Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Prolog



"Stop! Kak Lenaa! Lo gak boleh jalan sama dia lagi!" Tegas Olaf bersungut-sungut menyeret Lena saat membuka pintu.


Lena tetap keras kepala, melepaskan genggaman kuat Olaf. "Lepas Olaf, gue cuma mau have fun sama dia. Masalah perasaan gue tetap milih Mas Heru."


Olaf menghela napas panjang, sudah berkali-kali dicegat jawaban Lena masih tetap sama. Olaf merasa sangat bersalah kepada Mas Heru jika kakaknya ini masih jalan bersama cowo lain.


"Kalau lo bosan sama Mas Heru, ngomong dong kak! Jangan anggap ini cuma main-main!" teriak Olaf tak tahan melihat tingkah kakaknya.


Lena seakan tertampar saat adiknya itu berani-beraninya berteriak kepadanya.


"Lo gak ngerti apa-apa, Laf! Lo gak ngerti dinginnya Heru ke gue, gue sayang dia. Gue gak mau kehilangan dia. Tapi seakan-akan dia yang gak punya waktu buat gue."


Lena terisak kaku membungkukkan badannya ke bawah. "Hiks, gue cuma mau dia nyisihin waktu buat gue."


Olaf memeluk Lena sambil mengusap air mata yang menumpuk dimata Lena. "Kalo lo emang tulus ke Mas Heru, harusnya lo ngerti keadaan dia kak, bukan malah kayak gini, lo jalan seenaknya sama cowo lain yang tiap harinya beda."


"Please, Olaf, sekali ini aja, gue bosen banget di rumah. Gue butuh hiburan juga," balas Lena membujuk adiknya itu.


"Lo keras kepala banget dibilangin. Terserah lo deh, gue gak ngerti pake bahasa apa lagi buat lo sadar kak," pasrah Olaf menghembuskan napas panjang.


Lena berbisik dan berupaya menghasut Olaf dengan kata-kata manisnya. "Jangan bilang ke Mas Heru soal ini ya adikku sayang. Ntar kakak beliin kamu alat make up badai deh biar makin cantik."


Olaf menjauhi wajah Lena disampingnya. "Kalo terjadi apa-apa sama hubungan lo dan Mas Heru, gue gak akan bantuin lo dan gue gak akan ikut campur lagi, gue capek. Lo itu batu kak, susah dibilangin. Tau ah, gue kesel."


Lena menyibakkan rambutnya, "Bye, Olaf. Kakak pamit. Bilangin Bunda nanti gue pulangnya gak larut malam kok."


Lena membuka pintu lalu pergi bersama lelaki lain menggunakan Pajero sport nya.


Olaf melirik kesal, dia sayang kepada Lena. Tapi mengapa Lena bersikap demikian kepadanya?


Malam ini semua terasa hambar, Ayah dan Bunda belum pulang sejak tadi pagi. Di tambah lagi Bang Rama masih sibuk kerja sambil kuliah. Malam ini Olaf merasa rumah ini seperti tak berpenghuni.


Nada dering telepon rumah membuyarkan lamunan Olaf.


KRING...


Dengan segera Olaf mengangkat teleponnya.


"Halo Olaf. Lo dari mana aja sih? Gue WhatsApp gak dibales, gue vc gak diangkat. Giliran ditelepon baru nyahut."


"Oh my God, Sisi, Sorry, hp gue di kamar. Gue lagi diruang tamu nih. Ada apa ya? Tumben lo nelpon gue?"


"Gue tadi tuh bingung mau ngajak siapa. Sumpah ini kesempatan emas banget buat dapetin tiket Shawn Mendes di Jakarta nanti."


"Maksudnya? lo ngomong jangan setengah-setengah Napa sih."


"Gue punya proyek. Lo mau gak ikutan gue?"


"Mau, demi ketemu ayang beb gue lakuin apa pun."


"Gila gak sih lo. Jadi tadi tuh gue ditawari ngeband di Caffe Skygold. Nah kan lo tau sendiri suara gue kayak kaleng rombeng sedangkan suara lo itu selembut sutra. Nah gimana kita bikin Band? Nanti gue ajak Sarah, Lia, Riri juga."


"Aaaaaaaaaa, seriusan ini Si? Ya gue mau banget lah. Eh tapi tunggu, apa gak ganggu kegiatan sekolah kan?"


"Lo tenang aja, gak tiap hari juga nge-band nya. Paling mentok 2 kali seminggu, kan lumayan nambah uang jajan."


"Oke, besok gue jemput lo ke rumah, kita perginya bareng. Awas lo telat, gue tinggal!"


"Asyiappp, Bu Olaf, hahahaha."


Telepon dimatikan.


Olaf loncat kegirangan, tak menyangka senangnya sangatlah sederhana. Hari sudah semakin larut biarkan kehidupan berjalan sebisanya. Olaf berjalan menuju kamar, menyiapkan tenaga untuk hari esok yang lebih bahagia.


Lampu gantung kamar dimatikan. Berharap esok hari akan menjadi hari yang paling menyenangkan bagi Olaf. Karena hari-hari lalu dia merasa hidupnya sungguh biasa biasa saja.


"Selamat malam dunia," ucap Olaf memejamkan mata.


***


Pekanbaru 05 April 2020.


by, Indahoalkaf