
Senja menjadi pesona alam abadi bagi mereka yang telah penat melakukan aktivitas seharian penuh tanpa henti, begitulah yang dirasakan Olaf dan Sisi. Senja ini mereka baru akan pulang menyelesaikan semua yang hal penting lalu kembali beraktivitas pada malam hari. Sungguh, harus membutuhkan tenaga ekstra untuk mereka.
"Laf, gue pengen banget liat sunset dari rooftop rumah lo!" ujar Sisi berharap.
Olaf yang sedari tadi telah berniat untuk mandi segera melupakannya lalu meletakkan kembali handuknya. "Hayu, Si, udah lama banget gue gak liat sunset, huhu."
Olaf bergerak cepat diikuti dengan Sisi menuju tangga atas dan sampai lah mereka di rooftop.
Memang benar kata orang bahwa langit itu indah apalagi jika sang surya menenggelamkan diri untuk beristirahat.
"Wah bagus banget," puji Sisi tak henti-hentinya sambil memotret suasana sunset yang dirasakannya.
Olaf bergumam dalam hati, ingin memberikan seluruh do'anya pada sang pencipta langit.
"Ya Allah, semoga awal dari perjalanan Olaf dan Sisi akan berbuah manis sampai nanti dan semoga kami selalu diberi kekuatan dan kelancaran untuk menjalani semua ini, Aamin."
Olaf menutup do'anya, semoga Allah mengabulkan permintaannya. Sementara Sisi juga begitu menadahkan telapak tangan untuk memohon pada sang pencipta.
Perlahan-lahan langit sudah mulai gelap. Langit oranye telah berganti dengan gelapnya malam. Olaf dan Sisi segera turun lalu langsung menuju kamar untuk mandi dan menyiapkan segala keperluan bekerja.
Hari ini adalah hari pertama mereka bekerja. Seragam lengkap beserta apron sudah berada di tas masing-masing.
"Si, lo udah makan belum?" tanya Olaf.
"Belum nih, mana gue laper lagi," balas Sisi memegang perutnya.
"Yaudah, yuk makan dulu, gue juga dah lapar nih," ajak Olaf menuju dapur.
Rumah Olaf begitu sepi jika Ayah dan Bundanya belum pulang dari toko. Alhasil mereka hanya makan berdua di ruang makan. Lena dan Rama pun juga sedang di luar.
"Sepi banget, rumah lo ya Laf, asli gue rada canggung gitu," ujar Sisi.
Olaf menaikkan bahu lalu membuka tudung saji serta mengambil dandang nasi. Bunda Olaf telah menyisihkan sambal udang goreng tepung dengan cabai ekstra yang sungguh memikat selera.
"Hayu, makan, seadanya doang," ucap Olaf.
Sisi menyantap makanannya. "Ini udah lebih dari cukup kali, Laf."
"Hehehe, iyadeh, selamat makan," balas Sisi.
Di tengah perbincangan mereka. Jam sudah menunjukkan pada pukul 06.40. Mengingat jam 19.15 adalah waktu masuk bekerja. Jadi masih ada dua puluh menit untuk mereka mempercantik diri mereka.
Olaf menaburkan bedak di wajahnya lalu dia terdiam melihat Sisi yang telah asyik ria memainkan alat make up untuk dirinya.
"Ya ampun, Laf, lo gitu doang mau pergi kerja?" tanya Sisi.
Olaf mengiyakan ucapan Sisi. "Iya, kenapa emang?"
"Ini bukan sekolah tau! Ini kerja lo harus tampil cantik. Kalau begini, pucet amat wajah lo," protes Sisi.
"Hm, mau gimana, gue gak ahli soal begituan," balas Olaf enteng.
Setelah siap Sisi berdandan, di kelihatan sungguh berbeda dari yang biasa Olaf lihat.
"Yaudah, sini, Laf, gue permak muka lo!" ucap Sisi menarik Olaf menuju depan cermin rias.
Olaf hanya pasrah mengikuti saran Sisi. "Lo kira wajah gue pakaian apa? Dipermak segala!"
"Hihihi, mana eye shadow nya, gue pakein dua warna ya, yang cream sama yang coklat. Ini warna natural banget buat lo," tutur Sisi memakaikan eye shadow di mata Olaf.
"Oke selanjutnya, gue pakein lo eye liner sama mascara ya, oh ya blush on nya juga jangan sampe ketinggalan. Nah selanjutnya, alis, lo mau gak pake alis?" tanya Sisi kepada Olaf.
Olaf menggeleng, "Jangan Si, muka lo jelek kalau pake alis. Nanti gue kayak badut beneran lo hias."
Sisi hanya menaikkan alisnya, jika Olaf sudah tak mau. Ya Sisi harus apa?
"Yaudah deh, lagian alis lo juga udah lebat gitu gue lihat. Dan yang terakhir, lo pake lipstik matte pink ya. Eh tunggu sebelum itu lo harus pake tender care dulu biar lipstik lo bisa tahan lama," terang Sisi yang sudah jago dalam merias wajah.
Dua puluh menitan, mereka siap dengan gaya khas make up masing-masing. Keduanya tampak elegan dan cantik. Tak menyangka Sisi mengerti sekali dalam hal berdandan.
