Jilolaf Saranghae

Jilolaf Saranghae
Segala Pelik



"Eh sorry, Mbak, saya gak seng," Olaf menutup mulutnya terkejut, matanya membulat. "Kak Lenaaaaaaaaa."


Begitupun dengan Lena, dia terkejut melihat adiknya yang berada di sini. "Ya ampun, Laf, Lo ngapain di sini?"


"Pokoknya lo harus langsung balik ke rumah, sekarang!" tukas Olaf berbicara tegas.


"Apaan sih! gue masih ada urusan sama clien!" balas Lena sombong tak menghiraukan Olaf lalu melangkah ke depan.


Olaf menarik paksa tangan Lena. "Kak Lena, tolong banget, dengerin kata gue sekali ini aja. Gue ke sini bareng Mas Heru, sedangkan lo sibuk jalan sama cowo lain yang gak dikenal. Lo mikir kak! Mikir!" kelakar Olaf teriak sampai menjadi pusat perhatian sekitar.


Lena menyumpal mulut Olaf menginstruksikan untuk mengecilkan suaranya. "Serius lo? kok bisa sih?"


Olaf membuang sumpalan tisu dari mulutnya. "Serius gue gak pernah bercanda soal Mas Heru. Sekali lagi lo ketahuan sama dia jalan sama cowo lain, bisa gagal nikah lo, Kak!"


"*****, lo bisa diam dikit gak sih!" gumam Lena.


"Yha lagian dikasih tau, gak mau nurut!" balas Olaf.


Lena mati kutu tak tau harus melakukan apa lagi. Kini aksinya sudah hampir ketahuan, jika salah langkah bisa berakibat fatal ke depannya. "Yaudah gue minta tolong banget sama lo. Please, jangan bongkar aib gue ke Heru."


Olaf menyilangkan tangannya muak tapi dengan begitu Lena tetap kakak kandung yang sangat dia sayangi. "Yaudah lo pulang gih, bentar lagi gue sama Mas Heru pulang. Lo gak apa-apa kan pulang sendirian?"


"Pulang? Terus hp gue gimana? Masih sama dia. Lo tolong ambilin hp gue ya sama dia, please," tutur Lena memohon kepada Olaf.


Olaf memutar bola matanya. "Yaudah oke, fine, gue ambilin buat lo. Tapi ada satu syarat dari gue."


"Syarat apaan lagi? Lo kalau nolong yang ikhlas dong!" tandas Lena.


"Yaudah kalau lo gak mau. Gak bakal gue bantuin lo," balas Olaf muak.


"Iyaiya, apa syaratnya?" jawab Lena kesal.


"Lo harus janji sama gue, gak bakal pergi lagi sama cowo-cowo andalan lo itu kecuali sama Mas Heru. Janji?" kata Olaf sambil menaikkan jari kelingkingnya kepada Lena.


Lena mengiyakan syarat Olaf. "Iya, gue janji."


"Oke, ini kesempatan terakhir gue untuk nyimpan semua aib lo, Kak. Kalau misal lo ingkar janji, gue bakal beberin semua ke Mas Heru!" ucap Olaf dengan tega. Olaf tak mengerti dengan cara apalagi dia akan menyadarkan Kakaknya yang sungguh nakal ini. Ini semua Olaf lakukan untuk kebaikan Lena ke depan.


Lena cemberut mendengarkan ocehan adikknya itu lalu melanjutkan misinya.


"Gue duduk di samping meja bundaran besar sebelah kiri. Lo tau kan tempatnya?" kata Lena sambil menarik lengan Olaf menunjukkan tempat duduknya.


Lena berjalan dengan sangat berhati-hati mengawasi keadaan. Olaf yang berada di belakang Lena pun begitu. Mereka seperti kancil yang sedang mencuri timun demi takut ketahuan oleh pemiliknya. Anggap saja seperti itu.


Saking ketakutannya, langkah kaki Lena oyong ke belakang sehingga menginjak ujung kaki Olaf.


"Awww, sakit tau!" Lena reflek menutup mulut Olaf.


"Lo kalau jalan yang bener ngapa sih kak!" kesal Olaf memegang ujung kakinya yang kesakitan.


"Iya, sorry, gue gak sengaja. Yaudah tuh buruan ambil Hp gue di meja itu tuh," tandas Lena menunjukkan meja yang telah di dudukinya tadi.


Olaf menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Yang mana sih? gak keliatan."


"Itu tuh yang ada cowok pake baju kemeja coklat yang lagi ngeliatin kiri-kanan," jelas Lena kepada Olaf.


Olaf menunjuk lelaki itu memastikan kepada Lena. "Ih jangan tunjuk, ****! Nanti dia curiga," kelakar Lena.


"Terus gue ngambilnya gimana? Pusing, ntar dikira maling lagi gue ngambil hp lo," pikir Olaf.


Pelayan Caffe tampak mondar-mandir memberikan makanan. Lena segera memanggilnya salah satu waiter.


