
Pagi ini seperti biasa kegiatan rutin sekolah akan dilakukan. Sebelum memasuki kelas, Olaf memastikan bahwa semua teman sekelasnya harus menutupi aib Riri teman sekelasnya yang sudah tiada kemarin.
Bisik bisik kerumunan orang membuat Olaf risih membahas hal yang sudah berlalu apalagi ini ada kaitannya dengan sahabatnya.
"Woy! Bisa diam gak sih! Jangan bahas itu mulu!" tandas Olaf sambil memukul meja.
Sontak semua orang mengarah padanya. Melihat tingkah Olaf yang berubah dari biasanya.
"Apaan sih lo Laf! Yang punya mulut tuh kami!" balas Diandra bersama teman se-gengnya melawan Olaf.
"Heh! Gue ingatin ya, gak baik tau ngomongin orang yang udah tiada apalagi kalian menceritakan keburukan orang tersebut," balas Olaf menatap nanar.
Diandra memutari Olaf sambil berbicara kencang. "Oh gue tau kenapa lo marah gini ke kami."
Diandra sebagai tukang ghibah nomor satu di kelas mulai mengusik-usik informasi tentang kematian Riri yang tak disangka lalu menatap Olaf serius sambil berbisik tepat pada Indra pendengaran Olaf.
"Dasar gak punya otak!"
Adrenalin pendengaran Olaf tak terima mendengar pengakuan Diandra yang meremehkan dirinya.
"Gila lo ya!" jawab Olaf berani.
Diandra kembali melanjutkan aksinya sambil tersenyum menunjuk Sarah. "Lo liat deh, Sarah bilang ke gue kalau Riri mati gara-gara lo."
Olaf reflek mendorong Diandra hingga terjatuh. Emosinya kian memuncak saat Diandra membuat gosip baru yang sama sekali tak benar adanya. "Punya mulut dijaga ya!"
Semua orang lantas tak percaya melihat apa yang terjadi. Olaf benar-benar tak sengaja mendorong Diandra sampai terjatuh.
"Aw! Sakit!" ringis Diandra sambil mengelus sikunya terkena lantai.
Teman sekelasnya pun ikut membantu Diandra. Mereka percaya dengan apa yang barusan terlihat. Seakan-akan Olaf lah yang bersalah saat ini.
Olaf semakin bingung apa yang terjadi, semua orang lantas melihatnya sangar. Entah apa maksud dari semua ini. Apa benar Sarah yang mengatakan hal demikian pada Diandra?
Reputasi Diandra sebagai anak paling top di kelas semakin membuat teman sekelasnya untuk mengikuti jejak Diandra tukang gosip yang belum di ketahui faktanya.
Olaf berpikir sejenak mengatur alur pernapasannya. "Bodoh! Yang percaya sama tukang gosip murahan kayak dia!"
Diandra semakin mengencangkan ringisannya. Lalu mencibir Olaf dengan sindiran halus. "Kalau gue sih ogah mau temenan sama dia! Gara-gara dia tuh, temen kita Riri jadi meninggal!"
"Parah lo ya! Kematian seseorang lo kaitin sama gue," kelakar Olaf.
Keributan terjadi antara dua belah pihak. Semua kacau balau baku hantam antara sesama perempuan benar-benar terjadi di kelas ini.
Ikhsan dan Sisi kaget mendengar bahwa Olaf ikut andil di dalamnya. Mereka baru saja datang dari koridor depan sekolah untuk memastikan Satpam sekolah itu datang pagi ini.
Sisi datang ke pusat keramaian meninggalkan Ikhsan yang masih menepi.
"STOP! Kalian pada kenapa sih?!" Teriak Sisi melihat Diandra yang masih adu mulut dengan Olaf.
Diandra memelototi Sisi seraya berkata. "Nih temen lo urusin, jangan seenaknya bikin rusuh teman yang lain apalagi sampai bikin temen sendiri mati!"
"Eh gila! Lo kalau kurang senang sama gue bilang! Jangan seenaknya nge cam gue kayak gini!" balas Olaf tak terima.
"Ya gue gak tau, orang Sarah sendiri yang bilang kalau lo penyebab kematian Riri," ucap Diandra sambil menunjuk Sarah yang diam di pojok kelas.
"Gak mungkin! Gue kenal Sarah dan lo gosipin gue biar lo viral lagi kan! Dasar cari muka!" Tandas Olaf menghempaskan kursi plastik dengan emosi.
Banyak dari mereka mengabadikan momen ini melalui sosial media mereka. Olaf semakin muak melihat teman-temannya yang sudah terbawa arus sosmed.
"Matiin hp kalian atau gue akan ngebanting semua yang ada!" Kelakar Olaf mengamuk.
Diandra semakin tersenyum lebar melihat Olaf yang semakin emosi.
Ikhsan semakin khawatir akan diri Olaf yang seakan berubah layaknya monster mengamuk. Kemudian Sisi dan Ikhsan melerai mereka berdua untuk menjauh.
"Awas lo ya! Berani-beraninya bikin masalah sama gue!" ancam Diandra pada Olaf.
"Bodo amat! Gue gak takut sama Lo!" balas Olaf.
Sisi menarik Olaf keluar zona merah. Beginilah Olaf jika dia sudah terpancing emosi sangat susah untuk menghentikannya. Olaf itu tipe yang tidak pemarah. Tapi sekalinya marah, bisa gawat.