"Gila! Keren abis! Muka gue glowing terus cantik gini lo buat Si, lo belajar dari mana sih soal beginian?" tanya Olaf.
Sisi bergumam senang melihat hasil make up nya. "Hehehe, gue udah biasa make up dari kecil, soalnya dulu nyokap gue kan tiap pagi ngajarin gue hal beginian, tapi sayang dia udah gak ada."
Menyadari hal yang tak sepatutnya Olaf tanya. Dia merasa bersalah akan dirinya sendiri. "Maaf, Si, gue gak bermaksud."
"Eh jangan nangis, beb, nanti make up luntur lho. Yaudah sekarang kita berdoa aja buat nyokap lo, semoga tenang di sisi-NYA. Dan lo sebagai anaknya harus bisa semangat, gak boleh cengeng gini. Nanti nyokap lo sedih lo di atas sana," support Olaf tak kuasa melihat sahabatnya hampir menangis.
Suasana haru dan sedih merauti kamar Olaf malam ini. Keduanya saling berpeluk menyemangati diri mereka. Sungguh, Olaf sangat bersyukur masih mempunyai keluarga yang lengkap nan harmonis.
Sisi lega kemudian mereka turun ke bawah untuk melanjutkan perjalanan menuju Caffe Sky Gold. Mereka berharap semua akan baik-baik saja dan selalu diberi kelancaran.
"Udah belum, apalagi nih yang harus gue bawa?" tanya Olaf yang sudah berada di garasi.
"Udah cukup kok, hayu cus berangkat," balas Sisi.
Jam 19.00 tepat mereka berangkat, Sisi melajukan motornya menuju jalanan Ibukota malam. Suasana malam ini begitu cerah, tidak ada tanda mendung atau hujan yang akan datang. Langit seolah tersenyum kepada mereka yang sedang berjuang untuk masa depannya.
Lima belas menit diperjalanan akhirnya, Olaf dan Sisi sampai juga. Begitu masuk mereka langsung disambut ramah oleh Kakak dan abang yang ada di sini.
"Permisi, Kak, mau cari Bu Fika nya ada?" tanya Sisi sopan.
Olaf hanya tersenyum tipis melihat Kakak dan abang itu tanda hormatnya. Merasa terdengar dipanggil, Bu Fika segera keluar dari ruangan dan menemui mereka.
"Kenalin, Sisi, Bu," jabat tangan Sisi sambil menunduk.
Bu Fika melihat ke samping lalu Olaf pun menyalami tangannya.
"Olaf, Bu," ucap Olaf sambil tersenyum.
Bu Fika tampak senang melihat aura kami. "Oh jadi ini yang namanya Sisi dan Olaf. Beda banget kalau masih pake baju sekolah ya. Keliatan dewasa di sini mah," ujar Bu Fika mengingat bahwa ini pertemuan kedua mereka.
"Hehehe, iya beginilah, Bu," jawab Sisi.
Bu Fika mempersilahkan Sisi dan Olaf masuk lalu menjelaskan job desk mereka masing-masing.
"Jadi kerjanya merangkap ya Si, Laf. Tahap pertama kalian harus punya skill di waiter dulu kemudian lanjut jadi kasir. Jika kinerjanya kalian bagus, ibu akan memberi reward atau akan menaikkan lagi posisi jabatan kalian. Untuk gaji itu Ibu akan ditransfer setiap tanggal 28 akhir bulan," terang Bu Fika serius kepada Olaf dan Sisi.
Olaf dan Sisi mengangguk mengerti.
"Oh begitu ya, Bu, kira-kira kalau biaya nge-band nya berapaan ya Bu? Buat kami nanti di setiap malam Minggu?" tanya Sisi hati-hati.
Bu Fika memikir sejenak. "Karena kalian masih sekolah dan mempunyai semangat tinggi untuk bekerja dan nge band. Ibu akan kasih diskon 50% khusus buat kalian saja."
Raut wajah Olaf dan Sisi gembira mendengar hal tersebut. "Alhamdulillah."
Bu Fika memanggil salah satu karyawannya. "Tolong kamu, ambilkan berkas Sisi dan Olaf di meja saya!"
Karyawan itu datang lalu menunduk kepada atasannya yakni Bu Fika.
"Oke siap, Bu."
Olaf membulatkan matanya.
"Lho kamu? Ngapain di sini?"
Sisi pun begitu sangat terkejut apa yang sedang di lihatnya. "Ikhsan? Kok bisa lo di sini juga?"
Bu Fika heran melihat mereka lalu mengingat bahwa mereka adalah siswa yang di rekrut bekerja sambil sekolah. "Oh ya, ini Ikhsan, karyawan saya, satu sekolah juga deh kayaknya bareng kalian. Udah kenal belum?"
"Gilak! Si Ikhsan gerak cepet banget, Laf," tukas Sisi menyenggol tangan Olaf.
"Ya, Bu, udah kenal lama malah kami satu kelas," balas Olaf kepada Bu Fika.
Ikhsan memandang Olaf senang sambil tersenyum. "Hai, Laf, punya banyak waktu kan gue buat ketemu sama lo."
Tak mengerti apa yang terjadi Olaf hanya mengiyakan perkataan Ikhsan.
***
Pekanbaru, 12 April 2020
by, Indahoalkaf