Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Perasaan yang tersakiti



Ikhsan sengaja pergi ke Caffe dihari liburnya. Sebenarnya malas ingin datang, namun karena tuntutan pekerjaan dia harus pergi untuk mengantarkan berkas yang sudah dikatakan Bu Fika kemarin malam. Alhasil Ikhsan datang menemui Bu Fika malam ini, saat berada di jalan. Ikhsan tak sengaja melihat dua orang perempuan dan beberapa gerombolan anak Crawl Imp sedang duduk di bangku Mang Jaka tukang bakso.


Melihat itu Ikhsan jadi penasaran dengan siapa Olaf berbincang saat ini. Ikhsan datang mendekati Olaf namun yang di datangi tak menyangka akan kehadirannya. Ikhsan memesan bakso untuk sekedar pencitraan mendengar obrolan ringan Olaf bersama anak Crawl Imp yang belum dikenali Ikhsan.


Desas-desis panggilan kesayangan menyelimuti keduanya. Ikhsan merasa geram lalu datang ke meja itu.


"Oh jadi kalian sudah pacaran?" tanya Ikhsan mentah-mentah kepada Olaf dan Kenji.


Olaf terkejut dengan kedatangan Ikhsan yang super mendadak. Entah dari mana anak ini muncul lalu bertanya itu kepada Olaf.


"Kalau iya kenapa?" tantang Kenji lalu berdiri menghadap Ikhsan.


Olaf yang melihat ini langsung panik setengah mati. Keduanya sama-sama menghadap sangar, seperti akan mengajak baku hantam satu sama lain.


"Enak aja lo baru kenal Olaf, gak boleh lo pacaran sama dia!" ujar Ikhsan.


"Lo siapanya dia ngelarang gue?" tanya Kenji balik.


"Gue bukan siapa-siapa dia, tapi gue duluan yang kenal dia. Siapa dia dan bagaimana sifatnya. Udah lama gue cinta sama dia. Jadi mending lo mundur deh," tukas Ikhsan.


"Mundur lo bilang? Gue duluan yang nyatain cinta, kenapa malah gue yang mundur bro!" kelakar Kenji.


Emosi keduanya tak tertahan. Olaf yang mendengar ini semua merasa pusing bukan main. Apalagi Cia yang berada di sampingnya sudah geleng-geleng kepala.


"UDAH! STOP! GUE BILANG!" teriak Olaf melerai keduanya.


Kenji menujuk tangannya ke arah Ikhsan. "Sekarang jalan satu-satunya, biar Olaf yang milih kita. Jadi deal kan?"


"Oke, dia pasti milih gue," ucap Ikhsan percaya diri.


Olaf semakin gelisah, mengapa Ikhsan menganggu hidupnya. Sudah pasti dia akan memilih Kenji. Namun Olaf tidak akan sekejam itu kepada Ikhsan. Dia tak punya satu pun perasaan pada Ikhsan. Tapi mengapa Ikhsan selalu mengganggu hidupnya?


Dari sini, Olaf semakin Ilfeel kepada Ikhsan.


Geng Kenji membubarkan perdebatan mereka. Kenji merasa risau saat ini, ternyata Olaf bukan hanya di dekati olehnya. Namun ada orang yang telah jatuh hati padanya sebelum dia.


Dengan langkah cepat, Olaf dan Cia meninggalkan gerai bakso itu dengan kesal. Ikhsan menarik tangannya, namun Olaf mengelak kasar.


"Ayo, Cia, kita balik kerja!" ujar Olaf langsung menarik tangan Cia.


"Iya, Kak," balas Cia mengekori Olaf.


Di tengah perjalanan Cia angkat bicara di dalam keheningan yang ada.


"Sabar ya kak, mungkin sulit untuk memilih keduanya. Sama-sama ganteng sih, tapi menurut Cia gantengan Kakak yang nyamperin langsung tadi ke meja yang pake kemeja Hijau."


Yang Cia maksud ialah Ikhsan. Ikhsan memang lebih cool dari Kenji namun jika tak punya perasaan. Semua tampak biasa saja bagi Olaf.


"Udah ah, Cia, kamu jangan bikin kakak tambah pusing. Satu lagi, jangan ngomongin hal ini di depan anak-anak lain ya, kamu bisa jaga rahasia kan?" ujar Olaf kepada Cia.


"Asyiapp Kak Olaf, aku gak akan ember kok. Pengen deh jadi Kak Olaf yang direbutin dua cowo, ah senang sekali. Jangan jadi cantik makanya kak, hehehe," balas Cia yang semakin cerewet.


"Ih, kamu bisa aja, gak enak tau di posisi begini," jawab Olaf.


Kemudian Olaf melanjutkan pekerjaannya. Masih banyak customer yang akan dilayani nya, melihat Sisi yang belum juga break. Olaf menyuruh Sisi istirahat dan kembali menggantikannya.


