Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Tidak Menyangka



"Jilolaf Agranita Chaiputri," absen Bu Sekar selaku wali kelas Olaf pagi ini.


Tidak ada yang menjawab, hanya keheningan yang ada.


"Olaf di mana?" ulang Bu Sekar memperhatikan tempat duduk Olaf.


"Olaf belum datang Bu, gak tau ada di mana, telat mungkin," jawab Riri asal.


Sementara absen berjalan, Sisi tampak khawatir mengapa Olaf tidak mengabarinya hari ini jika tidak masuk sekolah. Semua orang bertanya-tanya pada Sisi. Namun, Sisi juga tak mengetahui apa-apa perihal Olaf.


Begitupun sebaliknya, Ikhsan juga bertanya-tanya dalam hatinya. Ke mana Olaf saat ini? Mengapa dia tak kunjung datang?


"Yaudah saya bikin Alfa aja ya," ujar Bu Sekar menulis alfa pada absen Olaf.


Sembari menunggu balasan Olaf. Sisi mencoba menelpon Olaf berkali-kali. Namun nihil tak ada sambungan nada telepon dari sana. Ponsel Olaf mati tak bisa dihubungi.


"Si, gimana udah ada kabar belum dari Olaf?" bisik Ikhsan melihat Sisi sedang memainkan ponselnya.


"Belum nih, nomornya kaga aktif. Tuh anak ke mana ya kira-kira," balas Sisi.


"Bisa jadi, tuh anak lagi sakit, kecapekan kerja," sambung Sarah berpikir sejenak.


"Oh jangan-jangan, Olaf kecelakaan lagi terus hp nya jatuh tertimpa motor," ujar Sarah.


"Ah Lo mah, nakut-nakutin aja, gak boleh gitu ih," jawab Sisi semakin khawatir.


"Udah kalian tenang aja, palingan tuh Olaf ketiduran, terus gak ada yang bangunin," balas Riri.


Begitulah kira-kira pendapat para sahabat Olaf. Tidak bisa diterka, Olaf memang sama sekali tidak mengabari satu diantara mereka, bahkan guru pun harus bertanya pada orang terdekat Olaf.


"Yaudah pulang sekolah, langsung cus ke rumah Olaf ya, gais," ajak Ikhsan kepada mereka.


"Iya, oke," balas mereka serempak.


***


Olaf tak mempunyai semangat lebih untuk sekedar duduk maupun berdiri. Dia terbaring lemas di kasur. Badannya sudah lelah ditambah lagi pikiran yang kembali bertambah akibat kejadian tadi. Apa benar ini semua kesalahan Olaf? Menutupi semua aib Kakaknya sampai Rama sekesal ini pada Olaf.


Tak ada niat untuk melakukan aktivitas di pagi ini. Olaf memilih tidur di atas kasurnya menenggelamkan diri pada bantal besar sampai dia terlelap.


Pintu kamar Olaf terketuk, mendengar itu Olaf hanya diam tak berniat untuk membuka apalagi mengucapkan masuk pada seseorang yang mengetuk.


Tak peduli Lena langsung masuk menuju kamar Olaf.


"Laf bangun dulu, gue mau bicara sama lo," ucap Lena dengan nada memaksa.


Olaf tak menggubris perkataan Lena. Dia semakin mempererat kepalanya pada bantal besar.


Lena kemudian tak berbicara namun Olaf tahu ada dia di sana. Olaf bingung mengapa Lena tak bersuara begini. Karena penasaran Olaf membuka bantalnya lalu melihat Lena yang sedang menangis di depan kaca besar Olaf.


Tak kuasa melihat Kakak kandungnya menangis. Olaf menghampiri Lena.


"Gue yang salah selama ini sama Lo, Laf," ucap Lena tersedu-sedu.


"Lo udah cerita kalau lo punya penyakit serius sama mereka?" tanya Olaf.


"Belum, kemarin waktu di Aussie, kepala gue kambuh berat banget sampai pandangan gue muter-muter. Dan akhirnya gue gak sadar seminggu Laf. Lo bayangin aja kalau misal gue mati di sana! Gak bakal gue bisa ketemu sama lo lagi!" balas Lena.


"Justru itu sebelum terlambat gue mau lo jujur sama mereka. Gue takut sebelum lo cerita, ajal lo jemput dan gue sebagai adik lo bakal terpuruk sendiri karena tak mau memberi tahu penyakit serius lo," jelas Olaf.


"Maaf Laf, karena gue lo yang sengsara," ucap Lena tulus.


