Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Keputusan



Rerintihan hujan membasahi dunia pagi ini. Suasana dingin membuat semua nyaman berselimut manja di kasur empuk nan hangat. Apalagi jika disuguhkan dengan alunan musik mellow yang telah tersetel di saluran televisi kamar.


Olaf sulit membuka mata untuk bangun. Alarm yang telah berbunyi, dia tunda berkali-kali sampai saat ini. Jika terus begini, kapan Olaf akan mandi dan berangkat sekolah. Bisa-bisa dia terlambat lagi datang ke sekolah.


"Olaffffff! Bangun lo!" gedor Rama mengetuk kencang pintu kamar Olaf.


Olaf menghiraukan teriakan Rama dari luar. Rama kembali berteriak. "Adikku sayang yang cantik dan comel, please, bukain yaa, gue mau nebeng mandi nih!"


Olaf melihat jam dinding yang bertengger di dinding kamarnya. Pukul 06.10, Olaf histeris, ternyata sudah jam segini. "Diam lo, bang! Gue mau mandi duluan. Lo ntar aja."


"Yaelah, lo curang, gue duluan tadi. Nih gue udah mau telat nih," balas Rama dari luar.


"Bodo amat, kamar mandinya kan punya gue," teriak Olaf membalas perkataan Abangnya.


Rama menepuk kening, mengapa dia tak mandi di kamar mandi utama bawah. Dengan segera Rama turun ke bawah.


Olaf membersihkan dirinya dengan cepat dan segera memakai seragam sekolah di hari selasa. Tepat pada pukul 06.30 Olaf sudah berada di dapur sarapan bersama keluarganya.


"Pagi, Ayah dan Bunda," sapa Olaf ramah sambil tersenyum.


"Pagi, sayang. Gimana kamu gak ngantuk kan pagi ini?" tanya Bunda.


Belum sempat Olaf menjawab dia sudah menguap duluan. "Huaah, ngantuk lah, Bun."


"Yaudah nih kamu makan roti selai strawberry buatan Bunda," ucap Bunda memberikan roti itu ke Olaf.


Hap.


Roti itu dirampas oleh Rama dengan sigap. "Pagi, Bun, makasih ya rotinya enak," ucap Rama melahap roti itu tanpa rasa bersalah.


Mood Olaf seketika hancur saat Rama mengambil Roti Olaf. Olaf hanya diam mengambil roti baru dan memberi selai strawberry dengan kasar.


Bunda dan Ayah hanya tertawa melihat tingkah anak mereka yang masih pecicilan.


"Ululu ada yang ngambek nih," rayu Rama mencolek pipi adiknya itu.


Olaf menggeserkan tangan Rama dari pipinya. "Apaan sih! Gak lucu!" Olaf memasang wajah cemberut lalu memakan rotinya sambil menatap kesal Rama.


"Ih, tuan putri, gemes deh kalau lagi marah," colek Rama lagi.


Olaf panas mengarahkan pisau ke depan wajah Rama. "Awas lo, jangan ganggu gue atau mau gue bunuh lo!"


Rama menjauh dan segera mengambil benda berbahaya itu. "Hey, Lo ya, pisau gak boleh dimainin sembarangan! Kalau diarahin anak setan gimana? Bisa mati gue."


"Yaudah serah," jawab Olaf.


Bunda menasehati Olaf. "Ih anak gadis pagi-pagi gak boleh marah-marah nanti tambah jelek lho."


Olaf merengek kepada Bunda. "Ih gimana sih Bun, lagian Bang Rama yang mulai duluan. Kan bikin badmood."


Bunda mendekati Olaf dan Rama lalu memberikan secangkir teh kepada keduanya.


"Kamu Rama! Jangan isengin adik kamu mulu!" oceh Bunda membelai rambut Olaf supaya tidak cemberut lagi.


Olaf masih diam tak mau melihat abangnya yang sungguh ngeselin itu.


"Olaf, adikku sayang, jangan ngambek terus. Kamu mau apa? Nanti Abang beliin," rayu Rama kepada adiknya itu.


Olaf mengelak masih tak mau mendengar rayuan Rama. Melihat Olaf yang masih manyun Rama pusing melihat tingkah adiknya yang satu ini.


