
Delapan jam waktu yang cukup lama semenjak kematian Olaf sungguh sangat meyayat hati kecil Kenji. Siapa sangka dirinya ditinggal mati oleh Olaf dalam keadaan bersalah. Padahal semuanya hanya instan terjadi begitu saja dengan satu kedipan mata. Kini dirinya terpaku lemah melihat langit siang yang terik nan panas mengecam guncangan hasrat ingin ikut bersama Olaf lalu akan dikebumikan satu jam lagi.
Kenji melirik benda persegi empat itu saat notifikasi pesan masuk dari ponselnya. Terlihat pesan dari Ibundanya yang menyuruhnya segera pulang.
Ibu : Nak, kamu ke mana saja? sudah dua hari sibuk terus. Hari ini Ayahmu ulang tahun nak, Ayo kita ziarah, ibu tunggu kamu dua jam lagi nak. Jangan sampai tidak datang. Ayah menantikan kehadiran mu di sana.
Tatkala men-scrool obrolannya dengan Ibu di kolom pesan. Kenji mengingat suatu hal yang sampai sekarang masih terngiang di pendengarannya. Saat itu Ayah pernah mengatakan sebuah filsafat padanya.
"Takdir memang gak ada yang tahu nak. Ayah tahu suatu saat nanti kamu pasti akan kehilangan orang yang kamu sayang, termasuk Ibu mu atau bahkan Ayah. Semua sudah diatur nak sama Yang Maha Kuasa."
Kenji memanyunkan bibirnya sedih, mengingat hal yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Waktu itu, tepat saat Kenji berumur 18 tahun. Sepulang dari pengumuman kelulusan sekolah, Kenji langsung di hidangkan dengan kabar buruk yang membuatnya harus memikul beban kendali lebih untuk keluarganya. Ayah pergi meninggalkan dirinya dan Ibu untuk terakhir kalinya.
Sembari membalas pesan dari Ibu, tak sengaja Kenji memperhatikan deretan pesan dari Olaf sebelum dia juga akan pergi meninggalkan dirinya. Kenji membaca serangkaian pesan teks lama maupun gambar konyol yang sering mereka bahas setiap harinya. Namun berbeda dengan hari ini maupun ke depan tak ada lagi sosok bawel yang selalu membuat harinya bahagia.
"Sayang, kamu nanti pulang, jangan langsung tidur, ganti baju dulu gih makan, baru tidur, abis itu langsung istirahat yah. Jangan main game mulu, mata kamu butuh istirahat juga. Olaf juga paling balik sekitar sejam lagi, ntar kabari ke kamu lagi kok yang."
Tak kuasa menahan rindu, Kenji segera mematikan voice note lama dari Olaf. Anak itu pandai sekali membuat dirinya terjatuh dan bahagia. Entah mengapa buliran bening air mata Kenji reflek terjatuh mengenai pipinya. Kehilangan Olaf kali ini membuatnya benar-benar tidak bisa berpaling pada siapapun lagi. Dari awal, memang feeling-nya terjatuh pada anak itu.
Sebuah sontakan keras mengejutkan lamunan Kenji. "Cuy, Olaf mati suri tuh! Lo liat deh ke dalam!"
Kenji terkesiap mendengar pengakuan itu, dengan tergesa Kenji masuk menuju ruang tamu yang sudah berkerumun banyak orang di tengah jenazah Olaf. Debaran jantung Kenji mulai berdetak lebih kencang, matanya berkaca-kaca melihat sosok Olaf benar benar terduduk berbalut kain kafan. Kenji tak percaya takdir apa yang telah Allah berikan kepadanya pada Olaf. Kenji menepuk pipinya pelan, ternyata benar ini nyata. Olaf benar-benar telah menghirup oksigen lagi di bumi ini. Sungguh luar biasa.
Banyak orang yang merasakan aura ketakutan saat melihat sosok Olaf kembali hidup, apalagi saat ini Olaf masih terbungkus dalam keadaan memakai kain kafan. Dengan sopan, Kenji segera berjalan dan sampailah di depan Olaf.
Kenji menatap lekat mata sayu kecoklatan itu dengan berbinar sambil menyapa. "Olaf? Kamu baik-baik saja kan?"
Gadis itu tetap diam tidak menggubris sapaan Kenji. Tatapannya masih kosong melayang entah ke mana. Matanya terbuka lalu tertutup sambil menghela napas panjang, terlihat masih ketakutan dengan apa yang telah terjadi.
"Olaf?" panggil Sisi lagi dengan pelan menyadarkan pikiran kosong Olaf.
Olaf tersentak mengarah ke samping sambil mengangguk cepat namun masih sukar untuk berbicara sepatah kata pun. Matanya masih terbius dengan bayangan-bayangan halus aneh yang cukup mengintainya.
Bunda menyenggol lengan Sisi sambil berbisik. "Si, coba tolong dong ambilin minum buat Olaf terus kita bacain Al-Fatihah dulu buat dia. Tante takut nih terjadi apa-apa sama Olaf."