Olaf mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Sisi. "Apaan sih Si! Lo denger gak sih! Dia fitnah gue yang macam-macam. Dan Sarah itu kenapa? Salah gue apaan Si? Kok bisa sampai kayak gini?"
Sisi berusaha membuat Olaf tenang menuju luar kelas. Sudah banyak orang yang memperhatikan kelasnya. Sampai tragedi Riri meninggal tanpa sebab masih dicari keberadaannya. Di tambah lagi, pagi ini, kelas Olaf semakin viral dengan kejadian yang ada. Sungguh, hari yang membuat netizen bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Oke lo tenang dulu deh, ini semua bukan salah lo, okey. Lo tenang dulu," ujar Sisi menenangkan Olaf sambil memberikan minuman dingin pada Olaf.
Olaf meneguk air mineral itu dengan cepat. Hatinya masih panas akibat omongan Diandra yang tak masuk akal tadi. Perlahan emosinya kian mereda. Olaf merutuki dirinya, mengapa dia bisa sampai se-emosi itu.
"Gimana keadaan lo? Udah tenang?" tanya Sisi memperhatikan Olaf yang sedang terdiam.
"Hm, ya begitulah," jawab Olaf.
"Eh ya Si, gue ingetin sama lo. Orang kayak Diandra itu harusnya dikasih pelajaran! Biar ngerti dan gak seenaknya bikin rusuh di sekolah kita! Mentang-mentang cantik, tajir. Bisa seenaknya tuh anak!" Olaf menjawab lagi.
Melihat Olaf di keadaan seperti ini, Sisi memilih diam dan mengalah. "Oke-oke, lo jangan emosi lagi ya, please."
"Gue gak bisa diginiin! Udah dari dulu gue tuh benci banget sama dia! Oh yaudah, prinsip gue, Lo senggol sahabat gue. Abis Lo!" Kelakar Olaf lagi.
"Gila keren, parah lo, Laf. Tapi lo salah mau berurusan sama dia," ujar Sisi.
"Yasudahlah udah terjadi, gue pasrah apapun yang terjadi! Khilaf gue emosi," jawab Olaf acuh.
***
Kabut putih menyelimuti perumahan milik Heru dan Lena. Mereka telah bersiap untuk pergi foto pra wedding minggu depan. Namun fisik Heru tidak memungkinkan untuk mengemudi pagi ini. Badan Heru begitu lelah akibat pulang dari luar kota kemarin tidak sempat untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Yang kamu masih kuat kan ikut pra-wedding hari ini?" tanya Lena sambil melirik kekasihnya.
Heru menggangguk. "Kuat kok sayang. Kapan lagi coba, soalnya dua hari lagi Mas ada meeting besar di Bandung."
Lena lesu mendengar berita ini. Bibirnya seakan melengkung ke bawah. "Besok kan bisa sayang, kayaknya butuh istirahat deh. Ambil cuti lebih deh dari sekarang."
"Lebih cepat lebih baik yang, Mas kuat kok. Kalau Mas ambil cuti dari sekarang nanti sehabis nikah tinggal dikit dong liburnya," jawab Heru sambil mencolek pipi calon istrinya itu.
"Hm iyadeh, kamu jangan kecapekan pokoknya," ucap Lena mengusap bahu Mas Heru.
"Siap sayang," balas Heru mengecup kening Lena.
"Jadi sekarang aku suruh supir aja deh yang ngendarai mobil ya?" ujar Lena berinisiatif.
"Yaudah terserah kamu deh sayang, gih siap siap, satu jam lagi fotografer nya nungguin lho," ujar Heru.
Lena masuk ke kamar lalu bersiap membawa beberapa baju yang telah disiapkannya untuk berpose nanti. Beberapa menit kemudian Lena keluar bersama Heru.
Mobil mereka telah siap untuk meluncur menuju jalanan bersama dengan sopirnya. Lena masuk bersama Heru dengan bahagia. Di sela perjalanan deringan handphone Lena berbunyi.
"Siapa yang?" tanya Heru.
"Olaf nelpon," balas Lena.
"Yaudah angkat gih," ujar Heru.
"Hallo, kenapa Laf?"
"Kak, tolongin gue."
"Apaan dah? Gue lagi ada urusan sama Mas Heru sekarang."
"Please Kak, tolongin gue sekarang juga! MAS HERUUU TOLONGIN OLAF!"
Loadspeaker handphone Lena hidup sehingga Heru mendengar suara Olaf.
"Kamu kenapa Olaf?"
"Dateng ke sekolah sekarang ya Mas ajak Kak Lena. Butuh banget nih."
"Kamu bikin masalah apa Olaf?"
"Dateng aja please nanti Olaf ceritain deh, mau nelpon bunda takut."
"Yaudah iya Mas ke sana."
Olaf menutup telpon sepihak.
Lena mengernyitkan dahi. "Lho Mas, kenapa di iya kan maunya Olaf? Jadwal kita gimana dong?"
"Sabar ya sayang, adek kamu butuh bantuan banget itu. Gak mungkin kan gak ditolongin," jawab Heru menenangkan Lena.
"Hm, iyadah, bikin onar lagi dia," jawab Lena kesal.
Lena menyuruh sopirnya untuk memutar arah menuju sekolah Olaf. "Pak putar balik ya ke Jalan Kenanga."
"Oke siap, Mbak," jawabnya mengikuti perintah Lena.
Lena berpikir, entah hal apa yang membuatnya harus ke sekolah Olaf sekarang.
***
Pekanbaru, 04 Juni 2020
by, Indahoalkaf