"Yaudah deh, Olaf sayang. Abang akan lakuin semua yang kamu mau," pasrah Rama.


"Serius bang?" tutur Olaf terlihat terbujuk.


"Iya adikku sayang, apasih yang enggak buat kamu," gombal Rama.


"Idih, gak usah gombalin gue. Kalau lo sendiri masih jomblo," tandas Olaf.


"Ada 5 permintaan Olaf dan Abang harus lakuin semua itu. Sanggup?" tantang Olaf kepada Rama.


Rama menghela napas mengikuti permainan Olaf. "Hem, banyak amat permintaannya."


"Yaudah kalau gak mau," tutur Olaf melipat kedua tangannya.


Rama menggelitik perut Olaf pelan. "Yaudah deh iya sanggup, asal jangan yang aneh-aneh ajadeh mintanya."


"Okay, permintaan pertama, anterin makan siang gue ke sekolah spesial buatan bunda. Gue bosan makan kantin mulu." kata Olaf serius.


"Gue gak bisa bolak-balik ke rumah, Laf, jadwal kuliah gue padat, gimana kalau gue pesan go-food aja nanti buat lo," balas Rama menolak.


"Kalau pesan go-food mah gue bisa sendiri kali bang. Ngapain nyuruhnya ke elo. Gue kan mau masakan bunda, hari ini doang," harap Olaf memasang mata puppy eyes-nya.


Rama luluh lalu melihat sejenak jadwal kuliah nya di ponselnya. "Iyadeh, oke, nanti gue antar buat lo."


Olaf meloncat girang. "Yes, akhirnya. Makasih abangku yang paling ganteng sedunia."


Dari luar rumah, tampaknya Sisi sudah berteriak menjemput Olaf.


"Bun, Yah, Olaf berangkat sekolah dulu ya. Udah dijemput Sisi tuh," pamit Olaf sambil menyalami sopan tangan orang tuanya.


"Eh durhaka, lo ya, Abang lo ini gak disalam," tukas Rama memberikan punggung tangan kepada Olaf.


"Hehehe iya lupa, Bang. Olaf pamit sekolah dulu ya," ucap Olaf sambil menyalami Rama.


Olaf melangkah dengan tawa bahagia, sembari mengecek jam yang bertengger di tangan manisnya. Lalu menghampiri Sisi di luar sana.


***


Selepas itu Lena baru turun menuju dapur dengan membawa koper besar dan tas di tangannya.


"Lho Lena, kamu mau ke mana? Sudah bawa koper saja," tanya Bunda menghampiri anaknya sulung nya.


Lena meletakkan kopernya di rentetan bawah tangga. "Ini Bun, Lena mau flight pagi ini ke Aussie bareng Mas Heru."


Saat Ayah mendengarnya, dia langsung berdiri. "Kok mendadak banget perginya?"


"Bener sayang, kenapa perginya mendadak banget?" tanya Bunda.


"Proyeknya Mas Heru juga mendadak Bun jadi Lena ikut dia," jawab Lena.


Ayah angkat bicara. "Berapa lama, Nak?"


"Sebulan mungkin, Yah," balas Lena enteng.


Bunda mengelak. "Pokoknya Bunda gak setuju kamu pergi jauh sampai ke luar negeri segala. Bunda gak mau anak bunda kenapa-kenapa nanti di sana."


"Tapi Bun, Lena di sana juga ada Mas Heru kok yang bakal ngejagain Lena," terang Lena.


Bunda risau dengan keadaan ini. "Tapi, Nak, kamu belum menikah. Kenapa gak nikah dulu sebelum ke sana?"


"Persiapan Nikah sudah kami selesaikan bareng Mas Heru, Bun, yaudah nanti kita bicarakan sama Mas Heru langsung. Setuju kan Yah?"


"Setuju nak, kebahagiaan Ayah ada bersamamu," pinta seorang Ayah.


Walaupun Lena memiliki sifat yang nakal dan berbeda dengan kedua saudaranya. Keluarga kecil ini masih tetap menyayangi Lena dengan setulus hati. Sampai sekarang Lena sangat bersyukur mempunyai mereka.


***


Pekanbaru, 10 April 2020


by, Indahoalkaf