Sisi mengangguk lalu dengan cepat mengambil segelas air mineral di sudut rumah. Sembari berjalan, Sisi seakan diteror oleh orang-orang yang penasaran dengan apa yang telah terjadi pada Olaf.
Beberapa orang mendekati Sisi lalu bertanya perihal keadaan Olaf. "Si beneran Olaf mati suri?"
"Si lo kok gak takut sih sama Olaf? Ngeri tau!"
"Si lo mau ke mana? Olaf beneran hidup lagi si?"
Banyak pertanyaan yang terdengar namun Sisi masih sulit untuk mencerna semua pertanyaan mereka. Dari jauh Sisi melihat Ikhsan yang mondar-mandir gelisah kian kemari sambil menelpon seseorang. Sisi mendekat lalu memperhatikan obrolan Ikhsan. Saat Ikhsan sudah menutup telepon, Sisi pura-pura berbalik agar tak ketahuan.
"Udahlah Si, Lo jangan sok-sokan malu gitu. Gue liat lo kok dari tadi nyamperin gue," ujar Ikhsan sambil memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Eh enggaklah ngapain gue ngurusin urusan lho segala, gak penting juga," balas Sisi gengsian.
"Hm, Si, gue sama lo disuruh nge mc nih di Caffe. Ada acara dadakan dan Bu Fika bilang mereka lagi kekurangan crew. Gue udah nolak suer dah, tapi gimana Bu Fika ngertiin kok kita gak masuk malam ini. Cuma ya, sekarang kan lo tahu sendiri. Olaf udah sadar, dia udah hidup lagi. Jadi gue rasa, dia kayaknya butuh istirahat deh jangan diganggu dulu," ujar Ikhsan mengatakan apa yang sedang terjadi.
Sisi menolak apa mau Ikhsan. "Tapi gue gak bisa ninggalin dia gitu aja malam ini. Pokoknya Lo aja deh yang nge MC. Gue masih mau sama Olaf hari ini. Gue lebih milih dia," jawab Sisi.
"Yaudah terserah lo, yang penting lo jangan sampe gangguin dia apalagi bikin dia punya pikiran lebih, eh btw, itu minum buat gue ya? ujar Ikhsan merampas mineral dari tangan Sisi.
"Oh buat Olaf, sini-sini biar gue yang kasih buat pacar gue tersayang yang udah sadar lagi," tandas Ikhsan merebut mineral itu.
"Jangan kebanyakan mimpi lo," jawab Sisi melingkari tangannya kesal.
"Yaudah iya, yuk kita ke sana," ajak Ikhsan sambil meraih tangan Sisi ke depan.
***
Rama, Kakak Olaf merasa sangat bahagia mendengar bahwasanya Allah masih menitipkan adiknya di dunia ini. Saat semuanya sudah berkumpul. Olaf merasa sungguh asing dengan semua ini.
"Laf, Bunda mau nanya deh sama kamu? coba ceritakan apa yang telah kamu alami nak?" ujar Bunda lembut.
Olaf menggelengkan kepalanya pusing seketika mata yang berbinar itu kemudian meredup kembali. Sepersekian detik, tangis Olaf pecah meraung keras sejadi-jadinya sambil memeluk Bunda.
"Bun, Olaf takut, di sana Olaf dikejar-kejar makhluk besar yang tak pernah ada di bumi," ucap Olaf terbata-bata.
"Lalu apa lagi nak? ceritakan pada kami?" tanya Bunda.
"Di sana ada dua alam, Olaf mampir di tempat yang paling menakjubkan keindahannya namun Olaf juga singgah ke tempat yang paling menyeramkan," lanjut Olaf.
"Kamu liat apa saja di tempat menyeramkan itu?" tanya Bunda lagi.
"Olaf liat Riri Bun, Riri teriak manggil Olaf, tapi Olaf sama sekali gak bisa bantu dia," jawab Olaf.
"Nauzubillah min dzalik, mari kita berdo'a untuk Riri, nak," ujar Bunda.
"Terus sekarang, kamu masih ingat kami semua kan?" tanya Bunda lagi.
Olaf memperhatikan sekelilingnya lalu dia menunjuk satu persatu nama yang dikenalnya.
"Ini Ayah, Bunda, Sisi, Ikhsan, Bang Rama, Mas Heru, Kak Lena dan ini," Olaf menggantung ucapannya saat menunjuk sosok Kenji.
"Sama gue masih kenal kan Laf?" tanya Kenji penuh harap.
"Maaf, kamu siapa ya?" jawab Olaf heran sambil mencoba mengingat.
Semua orang lantas membulatkan matanya menatap Kenji. Bagaimana bisa seorang Kenji bisa terlupa oleh ingatan Olaf. Kenji menunduk memasang wajah tak percaya.
"Kamu beneran lupa sama aku ya Laf?" ulang Kenji sekali lagi.
Olaf mengangguk mantap. Tak ada keraguan untuk sekedar mengingat Kenji kembali.
"Bagaimana mungkin?" batin Kenji heran.
***
Pekanbaru, 29 Agustus 2020
by, Indahoalkaf