Beberapa menit kemudian, gerombolan Kenji juga kembali masuk ke dalam restoran. Langkahnya terhenti di depan Caffe lalu memberikan sepotong es krim cokelat kepada Olaf yang tampak sibuk.


"Aww, sweet banget," goda Cia setelah Kenji pergi dari hadapan Olaf.


Olaf menutup bibirnya dengan telunjuk. "Hush! Fokus kerja sana!"


Satu jam kemudian Caffe mulai sepi, Olaf dan anak-anak lain mulai beres beres membersihkan area.


Ikhsan keluar semenjak tadi dari ruangan Bu Fika dengan membawa sejumlah berkas yang bertumpuk. Bang Sendy yang penasaran lalu mendekati Ikhsan.


"Bro apaan tuh? Banyak banget?" tanya Bang Sendy.


"Cie udah mau diangkat jadi karyawan tetap sini," balas Bang Sendy kepada Olaf.


"Hehehe Alhamdulillah ya, Bang," syukur Olaf.


"Si, lo duluan sini, biar gue jelasin persyaratannya," ucap Ikhsan mengajak Sisi ke meja samping.


Sisi tersenyum lebar lalu melambaikan tangan pada Olaf.


"Jangan ke samping lo! Ini waktu buat gue sama Ikhsan!" ingat Sisi kepada Olaf agar tidak ke samping dahulu.


"Iya, tenang aja kali, gak bakal gue ganggu kalian," ucap Olaf jengkel.


Bu Fika membuka pintu lalu Olaf dipanggilnya ke dalam ruangan.


"Olaf? Masuk sini!" panggil Bu Fika.


Olaf masuk dengan senang hati. Kapan lagi dia akan dipanggil begini oleh Bu Fika selaku manager Caffe ini.


"Kerjaan kamu udah beres kan?" tanya Bu Fika.


"Udah kok buk, aman," balas Olaf.


"Yaudah sini kamu duduk di samping saya," suruh Bu Fika.


Olaf duduk tepat di samping Bu Fika. Bu Fika membuka kacamatanya lalu meliriknya berkas acara mingguan band.


"Maksud saya nyuruh kamu ke sini, mau kasih tau kalau Sabtu malam ini kalian tidak bisa nge-band dulu ya. Soalnya udah dibooking sama anak SMA Trisakti. Di cancel dulu gak apa-apa kalian ya? Biar rolling sama anak SMA Trisakti," jelas Bu Fika.


Olaf memikir sejenak, Sabtu besok juga bertepatan Pensi sekolah jadi tak mungkin juga terkejar untuk nge-band di Caffe ini.


"Nah pas banget Bu, malam Minggu ini juga kayaknya kami bakal gak bisa band Bu, soalnya sekolah ngadain Pensi tahunan paginya. Jadi gak sempet deh. Yaudah gak apa-apa Bu, lanjutin aja sama SMA Trisakti," jawab Olaf.


"Pensi tahunan? Wah berarti kalian nge-band di sekolah dong?" tanya Bu Fika antusias.


"Iya Bu, mau ikutan gak?" tanya Olaf.


"Boleh tuh, tapi masa kamu ngundang Ibu?" ujar Bu Fika segan.


"Buat keluarga murid boleh kok Buk," jawab Olaf.


"Okedeh, nanti kalau waktu senggang, Ibu mampir deh. Soalnya Band kalian tampilnya keren banget, Ibu jadi pengen ikutan deh," ujar Bu Fika.


"Hahaha ibu mah bisa aja, bagusan karir Ibu yang ada," canda Olaf kepada Bu Fika.


"Eh, btw Laf, tadi Ikhsan masuk-masuk ruangan saya murung gitu pembawaannya. Kamu tau gak dia kenapa?" tanya Bu Fika.


"Murung gimana Bu?" tanya Olaf penasaran.


"Itu lho baru masuk ruangan, wajahnya manyun terus matanya berkaca-kaca gitu," balas Bu Fika.


Olaf berpikir bahwa kejadian tadi telah membuat Ikhsan merasa sedih hati. Olaf jadi tidak tega terhadapnya. Namun apa boleh buat, perasaan bukannya tak boleh dipaksakan.


"Eh kok malah bengong?" ujar Bu Fika mengernyitkan dahi.


Olaf sempat kaget saat Bu Fika angkat suara. "Oh, mungkin ada masalah kali Bu si Ikhsan."


"Cari tau deh, Laf, kasian banget kalau ada pikiran gitu," ujar Bu Fika kepada Olaf.


"Iyadeh Bu, nanti Olaf tanyain sama dia," jawab Olaf sekedarnya.


***


Pekanbaru, 02 Mei 2020


by, Indahoalkaf