Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Berkenalan Denganmu



Sore ini Rama sengaja menjemput Olaf di sekolahnya. Rasa penasaran nya akan nomor asing yang katanya itu dari Aussie tidak menghilang dari ingatannya sejak tadi siang saat Olaf memberitahunya.


Rama menelpon Olaf saat seluruh siswa sudah mulai berkeliaran keluar gerbang sekolah.


"Hallo, gue udah di depan sekolah lo nih, dekat pohon ceri," ucap Rama pada ponsel deringnya.


Beberapa menit menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga. Olaf bersama temannya berpisah tepat pada gerbang sekolah.


"Bye, sampai jumpa besok, Laf," ujar Riri.


Olaf mendekati Rama. "Tumben lo jemput gue gini. Biasanya sibuk mulu," ujar Olaf menaiki motor Rama.


"Sengaja jemput lo," balas Rama sambil memberikan helm untuk Olaf kemudian menghidupkan mesin motornya.


Olaf mengernyitkan dahinya. "Sengaja? Maksud lo?"


"Sekarang kan adek gue super sibuk. Jumpa lo cuma bisa pagi sama tengah malam doang. Gue bisa mati penasaran selama lebih dari empat jam," balas Rama menekankan kata penasaran.


"Oh, lo penasaran sama nomor dari Aussie tadi ya?" tebak Olaf mengedepankan wajahnya.


Helm Olaf mengenai ujung helm Rama. Membuat Rama risih akan adiknya.


"Awas dek, gue lagi nyetir ini!" tandas Rama menjauhkan wajah Olaf.


"Iya-iya," cemberut Olaf.


Rama masih fokus mengendarai motornya di jalan raya yang ramai ini. Lampu merah menyala yang mengharuskan pengendaranya berhenti sejenak. Saat seperti inilah, Rama baru bisa berbincang kepada Olaf.


"Jadi gimana keadaan Kak Lena?" tanya Rama menghadap belakang ke arah Olaf.


"Masih kritis," jawab Olaf lemas.


"Kritis? Sakit apa sih dia?" tanya Rama agak terkejut.


"Gatau jelas gue, bang," balas Olaf menyembunyikan sesuatu dari Rama.


"Masa iya lo gak tau?" tanya Rama kurang yakin.


"Iya, lho abang," jawab Olaf serius menatap Rama.


Suara klakson motor pengendara menggerakkan tangan Rama untuk menjalankan motornya. Lampu lalu lintas hijau telah menyala. Semua pengendara kembali menjalankan kendaraan masing-masing menuju jalan raya yang padat. Sore ini masih mendung membuat sejumlah orang tidak merasakan panas yang luar biasa seperti biasa.


Beberapa menit kemudian Olaf sampai di rumahnya. Rama tidak ikut masuk, dia kembali melanjutkan pekerjaan yang telah tertinggal untuk menjemput Olaf.


"Yaudah gue balik kerja lagi ya, titip ini ke Bunda," ujar Rama lalu memberikan sekotak cake dari Vanhollano.


"Okedeh abang, makasi ya, udah jemput gue," balas Olaf sambil mengambil cake nya.


"Kamu jagain Bunda! dia pasti masih mellow sama keadaan Kak Lena," nasihat Rama pada Olaf.


Olaf mengangguk lalu Rama berlalu meninggalkan Olaf.


Olaf masuk menuju pintu rumah. Terlihat Bunda masih berada di ruang tamu melirik kosong ke arah telepon rumah.


"Assalamualaikum, Bunda, Olaf pulang," sapa Olaf menyerukan salam.


Olaf mendekati Bunda dan menyalaminya. Bunda menoleh ke arah pintu masuk. Anak gadisnya telah pulang sekolah.


Olaf memberikan cake pemberian Rama tadi. "Yuk, makan dulu kuenya Bun!"


Bunda mengambil kue itu lalu meletakkannya ke meja. "Makasih ya, Sayang. Bunda masih kenyang."


"Yaudah deh, Bun, nanti jangan lupa dimakan ya. Oh, ya, Bunda ngapain duduk di situ?" tanya Olaf sambil melepaskan dasi di bajunya.


"Ini beberapa menit yang lalu Mas Heru nelpon ke rumah," ucap Bunda.


Dengan tertohok Olaf bertanya. "Terus dia bilang apa saja, Bun?" antusias Olaf.


Bunda sedikit terisak. "Kakak kamu, Laf, dia masih kritis sampe sekarang."


"Bunda gak tahu penyebab Kak Lena kritis kenapa?" tanya Olaf penasaran lagi.


"Yang Bunda tahu Kak Lena punya asma sama kayak Bunda. Jadi bisa aja, dia sesak napas kalau lama berada di atas pesawat," jelas Bunda.


Olaf merasa lega ternyata Bunda belum mengetahui hal yang sebenarnya. Olaf baru tersadar bahwa raut wajah Bunda pucat ditambah lagi bibir Bunda kering, sepertinya Bunda tak menyentuk makanan sejak tadi pagi.


