Mas."


Lena semakin rewel dan menepuk nepuk bahu Heru dengan kencang. Heru hanya pasrah saat wanitanya itu memukul nya. Heru mengusap air mata yang keluar dari ujung mata Lena.


Tak kuasa menahan segalanya, Heru memeluk Lena dengan erat menandakan bahwa dia teramat menyayangi Lena. "Pukul aja sayang, iya, Mas yang salah. Mulai saat ini, kamu ikut mas mau ya, sayang?"


Lena luluh saat Heru memeluknya. Seketika dua pasangan ini menemukan suatu kesalahan mereka untuk kembali harmonis.


"Iya Mas, Lena mau kok ikut ke mana aja, asal sama Mas," jawab Lena.


Heru melepas pelukannya dan merangkul Lena kembali ke kamarnya untuk beristirahat. "Yaudah kamu istirahat ya sayang. Mas pulang dulu. Kamu yang nyenyak tidurnya ya. Besok pagi Mas jemput kamu, kita flight ke Aussie."


Lena terbelalak kaget. "Seriusan Mas?"


***


Pekanbaru, 09 April 2020


by, Indahoalkaf