"Bang, tolong dong lo panggilin cowo itu yang pake kemeja coklat," ucap Lena padanya.


"Yang mana mbak? Yang itu?" tunjuk waiters.


"Iya, Bang. Tolong bilangin gini, Mas, dicariin tuh sama cewe di belakang," ucap Lena menyuruh pelayan itu dengan memberikan sejumlah uang.


"Iya oke sip, yaudah lo pulang duluan gih, biar gue aja yang bawa hp lo. Tapi inget, langsung pulang, jangan keluyuran lo!" Seru Olaf mengingatkan Kakaknya.


Olaf berjalan menuju meja itu dengan sigap. Di atas mejanya terlihat benda persegi berwarna peach kepunyaan Kakaknya. Olaf mengambilnya dengan sangat cekatan. Satu langkah, dua langkah. Tangannya di cegat dari belakang oleh seseorang.


Hap


Olaf berhenti menelan salivanya. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dinginnya mengalir dipelipisnya. Olaf ketakutan sekali jika dia ketahuan.


"Hey," sapanya dengan ramah.


Olaf membalikkan badannya, terlihat pria berpakaian putih memakai apron hitam dengan rambut yang diikat di belakang.


Olaf membulatkan mata kaget. "Elo?"


Pria itu hanya tersenyum kikuk menatap Olaf. "Ehehehe, Mbak yang tadi ya, boleh tau namanya siapa?"


Jantung Olaf berdetak kencang bukan karena ia jatuh hati pada pandang pertama melainkan dia takut kalau aksinya mengambil Hp Lena tadi dilihat olehnya.


"Sorry, gue buru-buru banyak urusan," jawab Olaf meninggalkan Sang Koki tadi yang ditemuinya.


Olaf berlari sambil menutup wajahnya. Dia kembali menuju meja Mas Heru, sudah hampir empat puluh menit Olaf telah meninggalkan Mas Heru sendirian.


Olaf mendekati Mas Heru. "Eh udah datang ya pesanannya, Mas."


"Ya ampun, Olaf. Kelakuan kamu sama aja kayak Kakak kamu. Suka ngilang gak jelas aja. Dari mana sih kamu? Mas telponin gak diangkat. Astaga, Olaf," kelakar Mas Heru kepada Olaf.


Olaf tertunduk bersalah. "Maaf, Mas, Olaf udah buat mas khawatir. Olaf tadi ke toilet tapi penuh banget. Jadi lama kan."


Seolah mengerti keadaan Olaf, Mas Heru memakluminya saja. "Hm, kalau gitu, minum dulu tuh minuman yang kamu pesan tadi."


"Wah iya Mas sampe cair gini cake float-nya," ucap Olaf meneguk minumannya.


***


Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam. Mentari mulai menenggelamkan sinarnya. Senja ini Olaf masih berada di tengah macetnya jalanan Ibukota.


Olaf memperhatikan bingkai kecil foto di samping radio mobil Heru. "Keren ya Mas. Kak Lena masih unyu waktu itu."


"Iya, Laf, Kakak kamu dulu imut banget udah gitu unyu lagi. Beda banget sama sekarang," kata Mas Heru.


Olaf mengernyitkan dahi. "Hah? Beda? Apanya?"


"Sikapnya. Kalau dulu itu, sebelum mas ngabarin, Lena pasti udah ngabarin duluan ke Mas, sering cerita juga sampe larut malam. Tapi sekarang, Lena berubah jadi dingin."


Mata Mas Heru tak pernah bohong jika dia benar-benar kangen dengan seorang Lena yang dulu.


"Hm, Mas, menurut Olaf, perubahan seseorang itu karena juga ada kesibukan dibalik semuanya. Bisa jadi, Kak Lena sibuk sama karirnya begitu pula dengan Mas sibuk dengan kerjaan kan?" tutur Olaf memenangkan Mas Heru.


"Iya juga Laf, akhir-akhir ini Mas sibuk banget. Gak ada waktu buat Kakak kamu. Mas juga sih yang salah, Laf," balas Heru menyalahkan dirinya sendiri.


"Cukup, Mas, gak boleh nyalahin diri sendiri. Itu perasaan kangen mas aja yang kelebihan ke Kak Lena," timpal Olaf.


Olaf pusing mengapa dia harus menasehati orang yang lebih tua darinya. Meskipun terlihat dewasa. Olaf masihlah bocah kecil kesayangan bunda tentunya.


"Hehehe iya Laf. Sepertinya Mas kangen banget sama Lena. Yaudah yuk turun. Kita udah sampai," kata Mas Heru mematikan mesin mobilnya.


Akhirnya Olaf sampai ke singgasana sesungguhnya. Olaf masuk ke rumah sambil tersenyum tipis masuk ke dalam kamar. Merebahkan badannya yang cukup lelah melakukan banyak hal.


"Huh, sungguh hari yang sangat panjang," ucap Olaf menghela napas panjang.


***


Pekanbaru, 08 April 2020


by, Indahoalkaf