Olaf berinisiatif untuk mengambil air putih kepada Bunda dan memotong kue tadi. Di suapinya lah Bundanya walau dengan terpaksa.


"Nih, Bun, minum dulu, terus makan ya," ucap Olaf memberikan minum ke mulut Bunda langsung.


Bunda meneguknya melepas dahaga sejak tadi pagi lalu menelan kue yang telah Olaf suapi kepadanya.


***


"Hallo, Laf, lo masuk kerja kan hari ini?"


Sisi men-video call Olaf untuk mengetahui keadaan Olaf saat ini.


"Wajah lo kusut amat, gue kira lo gak bakal masuk kerja hari ini."


"Masuk kok, Si, lagian gue kepikiran itu mulu kalau berdiam diri di rumah."


"Ah gaya lo, sebelum kerja lo malam-malam kan emang berdiam diri di rumah."


"Hehehe, badan gue dah biasa gerak nih. Yaudah, gue siap-siap dulu ya."


"Oh, ya, ntar lo bareng gue atau gimana?"


"Gue bawa motor sendiri ajadeh. Ntar ngerepotin lo mulu."


"Biasa aja ah, gak ngerepotin sama sekali. Yaudah deh kalau lo mau begitu. Sampai jumpa nanti."


"Bye."


Olaf mematikan video call dari Sisi lalu kembali membuka lemari memilih baju kerja.


***


Jam tujuh tepat Olaf sampai pada parkiran karyawan dengan selamat. Olaf melihat sekelilingnya belum ada motor Sisi yang terparkir di sana. Mungkin saja, Sisi masih di jalan saat ini.


Olaf sekedar mengecek ponselnya, manatau ada info di dalamnya. Saat itu ada seseorang yang memanggil.


"Hey," sapanya dengan ramah.


Olaf mengedarkan pandangannya lalu menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu, Mbak," jawabnya.


Dia mendekati motor Olaf lalu mengarahkan tangannya ke depan Olaf.


"Salam kenal, Kenji, Mbak," ucapnya.


Olaf ragu untuk membalas jabatan tangannya. Namun Kenji tetap mengarahkan tangannya pada Olaf, dengan terpaksa Olaf menerima jabatan tangan Kenji sambil tersenyum.


"Olaf."


"Kita pernah ketemu kan sebelumnya?" tanya Kenji kepada Olaf.


Olaf memikir sejenak lalu menjawab. "Yaps, waktu itu di bar, Mas yang nganterin makanan buat Bu Fika kan?"


Kenji menggeleng. "Bukan itu mah pertemuan ketiga kita, Mbak."


Olaf mencoba mengingat lalu tersontak kaget mengingat hal itu.


"OH LO ITU YANG WAKTU ITU YANG MANGGILIN GUE DI DEKAT WASTAFEL?"


"Yap, Mbak, segitu amat. Suka ya saya panggil?" tanya Kenji terkekeh saat Olaf kaget setengah mati menaikkan suaranya.


Bukan pasal Olaf suka dipanggil olehnya. Namun ada suatu kejadian saat dia berpura-pura mengambil ponsel Kak Lena waktu itu. Lalu Kenji tiba-tiba nongol di hadapan Olaf saat ponsel itu telah aman di kantong Olaf.


"Mbak kagetan orangnya ya, waktu bertemu Mbak kedua kali. Ekspresi Mbak juga sama seperti ini," ucap Kenji sambil tertawa.


Olaf menggeleng. "Panggil Olaf aja, jangan terlalu formal sama gue."


"Oh jadi boleh dekat dong sama kamu?" tanya Kenji.


"Ih apaan sih, kan juga gue baru kenal lo," balas Olaf.


Kenji mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi telepon.


"Gue boleh minta nomor lo ya?" ucap Kenji mengarahkan ponselnya.


Olaf reflek mundur saat cahaya ponsel Kenji mengarahkan tepat pada wajahnya. Ingin menolak tapi sungkan, sudah terniat sekali Kenji memberikan ponselnya pada Olaf. Tanpa pikir panjang, Olaf mengetik nomornya satu persatu. Lalu mengembalikan ponsel Kenji.


Sisi melambaikan tangannya pada Olaf sepertinya dia baru datang.


"Laf, lo ngapain di situ, hayu masuk!" teriaknya dari ujung kanan sana.


Olaf mengangguk lalu mengikuti Sisi yang sudah masuk ke dalam Caffe. Namun Kenji menarik tangannya.


"Semangat ya kerjanya, Laf," ucapnya serius pada Olaf.


Kesekian detik tatapan Kenji jatuh pada bola mata coklat milik Olaf. Lalu melepas pegangan tangannya.


"Iya makasih," balas Olaf malu-malu kemudian berlalu meninggalkan Kenji.


Jantung Olaf berdegub kencang. Baru pertama kalinya dia merasakan hal yang begini. Olaf segera menggelengkan kepalanya melupakan hal tadi.


***


Pekanbaru, 18 April 2020


by, Indahoalkaf