"Terus gimana sama Mas Heru sekarang? Bukankah kalian akan menikah bulan depan?" tanya Olaf lagi.


"Mas Heru pergi gak tau ke mana dan sampai sekarang dia gak ngangkat telepon gue," ujar Lena.


"Lo yakin Mas Heru bakal kembali setelah tahu lo selingkuhin dia?" tanya Olaf serius.


Lena semakin terisak saat Olaf menanyakan hal itu kepadanya. "Gue pasrah, Laf, kalau emang jodoh mungkin dia kembali. Tapi gue gak bisa maksa dia bakal kembali karena gue tahu Heru orang yang baik-baik sedangkan gue apa? Gue dengan bodohnya khianatin dia."


"Oh ya, Bunda gimana keadaannya?" tanya Olaf penasaran tidak melihat Bunda sedari tadi.


"Yap, masih kecewa sama gue," balas Lena.


Tak ada yang bisa diperbaiki lagi. Hubungan mereka benar-benar sudah mulai merenggang akibat ulah Lena. Tak ada satupun orang yang menyempatkan untuk bertanya satu sama lain. Karena masing-masing dari mereka mempunyai kesalahan begitu pun dengan Olaf dan Rama.


Olaf terlalu mengikuti kata hatinya dengan tidak memberi tahu semua yang terjadi sedangkan Rama terlalu kesal hingga mengungkit kejadian dengan penuh emosi.


Olaf duduk kembali pada sofa dan memeluk boneka teddy bear besarnya. Saat Olaf terpuruk untung saja teddy bear selalu ada disampingnya.


Olaf merogoh kantongnya, ponselnya mati, pantas saja tidak ada deringan telepon atau pesan yang masuk sedari tadi. Olaf mengambil charge hp kemudian mengisi baterai hp nya.


Ponselnya pun hidup. Sudah banyak notifikasi pesan masuk sejak tadi pagi. Rekor pesan terbanyak ialah dari Sisi. Aduh, Olaf lupa mengabari Sisi bahwa dia tak masuk sekolah. Pastinya Sisi akan khawatir sekarang. Lalu Olaf menelpon kembali Sisi pada jam senggang kelasnya.


Mengingat saat ini masih pada jam istirahat, Olaf kembali menghubungi Sisi.


Nada telepon tersambung lalu ada sapaan di dalamnya.


"YA AMPUN OLAF, LO DARI MANA AJA? GAK MASUK SEKOLAH LAGI."


"Maaf, Si, maaf. Gue gak ngabari kalian kalau gue gak masuk."


"Harusnya lo kasih kabar dari tadi kek biar kami gak khawatir gitu sama lo. Lo gak apa-apa kan? Kenapa gak masuk sekolah?"


"Hp gue mati, Si, gue asli gak kepikiran sekolah. Ada masalah dikit tapi gue gak apa-apa kok."


"Syukurlah kalau lo gak kenapa-napa. Tapi kalau ada masalah harusnya lo cerita dari kemarin, Laf."


"Lo tau sendiri kan, kalau gue lagi ada masalah sama keluarga gue dan Kakak gue. Pokoknya ribet deh."


"Oh jadi Kak Lena udah sadar dari kritisnya Laf?"


"Udah kok, Si. Lo tenang aja."


"Syukurlah. Nanti gue sama yang lain ke rumah lo ya. Gue khawatir banget sama keadaan lo sekarang."


"Eh tapi, jangan sekarang deh Si. Keadaan rumah gue masih kacau."


"Serius lo?"


"Iya gue gak apa-apa kok. Besok gue juga udah masuk sekolah kembali."


"Yaudah deh jaga kesehatan ya."


"Iya makasih Si, bye gue matiin dulu ya."


Nada telepon terputus.


Olaf kembali menutup ponselnya kemudian melihat ada enam chat dari Kenji yang belum di balasnya.


Kenji : Wa lo udah aktif. Kenapa gak balas chat gue dari tadi?


Itulah pesan WhatsApp terakhir Kenji yang masuk dalam beberapa menit yang lalu. Olaf segera membalasnya.


Olaf : Maaf Nji, gue lagi ada masalah. Ini aja gue bolos sekolah.


Ting, Kenji membalas langsung chat Olaf.


Kenji : Mau ditemenin gak? Gue jemput ke rumah sekarang gimana? Kita pergi nonton, lo pasti butuh hiburan.


Olaf berpikir sejenak, Kenji benar dia sangat butuh hiburan. Jadi apa salahnya jika tidak menolak ajakan Kenji.


***


Pekanbaru, 06 Mei 2020


by, Indahoalkaf